Behind The Castle

Behind The Castle
**BROTHER SISTER**


__ADS_3

Sambil memandangi langit dengan perasaan berkecamuk, Victoria masih menunggu di depan ruang rapat istana. Dimana, di sana tempat para petinggi kerajaan dan 'hanya' kakaknya membicarakan tentang pernikahannya. Ini pembicaraan pembuka, mungkin jika hasil tidak memuaskan dan masih banyak kekurangan, akan ada pembicaraan ke dua, ke tiga atau seterusnya, tanpa... keluarganya yang lain karna para uncle-nya yang tidak menanggapi undangan dari istana. Victoria tersenyum kecut


Suara pintu yang terbuka membuat Victoria segera memutar kepalannya dan menatap para Gentlemen yang baru saja keluar. Dengan sopan mereka langsung saling melempar sapaan sopan hingga terakhir, berdiri tiga pria yang mempunyai pengaruh besar akan hidupnya sekarang dan juga nanti.


"Selamat sore Your Majesty"


Dengan raut wajah yang pucat dan tampak kurang sehat, Raja George tersenyum hangat sambil mengangguk singkat, menerima sapaan Victoria.


Setelah Raja George pergi tinggalkan Fredrick, Arthur dan Victoria. Dengan senyum menawan Fredrick menatap Arthur dan Victoria secara bergantian


"Kalian memang sedarah..." Fredrick terkekeh. "Sangat sama"


Satu alis Victoria menukik dan menatap Arthur penuh tanya. Arthur menarik sebelah bibirnya dan menatap Fredrick


"Pasti pernah terjadi hal serupa?"


Kembali Fredrick terkekeh


"Well... Dulu ada seorang gadis yang juga pernah menampar seorang Earl. Lalu sekarang ada seorang Duke muda yang menampar dua orang Earl, dua orang Marquess, satu orang Duke dan Seorang putra mahkota"


Ahh... Victoria akhirnya mengerti arah pembicaraan dua pria di depannya. Pasti kakaknya melakukan sesuatu dengan otak dan mulut lincahnya. Victoria tersenyum pada Fredrick dan menatapnya


"Apa tamparan kakakku untukmu sakit Bash?"


"Ohh sayang, aku sudah biasa di tampar"


"Harusnya saya tidak menampar anda Your Highness. Harusnya saya menendang anda"


Victoria terkekeh dan segera bergelayut manja di lengan kakaknya. Fredrick yang melihat tingkah Victoria segera melihat sekeliling dengan cara yang dramatis dan mengingtkan Victoria dengan raut yang di buat tajam


"Tidak sopan bertingkah seperti itu Lady"


Victoria hanya mengedipkan bahunya acuh. Arthur kembali merubah raut wajahnya menjadi dingin dan menatap Fredrick


"Sampai kapanpun dia adik saya, dia bebas ingin seperti apa pada saya Your Highness"


Fredrick memutar bola matanya dan membalas tatapan Arthur dengan acuh


"Hati-hatilah di jalan Duke, berhati-hatilah"


Itulah kata terakhir yang di katakan Fredrick sebelum meninggalkan dua kakak beradik itu untuk memberikan ruang. Arthur mencerna dengan baik kata-kata itu. Dia sangat tahu maksut ucapan itu tapi tidak dengan Victoria yang tidak paham tapi juga paham dengan maksut itu. Kerasnya kehidupan politik mengajarinya banyak hal meski dia tidak punya gambaran jelas dengan perkataan itu


"Apa yang kau pikirkan Ri?"


Suara Arthur membuat Victoria mendongak untuk menatap kakaknya


"Apa kau akan baik-baik saja selama di perjalanan. Aku....."


"Tenanglah sweetheart.... Tenanglah dan fokuslah pada pelajaranmu"


Arthur yang mengetahui kecemasan adiknya segera memotong ucapan Victoria sambil membelai pipi adiknya penuh sayang. Victoria mengangguk ragu tapi juga mencoba pasrah. Kakaknya tidak akan mudah di serang dan di sakiti kan?


"Ayo Vic"


Arthur menuntun langkah mereka menuju halaman istana. Di mana kereta kuda dengan lambang Duchy Albany sudah menunggu. Terjadi percakapan singkat selama Victoria menemani langkah kakaknya hingga mereka sampai di samping kereta kuda


"Aku akan datang lagi minggu depan untuk keputusan terakhir. Apa kau punya sesuatu yang ingin ku bawakan nanti?"

__ADS_1


"Bawakan aku bunga yang romantis"


Sambil memberikan pelukan untuk adiknya, Arthur menyanggupi lalu mencium lama dahi adiknya dengan sayang


"Aku juga akan membawa Bety nanti"


Kedua bola mata Victoria langsung berbibar dan menganggukan kepalanya dengan antusias.


Setelah Kereta kuda kakaknya keluar dari gerbang istana. Victoria segera memutar langkahnya menuju camp kesatria tanpa di temani siapapun, bahkan Diana pun tidak ada menemaninya. Dia ingin punya waktu khusus sendiri dengan tunangannya nanti.


---000---


Para kesatria terus melirik Victoria dan Fredrick yang masih saling mengayunkan pedang mereka. Sesekali mereka meringis saat Fredrick dengan kekuatan yang mereka ukur adalah kekuatan yang paling lemah menepis pedang di tangan Victoria tapi, tetap saja itu tetap akan terasa sakit di pergelangan tangan kecil dan terawat seorang Lady bangsawan.


"Apa kau tidak bisa sedikit mengalah! kasar sekali!"


