
"Kau sungguh tidak ingin perayaan apapun untuk ulang tahunmu sayang?"
Tangan besar Fredrick masih mengusap pelan dan lembut punggung telanjang istrinya. Victoria menikmati sambil memejamkan matanya dengan nyaman
"Tidak perlu Bash. Kita sedang butuh banyak dana sekarang"
Fredrick tersenyum tipis dan menurunkan wajahnya, untuk menatap wajah nyaman Victoria yang menempel di dadanya
"Kita bisa pakai sedikit untuk membuat pesta kecil di istana. Itu tidak akan membuang banyak dana sayang"
Kedua kelopak mata Victoria terbuka dan menatap Fredrick
"Bukan hanya dana tapi pencitraanku Bash. Kita baru saja meneriakan kebutuhan dana, menekan bangsawan dan aku juga baru saja memamerkan jika aku tidak butuh kemewahan dari kerajaan. Bayangkan saja bagaimana mulut mereka akan berkomentar jika aku membuat pesta ulang tahun"
Sudut bibir Fredrick tersenyum hangat. Ahh... Victoria sudah sangat peduli pada nama baiknya sekarang, sangat berhati-hati mengambil keputusan bijak
"Baiklah... agar pencitraanmu semakin indah. Aku punya rencana" Tangan Victoria mengikuti pergerakan Fredrick, mengusap punggung suaminya yang telanjang dan itu membuat Fredrick tertawa geli. Istrinya sangat manis. "Bagaimana Vic?"
"Memang apa rencanamu?"
"Membuat perlombaan dan menyiapkan hadiah bagi yang menang, dan saat perlombaan, kita bisa sekalian membagi makanan di ibu kota"
Victoria mengeryit
"Bukankah itu sama saja dengan mengeluarkan banyak dana Bash?"
"Tentu saja tidak, perlombaan yang kita buat adalah...." Dengan sekali gerakan, Fredrick langsung menarik istrinya ke atas, ke atas tubuhnya yang membuat Victoria memekik. "Berburu" Victoria yang sudah paham keinginan liar suaminya mulai melakukan pekerjaannya, pekerjaan untuk menyenangkan suaminya. Tangannya mulai bergerak sensu*l membelai bagian sensitive di tubuh Fredrick. Dengan mata terpejam, Fredrick menikmati semua tindakan amatir yang di lakukan istrinya. "Dan syarat.... syarat untuk menang... mereka... mereka harus mengumpulkan semua hewan... ****!"
Victoria kembali memekik dengan suara kekehannya yang menyusul, terlebih karna tangan Fredrick dengan tersegah mulai mencari-cari tempat kesukaannya.
"Nanti kita bahas lagi Vic. Kau selalu membuatku tidak bisa tahan"
"Memang tidak baik membahas hal penting di atas ranjang Bash"
Fredrick terkekeh dan mulai menjelajahi tangannya dengan mulutnya yang sudah memangut mulut Victoria.
--000--
Brak! Brak! Brak!
"Your Highness!"
Braaakkkk!!
"Your Highness!"
Fredrick yang baru bergerak untuk bangun dari ranjang mengumpati dan siap untuk memukul kepala siapapun yang mengganggu pagi indahnya
BRAK! BRAK! BRAK!!
"Your Highness!!!!!!!!!"
"Tunggu bedebah! ku bunuh kau Jeremmy!!!"
"Kenapa Bash?"
Dengan mata mengantuk dan mengeratkan selimut di tubuh telanjangnya, Victoria yang terganggu mencoba bangun.
Melihat istrinya terganggu bahkan terbangun, Fredrick kembali mengumpati Jeremmy yang belum juga berhenti mengetuk pintu, bahkan sudah seperti akan mendobrak pintu.
"Sembunyikan tubuhmu sayang, itu Jeremmy"
"Your Highness!!"
__ADS_1
"AKU TAHU BEDEBAH!"
Dengan langkah lebar saat celananya sudah terpasang Fredrick menuju pintu.
