
Dengan wajah panik dan langkah tergesah-gesah, Edward masuk ke ruang kerja Raja George dengan sebuah surat di tangannya. Raja George yang tadinya tidak ingin menaruh fokusnya pada apapun selain semua pekerjaannya menjadi melepaskan segala hal yang di pegangnya dan menatap wajah Edward yang terlihat serius
"Katakan"
"Mereka tidak akan kembali ke ibu kota dalam waktu dekat"
Raja George menatap Edward yang sudah mengangkat ke dua tanganya, menyodorkan sebuah surat
"Kenapa?"
Edward meringis
"Mereka mengatakan semua jawaban ada di dalam surat Your Majesty"
Tanpa berpikir lagi Raja George langsung membuka surat dan mulai membaca. Raut wajah Raja George berubah saat belum membaca setengah isi surat dan tanganya segera meremas kuat kertas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, saat surat sudah selesai di baca. Edward meneguk ludahnya saat raut wajah Raja George menggelap, sorot matanya dingin, rahangnya terkatup kuat.
"Siapa yang mengantar surat ini?"
"Seorang pengawal Argentt, Your Majesty. Mereka masih saya buat menunggu di luar"
Setelah mendengar Edward, Raja George segera menarik kertas kosong dan mulai membubuhkan guratan tintanya, setelah selesai memasukkan surat ke dalam amplop yang langsung di segel dengan stempel milik Raja.
"Berikan ini pada mereka"
Dengan patuh, kedua tangan Edward menyambut ampop surat yang sudah di sodorkan Raja George.
"Kirim Carl dan Tomy ke Argentt sekarang. Kumpulkan semua hal tentang Baron Lawson tanpa terlewat secuilpun"
Meski bingung Edward tetap mengangguk patuh
"Baik Your Majesty"
"Sekarang Ed"
"Baik Your Majesty"
Tanpa menjeda lagi Edward segera melesat keluar pintu. Saat suara pintu sudah tertutup Raja George segera berdiri dan memutar tubuhnya ke arah jendelan. Bokongnya bertengger di pinggir meja sambil menatap jauh ke luar jendela. Cukup lama sepasang bola mata abu-abu itu menerawang jauh hingga suara getirnya berguman
"Bahkan hingga akhir kau tetap tidak akan membiarkanku Rose. Apa yang harus ku lakukan padamu"
Raja George tertawa sumbang sambil memijat pelipisnya
🍀🍀🍀🍀
"Maaf Your Highness..."
Ucapan Jeremmy membuat Fredrick membuang nafas panjang. Semua kabar yang dia dapatkan sebenarnya tidak membuatnya terkejut tapi tetap saja membuatnya kesal.
"Mereka benar-benar tidak memandangku. Bahkan satu anjingpun tidak menanggapi panggilanku untuk datang ke sini"
Jeremmy hanya bisa mengangguk pasrah
"Apa Carl dan Tomy sudah sampai?"
Dengan perasaan kalut Jeremmy mencoba menatap punggung Fredrick. Karna arah pandang Fredrick terus menatap ke luar jendela kamarnya. Kamar yang di sediakan khusus oleh tuan rumah
__ADS_1
"Mereka belum sampai tapi surat dari istana sudah sampai terlebih dahulu dan sudah saya buka Your Highness"
"Katakan"
Dengan berat hati, Jeremmy mencoba membuka suaranya
"His Majesty tidak menyetujui pengiriman bantuan ke wilayah barat. Dan masalah Baron Lawson, His Majesty akan menanganinya"
Kembali nafas panjang Fredrick berhembus
"Akan sulit untukku mengikat Victoria ke dalam pernikahan jika Duke Arthur belum menyelesaikan wilayah barat"
Jeremmy mengeryit saat mendengar ucapan Fredrick yang cukup mengejutkan
"Aku harus secepatnya menyematkan gelar pendampingku dan nama belakangku untuk Victoria. Jika tidak, mereka akan terus berani mengganggunya"
"Andaa...." Jeremmy tercekat. "Anda akan mempercepat penikahan?"
Fredrick mengangguk tanpa mengubah arah pandang dan posisi tubuhnya
"Jika dia masih berstatus bayang-bayang ikatan. Akan lebih banyak lagi serangan untuknya. Tujuan 'anjing' ibuku dari dulu sudah jelas dan situasi sekarang membuat mereka akan melakukan apapun secepatnya untuk menuntaskan semua 'perjanjian'.." Fredrick mendesah. "Ini berbahaya. Keluarganya juga semakin mencurigakan. Ini terlalu tenang Jer, aku mulai curiga jika keluarganya sedang menyiapkan sesuatu untuk merebut kembali Victoria dan..." Kali ini Fredrick menoleh ke samping, ke arah sofanya, di mana kemarin setelah kejadian itu, Fredrick terus merasakan semua kesakitan tunangannya. "Dan bahkan akan mengambil hal berharga lain milikku selain Victoria"
"Tapi Your Highness... Mereka ti..."
"Mereka akan dan bisa melakukan apapun. Meski aku tidak bisa membaca apa yang kira-kira akan mereka lakukan"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Fredrick menuju pintu keluar yang segera di ikuti Jeremmy.
