Behind The Castle

Behind The Castle
**VICTORIAN DRAMA**


__ADS_3

Mengabaikan semua suara-suara terkejut. Tangan Victoria melanjutkan. Setelah menyayat tangannya, sekarang gaunnya, menyayat memanjang hingga ke pangkal paha lalu lanjut ke di depan gaun di dadanya dengan beberapa sayatan, Victoria sangat hati-hati agar tidak membuat gaun tebalnya membuka kulitnya


"Apa yang an...."


Satu tangan Victoria terangkat ke atas yang membuat para kesatria kembali bungkam.


"Ayo kembali"


Dengan pikiran berkecamuk hebat, ketiga kesatria itu akhirnya bergerak dari tempat mereka mematung. Seseorang membantu Victoria untuk langsung naik ke atas kuda.


"Ini belati mu"


Dengan wajah khasnya yang datar, Victoria menggeleng saat seorang kesatria sudah memungut dan memberikan mantelnya


"Tidak, aku ingin mantelmu"


Dengan isi kepala yang tidak bisa mencerna apapun mereka hanya mengikuti ucapan Victoria dengan patuh. Dari atas punggung kuda, Victoria melirik ke tiga tubuh tidak beryawa yang tergeletak di atas tanah


"Bawa semua tubuh yang tidak bernyawa itu ke istana"


🌺🌺🌺🌺


TOK TOK TOK


"Ini Her Highness Putri Victoria, Your Majesty"


Suara seorang pria di depan pintu membuat Edward dengan cepat melepas segala hal yang di peganggangnya di atas meja Raja George terlebih saat melihat Raja George mengedipkan dagunya ke arah pintu.


Saat pintu di buka, belum sempat Edward membuka mulutnya untuk menyapa Victoria. Tubuh Edward langsung di tabrak seekor banteng. Victoria melangkah cepat masuk ke dalam kamar tanpa peduli pada Edward.


"Put....."


"Saya ingin keadilan Your Majesty!!!!"


Mulut Raja George kembali mengatup dan memindai penampilan Victoria. Gaun yang robek, wajah yang kotor, rambut yang cukup berantakan, wajah mengeras dan.... sayatan cukup lebar di lengan kiri atasnya.


Edward yang melihat itu pun hanya menatap dengan bingung. Bagaimana tidak, penampilan Victoria sekarang sangat mengejutkan


"Apa yang terjadi Putri?"


Suara tenang aneh yang meluncur dari mulut Raja George membuat Edward menaikkan alisnya dengan tinggi


"Mereka ingin melukai saya lagi, melecehkan saya lagi dengan cara menjijikkan!"

__ADS_1


Kali ini kedua alis Edward yang terangkat ke atas. Penampilan Victoria sekarang memang seperti seseorang yang habis berjuang dari pelecehan


"Baiklah Putri, aku akan mengkoreksi ini semua"


"Tidak Your Majesty, anda harus mengumpulkan semua 'bukti'...'"


Sambil menahan kedutan di sudut bibir, Raja George memangguk patuh dan melirik Edward yang masih mempelajari penampilan Victoria.


Walaupun penampilan Victoria sekarang memang terlihat sebagai korban tapi, ohh ayolahh... Edward bukan orang awam yang tidak bisa menilai penampilan korban atau penampilan 'membuat' korban. Mengabaikan semua penampilan lain, hanya fokus pada sayatan di lengan atas Victoria saja sudah bisa membuatnya mengambil garis kenyataan. Sayatan lurus dan rapih di lengan itu terlihat sangat hati-hati saat di goreskan ke kulit, posisi sayatan, bentuk sayatan, kedalaman sayatan, terlebih, sayatan itu ada di lengan kiri. Jika seseorang yang ingin menyakitinya apakah akan melakukan hal setengah-setengah? hhmm.... Edward tau dan sekarang paham situasi saat melihat juga Raja George yang menyeringai ketika Victoria sudah pamit pergi ke luar kamar.


"Tanyakan cerita lengkap 'mengerikan' yang di alami Putri Victoria Ed"


"Baik Your Majesty"


Edward langsung memanggil ke tiga kesatria yang terlibat ke dalam kamar. Mereka dengan penuh hormat langsung membungkut di atas lantai dengan satu lutut menyentuh lantai.


"Apa yang terjadi?"


Ketiga kesatria itu sempat saling melirik hingga seseorang menjawab Edward


"Terjadi serangan di belakang bukit saat Her Highness kembali dari Castle Larina. Her Highness bisa melawan dan dengan baik dan kami tinggal menyelesaikan saja. Tapi...." Kembali para kesatria itu saling melirik sebentar lalu melanjutkan ucapannya dengan takut. "Tapi, Her Highness yang cukup bisa melawan satu lawan satu malah memerintahkan kami untuk membunuh saksi tersangka, lalu melukai dirinya sendiri Your Majesty, kapten Edward"


Dengan acuh Raja George menggaruk dagunya. Edward melipat tangannya di depan dada dan kembali bersuara


"Apa yang terjadi?"


