
Dengan pelan Victoria meletakkan bayi-bayi gempalnya yang sudah tertidur setelah kenyang menyusu dari ibunya. Dengan sangat hati-hati Victoria meletakkan mereka ke dalam keranjang-keranjang bayi yang sudah di siapkan Bety. Victoria menatap bayi-bayi menggemaskannya yang baru berusia dua bulan itu sambil tersenyum.
Setelah cukup puas memandang bayi-bayinya, Victoria menatap Bety yang sudah siap dengan semua kotak-kotak pakaiannya dan juga milik bayi-bayinya
Victoria mengangguk pada Bety dan Joseph yang langsung memerintahkan pelayan untuk membawa keranjang bayi serta semua kotak-kotak untuk ke luar kamar Victoria.
Dengan penuh tekat dan keyakinan, Victoria tersenyum pada Arthur yang masih memegang surat kabar. Melihat jika adiknya sudah muncul, Arthur melipat kembali surat kabarnya dan segera berdiri dari sofa.
"Kau yakin Ri?"
Victoria mengangguk yakin, bahkan sangat yakin dan langsung memeluk kakaknya dengan erat
"Tentu saja Archi. Ini keputusan kami berdua, kami tidak mau anak-anak kami melewati masa kecil di dalam istana"
Arthur hanya membuang nafas panjang dan Victoria langsung melepaskan pelukannya untuk menatap kakaknya
"Perjalanan mereka akan baik-baik saja kan?"
"Tentu saja, aku sendiri yang akan memastikannya dengan nyawaku"
Victoria mengangguk berterimakasih dan mulai berjalan ke arah pintu keluar. Saat sudah di depan pintu, kereta kuda dengan lambang Albany sudah menunggu.
"Aku pergi mengantar keponakanku dulu Ri"
Victoria mengangguk dan memperhatikan semua pergerakan para pelayan yang mulai memasukkan kotak-kotak kebutuhan bayi-bayinya. Setelah semua selesai, Bety dan Joseph mendekat pada Victoria sambil membawa keranjang bayi. Victoria kembali memandang bayi-bayinya, perasaan tidak rela jelas terpancar dari raut wajahnya tapi, dia harus melakukan ini. Dia tidak ingin anak-anaknya terluka saat dia akan bertempur. Keputusan dirinya dan juga suaminya sudah bulat untuk tidak membuat anak-anak mereka merasakan masa kecil di dalam istana.
"Tenanglah Your Highness.. kami akan merawat mereka dengan baik"
"Terimakasih Bety, aku percaya padamu"
Bety mengangguk singkat dan langsung menuju kereta kuda, di ikuti Joseph yang juga langsung melangkah terlebih dahulu untuk mengantarkan keranjang bayi pada seseorang yang sudah ada terlebih dahulu ada di dalam kereta.
"Mereka akan datang sebentar lagi Ri"
Kepala Victoria mengangguk dan langsung mencium pipi kakaknya, saat Arthur sudah membungkuk.
__ADS_1
"Hati-hati Archi, dan ingatkan agar pria itu tetap rajin meminum pil-nya"
Arthur hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam kereta kuda, di mana Bety dan seorang pelayan tua sudah terlebih dahulu duduk sambil memangku keranjang bayi yang di berikan Joseph, pelayan tua yang menjadi pengasuh suaminya dulu, Sisi. Bety dan Sisi adalah nanny yang akan menjaga dan menggantikan perannya dan Fredrick untuk sementara waktu. Sama seperti dirinya dan Fredrick saat kecil yang di asuh oleh mereka.
Arthur melambaikan tangannya saat kereta mulai berjalan. Victoria dan Joseph membalas lambaian tangan mereka.
"Ayo Joseph, aku harus bersiap, sebentar lagi Edward pasti tiba"
Joseph mengangguk dan langsung memanggilkan Diana yang masih menyendiri di taman belakang karna sedih, sedih harus berpisah dengan bayi-bayi penuh lemak yang sangat menggemaskan.
