
Victoria masih bergelayut manja di lengan Arthur yang tidak terluka. Rayuannya terus di lancarkan meski Arthur terlihat sangat tidak akan menerima tawarannya, tapi Victoria belum menyerah. Dia sangat menginginkan kakaknya dan dia akan terus mencoba
"Ayolah Archi... Kau jangan ke parlement. Jadi penasehatku saja yaaa"
Arthur tetap diam dan kembali membalut kakinya yang terluka. Victoria akhirnya membuang nafas panjang. Ini mulai terasa sia-sia, kakaknya sangat keras kepala dan sangat tidak ingin berdekatan dengan istana. Tapi, Victoria belum menyerah
"Kau sungguh tidak mau Archi?"
"Tidak, cari orang lain saja"
"Tapi aku mau kau Archi! Ayolahh... kita bisa menata ulang Vancia. Fredrick sudah mengijinkanku untuk mengatur kerajaan itu"
Meski tawaran Victoria cukup menarik tapi kembali, Arthur kembali diam dan mulai membalut telapak tangan lengannya yang sedang tidak di gantungi Victoria. Victoria mencebik tidak suka dan langsung menjambak anak rambut Arthur
"Sakit Ri!"
"Rasakan kau keras kepala!"
Dengan kesal Victoria mencubit pelan balutan perban di pinggang kakaknya dan kali ini Arthur memekik kesal
"Kau mau membunuhku hah!"
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menyetujuinya!"
"Sampai mati pun aku tidak akan mau Ri!"
"Sialan kau Archi!"
"Jangan mengumpatiku!"
"Sialan! sialan! sialan! sialaaaaaannn!!!"
Arthur yang mulai kesal karna Victoria terus menekani semua lukannya, langsung membalas menjambak pelan rambut tergulung adiknya hingga terlepas. Victoria tidak tinggal diam dan membalas dengan memukuli pelan luka-luka di perban Arthur dan..... keadaan kamar khusus perawatan Arthur mulai terjadi keributan. Keributan itu membuat Frederick dan Edward yang baru akan menuju kamar segera berlari dengan panik.
Edward dengan cepat membuka pintu tapi, pemandangan yang di lihatnya membuat satu alisnya terangkat tinggi dengan sudut bibir berkedut. Fredrick yang juga baru bisa mencerna situasi hanya bisa terperangah. Jelas saja, ke dua pria yang berlarian karna panik itu tidak bisa percaya dengan apa yang sedang mereka lihat karna... melihat pemandangan posisi Victoria dan Arthur yang sedang saling beradu menjambak rambut. Seorang Ratu kerajaan yang sekarang sudah menjadi kerajaan yang sangat besar, dan seorang Duke paling tersohor se-Francia sedang saling menjambak rambut satu sama lain. Bahkan mereka tidak menyadari kedatangan tamu yang sekarang sudah memiliki raut wajah seperti habis melihat sapi terbang.
Akhirnya, kedua tamu mendadak itu memilih untuk menonton dan menjauh dari pintu, masuk ke dalam kamar dengan pelan dan tidak terdengar, mengambil posisi menonton dari sudut kamar dalam diam dan sesekali saling melirik menahan geli.
"Aku pegang istriku"
"Aku pegang Duke Arthur" Edward melirik Fredeick. "Apa taruhannya Fred?"
"Kau ikut ke Yorksire selama kami di sana, jika Duke menang. Tapi, jika Duke kalah, aku akan memukuli kepalamu hingga puas"
Edward langsung mengulurkan tangannya dan Fredrick langsung menyambut uluran tangan Edward. Mereka bersalaman
__ADS_1
"Deal!"
Victoria dan Arthur yang masih belum menyadari penonton gelap di sana masih saling bergulat dan mengumpat. Victoria dengan rambutnya yang sudah berantakan dan Arthur dengan rambutnya yang sudah berhasil di rontokkan Victoria tetap belum menyerah.
Hingga Arthur meringis kuat saat Victoria tidak sengaja memukul kuat luka tusuk di bahu Arthur. Victoria langsung panik dan menghentikan tindakannya tapi, keadaan berbalik. Arthur langsung menarik kedua tangan Victoria dan mengikatnya dengan perban, Victoria mengumpat sambil meronta-ronta kuat tapi... tidak berguna sama sekali. Kekuatannya tidak akan bisa melawan seorang pria kekar seperti kakaknya
Saat kedua tangan kecil adiknya itu sudah aman, dengan sedikit kuat Arthur menedang bokong Victoria hingga tubuhnya jatuh ke atas ranjang.
"Sialan kau Archi!"
Arthur terkekeh dan segera berdiri dari ranjang saat Victoria belum menyerah dan mendekat padanya. Victoria yang tidak akan menyerah langsung bangkit dengan susah payah dan mengejar Arthur yang sesekali meringis saat berlarian. Sungguh, pemandangan yang sangat penuh 'kharisma' dan penuh 'kehormatan'.
Edward bersiul nyaring di depan wajah Fredrick yang sudah masam.
"Aku menang! Yeaahh! satu bulan libur di Yorksire!"
Siulan nyaring Edward akhirnya tertangkap dua orang yang masih berlarian itu. Arthur membelalak kaget dan Victoria membeku di tempatnya saat melihat dua orang yang sangat di kenalnya sedang duduk manis di atas sofa sudut kamar sambil tersenyum lebar menahan geli
"Ka-kalian kapan masuk ke sini?"
Dengan kewarasan yang mulai bisa di serap nyawa Victoria. Tangan terikatnya dengan cepat merapikan rambut 'elegantya'. Arthur yang juga baru bisa menghirup udara kewarasan hanya bisa berdehem beberapa kali. Sekarang mereka benar-benar merasa sangat malu.