Kali ini wajah Edward menjadi serius, dan suaranya menajam dengan tatapan yang tidak kalah tajam


"Apa. Yang. Terjadi?"


Tekanan dengan nada suara tajam Edward membuat ketiga kesatrian saling melirik, di dalam lirikan mereka, mereka akhirnya menangkap maksut terselubung Edward. Terlebih saat melirik Raja George yang ada di ranjang, wajah Raja George yang santai tanpa beban dengan satu alis terangkat


"Terjadi penyerangan di belakang bukit saat Her Highness kembali dari Castle Larina. Mereka menyakiti dan hampir melecehkan Her Highness, membunuh kusir dengan kejam. Untung saja saat itu kami sedang berpatroli di sekitar mereka. Kami yang mendengar suara jeritan ketakutan seseorang, membuat kami langsung mendekat ke arah suara dan ternyata di sana, Her Highness sedang....." Kesatria yang bersuara menggelengkan kepalanya dramatis dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin. "Maaf kapten, itu terlalu mengerikan untuk kami jelaskan tapi yang pasti, jika kami datang terlambat sedikit saja ke sana, kami pasti terlambat untuk menyelamatkan kehormatan dan nyawa Her Highness yang hampir terenggut"


Dengan menahan gelinya, Raja George memalingkan wajahnya ke jendela sambil mendesah berat, untuk memperjelas drama. Edward juga ikut mendesah berat, agar semakin mendramatisir.


"Apa saksi korban masih hidup?"


"Kami terpaksa melukai mereka karna mereka melawan kami dengan sengit. Kamu takut mereka akan menyakiti Her Highness yang sedang dalam keadaan syok berat dan menangis tanpa bisa bergerak, tapi saksi tersangka masih hidup dan bisa kita introgasi kapten"


"Baiklah. Kalian bisa keluar dan....." Edward melirik Raja George yang masih memalingkan wajah ke jendela. "Kita tidak boleh menyembunyikan hal ini, terlebih jika ada yang bertanya. Hidup dalam rasa penasaran tidak enak, ceritakan saja. Sekarang Kalian pergilah"


"Baik Kapten"

__ADS_1


Setelah mereka memberi hormat pada Raja George untuk pamit ke luar. Kekehan geli Raja George menggema hingga membuatnya terbatuk. Edward dengan telaten memberikan air minum


"Apa ini sudah anda rencanakan Your Majesty?"


"Aku? aku sedang terbaring tidak berdaya di sini Ed, kau jahat sekali menuduh pria tua lemah ini"


Edward memutar bola matanya dengan malas


"Jika bukan anda, siapa lagi orang di dalam istana ini yang bisa punya rencana licik seperti itu. His Highness sedang tidak di sini"


Saat sudah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah pemikiran mencokol di kepala Edward. Edward menatap Raja George dengan pandangan tidak percaya


"No way!!! jangan katakan....."


"Jangan tertipu dengan tubuh kecil dan senyum manisnya Ed, ingatlah dari mana dia lahir"


Edward langsung mengumpat dengan di iringi kekehan geli Raja George.


"Oh sialan! Aku tidak bisa percaya ini!! Bisa-bisanya dia...!!! sialan! dia baru tujuh belas tahun!"


"Sudah sering ku katakan dia Arathorn Ed. Separuh umurku sudah ku habiskan untuk mengenal ayahnya dan dia sama persis sama seperti ayahnya. Dan yang terpenting, dia sudah siap dan mengerti cara bermain di dalam neraka"


Sambil memijat pelipisnya Edward menatap Raja George penuh selidik


"Tadi dia mengatakan untuk mengumpulkan 'bukti'....?"


Dengan santai Raja George mengangguk


"Serahakan semua bukti pencurian dana pembangunan ibu kota dan bendungan ibu kota serta tindakan menjijikkan orang-orang Baron Adam pada Carl atau Lucas. Buat juga hasil penyelidikan saksi tersangka yang mengarah pada mereka, buka juga semua tindakan curang dan kejam mereka. Sisanya, kita tinggal menonton sejauh mana dia akan menjadi calon Ratu dan akan menjadi Ratu seperti apa dia nanti"


Jujur saja, Edward langsung merinding mendengar dan membayangkan ucapan Raja George


"Ya Tuhanku... hidup di antara dua ular saja sudah sangat membuat kepalaku pusing, apa lagi sekarang bertambah satu rubah betina. Kenapa takdirku seperti ini Tuhan..."


Bibir pucat Raja George hanya tersenyum geli


"Sesuai prediksiku. Dia semakin bergerak Ed, kirim surat ke Fredrick untuk tidak kembali dulu ke istana"


Dengan wajah merengut sebal Edward langsung menuju meja kerja Raja George untuk membuka lantai di bawah kursi kerja, sebuah tempat rahasia yang menyimpan segala rahasia tersembunyi bahkan tergelap yang Raja George kumpulkan selama masa kepemimpinannya menjadi calon penerus tahta hingga sampai menjadi pemilik tahta mutlak


\=\=\=πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›


Yukkk jejaknyaa di tinggalin

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2