Behind The Castle

Behind The Castle
**PERBATASAN III**


__ADS_3

"Dan datang kepadaku bukan karna kau merindukan dan mencintaiku, tapi karna kebencian dan amarahmu?"


"Kau gila Victoria! kau benar-benar berubah! kau bukan Victoria!"


"Lalu apa bedanya denganmu?"


Untuk yang kesekian kalinya keheningan memeluk mereka, hembusan angin terus menggesek rerumputan, hembusan angin terus menggerakkan pepohonan, hembusan angin yang semakin kencang membuat pepohonan menggugurkan dedaunan yang sudah mengering di awal musim gugur kerjaan Francia.


Bibir Charlotte bergetar, arah pandangnya mulai buram, Charlotte menatap Victoria dengan lekat dan juga penuh kekecewaan.


Victoria tetap berdiri kokoh sambil menatap kakaknya dengan tegas, rahangnya terkatup rapat, raut wajahnya datar tidak terbaca, kedua tangannya terkepal kuat.


"Kembalilah Lottie... Aku akan menggunakan kekuasaanku untuk membawamu kembali, kembali ke Francia, kembali ke Duchy, kembali ke Castle, kembali ke pelukan keluarga kita. Arthur akan sangat senang saat kau kembali dan menemaninya yang sendirian menempati rumah kita"


Hati Charlotte bergetar, air matanya sudah tumpah tanpa permisi, tangannya mencekam kuat gaunnya, arah pandangnya menatap Victoria dengan sedih dan juga..... dingin.


"Keluargaku bukan di sini lagi, aku akan memiliki keluarga kecil dan akan ku pastikan kami akan bahagia.." Charlotte menggertakan giginya. "Bahagia setelah membalas semua perbuatan mereka"


Kedua tangan Victoria gemetar, kakinya yang kokoh mulai terasa lemas, darahnya berdesir kecewa dan sedih, arah pandangnya mulai buram, bibir bergetarnya berucap lirih


"Jika perang jatuh. Aku tidak akan pernah memaafkanmu Charlotte"


Charlotte tersenyum manis, dengan anggun menarik sisi gaunnya dan menyilangkan kakinya


"Your Majesty, saya akan memberikan kesempatan untuk anda agar anda bisa berpikir, agar anda bisa memilih untuk kembali ke pelukan keluarga anda, kepelukan ku dan ke pelukan Archi. Lima hari lagi saya akan menunggu anda di sini, saya akan terus menunggu dan menunggu anda. Anda cukup datang untuk menjelaskan jika anda..." Charlotte menjeda dan menatap dalam adikknya yang hanya diam dengan mata penuh genangan. "Bersedia kembali, kembali pada kebanggaan dan kepelukan keluarga anda"


Charlotte menundukkan kepalanya dan segera menegakkan kembali punggungnya. Charlotte kembali menatap Victoria sejenak dan segera pergi menuju kuda abu-abu cantiknya


Satu kristal bening jatuh dari mata sang Ratu baru Francia, wajahnya terus menatap kepergian kakaknya yang tidak pernah menoleh lagi padanya, wajahnya terus mengarah pada jalan yang di tempuh kakaknya, bibirnya semakin bergetar dan berguman lirih


"Kenapa...???"


Fredrick yang masih duduk di bawah pohon rindang memejamkan matanya dengan kuat. Jeremmy dan Carl yang tidak mengerti percakapan dan tidak bisa mendengar percakapan dua kakak beradik itu hanya diam dan melirik Fredrick yang juga hanya diam dengan mata terpejam dan raut wajah yang tidak bisa di artikan mereka.


Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? Terlebih, apa yang akan terjadi nanti?


🌺🌺🌺🌺


Malam ini, keadaan kamar Victoria sunyi, dingin dan tenang. Suaminya tidak datang untuk mengganggunya, suaminya hanya diam dan terus diam selama perjalanan pulang mereka. Victoria pun tidak jauh berbeda, mulutnya hanya diam dan terus terkunci rapat tanpa berniat untuk membicarakan apapun. Isi kepalanya penuh, perasaannya penuh tapi, tidak ada yang bisa di baginya. Tidak ada ucapan yang mampu di bicarakannya.

__ADS_1


Pekerjaannya menumpuk, isi mejanya penuh, kertas-kertas kewajibannya bergerak-gerak pelan saat angin dari jendela yang di bukanya berhembus kencang. Bibir Victoria berguman lirih, sedih dan syarat akan beban


"Keluarga...."


🌺🌺🌺🌺


Malam ini, dengan isi kepala penuh dan perasaan berkecamuk Fredrick duduk di camp kesatria sambil menatap isi gelasnya yang terus bergelembung. Cairan kuning yang bisa meredakan dahaga dan juga bisa memabukkan itu tidak bergerak dan tidak juga berkurang saat Edward sudah menuangkan untuknya.


