
Diana menaikkan arah pandangnya mentap warna langit yang mulai gelap, lalu melirik Victoria yang sedang mengunyah kookies terakhir di atas piring
Victoria mengelesaikan kunyahan kookies terakhir di mulutnya dan mengangkat cangkirnya yang ternyata sudah kosong, dengan sigap Diana akan menuangkan teh lagi tapi, tangan Victoria segera terangkat yang membuatnya Diana menghentikan gerakan tangannya
Dalam keterdiaman mereka terlebih seseorang di depannya akhirnya suara Victoria menghentikan kesunyian
"Langit sudah mulai gelap Your Highness, saya permisi untuk kembali"
Fredrick hanya diam dengan jari telunjukkan yang terus menggarukki cangkir dengan arah panjang yang terus menatap kosong ke isi cangkirnya. Merasa sudah sangat bosan dan malas, tanpa jawaban dari Fredrick, Victoria segera berdiri dan di ikuti Grey yang langsung membuka matanya saat tuannya bergerak.
Pergerakan Victoria akhirnya membuat ke dua bola mata abu-abu Fredrick bergerak untuk menatap Victoria.
"Aku belum memberi ijin untukmu berdiri atau pergi"
Suara Fredrick terdengar datar dan tanpa bibir yang melengkung ke atas, membuat Diana menggigit pipi dalamnya.
Seperti yang sudah mulai sering terjadi Victoria mengabaikan ucapan Fredrick dan tetap mengambil posisi anggunnya untuk memberikan salam perpisahan.
"Selamat sore Your Highness"
Setelah mengucapkan salamnya Victoria memutar dengan cepat tubuhnya untuk menuju pintu ke luar taman istana selatan tapi, Sebuah tangan kekar menariknya dengan kuat yang membuat Victoria tersentak dan kesal.
"Your Highness"
Fredrick mencengkam lengan Victoria dengan kuat dan menatap mata sehijau daun Victoria dengan tajam dengan rahang mengeras, Fredrick menarik dan menyeret kuat lengan Victoria yang membuat Victoria terpekik kesal
"Your Highness!!!"
Grey sudah mengeram dan menggonggong, Diana terlihat sudah siap untuk melompat bersama Grey untuk menyelamatkan nonanya karna, Diana bisa melihat jika wajah Fredrick penuh dengan guratan kemaran.
"Your Highness!!! Lepaskan saya!!"
Fredrick tidak peduli dengan tangan Victoria yang terus meronta dan malah semakin kuat menyeret Victoria menuju ke dalam taman. Victoria yang melihat keadaan semakin memanas terlebih Grey yang sudah siap menyerang Fredrick segera berteriak
"Stop Grey! Diam di sana bersama Diana!!"
"My Lady!"
Sebelum Fredrick menyeret Victoria dan hilang di dalam balik bunga-bunga dan pepohonan, Victoria menggeleng kuat ke arah Diana yang sudah hampir menangis.
Frederick mendorong kuat tubuh Victoria ke batang pohon oak besar di dalam taman, sebelah telapak tangan besarnya menahan kepala belakang Victoria agar tidak terbentur pohon
"Aauu!!"
Benturan kuat tubuhnya ke pohon membuat Victoria memekik sakit dan kaget, Fredrick menarik tangannya yang berada di kepala Victoria dan memukul-mukul dengan keras pohon disebelah kepala Victoria.
Victoria memejamkan matanya saat suara pukulan di sebelahnya semakin kuat, setelah merasa Fredrick tidak bergerak lagi dan hembusan nafas hangat Fredrick mulai teratur, Victoria mencoba membuka matanya dengan pelan, kedua bola mata sehijau daunnya segera bertabrakan dengan kedua bola mata abu-abu Fredrick yang berkilap tajam tapi juga panas.
Victoria menggerakkan bola matanya dan akhirnya menyadari posisi mereka, Fredrick mengukung tubuh Victoria di pohon dengan wajah mengeras dan sorot mata tajam menusuk ke dalam mata Victoria, hingga ke punggung Victoria.
"Apa yang anda lakukan Your Highness!!"
Victoria mencoba keluar dari kukungan Fredrick tapi, Fredrick mencengkam kuat pinggang Victoria sambil terteriak
__ADS_1
"Berhenti mengabaikanku Victoria!! sampai kapan kau akan mengabaikan ku seperti ini!!"
"Saya tidak mengabaikan anda!!"
Victoria ikut berteriak kesal
"Kau mengabaikanku Victoria!! setelah pesta sialan itu kau mengabaikanku sangat parah dan bersikap semakin dingin!!!"
Victoria mengepalkan tangannya dengan amarah karna Fredrick juga semakin mencengkam pinggangnya
"Saya memang seperti ini Your Highness!! apa yang anda harapkan dari saya!!"
"Kau tidak seperti ini sebelum pesta berengsek itu!! jangan bersikap dingin padaku seperti orang asing!! jangan mengabaikanku seperti aku tidak ada!!"
Victoria semakin berang dan siap memaki
"Your Highness an......"
Belum sempat mengeluarkan makiannya, mulut Victoria segera tertutup saat Fredrick menjuhkan kepalanya ke bahu Victoria, cengkaman tangannya di pinggang Victoria terlepas berpindah ke samping kepala Victoria.
