
FIVE YEAR LATERS....
Pagi tadi, aku langsung menghentikan rapat penting yang sedang berlangsung di tengah jalan. Perasaanku sangat gelisah dah cemas selama kereta kuda ini bergerak. Isi surat dari ayah George, Ekhem!.... Maksutku 'George', tolong jangan katakan padanya jika aku memanggilnya 'ayah' karna dia pasti akan menangis tersedu-sedu seperti nenek tua.
Kembali lagi ke cerita, jadi Geogre mengirim surat padaku dan mengatakan jika Francesca dan Ferdinand sakit. Mereka katanya terserang demam dan sedikit flu. Awalnya hanya Francesca yang sakit tapi beberapa jam kemudian Ferdinand juga ikut sakit. Sepertinya ini karna mereka kembar jadi setiap yang satunya sakit atau sedih, maka yang satunya pasti itu merasakan juga. Ini bukan kali pertamanya seperti ini, selama lima tahun, hal ini juga dulu pernah terjadi beberapa kali.
Aku merasakan jika pergerakan kereta kuda berhenti dan dengan cepat Diana langsung membuka pintu kereta. Carl sudah menungguku di depan pintu, layaknya gentlemen sejati dia langsung membantuku untuk turun. Oh God... apa kalian tahu, Diana bahkan terlihat lebih khawatir dari ku, bahkan dia terus menangis sepanjang jalan yang membuatku harus menenangkannya. Jadi, siapa yang sebenarnya ibu dari anak kembar itu?
"Your Majesty"
Aku mengangguk singkat pada Sisi yang sudah menyambutku, rambut tuanya semakin terlihat tua dan berwarna semakin keperakan. Aku berdoa semoga Sisi tetap sehat dan kuat karna, yang ada di perutku ini akan menjadi penghuni baru dirumah Yorksire nanti. Yaahh... aku sedang hamil lagi dan sudah menginjak usia enam bulan, dan semua ini karna Fredrick brengsek yang sering lupa untuk mencabut! Ekhem! Oh baiklah... ini sedikit memalukan, maksutku Fredrick memang pria yang memalukan bukan aku.
Berbicara tentang suamiku itu, dia sekarang sedang ada di Vancia bersama Edward dan Jeremmy, maksutku itu... Kerajaan Francia yang baru, tolong yang ini juga jangan katakan pada Fredrick karna dia sangat tidak suka dengan kata 'Vancia'. Vancia is Francia remember?
Sayup-sayup aku mendengar suara Ferdinad yang sepertinya baru selesai di bantu makan oleh Bety. Dengan pelan aku membuka pintu kamarnya dan mengintip, dan benar, jagoanku itu sekarang baru selesai minum obat
"Hallo sayang..."
Suaraku langsung membuat Ferdinand menoleh dengan wajah memerah dan bibir mencebik. Ohh.. jagoan ku itu akan menangis.
"Mama... Aku sakit"
Suaranya yang lucu dengan bibirnya yang sudah gemetar karna menahan tangis membuat senyumku tidak bisa di tahan. Kedua tangan mungilnya langsung terlentang lebar minta di peluk dan aku dengan sangat senang hati segera menyambutnya
"Kenapa bisa sakit sayang?"
"Aku kemarin diam-diam bermain hujan mama, lalu Frances ingin ikut, jadi kami bermain bersama. Tapi aku tadinya tidak sakit, Frances yang sakit duluan ma" Ferdinand menguraikan pelukannya dan menatapku dengan wajah menahan tangis. "Aku tidak sengaja... maaf ya mama"
Melihat wajah memelasnya dengan cepat aku langsung memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya yang kata mereka sangat mirip dengan Fredrick kecil. Itu perkataan dari George dan Sisi, katanya Ferdiand adalah salianan ulang Fredrick saat kecil, kecuali bola matanya yang sama denganku.
"Apa kalian kemarin bersenang-senang dengan air hujan nak?"
"Iya mama... tapi aku tidak akan lagi seperti itu. Aku berjanji"
Ohh lihatlah jagoanku ini, dia anak yang baik dan manis kan?
"Iya sayang, mama tidak marah. Jadi... apa obatnya sudah di minum?"
