
Victoria mengedarkan arah pandangnya dari tempat duduknya yang berada sedikit di atas undakan panggung. Dentingan gelas, sorak sorai, suara tawa, suara percakapan antusias mengisi seluruh isi lapangan camp kesatria. Meski keadaan malam hari cukup dingin dengan salju yang terus jatuh dan angin malam musim dingin yang terus berhembus tidak menyulutkan semangat berpesta para pahlawan perang dan kesatria di sana.
Sebenarnya, tempat yang di hadirinya sekarang bukanlah tempat yang pantas untuk di datangi seorang Lady terhormat sepertinya tapi, dengan segala bujuk rayu dan manjanya. Tunangannya yang sekarang semakin mudah di bujuknya itu luluh dan mengijinkannya untuk berada di tempatnya sekarang. Victoria dengan segala tekatnya mempunyai tujuan untuk dan harus berbicara dengan kakaknya yang sekarang terlihat sedang asik menyesap bir dan sesekali terbahak dengan teman-temannya. Jauh berbeda dengan keadaan dan perasaan Victoria sekarang, bahkan, tunangannya tidak turut menemaninnya karna harus melakukan sesuatu dan mengerjakan pekerjaan putra makhkotannya yang sedang mengejar waktu untuk di selesaikan.
Victoria melirik Carl dan Lucas yang berdiri dengan setia di belakangnya untuk menjadi penjaga tapi juga menjadi pengawasnya. Fredrick jelas tidak akan meninggalkan Victoria sendirian di tengah-tengah lingkaran semua pria meski, tetap ada pelayan wanita yang harus melayani untuk memberikan makanan dan minuman pada para pemilik pesta.
Sudah sangat lama Victoria terus memandangi kakaknya, waktu berjam-jam sudah terlewati tapi tetap, kakak laki-lakinya, Arthur tidak juga berniat untuk membalas tatapannya. Victoria tersenyum masam.
"Ini sudah hampir tengah malam My Lady"
Suara Lucas yang tiba-tiba terdengar di kebisingan membuat Victoria menoleh dan menggeleng
"Aku masih ingin di sini Luc"
Dengan pasrah Lucas mengangguk dan melirik Carl yang sesekali menyesap gelas birnya dengan tidak tahu diri. Saat sedang bertugas berani untuk ikut menikmati pesta? hanya Carl yang akan berani begitu. Mungkin Carl memang tidak punya rasa takut dan rasa malu, itu yang selalu di pikirkan Lucas.
Waktu terus berjalan dan Lucas sepertinya bisa menebak jika fajar akan menyingsing dan lagi, untuk yang kesekian puluh kali mengingatkan dan mengajak Victoria untuk kembali. Meski dengan segala rasa hormat tapi juga terselip rasa kasian. Victoria dengan mata sayu bahkan sesekali hampir menjatuhkan kepalanya di meja tetap tidak ingin kembali hingga
"Sudah ku duga kau masih di sini Vic"
Victoria yang sudah sangat mengantuk mendongakkan kepalanya dan menatap si pemilik suara. Fredrick menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap surai Victoria dengan lembut
"Kau sudah sangat mengantuk, kembali lah dulu hhmm..."
Dengan keras kepala Victoria menggeleng kuat
"Aku masih ingin di sini Bash"
__ADS_1
"Datangi saja dia, ini hampir pagi"
Kembali Victoria menggeleng kuat. Gelengan untuk nenolak saran Fredrick untuk mendatangi kakaknya. Victoria ragu, dan takut. Takut jika di tolak, karna itu dia memutuskan untuk terus menunggu kakanya hingga Arthur kembali ke kamarnya. Terlebih setelah mendengar kabar jika pagi ini kakaknya itu akan kembali langsung kembali ke Albany dan melewatkan dua hari lagi pesta untuk para pahlawan.
Fredrick membuang nafas pasrah dan menarik kursi untuk duduk di sebelah Victoria. Tangannya segera menggenggam kedua tangan Victoria yang ternyata terasa dingin. Alis Fredrick bertaut tidak suka dan langsung menggosok kedua tangan kecil itu, berharap bisa menyalurkan sedikit rasa hangat.
Setelah di rasa kedua tangan Victoria sudah mulai menghangat, Fredrick kembali berdiri. Victoria menatap Fredrick dengan bingung terlebih saat Fredrick yang menuruni undakan dan... mendekat pada meja Arthur. Entah apa yang di katakan Fredrick pada Arthur hingga menbuat Arthur segera berdiri dan menatap Victoria sekilar dengan raut wajah dingin lalu segera melangkah menjauh dari meja menuju ke luar lapangan.
