Behind The Castle

Behind The Castle
**MENUJU JAMUAN MAKAN MALAM**


__ADS_3

Fredrick dengan memainkan belati kecil di tangannya terus menatap seorang pria yang sedang berlutut dan menatapnya dengan tajam tanpa rasa takut meski sekujur tubuhnya sudah di penuhi luka.


Tomy dengan memegang cambuk di tangannya sambil terengah terus mengayunkan tambang dan potongan besi tipis yang terus melayang kuat pada tubuh peria itu hingga Fredrick mengangkat tangannya dan Tomy menghentikan gerakannya


"Masih tidak ingin menjawab siapa yang memerintahkanmu?"


Pria itu tetap diam sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Jeremmy membuang nafas panjang dan bosan karna sepertinya ini akan sia-sia. Pria itu bahkan sekarang sedang menggigit lidahnya sendiri saat Gregory menggores ujung belati pada wajah pria itu. Belati yang tadinya terus di mainkan Fredrick.


Dengan santai dan acuh Fredrick hanya menonton bagaimana darah banjir hingga merembas keluar dari mulut pria itu.


"Ini membosankan Your Highness"


Fredrick mengangguk setuju pada ucapan Carl


"Biarkan saja, nanti saat dia sudah mati sendiri gantung kepalanya di ibukota"


Carl, Tomy dan Gregory mengangguk patuh. Fredrick segera melesat ke luar dari ruang tawanan yang di temani Jeremmy


"Apa jamuan makan malam tetap akan kita lakukan Your Highness?"


"Tentu saja, tujuan mereka adalah merusak hari bersejarahku kan?"


"Baik Your Highness"


Dengan melangkah pasti, Fredrick membawa langkahnya menuju kamar Raja George. Saat sudah berada di depan pintu, Jeremmy dengan sigap mengetuk pintu


"Your Majesty, Your Highness Pangeran Fredrick datang"


Pintu langsung di buka oleh Edward yang dengan segera menyingkir ke samping pintu. Fredrick terus melangkah masuk, semakin langkahnya masuk ke dalam semakin indra pemdengarannya menangkap suara batuk kuat Raja George.


"Your Majesty"


Dengan sopan Fredrick menundukkan kepalanya dan memnerikam salam pada Raja George yang sedang berdiri herhadap-hadapan dengan seorang pria.


"Apa kau mendapatkannya Fred?"


Fredrick menggeleng dan melirik pria di hadapan Raja George yang tersenyum hangat padanya.


"Hingga akhir dia tidak membuka mulutnya dan bunuh diri"


Sambil kembali terbatuk, Raja George mengangguk pasrah.


"Apa ada yang lain?"


"Saya ingin jamuan makan malam tetap di laksanakan Your Majesty"


Kembali Fredrick melirik pria di depan Raja George yang sudah menghadap ke depan pada Raja George


"Lakukanlah Fred, ini memang pernikahanmu. Pergilah bersama Henry untuk kembali mengurus semua"


Raja George melirik pria di depannya, pada Henry yang sudah kembali memutar kepalanya pada Fredrick sambil tersenyum hangat


"Saya bisa melakukannya sendiri Your Majesty. Henry pasti punya pekerjaan lain untuk menemani 'ibunya'..."


Hening... keadaan menjadi hening. Senyum Henry langsung pudar, Raja Geogre memejamkam matanya dengan lelah, Edward menahan nafasnya, Jeremmy menggigit pipi dalamnya.


"Saya permisi"


Tanpa ingin berlama-lama lagi, Fredrick segera melesat keluar pintu kerja Raja George yang di ikuti Jeremmy.


--000--000--


Masih pada posisinya dengan tangan bertaut dan mata terpejam. Victoria masih duduk di bibir ranjang dan memanjatkan doa untuk segala hal terlebih untuk keadaan hati dan jiwannya.

__ADS_1


Tok tok tok


"Your Highness..."


Suara ketukan pintu membuat Victoria segera mengakhiri doa yang sudah berjam-jam di lantunkannya. Kedua matanya menatap pintu yang masih tertutup tanpa berniat menjawab untuk mengikuti pesan dari suaminya.


"Ini saya Diana Your Highness"


Kembali Victoria tidak berniat untuk menjawab meski dia juga sangat ingin menjawab dan memeluk Diana.


"Maafkan saya Your Highness tapi His Highness Pangeran Fredeick yang memerintahkan saya langsung untuk membantu anda bersiap"


Sambil menggigiti kukunya Victoria tetap diam di tempatnya hingga pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Fredrick terbuka


"Bash..."


Dengan langkah cepat Fredrick berjalan ke arah pintu tanpa menyambut tubuh Victoria yang sudah berdiri dari pinggir ranjang.


"Bantu dia bersiap untuk jamuan makan malam"


Diana yang cukup terkejut melihat Fredrick membuka pintu segera mengangguk patuh. Fredrick memutar kembali langkahnya untuk menuju pintu penghubung saat Victoria terus menatapnya hingga kembali pintu penghubung di tutup dan tubuhnya menghilang


"Dia kenapa?"