Kepala Ferdinand langsung menangguk lucu dengan wajah yang tidak lagi menahan tangis
"Bety baru saja memberikannya mama"
Aku kembali memeluk sambil menciumi pucuk kepala Fredrick junior ini. Tubuhnya masih cukup panas dengan sesekali suara saat dia menarik lelehan di hidungnya terdengar. Tangan mungilnya sekarang sudah membelai pelan perutku
"Dia bergerak lagi ma...."
"Iya sayang, dia senang bertemu kakak jagoannya"
Ferdinand tersenyum manis dengan mata yang mulai sayu. Efek obat pastinya pasti sudah mulai bekerja
"Tidurlah sayang"
Dengan patuh, kepala jagoanku mengangguk dan langsung melepaskan ikatan tangannya dari pinggangku. Aku menarik selimutnya dan memberikan ciumam dalam di dahinya saat matanya semakin terlihat berat
"Selamat tidur sayang"
Langkahku sekarang menuju ke ruang santai, karna Bety mengatakan jika Francesca sedang bersama George di sana. Lebih tepatnya, cucu kesayangan itu sedang di tidurkan oleh George, seperti biasa. Francesca memang sangat menempel pada George bahkan selalu sangat menurut pada George dan sering mengabaikan Fredrick. Dan itulah yang selalu menyebabkan pertikaian sengit antara Fredrick dan George ketika mereka bertemu. Mengingat itu aku jadi ingin tertawa. Tiga orang bermata abu-abu itu selalu sangat aktif.
Aku mengintip apa yang sedang terjadi di dalam ruang santai dan.. pemandangan yang sering ku lihat terjadi lagi. George sedang duduk di kursi goyang dengan Francesca yang ada di dekapannya. Kedua mata George tampak mengantuk tapi di paksakan untuk terbuka. Dan Francesca sudah tertidur nyenyak di dalam dekapan George. Kepalanya tertidur lucu di sebelah bahu George dengan kursi goyang yang terus bergerak. Tangan George dengan lembut terus mengusapi punggung Francesca. Tanpa bisa ku tahan, pemandangan itu membuat ku tersenyum
Aku jadi teringat masa lalu, di mana George pernah menangis tersedu-sedu penuh permohonan saat dia sakit. Saat itu dia sudah akan menyerah dengan hidupnya dan sudah siap untuk meninggal. Tapi, sebelum hari itu aku sebenarnya mendapatkan sebuah kecurigaan tentang sakit George. Dan ternyata benar dugaanku, George kembali menghukum dirinya sendiri dengan secara rutin meminum racun yang bisa membuat tubuh sakit dalam waktu berkala.
Meski saat itu dendam dan kebencian di dalam hatiku masih sangat membara, tapi ketika dia menangis dan mengatakan jika dia sangat mencintai Fredrick, hatiku terketuk begitu saja. Terutama ada ketakutan di dalam hatiku tentang Fredrick. Aku takut jika George benar-benar pergi akan ada penyesalan di hati suamiku itu. Meski saat itu aku belum mengetahui semua rahasia masa lalu mereka dan juga semua fakta, tapi entah bagaimana hatiku mengatakan jika aku tidak boleh mengabaikannya. Mungkin itu adalah suara dari malaikat yang sedang berbisik di kedua telingaku
__ADS_1
Karna itu aku langsung meminta uncle Albert untuk mencarikan pil penawar racun dari kerajaan cinan, kerajaan yang memiliki pengobatan terbaik untuk menawar racun. Dan untung saja, uncle Albert bersedia. Padahal aku sudah cukup cemas jika dia tidak akan sudi membantuku mencari benda langkah itu, apa lagi saat balasan suratnya yang bertanya 'untuk apa'.
Saat pil itu sudah ku dapatkan, aku datang kembali ke kamarnya dan menawarkan pilihan kesempatan. Setelah berhari-hari menunggu jawaban, akhirnya aku bisa bernafas lega karna George memilih untuk tetap melanjutkan hidup dan akan terus mencoba memperbaiki hubungannya dengan Fredrick. Meski nanti dia harus bermain peran sebagai 'mendiang' Raja agar aku bisa cepat menjadi Ratu. Intinya, aku ingin dia pensiun dini menjadi Raja dan setelah dia pulih, aku ingin dia menjadi pengajar anak-anakku. Aku dan Fedrick tidak ingin sembarangan memilih pengajar untuk Putri mahkota dan Pangeran kecil kami, dan George, si mantan Raja, lebih dari kata sempurna untuk mendidik mereka tentang istana dan kerajaan. Tidak ada
pengajar yang lebih sempurna dari kakek sendiri kan? Meski nanti aku tetap akan mencarikan pendamping wanita untuk Francesca kelak.
