Behind The Castle

Behind The Castle
**DON'T BETRAY ME**


__ADS_3

Hari demi hari, minggu demi minggu telah Victoria lewati menjadi seorang istri dan juga menjadi gelarnya yang baru. Saat pagi hingga sore hari dia akan menghabiskan waktunya di atas meja kerjanya, lalu saat malam adalah waktunya bersama suaminya dan Victoria mulai terbiasa untuk itu semua.


"Satu minggu lagi"


Sambil memejamkan matanya, Victoria membiarkan tangan besar dan hangat suaminya mengelus punggung telanjangnya. Satu tangan menjadi bantal dan tangan lain memberikan rasa nyaman untuk Victoria setelah beberapa menit yang lalu dia baru saja selesai untuk mengimbangi dan melayani suaminya.


"Hm... Kenapa?"


Fredrick semakin menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya sambil memandang dengan dalam wajah lelah istrinnya


"Aku sangat berat untuk pergi Vic" Dengan lembut, dari dalam selimut, Fredrick memijat pinggang istrinya yang pasti sakit setelah olah raga yang di berikannya. "Aku pasti merindukanmu"


Victoria hanya diam menikmati tangan kasar tapi juga lembut yang sedang menyamankan tubuhnya


"Bash"


"Hm?"


"Aku kau tahu aku pernah mengembalikan seorang pelayan?"


Fredrick mengangguk, tangannya yang berada di pinggang sudah berpindah ke tangan Victoria, dan memijat-mijat tangan kecil itu tapi, yang Victoria rasakan bukan itu, bukan pijatan tapi hanya remas*n-remas*n gemas.


"Aku juga butuh pengawal Bash"


"Aku tahu...."


Victoria mengamati wajah suaminya yang tampak santai dan tidak menunjukkan raut apapun. Bisakah Victoria mengartikan jika raut wajah yang di tunjukan Fredrick sekarang sebagai raut wajah seseorang yang sudah tahu sebuah cerita?


"Apa yang kau tahu Bash?"


"Betapa menggair*hkan istriku ketika sedang bekerja"


Victoria membuang nafas panjang tanpa berniat membalas godaan suaminya. Tangannya terulur ke atas, meraba rambut, dahi, alis, hidung, tulang pipi, bakal janggut, dagu, lalu yang terakhir bibir Fredrick yang tebal dan merah. Bibir profesional yang selalu berhasil memantrainya agar pasrah dan tahluk di atas ranjang


"Apa kau ingin Carl yang menjadi pengawalmu sayang?"


Lagi, Victoria kembali merasa aneh dengan Fredrick yang sering tahu segalanya. Hingga satu pemikiran membuat alis Victoria bertaut dalam


"Kau memata-matai ku Bash?"


Fredrick meraih jari tangan Victoria yang sedang memainkan rambutnya dan membawa jari-jari kecil itu ke bibirnya tanpa berniat menjawab ucapan Victoria


"Bash?"


"Hm?"


"Kau tidak menjawab ku Bash"


Dengan pelan, Fredrick menundukkan kepalannya dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Victoria.


"Tidak sayang. Kenapa aku harus memata-mataimu" Victoria hanya diam dan membelai rambut hitam pekat suaminya, dengan wajah Fredeick yang sekarang ada di depan dadanya. "Tidurlah sayang, kita akan ada rapat nanti"


"Iya"


Dengan cepat Victria langsung memejamkan matanya dengan isi kepalanya yang beberapa menit sebelum dia masuk ke alam tidur masih memikirkan ucapan suaminya yang tidak bisa di percayanya. Fredrick yang sudah merasakan nafas teratur istrinya semakin menyusupkan wajahnya


"Tetaplah tahu batasmu sayang, jangan macam-macam"


Victoria yang sudah terlelap tidak mendengarkan lagi gumanan Fredrick atau ancaman?

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


"Aku akan pergi besok" Fredrick masih setia menatap jendela dengan datar, entah apa yang ada di isi kepalanya saat kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh ke luar. "Jaga dia, dan berhati-hatilah. Biarkan dia melakukan apa yang harus di lakukannya"


Jeremmy yang ikut berdiri di samping Lucas dan Carl hanya melirik mereka dengan tenang. Carl dan Lucas juga tampak santai dan mengangguk patuh


"Seperti yang kalian tahu, mungkin aku akan pergi dalam satu bulan ini, jangan katakan kabar ini. Biarkan dia hanya tahu jika aku pergi dalam waktu beberapa minggu"


Kali ini Lucas mengeryit lalu melirik Carl dan Jeremmy yang tampak biasa dan tenang


"Ada banyak hal yang harus aku lakukan dan juga yang harus dia lakukan. Kerjakan apapun yang dia mau dan tetap gali informasi di mana Edward menanam tubuh mendiang Duke dan Duchess"


Mereka bertiga tidak bergeming dan kembali saling melirik. Lalu Jeremmy kembali menatap ke depan, pada punggung Fredrick. Dia khawatir dan juga kasihan dengan tuan dan sahabatnya itu, tapi seperti yang mereka tahu. Banyak hal yang harus siap di korbankan calon pemilik tahta berikutnya itu.


"Apa semuanya itu termasuk juga tentang Larina, Your Highness?"


Kali ini Carl bersuara setelah pertahanan dirinya untuk menekan mulutnya agar tidak mengeluarkan isi kepalanya tidak bisa lagi di tahan


Fredrick hanya diam, tanpa menjawab. Kembali Jeremmy menatap punggung Fredrick dengan banyak pemikiran. Terlebih tentang apa lagi permainan yang sedang coba di mainkan Fredrick.


