Behind The Castle

Behind The Castle
**DUCHY ARGENTT IV**


__ADS_3

Di sofa kamarnya, di atas pangkuannya, di setiap perasaan bekecamuknya, di setiap pikiran amarahnya, di setiap nafas yang di hirupnya. Tangisan pilu, kesakitan dan ketakutan Victoria terus menular pada Fredrick. Dengan lembut dan pelan, Fredrick terus membelai rambut Victoria, ucapan tenang dengan kata-kata penenang terus Fredrick nyanyikan, usapan-usapan halus di bahu Victoria terus begerak. Seolah semua itu bisa meringankan segala kesakitan Victoria.


Berjam-jam lamanya Fredrick mencoba menenangkan Victoria. Meski tangisan histeris dan pilunya mulai tenang tapi isakan-isakan kecil sisa tangisnya terus terdengar bahkan hingga Victoria terlelap tidur. Fredrick terus memandangi wajah Victoria dengan kedua pipinya yang semakin merah, sudut bibirnya luka, ini bahkan terlihat lebih parah dari luka yang pernah ada di pipi Victoria. Luka merobek di tulang pipi dan bibirnya sudah cukup mejelaskan jika jejak pukulan itu akan terus berdenyut nyeri.


Fredrick masih di posisinya saat matahari mulai bangun. Kedua tangan Victoria yang mencengkam kemejanya dengan kuat membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Dengan dada yang masih penuh amarah, dengan pikiran yang masih siap membunuh Fredrick dengan sabar menjaga tidur Victoria yang terlihat tidak nyaman. Alisnya selalu berkerut, dahinya sesekali mengeryit, mulutnya sesekali bergerak mengatakan sesuatu tanpa suara dengan tubuhnya yang terus gemetar. Hingga tiba-tiba tubuh Victoria terus bergerak gelisah, Fredrick yang tidak sedikitpun melepaskan matanya dari Victoria mencoba membangunkan Victoria dari mimpi buruknya, tapi, tubuh lemah yang masih di gulung dalam kain linen berlapis itu malah menggigil dengan pelipis yang terus basah karna air mata.


"Hei Vic... Vic..."


Terus Fredrick mencoba memanggilnya tapi sia-sia karna tubuh Victoria terlihat semakin menggigil hebat. Fredrick mulai panik


"VIC!! VICTORIA!!!"


Tetap, mata yang terpejam rapat dengan terus mengeluarkan air mata itu tidak terbuka, Fredrick yang semakin panik akan berteriak untuk memanggil siapapun yang ada di luar kamar. Tapi, saat sekali lagi Fredrick meneriakan namanya ke dua kelopak mata itu mulai terbuka. Kedua bola mata sehijau daun yang tampak tidak memiliki cahaya itu menatapnya dengan kosong.


"Vic...?"


"Bash?"


Fredrick menghembuskan nafas lega dan menggangguk, tanggannya bergerak pelan membelai surai lembut Victoria.


"Hai.... selamat pagi"


Dengan tatapan kosong dan wajah yang terlihat sangat lelah, Victoria mencoba melengkungkan bibirnya tipis dengan di susul suara lemahnya yang terdengar


"Aku haus"


"Tentu saja. Kau ingin minum apa pagi ini?"


"Wajahku terasa sakit"


Merasa pertanyaannya tidak di jawab, Fredrick hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum getirnya


"Kita akan mengobatinya Vic"


"Tubuhku... Sekujur tubuhku terasa sakit" Victoria tercekat. "Dan sudah tidak berharga Bash"


Fredrick menatap kedua bola mata Victoria yang semakin berkilap air karna mata yang terus meluncur jatuh di pelipisnya. Dengan tersenyum pedih, Fredrick menggeleng dengan tangan yang mulai mengusapi pelan punggung Victoria


"Kita akan mengobatinya. Dan kau akan selalu berhaga Vic... tidak apa-apa.. tidak apa-apa..."


"Aku....." Victoria menjedah untuk mencoba menarik nafas untuk mengisi paru-parunya yang terasa terhimpit. "Dia menyentuhku Bash... Dia terus menyentuhku, dia menyentuh di mana-mana"


Tangis jeritan tertahan dengan cekalan kuat Victoria di kemeja dadanya kembali membuat fokus seluruh pikiran dan hati Fredrick hanya tertuju pada satu pemikiran. Fredrick ingin, dan harus mencekik seseorang sekarang.


"Tidak apa-apa... semua akan baik-baik saja..."


Hanya itu kata yang bisa di ucapkan Fredrick sebelum dia merasakan kedua tangan yang terus mencekalnya melemah. Victoria menutup matanya dengan tidak bergerak lagi

__ADS_1


--000--000--


"Tolong ini dingin.... tolong ambilkan bajuku tuan Jeremmy"


Entah untuk yang keberapa juta kalinya selama sepanjang malam, Jeremmy terus mendengar permohonan itu. Rasanya sangat muak dan ingin menginjak mulut itu, tapi, jika dia menginjak-injak mulut itu sekarang. Akan ada seseorang yang akan menginjak-injaknya karna sudah menyentuh mangsanya.


Jadi, dengan terus menekan emosinya, Jeremmy hanya bisa diam menjaga obyek yang sedikitpun tidak berniat di lihatnya, tubuh yang terikat di pohon, tubuh bersih tanpa sehelai benangpun itu.


---000---


Di sisi lain. Setelah Victoria pingsan dan sudah di tangani dokter dan pelayan. Fredrick memanggil tuan rumah yang di biarkan tidak terikat untuk mencari tahu masalah mengerikan yang terjadi semalam.