"Jika yang di hadapanku bukan kau, aku jamin pergelangan tanganmu sudah patah"


Victoria mencibik kesal dan segera berputar berjalan menuju pintu masuk camp. Fredrick hanya terkekeh dan mengejar langkah tunangannya yang sepertinya sudah sangat kesal.


"Ayo kita berkuda saja"


"Aku lelah"


"Aku yang menunggangi"


"Aku malas"


"Kau hanya perlu duduk"


"Aku kesal dan marah padamu Fredrick!"


"Ok"


Dengan santai, Fredrick mengikuti langkah Victoria menuju ruang santai camp. Gerak gerik Victoria terlihat sudah sangat akrab dengan tempat itu. Bukan, lebih tepatnya Victoria memang sudah akrab untuk berkeliaran di camp kesatria


Dengan cepat Victoria mendaratkan bokongnya di sofa saat mereka sudah masuk ke ruangan itu. Fredrick mengukuti dan akan mendaratkan bokongnya ke sofa di depan Victoria tapi, saat melihat Victoria yang memijat tangan kananya. Fredrick memilih untuk mendaratkan bokongnya di sebelah Victoria. Lalu meraih tangan Victoria


"Aku sesakit itu?"


Sambil mengambil alih untuk memijat tangan Victoria, Fredrick menatap wajah Victoria yang sesekali meringis


"Tidak juga tapi, aku takut tanganku jadi kasar seperti tanganmu"


"Karna itu ku katakan jangan terlalu sering datang ke sini"


Dengan kesal Victoia menarik tangannya yang ternyata di pegang erat oleh Fredrick


"Aku harus bisa melindungi diriku"


"Akan ada banyak orang yang akan melindungimu sayang"


Victoria menatap Fredrick tidak suka


"Jika ada yang menjahatiku saat aku sedang di dalam kamar atau di dalam kamar mandi bagaimana? para kesatriamu tidak mungkin ada di sana kan"


Dengan masih terus memijat tangan Victoria, Fredrick menatap Victoria dengan tajam

__ADS_1


"Tentu saja mereka tidak bisa. Karna aku yang kan menjagamu saat kau sedang dalam keadaan tidak berbusana. Enak saja mereka huh!"


Bibir Victoria berkedut geli sambil menapar pelan dagu Fredrick


"Aku tidak bilang jika aku tidak sedang berbusana Bash"


Aahh.. Fredrick mulai tenang saat nama kecilnya sudah meluncur dari bibir ranum tunangnnya. Tanda jika kekesalan Victoria sudah mereda


"Aku sudah tidak sabar...." Fredrick mendekatkan bibirnya kentelinga Victoria. "Ingin melihatmu tanpa busana di bawahku"


"Brengsek kau Fredrick!"


Pukulan-pukulan keras segera mendarat di lengan dan bahu Fredrick sambil suara kekehan gelinya yang menggema mengisi ruang santai camp. Hingga pukulan berhenti saat Fredrick menangkap tangan Victoria dan menarik tubuh kecil itu untuk menempel pada tubuhnya.


Arah pandang mereka bertemu, wajah mereka semakin dekat, nafas mereka saling menerpa wajah mereka. Fredrick segera menguasai keadaan dengan memiringkan kepalanya dan ******* lembut bibir ramum tunangannya. Sungguh, Fredrick benar-benar ingin melakukan lebih dari sekedar lum*tan singkat tapi itu hanya akan berakhir dengan penderitaannya sendiri. Victoria tidak akan mau meladeni jiwa b*jingannya yang semakin hari semakin mudah terpancing, bahkan hanya dengan sebuah gerakan halus Victoria bisa memancing libido-nya. Victoria sangat berbahaya untuknya


"Jangan semabaran Fredrick! Banyak mata yang akan melihat!"


See? Padahal Fredrick hanya menciumnya singkat tapi Victoria sudah akan mengamuk. Fredrick menarik nafas dalam untuk meraup pengendaliannya lalu membiarkan Victoria mengambil jarak untuk mereka. Baiklah... Fredrick tidak akan macam-macam jika memang Victoria tidak ingin, walaupun sangat menyakitkan ketika dia harus terus menahan hasratnya. Akan ada waktunya nanti Fredrick membuat Victoria menjerit-jeritkan namanya sambil mendes*h


"Hentikan pikiran kotormu!"


"Aku tidak"


Victoria memutar bola matanya dengan malas


"Wajahmu yang mesum itu tidak bisa di sembunyikan Bash"


"Benarkah?" Fredrick segera mengubah raut wajahnya menjadi tidak terbaca. "Aku tidak berpikiran seperti itu, percayalah"


Victoria kembali memutar bola matanya lalu menatap Fredrick dengan serius


"Apa kakakku akan baik-baik saja Bash?"


"Dia akan baik-baik saja"


"Tapi..."


"Sstt!.." Satu jari telunjuk Fredrick menempel di bibir Victoria. "Jika kau berpikiran macam-macam. Kau sama saja meragukan kakakmu Vic. Dia bukan lagi seorang pria biasa, dia bukan seorang pemuda sembarangan"


Dengan pasrah Victoria mengangguk dan kembali menatap Fredeick dengan serius


"Berapa lama kesepakatan kita akan mulai berjalan"


Fredrick membalas tatapan serius Victoria


"Beberapa bulan lagi. Easy Vic...."


Nafas panjang Vicrtoria berhembus


"Bash..." Satu tangan Victoria meraih tangan Fredrick dan menatapnya dengan tegas. "Untuk persiapan gaun dan kebutuhan mempelai perempuan. Biarkan semuanya memakai keuangan dari keluargaku sendiri"


Fredrick memicingkan matanya dan menatap Victoria penuh selidik


\=\=\=💙💙💙💙


Yuk tinggalin jejaknya jangan lupa

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2