"Kau sudah datang Vic"
Oh ya ampun... apa aku sedang melamun? Karna aku tidak menyadari jika George sekarang sudah berdiri di depanku sambil tersenyum hangat.
"Ahh... iya George, aku baru habis melihat Dinand"
Tangan George kembali mengusapi punggung Francesca saat kepala putri keras kepalaku itu bergerak. Dia sepertinya sedikit terganggu karna suara kami
"Aku akan membaringkan Frances dulu"
Aku hanya mengangguk dan memperhatikan George yang dengan penuh kelembutan membaringkan tubuh Francesca ke atas ranjang kecil yang ada di ruang santai. Itu tempat di mana dia harus di tidurkan dulu oleh George, lalu saat Francesca sudah benar-benar tertidur, George akan memindahkannya ke dalam kamar. Benarkan apa yang kukatakan jika Frances itu cucu kesayangan? Cucu George yang paling manja?
"Bagaimana perjalananmu nak?"
"Baik-baik saja George"
George membawa langkah kami untuk menuju ke taman belakang saat Sisi sudah muncul untuk menjaga Francesca. Aku dan George memilih duduk bersebelahan di bangku taman panjang yang mengarah ke pemandangan lavender.
"Bagaimana dia?"
George menatap perut besarku
"Cukup rewel, dia lebih rewel di bandingkan Frances dan Dinand dulu"
Aku bisa melihat senyum haru langsung tercetak di bibir tuanya
"Apa Fredrick belum sampai?"
"Kenapa bisa sakit George!"
Well.. Ini juga selalu terjadi, jika ada sesuatu Fredrick pasti akan langsung menyalahkan George. Dasar anak durhaka!
Aku, Edward dan Jeremmy langsung memutar bola mata kami dengan malas dan memilih menarik kursi penonton
"Mereka bermain hujan kemarin saat aku tertidur"
"Ck! kau ini memang tua bangka George"
George hanya tersenyum geli, alih-alih tersinggung dia malah terlihat senang di marahi anak durhakanya itu
"Sayang...."
"Apa?"
Dengan cepat tangan kekar Fredrick bergerak ke arah perut ku dan langsung membelainya dengan lembut. Aku melirik George yang langsung memutar bola matanya dengan jengah. Dia pasti malas melihat tingkah memalukan anaknya ini
"Kenapa kau ke sini, perutmu ini sudah semakin gendut"
PLAAKK!
"Sakit Vic!"
Sialan sekali kau Fredrick! bisa-bisanya dia mengatakan jika aku gendut. Apa dia tidak tahu jika kata 'gendut' itu adalah kata magic untuk memanggil setan iblis di hati seorang wanita.
"Berapa kali harus ku bilang, berhenti menyebutku gendut berengsek!"
Fredrick hanya terkekeh dan langsung berlutut di depanku. Kepalanya langsung menempel di perut besarku tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Dan aku hanya bisa melirik Edward dan Jeremmy yang langsung pergi sambil mendengus jijik, dan George yang kembali memutar bola matanya dengan jengah.
__ADS_1
"Kau ini sangat memalukan Fred"
"Aku tidak butuh ocehanmu George"
Kekehan geli kembali terdengar dari mulut George. Kedua matanya langsung berbinar menatap kami secara bergantian. Lalu wajahnya menatapku dengan kelembutan dan mulutnya terbuka mengatakan 'terimakasih' tanpa suara. Dia selalu mengatakan itu saat melihat kebersamaan kami dan aku membalasnya dengan tersenyum hangat dari seluruh isi hatiku. Aku tahu dia bahagia dan sangat bahagia, karna aku juga merasakan hal yang sama
---0000---
Kami baru selesai makan malam. Edward, Jeremmy dan Carl sedang bersama anak-anak untuk bermain. Fredrick sengaja meminta kami untuk berkumpul karna mungkin ada hal penting yang akan di katakannya
"Ada surat dari Lady Charlotte Vic"
Hatiku bergetar hebat, karna surat kali ini akan menjadi penentu tentang tawaran dan juga akhir dari rayuanku padanya. Aku menerima surat Lottie-ku dari tangan Fredrick dengan gugup sambil melirik George yang tersenyum dan mengangguk padaku. Dengan gugup aku membuka suratnya
...Dear adikku tersayang Ratu drama Victoria,...