"Se-selamat pagi Your Highness"


Duke Argentt, dengan segala doa di hatinya mencoba menguatkan diri untuk membuka mulut di depan pria yang terus menggaruki meja dengan satu jari telunjukknya. Setiap garukan menyebarkan rasa takut, setiap suara dari kuku dan kayu meja memberikan rasa teror terlebih dengan wajah dingin dan tidak terbacanya. Fredrick berhasil memberikan rasa yang lebih dari sekedar ngeri pada siapapun yang ada di sekitarnya


"Apa?"


Beberapa kali Duke Argentt meneguk ludahnya dengan kasar hingga merasa cukup mempunyai kekuatan, Duke Argentt menjawab pertanyaan Fredrick


"Tadi malam, Lady Victoria langsung pergi setelah makan malam ke lantai dua, tapi bukan untuk ke kamarnya melainkan ke kamar Lady Lawson yang saat itu sedang di dapur untuk menyeduh obatnya. Saat Lady Lawson sudah selesai menyeduh teh dan kembali ke kamar, di dalam kamar dia mendapati suaminya dan Lady Victoria yang sedang dalam posisi tidak bermoral di atas lantai" Duke Argentt meneguk ludahnya lagi tanpa berani menggerakkan bola matanya saat suara garukan di atas meja menguat. "Dengan tangisannya, Lady Lawson menuju kereta kudanya dan langsung pulang saat malam itu juga tanpa memberitahukan pada siapapun"


"Lalu?"


Suara setajam pedang tapi sedingin es yang keluar dari mulut Fredrick mengantarkan rasa dingin yang dengan cepat merayap memenuhi seluruh isi hati Duke Argentt.


"Lord Lawson, meminta sebuah kunci kamar pelayan. Kami mencoba mencari pelayan yang memberikan kunci itu tapi, pelayan itu dari tadi malam sudah menghilang. Saya sudah mengerahkan orang untuk mencarinya"


"Lalu?"


"Lalu?"


Dengan kedua tangan terkepal kuat untuk menahan segala rasa takutnya yang semakin menjadi, Duke Argentt kembali membuka suara


"Saya sedang menyelidiki, kenapa pada malam hari tadi, Lady Victoria ke kamar Lady Lawson. Sedangkan kita semua tahu jika Lady Lawson yang sedang sakit-sakitan menjadi alsan untuk Lord Lawson tidur menemani istrinya"


Cukup lama keheningan terjadi hingga suara dingin Fredrick kembali terdengar.


"Selama dia menangis, sesekali dia menyebut nama pelayannya, dan yang ku lihat dia juga takut melihat wajah pelayannya"


Bunyi decitan kursi yang menggesek lantai membuat Duke Argentt mengangkat kepalannya yang terus tertunduk dalam


"Semua masalah ini menjadi tanggung jawabmu dan juga.... semua tamumu"


Setelah mengatakan apa yang harus di katakan, Duke Argentt pamit ke luar dan memerintahkan seseorang untuk memanggil Jeremmy.


Tidak lama suara ketukan pintu dan suara Jeremmy terdengar. Jeremmy yang sudah sangat memahami situasi langsung segera masuk tanpa perlu menunggu jawaban dari dalam pintu

__ADS_1


Dengan raut wajah lelah tapi tegas, Jeremmy segera menunduk sejenak lalu memberanikan diri untuk menatap wajah Fredrick yang datar dan dingin.


"Apa yang kau dapat?"


Jeremmy menggeleng.


"Semalaman saya sudah mencoba mengorek informasi tapi belum menemukan apapun, saya juga tidak bisa mengorek informasi dari Baron Lawson"


"Hhmm..."


Gumanan dengan suara garukan pada meja yang semakin kuat membuat Jeremmy bernafas dengan hati-hati. Dia tidak mau jika suara nafasnya akan memperburuk keadaan pria di depannya yang sedang tidak terbaca isi pikiran dan hatinya.


"Mereka 'anjing' ibuku"


Meski Jeremmy juga berpikiran sama, tapi tetap Jeremmy tidak berani membuka mulutnya.


"Mereka 'anjing' ibuku"


Lagi suara tenang tapi sangat dingin itu terus di gumankan Fredrick


"Mereka selalu besar kepala karna berpikir aku ini tidak berguna dan bisa mereka kendalikan hhmm..."


Hening... keheningan cukup lama melingkari sekitar mereka hingga suara tenang Fredrick menajam


"Kirim surat ke istana, hari ini harus sampai di tangan His Majesty, beritahu semua kejadian semalam"


"Baik Your Highness"


"Panggil Carl dan Tomy ke sini dan juga.... para 'anjing lain', para anjing ibuku. Mereka harus tiba malam ini di sini"


Dengan nafas yang sudah tertahan Jeremmy hanya berani mengangguk saat melihat Fredrick yang belum menyelesaikan ucapannya


"Dan juga selipkan permintaanku ke istana untuk mengirim lima pengatur strategi perang dan seratus prajurit ke wilayah barat"


Jeremmy mengeryit tapi hanya mengangguk tidak tenang. Fredrick kembali membuka suaranya


"Biarkan ular tua itu yang memberi hukuman untuk keluarga bedeb*h itu"


Dengan rahang mengeras, pelipis yang terus bergerak, Fredrick menatap Jeremmy dengan tajam


"Jangan sentuh dia, biarkan seperti itu hingga Carl dan Tomy tiba. Dia tidak boleh mati dan sakit dengan mudah"


"Ba-baik Your Highness"


Jeremmy mengepalkan kuat tangannya yang sudah gemetar. Seluruh syarafnya mengigil hingga wajahnya pucat pasih


\=\=\=💜💜💜💜

__ADS_1


Yuk tinggalin jejaknya jangan lupa....


Salam sayang semua✨


__ADS_2