Fredrick merasa sangat lelah dan juga putus asa, dia tidak bermaksut menyeret dan membentak Victoria, tapi sikap sedingin es dan sekeras batu Victoria setelah pesta itu terus membuat Fredrick tidak nyaman, ada sesuatu di perasaanya yang terus mengganjal, sudah lama Jeremmy memintanya untuk meminta maaf tapi Fredrick merasa tidak bersalah, dia tidak melakukan apapun yang membuatnya harus meminta maaf tapi, perubahan parah Victoria yang semakin hari semakin menjadi selama 2 bulan ini membuatnya sangat tidak tenang, perasaanya tidak nyaman dan jika waktu bisa di putar dia benar-benar tidak akan meninggalkan Victoria saat itu.
"Maafkan aku"
"Your Highness an...."
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu saat pesta itu, maafkan aku karna melukai harga dirimu"
Fredrick mengangkat kepalanya untuk menatap wajah manis Victoria yang sudah tidak lagi tampak guratan amarah, kedua bola mata sehijau daun itu hanya menatapnya dengan datar, tapi ini lebih baik dari pada dia harus menerima tatapan sedingin es yang membuat perasaannya terus terganggu
"Saya memang seperti ini Your Highness, banyak orang yang mengatakan jika saya gadis yang dingin, anda ti...."
Ucapan Victoria terhenti ketika tangan Fredrick menangkup wajahnya dengan lembut, jari-jarinya membelai pipi Victoria dengan halus
"Kau seperti itu pada orang yang kau benci, dan pada orang yang tidak kau kenal terlebih, pada orang yang tidak ingin kau kenal karna itu, jangan menatapku seperti itu dan tolong jangan mengabaikanku seperti aku tidak ada"
Cukup lama mereka dalam posisinya, keheningan dan keterdiaman Victoria membuat Fredrick gugup, banyak pertanyaan yang langsung kembali berputar di kepalanya, semakin lama kesunyian membuat Fredrick semakin gugup terlebih tatapan mata datar Victoria yang tidak juga bisa di baca atau di tebaknya hingga
"Saya akan mencoba Your Highness"
Mendengar ucapan Victoria, lengkungan di bibir Fredrick tidak bisa di tahannya lagi, dadanya berdesir, perasaan lega membuat kepalanya menjadi ringan, tanpa bisa berpikir Fredrick segera membawa tubuh kecil Victoria ke pelukkannya.
Victoria terkejut saat Fredrick memeluknya bahkan Fredrick semakin mengertakan pelukkannya, dengan panik bola mata Victoria bergerak-gerak melirik sekeliling.
"Your Highness.... akan ada mata yang melihat"
Aahh.. Fredrick melupakan itu, rasa bahagia dan lega di dadanya membuatnya bertindak tanpa berpikir. Dengan sangat terpaksa Fredrick menguraikan pelukkannya dan menatap mata Victoria yang terlihat tidak fokus dengan wajah gelisah
"Maafkan saya your Highness tapi ini sudah gelap dan...."
Victoria meringis dan melirik Fredrick yang tersenyum geli.
"Iya aku tahu... ini di luar"
__ADS_1
Victoria hanya tersenyum canggung
"Ayo ku antar"
Victoria mengangguk dan berjalan menuju keluar taman
-00-00-00-00-
Jeremmy dan Edward terus melirik wajah aneh Fredrick yang masih saja tersenyum hingga waktu hampir tengah malam. Ini di mulai saat dia selesai minum teh bersama Victoria bahkan dia melewatkan makan dengan alasan kenyang?
Edward yang tidak bisa lagi menahan rasa jijiknya melihat bibir Fredrick yang terus melengkung ke atas, akhirnya bersuara
"Berhentilah tersenyum seperti orang bodoh Fred! kau ini kenapa?"
"Setelah 2 bulan terlihat frustasi sekarang anda seperti ini Your Highness, apa ada kurang sehat?"
Jeremmy menimpali ucapan Edward yang membuat Fredrick melempari mereka dengan kacang
"Diam saja! jangan ganggu kesenanganku"
Jeremmy dan Edward hanya saling pandang dalam bingung, hingga akhirnya Jeremmy teringat sesuatu dan menatap Fredrick dengan serius.
"Your Highness, saya ingin mengatakan sesuatu"
Fredrick yang melihat raut wajah serius Jeremmy berdecak kesal dan dengan malas berdiri menjauh menuju ke luar ruang santai camp latihan yang segera di ikuti Jeremmy.
"Ada apa? awas kalau kau mengganggu kebahagiaanku"
Jeremmy hanya membuang nafas panjang dan merogoh sakunya
"Ini sampai dari siang tadi, seseorang mengantarnya dan memberikan pada saya, surat ini harus segera di berikan pada anda"
Fredrick mengerutkan alisnya dalam
"Dari siapa?"
"Lady Calista"
Fredrick yang akan meraih surat yang di sodorkan Jeremmy, menarik kembali tangannya saat tahu siapa pengirim surat.
"Untukmu saja"
Dengan acuh Fredrick membiarkan tangan Jeremmy yang masih menggantung di udara dan dengan langkah gontai masuk kembali ke dalam ruang santai camp, meninggalkan Jeremmy yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Karna tidak ingin pusing Jeremmy segera memanggil seseorang dan memintannya mengembakan surat itu ke kediaman Baron Gafton, dengan pesan jika 'dia' bertanya kenapa suratnya di kembalikan, katakan itu perintah langsung dari His Highness Pangeran Fredrick.
Jeremmy menyeringai.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hallo readers... kalau suka sama ceritannya tolong like, komen, bintang dan lope-nya ya...
Terimakasih sudah mampir dan semoga kalian masih berminat untuk lanjut membaca
__ADS_1
Salam sayang semua ✨✨