"Jika ini tidak penting aku akan membunuhmu Jer"
Jeremmy yang raut wajahnya serius dan juga terlihat panik membuat Fredrick tahu jika memang ada sesuatu yang penting dan mendesak.
"Ke kamarku Jer"
Fredrick kembali menutup pintu
"Kenapa Bash?"
"Entahlah Vic, istrirahatlah lagi ok"
Sebelum menuju pintu penghubung, Fredrick mendekat pasa istrinya untuk memberikan ciuman singkat.
"Tidurlah lagi sayang"
Meski penasaran, tapi tubuh Victoria tidak bisa di ajak kompromi. Semalaman dia sudah berkerja keras. Sangat keras hingga seluruh tulanganya serasa akan lepas.
Saat sudah masuk ke kamarnya, Fredrick segera membuka pintu. Tanpa basa basi, Jeremmy langsung masuk dan memberikan amplop surat di tangannya.
Fredrick segera membuka ampop tanpa stempel itu dan setelah membaca surat, raut wajahnya berubah menjadi datar.
"Kapan kita akan pergi, Your Highness?"
"Siapkan Panter sekarang"
Jeremmy langsung melesat ke luar pintu dan Fredrick kembali ke kamar Victoria. Victoria yang baru akan tertidur lagi kembali membuka matanya saat pintu penghubung di buka. Raut wajah suaminya yang tidak biasa cukup membuatnya untuk langsung menegakkan punggung remuknya
"Ada apa?"
"Siapa yang membuat mereka Bash?"
Kepala Fredrick menggeleng dan menatap Victoria dengan pandangan tidak rela.
"Aku harus pergi sekarang Vic" Nafas panjang Fredrick terdengar. "Pemberontak itu tidak akan bisa di tangani oleh kesatriaku"
"Memang kenapa? apa mereka sangat berbahaya?"
Dengan tubuh yang sudah tergulung selimut, Victoria mendudukkan bokongnya ke bibir ranjang. Fredrick kembali menggeleng
"Bukan mereka yang berbahaya, tapi Tomy, di sana ada Tomy"
Victoria menatap Fredrick dengan penasaran
"Kenapa?"
"Karna, jika aku mengatakan untuk menghentikan mereka, Tomy bisa membunuh mereka agar berhenti. Jika aku mengatakan untuk menahan mereka, Tomy akan mematahkan kaki mereka. Jika aku mengatakan untuk mengamankan mereka, Tomy akan mengurung mereka. Intinya, Tomy itu sulit bersabar dan sulit di ajak berkompromi. Terlebih karna pemberontak itu melukai penduduk dan merusak pembangunan-pembangunan yang kita rencanakan" Fredrick menjeda dan melirik Victoria yang sudah mengangkat alisnya dengan wajah tertarik. Fredrick membuang nafas panjang. "Jika Edward bisa menjadi seorang tiran bahkan seekor monster karna perintah His Majesty. Tomy satu tangga di bawah Edward dengan hanya meruncingkan perintah. Dia sangat tidak bisa menggunakan logikanya saat menerima perintah"
Victoria terkekeh geli yang membuat Fredrick mengeryit bingung
"Apa yang lucu Vic?"