...Aku sebenarnya bingung harus menulis apa, karna seperti yang kau tahu jika aku ini sulit untuk merangkai kata tapi, ku tegaskan dulu padamu. Setelah membaca ini kau tidak boleh melompat, karna His Majesty mengatakan jika perutmu sudah semakin gendut kan?...
Aku menjedah membaca suratku untuk memberiakan tatapan kesal pada Fredrick. Ohh Tuhan... kenapa aku bisa punya suami yang sangat menyebalkan sepertinya. Baiklah.. mari kita lanjutkan pada surat Lottie-ku
...Ri, di Trancia sekarang sedang musim dingin, bulan depan keponakkanmu Michael Regan William Arathorn akan berulang tahun. Jadi, tentang tawaran dan rayuanmu yang selama ini sudah sangat mengangguku, aku sudah memutuskan akan menerimanya....
...Keberangkatanku akan kami lakukan setelah musim dingin di sini berakhir dan setelah Michael berulang tahun. Intinya aku akan kembali ke Albany,...
...Ekhem! Selamanya....
...Jangan beritahukan ini pada keluarga kita, karna nanti aku ingin membuat para uncle jantungan dan pada aunty kita menangis tersedu-sedu. Jangan juga katakan ini pada Archi, karna aku ingin melihat dia terisak haru sambil memelukku dengan cara memalukan...
...Dari wanita tercantik Arathorn....
...Charlotte Elizabeth...
Aku hampir saja melompat karna rasa ledakan bahagia yang langsung mengisi kelegaan dan kebahagiannku. Tapi untung saja aku mengingat perintah Charlotte, dan hanya bisa menangis bahagia. Oohh Tuhan... setelah eksekusi Pangeran Marco, Lottie memutuskan untuk pergi dari Francia ke Transia dan menetap di sana. Aku setiap bulan selalu berkirim surat untuk mengertahui keadaannya.
Dia di sana sendirian, sedang mengandung, akan melahirkan dan membesarkan anak sendirian. Sebagai wanita dan sebagai adiknya tentu aku sangat khawatir. Meski Fredrick selalu mengatakan jika dia terus memantau dan menjaga Charlotte oleh orang-orangnya, bahkan selama lima tahun ini Lottie tetap di perhatikan dengan ketat, tapi tetap saja aku khawatir. Ya Tuhan... terimakasih... Aku sangat bahagia dan tanpa sadar langsung memeluk Fredrick yang terlihat langsung menjaga jarak karna perutku. Oh iya... aku jadi lupa jika aku sekarang sedang membawa perut besar.
Cukup lama aku menikmati luapan rasa lega dan bahagiaku hingga akhirnya, aku melepaskan pelukanku pada Fredrick dan langsung menatap ke dua pria bermata abu-abu ini bergantian.
"Charlotte akan kembali setelah musim dingin di sana berakhir!!"
"Oh Thanks God! akhirnya!!"
George langsung bersorak lega dan Fredrick langsung tersenyum lebar sambil menatapku.
"Kau senang sayang?"
"Tentu saja Bash, kakakku kembali!!"
Tangan Fredrick langsung menuntunku untuk kembali duduk. Oh.. aku bahkan tidak sadar jika sudah dalam posisi berdiri
"Aku akan mengaturnya nanti. Musim dingin di Trancia sudah hamping di penghujung, mungkin sekitar satu setelah bulan lagi berakhir"
Aku hanya bisa mengangguk kuat dengan air mata sialan yang lagi-lagi meluncur tanpa permisi
\=\=\=💜💜💜💜
Karna kalian mintanya Happy ending. Eike coba kasih yang happy-happy banget.
Masih ada lagi guys. Tunggu yaa... hehe
Ayuk jejaknya di tinggalin... Semoga kalian ikut happy juga ya
Salam sayang semua
__ADS_1