Edward hanya diam dengan ke tiga belas kesatrian emas yang sudah di kumpulkannya, atas perintah mendadak pemilik kekuasaan tertinggi kerajaan. Para kesatria emas yang sekarang menjadi milik Raja baru, kesatria yang sekarang mengabdi untuk perintah mutlak Fredrick.


Mereka semua masih diam dan duduk dalam keheningan hingga akhirnya suara Fredrick terdengar


"Malam ini, aku akan meminta sumpah kalian, sumpah setia hingga kematian kalian"


Ketiga belas kesatrianya segera berdiri dari kursi, menekuk lutut mereka dengan satu lutut menyentuh tanah. Edward akhirnya juga ikut berdiri dan menarik pedangnya. Bola mata pekatnya menatap Fredrick sejenak dengan penuh kekhawatiran tapi juga penuh dengan ketegasan. Edward segera berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai di depan semua kesatria lain. Meletakkan pedangnya di atas kedua telapaknya dan segera mengangkat tinggi telapak tangannya dengan kepala tertunduk dalam.


Fredrick diam sejenak dan akhirnya menegakkan kakinya, dengan tubuh yang sudah berdiri kokoh dan penuh kehormatan pemilik tahta tertingginya, Fredrick menerima sumpah Edward. Dengan lekat Fredrick menatap pedang Edward yang sudah di terimanya.


"Berikan nyawa kalian untukku, untuk Francia"


"Dengan seluruh nyawa kami Your Majesty!"


Fredrick meletakkan pedang Edward di atas meja, kedua matanya terpejam sejenak, dan kembali terbuka untuk menatap ketiga belas kesatrianya dan Edward yang masih berlutut di atas lantai.


"Apa dana perang sudah kembali membaik?"


Edward yang masih menunduk menggeleng singkat


"Belum Your Majesty, karna saat itu kita benar-benar hampir kehabisan seluruh dana"


Fredrick mengangguk singkat dan merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci dan meletakkannya di samping pedang Edward


"Buka semua dana perang yang ada dan gunakan kekurangan dari warisan kelahiran, dana pribadiku. Gunakan semuanya sesuai semua kebutuhan yang di perlukan, jangan menahan diri"


Kepala Edward langsung mendongak menatap Fredrick dengan terkejut, dengan susah payah Edward meneguk ludahnya. Fredrick tetap diam dan menatap jauh ke depan


"Perang?"


Fredrick tidak juga melepas pandangannya dari depan, dan juga tidak berniat menjawab Edward

__ADS_1


"Siapkan semuanya Ed, keluarkan semuanya, atur semuanya, rencanakan semuanya"


Ke tiga belas kesatriannya langsung membeku di tempat dengan kepala yang masih tertunduk. Edward memejamkan matanya sejenak dan langsung mengangguk singkat


"Saya mengerti Your Majesty"


Fredrick membalas dengan mengangguk yakin, membalas jawaban kepatuhan mutlak dan keyakinan Edward. Arah padangnya kembali menatap semua kepala yang masih menunduk hormat padanya. Fredrick tahu jika mereka semua masih dalam keadaan terkejut dan juga mungkin cemas. Mereka semua pasti mengerti jika kali ini bukan hanya perang besar yang akan terjadi, tapi juga perebutan dan... pemusnahan


"Angkat kepala kalian"


Mereka semua langsung mengikuti perintah dan menatap Fredrick yang raut wajahnya sudah dingin tidak terbaca, sorot matanya menajam dan dingin, sangat dingin


"Sebentar lagi perang terbesar dalam sejarah Francia akan jatuh. Tidak peduli apapun, persiapkan diri kalian, ikuti semua perkataan Edward untuk persiapan"


"Baik Your Majesty!"


Edward menatap Fredrick dengan dalam. Fredrick membuang wajahnya dan segera melangkah menuju pintu keluar.


--000--


Albert terus membaca ulang kertas di tangannya, kepalanya terus memikirkan isi tulisan yang ada di dalam kertas itu hingga akhinya merobek kertas dan membakar kertas di api lilin meja kerjanya. Albert terdiam sejenak menatap api yang terus melahap kertas hingga akhirnya meletakkan kertas yang sudah di lahap separuh itu ke atas asbak.


Nafas panjang Albert berhembus kuat dan segera meraih dua kertas kosong, mangambil pena bulunya dan mengguratkan tinta di atas kerta polos itu. Setelah selesai, Albert menatap sejenak isi kertas dan langsung membunyikan lonceng.


Tangan kanannya segera datang, Albert langsung memberikan satu amplop surat di tangannya, pada tangan kanannya.


"Antar ini ke Albany"


"Baik My Lord"


Albert kembali memberikan sebuah kertas dan amplop yang langsung kembali di terima tangan kanannya.


"Antar ini dengan hati-hati dan rahasia" Albert menarik nafas dalam. "Jangan sampai ada yang tahu selain untuk siapa surat itu tertuju"


"Baik My Lord"


\=\=\=πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Ayukk jejaknya yukk

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2