"Jer, lepaskan Lady Diana tapi jangan buat dia berkeliaran dulu di sekitar Victoria hingga aku bisa membuat Victoria membuka mulutnya tentang kejadian itu. Tidak masalah jika kau ingin mejelaskan keadaan Victoria padanya"
"Baik Your Highness"
Tanpa terasa, langkah Fredrick sudah sampai di depan pintu kamar Victoria. Jeremmy dengan cepat mengetuk pintu.
Setelah menyebutkan kedatangan tuannya dan pintu terbuka. Jeremmy bertanya pada pelayan pribadi Duchess Argentt yang di tugaskan khusus untuk mengurus Victoria, apakah Victoria bisa di temui atau tidak. Jeremmy mengangguk pada Fredrick setelah mendapatkan jawaban. Dengan langkah pasti Fredrick segera masuk ke dalam kamar. Jeremmy dan pelayan itu langsung berdiri di depan pintu yang mereka buka dengan lebar.
Victoria yang awalnya terus menatap kosong ke luar jendela menggeser bola matanya saat sosok Fredrick sudah berdiri di samping ranjang.
"Ku dengar kau tidak menghabisakan sarapanmu?"
Dengan arah pandang yang kembali menatap kosong ke luar jendela. Victoria tidak bergeming saat bokong Fredrick sudah mendarat di pinggir ranjang dan meraih tangannya
"Ingin makan siang bersama?"
"Kapan kita kembali ke istana?"
Pertanyaan Fredrick yang di balas pertanyaan, membuat Victoria mendapatkan tepukan pelan menenangkan di tangannya yang ada di dalam genggaman tangan besar dan kasar Fredrick
"Hingga kau sudah lebih baik"
"Aku baik-baik saja"
"Kau tidak baik-baik saja Vic"
Kedua bola mata Victoria bergetar. Benar, dia tidak baik-baik saja dan juga ada perasaan cemas yang bersarang di tengah-tengah perasaan pedih di hatinya
__ADS_1
"Bash"
Kali ini Victoria menatap Fredrick yang terus menatapnya dengan lekat
"Katakan"
Dengan mengepalkan tangannya yang ada di dalam genggaman Fredrick, Victoria mencoba menguatkan dirinya
"Aku ingin melihat bedeb*h itu"
Fredrick menatap Victoria lebih lekat dan dalam, kedua bola mata abu-abunya menyelami kedua bola mata Victoria yang lebih redup dari biasanya
"Untuk?"
"Ingin memastikan ingatanku dan meyakinkan ingatakanku. Diana akan merasa cemas padaku yang tidak mau melihatnya"
Benar dugaan Fredrick, Victoria akan lebih mengkhawatirkan orang lain dari pada dirinya, memaksakan dirinya agar tidak menjadi beban untuk orang lain. Dia akan menahan semua rasa sakit sendirian dari pada harus berbagi dan membuat orang-orang yang di sayanginya merasa khawatir
"Bisakah, kau menceritakan padaku apa alasanmu yang tidak mau melihat Lady Diana?"
Ucapan Fredrick membuat kepala Victoria tertunduk. Kesakitan mulai kembali menggerogoti pikiran dan hatinya hingga membuat kedua matanya siap menumpahkan air mata. Fredrick yang melihat respon Victoria melirik dua orang yang beridir di depan pintu yang terus terbuka lebar. Lirikan Fredrick langsung membuat Jeremmy paham dan mengangguk lalu membawa pelayan di sebelahnya untuk ikut keluar kamar.
Saat pintu kamar sudah tertutup Fredrick segera menarik tubuh Victoria ke dalam dekapannya. Dan, tangis Victoria langsung tumpah.
"Tidak masalah jika kau belum bisa bercerita. Tidak masalah Vic"
Fredrick terus mengusap pelan punggung Victoria yang mulai bergetar
"Aku takut... aku.."
"Sstt ssstt... tidak apa-apa.. aku di sini, jangan pikirkan apapun lagi"
Kedua tangan kecil itu langsung terangkat dan meremas sisi baju Fredrick, kelapa Victoria mendongak menatap Fredrick
"Tapi aku harus"
Fredrick hanya diam dan membalas tatap Victoria yang tidak menyiratkan perasaan apapun lagi selai amarah, Victoria kembali membuka mulutnya
"Aku harus kan? cepat atau lambat aku harus mengulang ingatan itu"
Kali ini dengan berat hati Fredrick mengangguk dan satu tangannya berpindah dari punggung ke pipi Victoria yang sudah membengkak hingga berwarna ungu pekat. Victoria semakin mencekam baju Fredrick dan mulai kembali membuka suara dengan arah pandang yang mulai terus buram
"Aku melihat wajahnya, malam itu aku melihat wajah Diana dengan tubuh orang lain. Aku tidak bisa seperti ini Bash, aku merasa mulai gila"
Dengan ke kedua bahu rapuhnya yang semakin bergetar, Fredrick membawa ke dalam pelukannya tubuh penuh kesakitan itu
"Apa dia..." Fredrick tercekat. "Apa saja yang dia lakukan padamu?"
Tangisan pilu Victoria dengan seluruh tubuhnya yang langsung menggigil membuat rahang Fredrick terkatup rapat.
\=\=\=💙💙💙💙
Yuk bisa yuk jejaknya di tinggalin..
Kalo berkenan Vote-nya juga tolong di sebar yaa
__ADS_1
Salam sayang semua✨