Di sisa kekehan gelinya Victoria bergerak untuk berdiri dengan tubuhnya yang terasa sudah remuk. Lalu mendekat pada Fredrick yang masih memperhatikannya dengan bingung
"Para kesatriamu sangat unik Bash. Sekarang aku tahu kenapa kau sangat menyayangi mereka"
"What? Ohh yang benar saja, itu terdengar menjijikkan sayang"
Dengan bulu kuduk yang merinding horor, Fredrick mengusap-ngusap tengkuk dan ke dua tangannya. Victoria tersenyum geli dan menatap Fredrick dengan hangat
__ADS_1
"Pergilah Bash, selamatkan nyawa penduduk, perhatikan dan bantu yang terluka, perbaiki kerusakan" Kali ini tatapan Victoria mengkilap tegas. Menatap kedua bola mata abu-abu yang sekarang sudah menatapnya. "Jangan buat kesalahan yang membuat rencana kita gagal. Kerja kerasmu dan kerja keras penduduk di wilayah barat"
Fredrick mengangguk tegas dan langsung memeluk Victoria dengan erat
"Kenapa aku semakin berat jika harus berpisah denganmu walau hanya sebentar Vic"
"Aku juga entah kenapa merasa tidak enak dengan kepergianmu kali ini Bash"
"Pergilah Bash. Semuanya akan baik-baik saja. Selalu berhati-hatilah dan segeralah kembali padaku. Aku akan selalu mendoakanmu"
Victoria mengeratkan pelukkannya, menghirup aroma maskulin suaminya dengan perasaan tidak nyaman yang dia simpan sendiri di hatinya
🌺🌺🌺🌺
Dengan tangan gemetar dan lemah, tangan Raja George menggerakkan pena bulunya pada sebuah perkamen berwarna emas. Sesekali suara batuknya terdengar yang membuat Edward khawatir tapi, tidak menyurutkan semangatnya saat menuliskan sesuatu. Setelah selesai, kedua bola mata abu-abu itu menatap kembali isi permen yang baru di tulisnya sambil tersenyum getir.
"Ed?"
"Iya Your Majesty"
Tangan gemetar Raja George mulai membubuhkan stempel Raja dan stempel kerajaan
"Bisakah aku minta tolong padamu?"
Edward meletakkan tangan kanannya di dada kiri dan langsung membungkuk dalam
"Apapun Your Majesty, silahkan gunakan saya"
Senyum tipis Raja George terbit dan memandang Edward dengan dalam
"Aku ingat saat menemukanmu dulu di pasar Ed" Suara lemah dan terdengar getir Raja George membuat Edward mengangkat punggungnya dan menatap Raja George "Apa kau juga masih ingat Ed?"
"Tentu saja Your Majesty, jika bukan karna anda, saya tidak mungkin bisa ada di sini. Saya pasti sudah mati saat orang-orang itu menusuk anak gelandangan pencuri makanan seperti saya"
Wajah Raja George menoleh ke samping untuk menatap salah satu jendela kamarnya
"Dan jika aku meminta lagi nyawamu, apa kau akan menyerahkannya?"
Tanpa gentar, tanpa perlu berpikir dan tanpa butuh menjawab. Edward menarik pedangnya, menekuk lututnya dengan satu lutut menyentuh lantai dan meletakkan pedangnya di kedua tapak tangannya. Membawa pedang itu ke atas kepalanya dengan kepala menunduk dalam.
"Seluruh nyawa saya milik anda Your Majesty"
Sudut bibir Raja George tersenyum tipis dan meraih pedang yang di serahkan Edward yang sama dengan menyerahkan seluruh nyawanya ke dalam tangan tuannya. Janji seorang kesatria, kembali Edward lakukan untuk yang ke dua kalinya, walaupun Edward tahu, jika kali ini nyawanya tidak lagi untuk tuannya.
"Aku, King George II menerima sumpahmu kesatria Edward Alexander Phineas"
Raja George mengganti isi telapak tangan Edward yang sudah kosong dengan meletakkan perkamen emas yang baru di buatnya.
Saat perkamen sudah bisa di rasakan Edward mendarat di kedua telapak tangan yang masih berada di atas kepala tertunduk dalamnya, Edward menutup matanya dengan hati penuh sumpah setia.
"Simpan ini. Dan pastikan jika saatnya telah tiba, seluruh isi yang ada di dalam sana terlaksana, Kesatria Edward Phineas"
"Baik Your Majesty"
"Dan...." Kedua mata Raja George menutup dengan lelah sambil menarik nafas dalam. "Lindungi dua anak itu dengan nyawamu. Para pemegang masa depan kerajaan ini"
"Dengan seluruh nyawa saya, Your Majesty"
\=\=\=
Dari dulu kalo baca ato nonton drama historical tentang sumpah kesatria selalu bikin merinding. Rasanya keren aja gitu. Wkwkwk.. Ada yang sama?
Yukk jejaknya yukkk
__ADS_1