Victoria sudah duduk di depan cermin kamarnya dan saat pintu di ketuk, Diana masuk dengan wajah di tekuk dan mata yang memerah, wajahnya tampak tidak bersemangat
"Di..."
"Kenapa? kenapa mereka tidak bisa di istana Vic? apa kau tidak akan merindukan mereka?"
Victoria menatap Diana dari depan cermin, meski mulutnya terus mengeluh, meski matanya terus berkaca-kaca tapi tangan Diana dengan cekatan mulai merapikan rambut Victoria.
Victoria tersenyum getir, jelas dia tidak rela untuk berpisah dengan bayi-bayi yang di kandung dan di lahirkannya dengan taruhan nyawa tapi... dia lebih tidak rela lagi jika harus hidup berdekatan dengan anak-anaknya, tapi hidup di dalam kandang penuh racun, dia dan Fredrick tidak sudi jika anak-anak mereka merasakan kerasnya dan kejinya racun istana saat mereka masih kecil. Terutama Fredrick, suaminya yang sangat tahu bagaimana istana.
Setelah gaun siap dan rambut Victoria juga siap. Diana langsung memasangkan perhiasan dan menata mahkota tiara khas milik setiap Ratu Francia yang juga selalu di pakai mendiang Ratu terdahulu di acara kebesaran, tiara milik mendiang Ratu Rosemary yang tidak pernah sekalipun di cicipi Ratu sekarang. Mahkota kecil dan perhiasan yang sama bermandikan batu rubi dan mutiara merah langkah dari perairan Asian.
Setelah semua selesai. Victoria kembali berdiri di depan cermin besar untuk memastikan gaunnya
Semua hal yang di kenakannya adalah gaun dan perhiasan milik mendiang Ratu Rosemary yang sudah di siapkan Raja George untuk hari ini. Segala hal bernuansa merah yang di kenakannya sebagai ungkapan kekuasaan dan juga kemarahan.
Saat sedang asik dengan pikirannya, pintu di ketuk oleh seorang pelayan, dan Victoria tahu jika jemputannya telah tiba.
Victoria segera keluar pintu kamar dan menuju tangga. Edward yang baru saja tiba masih berdiri di depan pintu dan menatap ke arah tangga karna suara langkah kaki yang terdengar.
Victoria tersenyum pada Edward yang terpaku di tempatnya, hati Edward bergetar melihat penampakan Victoria. Hingga suara hatinya berguman
__ADS_1
"She really was born to be a Queen"
Edward mendekat beberapa langkah pada Victoria yang sudah siap berdiri di akhir tangga. Tangannya langsung bergerak menarik pedang, Menekuk lututnya dengan satu lutut menyentuh lantai, meletakkan pedang di kedua telapak tangan ke atas kepalanya yang sudah tertunduk dalam.
"Your Majesty..."
Victoria tersenyum dan menerima pedang Edward. Edward yang merasakan jika pedangnya yang sama dengan sumpah setianya di terima Victoria, segera menurunkan tangannya. Semua pengawal dan penjaga Castle Albany ikut menekuk lutut mereka dengan satu lutut menyentuh lantai. Semua pelayan membungkuk dalam. Dengan serentak semua mulut menyuarakan keagungan Victoria
"LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN!"
Victoria mengangguk singkat
"Berdirilah Edward"
Edward segera berdiri dengan tubuh yang masih membungkuk dalam, kaki Edward mundur beberapa langkah dengan tubuh yang masih membungkuk dalam. Semua pergerakan Edward di ikuti para pria pengawal dan penjaga.
"Siap untuk pertunjukan Ed?"
Edward menegakkan punggungnya dan menyeringai lebar pada Victoria
"Tentu saja Your Majesty"
Victoria menyeringai tidak kalah lebar pada Edward.
"Mari kita tunjukkan, siapa kita pada mereka"
Edward merentangkan satu tangannya ke arah pintu keluar, masih dengan seringai lebarnya
"Mari saya antar anda pada tahta anda, Your Majesty"
\=\=\=💙💙💙💙
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua✨
__ADS_1