Setelah kedua orang pria yang tadinya berdiri di belakang punggungnya pergi. Fredrick membuang nafas panjang sambil memegangi dada kirinya. Pikirannya menerawang jauh, hatinya penuh dengan kekacauan.


Clek!


Kepala Fredrick menoleh saat pintu penghubungnya terbuka. Senyum hangat Fredrick terbit saat melihat Victoria masuk


"Apa yang kau lakukan Bash?"


Fredrick menggeleng dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi kerjannya


"Sini sayang"


Victoria segera berjalan mendekat pada suaminya dan mendaratkan bokongnya di paha Fredrick.


"Ada apa?"


Sambil memeluk tubuh wanita yang ada di pangkuannya, kepala Fredrick menggeleng singkat


"Apa yang kau pikirkan Bash?"


"Aku memikirkanmu"


Dengan pelan, Victoria mengurai pelukan suaminya dan menatap Fredrick dengan dalam


"Benarkah?" Fredrick tidak bergeming dan ikut menatap kedua bola mata sehijau daun kesukaannya itu. "Apa yang kau cemaskan?"


"Banyak hal"


"Berbagilah padaku. Aku istrimu Bash. Kau tidak pernah terlihat seperti ini dan ini sudah terjadi selama beberapa hari, sekarang kau tetap seperti ini"


Dengan penuh kehangatan, jari-jari Victoria membelai dahi Fredrick yang sering dia lihat dalam beberapa hari ini berkerut dalam tidurnya. Akhirnya Fredrick kembali menatap dalam kedua bola mata Victoria


"Apapun yang terjadi, bisakah kau percaya padaku nanti?"


Victoria tersenyum tipis


"Kau tahu jika aku tidak mudah percaya pada orang lain. Siapapun. Terlebih sekarang. Memang ada apa Bash?"


Nafas lelah Fredrick berhembus

__ADS_1


"Saat aku pergi, kau bebas melakukan apapun, aku akan melindungimu dari belakang dan...." Fredrick menarik tangan istrinya untuk melingkar di lehernya. "Perhatikan juga keluargamu"


Dengan tubuh yang menegang, Victoria mengangguk sambil mengigit pipi dalamnya. Bukan hanya karna perkataan Fredrick tapi juga karna ada sesuatu yang juga dia khawatirkan


"Bash..."


"Hm?"


"Bolehkan aku ke Larina...?"


Sesuai prediksi Fredrick jika akhirnya pertanyaan yang tidak ingin di dengarnya itu keluar dari mulut istrinya


"Tanyakan itu pada His Majesty. Larina di bawah pengawasannya dan juga kau harus bisa memdapatkan undangan terlebih dahulu dari penghuni di sana"


"Aku sudah mendapatkannya beberapa minggu lalu saat jamuan makan malam setelah pemberkatan kita"


Dengan berat hati Fredrick mengangguk, raut wajahnya berubah. Victoria mencoba mencari-cari arti dari raut wajah nelangsah suaminya itu dengan menatap dalam kedua bola mata abu-abu di depannya


"Apa yang kau khawatirkan Bash? katakan padaku"


Mencoba menenangkan, Victoria membelai pipi suaminya sambil sesekali mengusap lembut surai pekat Fredrick.


"Jika ku katakan, apa kau akan mendengarku Vic?"


Victoria tersenyum hangat, senyum yang keluar dari dalam hatinya


"Apa ini yang menyebabkanmu selalu tidak pernah berbagi isi kepala dan isi hatimu, suamiku?"


Fredrick tersenyum getir


"Banyak hal yang memang tidak bisa ku bagi sayang. Banyak hal"


"Aku tahu" Victoria menarik nafas dalam. "Aku tidak memaksa. Tapi ingatkan jika aku istrimu dan kau suamiku. Kita terikat sumpah pada Tuhan"


Hati Fredrick bergetar dan menghangat. Victoria menangkap itu, kedua bola mata abu-abu itu kali ini menunjukkan dengan jelas pandangan terluka yang dalam dan luas. Pandangan itu membuat hati Victoria ikut terasa pedih. Ada apa ini sebenarnya?


"Sayang"


"Hm?"


"Aku sangat menyayangimu. Jangan terluka hingga aku kembali. Tolong selalu jaga dirimu dan mainkan permainanmu dengan aman. Saat aku pergi, mereka pasti akan menggunakan kepergianku itu untuk menyerang dari segala sisi"


Hati Victoria berdesir. Tidak bisa di pungkiri di juga menyayangi suaminya, entah itu rasa sayang pada teman, kakak atau pada suami. Tapi Ini juga jelas bukan perasaan cinta karna, jika suatu hari dia harus membunuh Fredrick demi kebaikan segala hal, dia yakin dia akan melakukannya tanpa perlu banyak berpikir. Dan juga, Victoria tahu jika Fredrick juga bisa melakukan hal yang sama padanya. Hubungan mereka adalah hubungan suami istri dengan saling menggunakan satu sama lain. Saling memanfaatkan satu sama lain. Tapi, mereka akan saling menjaga satu sama lain.


Victoria bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar akan hidup tanpa saling membunuh suatu hari nanti? atau takdir akan berkata lain?


"Vic, jangan mengkhianatiku"


Victoria tersenyum hangat dan mengangguk yakin, dia akhirnya yakin jika kegundahan inilah yang ternyata terus di pikirkan suaminya. 'Larina' semua ini pasti berhubungan dengan Larina. Victoria yakin dengan itu


"Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku berjanji Bash"


\=\=\=πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


Hati manusia ribet, apa lagi ni orang berdua.lol


Yuk jejaknya yukk.


Salam sayang semua✨

__ADS_1


__ADS_2