Diana yang juga tidak mengerti apapun sedikitpun hanya ikut berdiri di tempatnya mengikuti arah pandang Victoria yang masih menatap pintu penghubung yang sudah tertutup rapat.


--000--000--


"Kau ingin memakai tiara yang mana Vic?"


Dengan isi kepala yang melayang-layang entah kemana Victoria terus manatap tiara dan perhiasan yang sudah di jajaran Diana


"Ini saja"




"Bagimana?"


"Sempurna seperti biasa"


Diana tersenyum bangga dan mulai merapikan segala hal yang sudah berhamburan untuk mempercantik nyonyanya


"Grey di mana Di?"


"Ohh.. Grey bersama His Grace Arthur Vic. His Highness sendiri yang mengantarnya ke kamar His Grace"


Sambil memakai wewangiannya, Victoria mengangguk lega


"Sebenarnya apa yang terjadi Di? dan kenapa aku harus bersiap sekarang? ini bahkan belum menjelang malam untuk menuju jamuan makam malam?"


Semua pergerakan tangan Diana terhenti dan langsung memutar kepalanya untuk menatap Victoria


"Aku juga tidak tahu Vic tapi yang jelas. Kau akan menyapa Her Majesty dulu. Itu saja pesan dari His Highness Pangeran Fredrick"


Aahh... Victoria sudah menebaknya. Dia memang harus menyapa ibu kerajaan yang belum pernah di temuinya itu. Suatu keharusan untuknya dan juga sebuah moment yang di tunggunya


"Apa His Highness juga akan ikut?"


Inilah pertanyaan yang sekarang bersarang di kepala Victoria. Meski Victoria bisa menyimpulkan dulu hubungan Henry dan Fredrick cukup baik sebelum upaya pemberontakan yang di rencanakan keluargannya. Sekarang pastilah tidak mungkin ada cela perbaikan terlebih untuk sang ibu tirinya. Bahkan Victoria tidak tahu bagaimana hubungan awal suaminya dengan ibu tirinya itu


Tok tok tok

__ADS_1


"Your Highness"


Suara ketukan pintu membuat Diana segera melangkah untuk membuka pintu. Di depan pintu, wajah Carl lah yang muncul


"Apa Her Highness sudah siap Lady?"


Ujung mata Diana melirik ke arah dalam kamar untuk melihat Victoria yang sudah mengangguk sambil meletakkan wewangiannya


"Sudah tuan Carl"


Dengan anggun Victoria mendekat ke arah pintu. Carl yang sudah kembali melihat sosok Victoria kembali tertengun, sama saat dirinya melihat Victoria yang memakai gaun pengantinnya saat pemberkatan. Mahluk anggun dan wangi di depannya sekarang sungguh bagaikan mahluk setengah bidadari yang baru turun dari Albany


"Carl...?"


"Ahh.. iya Your Highness. Maafkan saya"


Sambil mengusap tengkuknya dengan sedikit membungkuk Carl tersenyum malu-malu. Victoria hanya tersenyum geli dengan Diana yang sudah mengulum tawanya sedari tadi saat Carl hampir meneteskan liurnya.


"Kita akan ke aula Your Highness"


Sambil menggamit siku Carl yang sudah di sodorkannya Victoria mengangguk


"Kau dari bangsawan mana Carl?"


Dengan alis mengerut Carl menoleh pada Victoria


"Saya Carlis Elliot Calhount, Your Highness"


"Anak dari Duke Kendal?"


Carl tersenyum kecut


"Anak haram"


Sambil mengedipkan bahunya acuh, Victoria tersenyum manis sambil menoleh pada Carl


"Kan sama saja Carl"


"Terimakasih Your Highness"


Entah kenapa hati Carl langsung menghangat mendengar ucapan Victoria. Sungguh mahluk setengah bidadari yang baru turun dari Albany di sebelahnya itu sangat bisa menghangatkan hatinya yang dingin. Selalu. Bahkan dari awal pertemuan mereka di camp kesatria istana. Meski Victoria pasti tidak menyadari keberadaannya yang saat itu sudah terpesona saat mulut lincah Victoria membuat keributan dan memancing amarah Edward.


Victoria menepuk-nepuk pelan lengan Carl


"Carl?"


"Iya Your Highness"


"Aku belum mengucapkan terimakasih dan maaf saat kejadian di bukit istana waktu itu"


Carl langsung menggeleng kuat


"Tidak Your Highness. Itu sudah kewajiban saya dan juga itu menang sudah naluri anda untuk menyerang di keadaan sepeeti itu"


Victoria terkekeh geli. Carl yang terus menoleh menatap Victoria selama perjalanan membuatnya tidak menyadari jika Jeremmy sudah berdiri di depan mereka


"Selamat sore Your Highness"


Dengan menapa Carl tajam, Jeremmy menundukkan kepalanya. Carl yang baru kembali ke dunia nyata dan baru meraup semua kesadarannya tertunduk cemas terlebih saat Jeremmy yang terus menatapnya dengan tajam


\=\=\=💜💜💜💜


Yuk bisa yukk tinggalin jejaknya

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2