Fredrick yang melihat jika wajah Victoria sudah merah padam dengan kepala tertunduk dan tangan terikat yang terus metapikan rambutnya, segera berdiri dan mendekat padanya. Edward juga ikut berdiri dan mendekat ke ranjang saat Arthur sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Dengan cepat, Fredrick melepaskan ikatan kuat di tangan Victoria. Setelah ikatan lepas, tangannya membelai lembut bekas kemerahan yang tercetak melingkat di kedua pergelangan tangan Victoria.
"Iya... ini sangat sakit dan mungkin tulangku sudah retak, anda harus menghukum orang yang melukai Ratu, Your Majesty"
Fredrick mengulum senyumnya sambil mengangguk-ngangguk dramatis. Arthur memutar bola matanya dengan malas
"Victoria si Ratu Dramaaaaaaaaa......"
Edward mengulum tawanya saat kepala Victoria langsung menoleh para Arthur, dia sangat tidak terima dengan ucapan Arthur, kedua matanya langsung membesar melotot dengan wajah yang dia pikir terlihat ganas dan mengerikan padahal, wajahnya hanya membuat semua pria di sana gemas ingin terbahak.
"Apa hah? kau pikir aku takut dengan matamu itu?"
Dengan kesal Victoria membuang wajahnya dari Arthur dan menatap Fredrick yang sedang sekuat tenaga menahan tawa.
"Your Majesty, anda tidak akan terima kan jika Ratu anda di hina?. Iya kan? Hm?"
Habis sudah pertahanan Fredeick dan juga Edward, mereka sudah tidak mampu lagi menahan diri. Edward langsung terkekeh geli dan Fredrick juga langsung ikut terkekeh geli sambil mencubit gemas pipi Victoria. Arthur kembali memutar bola matanya dengan malas.
"Lihatlah! kau di tertawakan Ratu! Memalukan!"
"Diam kau Arthur!"
__ADS_1
"Kau yang diam Victoria!"
Kembali mereka saling menyerang dengan ucapan tapi kali ini, Fredrick harus menengahi.
"Ok stop!" Fredrick menatap Victoria. "Stop Vic" Kepala Fredrick menoleh pada Arthur. "Kita sekarang harus bicara serius Duke. Ok?"
Setelah menengahi mereka, di sinilah mereka sekarang, duduk dengan saling berhadap-hadapan. Victoria dan Arthur sudah duduk bersebelahan dan sudah 'berdamai'. Edward duduk dalam diam, dan Fredrick duduk santai sambil menatap semua wajah
"Kami menemukan jejak Lady Charlotte" Ucapan pembuka Fredrick membuat Victoria dan Arthur langsung menoleh padanya. Fredrick melanjutkan. "Di Albany"
Alis Victoria dan Arthur mengerut dalam dengan wajah yang masih terus menatap Fredrick.Edward akhirnya ikut bersuara.
"Tapi saat kami menelusuri di sana. Jejaknya menghilang dan langsung lenyap"
Kembali alis Victoria dan Arthur mengerut dalam. Athur menyuarakan pertanyaan di kepalanya dan kembali menatap Fredrick
"Di mana? di sebelah mana Albany?"
Fredrick membuang nafas panjang
"Kami hanya menemukan jejaknya saat dia baru masuk ke Albany, tapi setelah itu jejaknya lenyap, dan kami tidak tahu kemana dan di bagian mana Lady Charlotte bersembunyi" 'Atau di sembunyikan?'
Fredrick menjawab Arthur dengan fakta yang di dapat tapi tidak menyuarakan kecurigaannya. Dia tidak ingin menimbulkan keributan, meski dia yakin, pasti seseorang sudah ikut campur tangan.
Arthur mengangguk paham, wajahnya menatap Fredrick dan Edward bergantian
"Jadi kalian ingin meminta ijinku untuk menelusuri Albany. Atau ingin memintaku mencarinya di Albany?"
Edward langsung menatap Fredrick yang sudah tersenyum. Aahh... para Arathorn memang cerdas, lihatlah bagaimana Duke muda itu dengan sekali kedipan mata bisa langsung membaca tujuan lain dari pertemuan yang Fredrick buat. Dan pemikiran itu membuat Edward hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil ikut tersenyum.
"Keduanya Duke"
"Apa kau bersedia Archi?"
Dan akhirnya Victoria ikut bersuara. Victoria menatap kakaknya dengan lekat, kakaknya yang tampak langsung berpikir, lalu tidak lama dahi Arthur mengeryit. Dan Victoria tahu, jika Arthur sudah menemukan tempat dimana Charlotte berada, meski hanya Arthur yang tahu. Dia sangat kenal bagaimana kakaknya. Dia juga sangat tahu jika sebutan 'pemilik' Albany itu bukan hanya sekedar sebutan
"Tidak perlu kalian. Aku akan mencarinya sendiri setelah aku kembali nanti. Kalian cukup liburan saja."
Dan... Victoria menjadi yakin seribu persen jika kakaknya sudah benar-benar tahu di mana kakaknya yang lain bersembunyi.
"Baiklah kalau begitu Duke. Ini sudah ku tetapkan akan menjadi masalah keluarga, istana tidak akan ikut campur lagi, silahkan kalian selesaikan sendiri"
Dengan tegas, Fredrick memberikan keputusannya. Fredrick membuat keputusan itu karna memang tidak ingin lagi ada korban dari darah Artahorn ataupun Rubens, yang akan mengakibatkan istrinya terluka lagi. Apapun akan dia lakukan agar istrinya selalu bahagia
\=\=\=💚💚💚💚
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukkk
Salam sayang semua