Di tengah rasa khantuknya Victoria segera berdiri untuk mengikuti arah langkah Arthur. Fredrick yang melihat itu segera memberikan perintah tak kasat mata untuk Carl dan Lucas agar mengikuti dalam diam langkah Victoria.
Dengan sedikit berlarian, Victoria mengejar langkah kakaknya yang sudah menghilang dari arah pandangnya. Mengandalkan keputusannya, Victoria menuju ke kamar para prajurit dan dengan cepat mengeluarkan kunci cadangan pintu kamar kakaknya.
Pintu terbuka dan pemandangan Arthur yang baru saja menarik celana berbeda ke atas dengan sepasang baju yang di pakainya tadi sudah tergeletak di lantai menyambut arah pandang Victoria. Arthur yang sudah menyadari jika dirinya terus di ikuti bahkan hingga ke dalam kamar hanya diam tanpa berniat untuk menoleh dan meneruskan kegiatannya yang sekarang sedang mengikat tali celanannya
"Archi..."
Suara dingin itu kembali menyapa pendengaran Victoria, dengan menguatkan diri Victoria melangkah mendekat pada kakaknya yang masih tidak menoleh sedikitpun padanya
"Kenapa kau mengabaikanku? apa kau marah padaku?"
Dengan tidak berniat membalas dan menajawab, Arthur meraih bajunya tapi, Dengan cepat Victoria menarik baju itu dan membuangnya ke lantai. Arthur mengeram kesal
"Apa kau terbiasa masuk ke dalam kamar pria yang bahkan sedang memakai bajunya?"
"Kau bukan pria Archi"
Dengan tajam Victoria menatap tatapan mencela kakaknya, meski hatinya sudah mencelos jatuh karna mendapatkan ucapanya dingin dan mencela kakaknya
__ADS_1
"Mungkin aku bukan pria untukmu tapi, kau pasti belajar tidak sopan seperti ini dari seorang pria kan" Arthur memandang Victoria dengan tersenyum culas. "Aku jadi curiga jika kau memang sudah banyak melakukan tindakan tidak bermoral dan melakukan dosa menjijikkan"
Demi seluruh hidupnya, Victoria tidak pernah merasakan rasa sakit dan terhina seperti sekarang. Segala hinaan berbagai macam orang lain tidak pernah menyakitinya tapi, ucapan pria tersayangnya yang sekarang sudah melipat kedua tangannya di depan dada itu sangat menghancurkan hatinya. Victoria menatap kakaknya dengan arah pandang yang mulai buram
"Apa kau percaya semua rumor buruk itu? apa aku memang terlihat sudah seperti pelacur Archi? apa karna itu kau enggan untuk melihat dan berbicara padaku? apa karna itu juga kau tidak menganggapku sebagai adikmu lagi?"
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan di bibirnya, air mata Victoria tumpah. Victoria segera mengusap kasar ke dua pipinya sambil menengadahkan kepalanya. Hingga sepasang tangan besar segera menariknya dan membawa tubunya kedalam pelukan hangat. Pelukan pria yang selamanya akan menjadi pelukan kesukaannya setelah pelukan ayahnya.
"Apa yang membuatmu marah Archi? kenapa? apa aku memang terlihat sekotor rumor mereka"
Tanpa menjawab Arthur hanya mengusap pelan dan lembut punggung adiknya dengan memberikan sebuah kecupan panjang di pelipis Victoria. Isakan Victoria semakin menjadi dengan kedua tangannya yang membalas pelukkan hangat kakaknya
"Jika kau mengabaikan ku dan tidak ingin menganggapku adik lagi untuk apa aku hidup lagi, untuk apa aku bertahan hidup. Hanya kau yang ku punya Archi, hanya karna kau yang membuatku untuk tidak menyerah dan tidak mengakhiri hidup ku sendiri, hanya karna memikirkanmu aku masih bisa bernafas sekarang"
Suara tangisan Victoria semakin menjadi hingga menjerit kesakitan di dalam pelukkan Arthur. Arthur semakin mengeratkan pelukkannya dengan mata yang sudah berlinang. Sesekali mulutnya berucap kata maaf dan mengatakan penyesalannya.
"Aku pikir kau sudah tidak butuh aku Ri. Aku pikir kau tidak menginginkan aku lagi sebagai keluargamu. Kau yang sudah berani menentang keluarga kita dan itu membuatku menyimpulkan hal-hal yang buruk. Maafkan sikap ku dan isi kepalaku sudah terlalu lama hanya berputar dalam perang. Maafkan aku Riri"
Lama Victoria menangis dalam pelukkan kakaknya hingga tertidur. Menyadari jika adiknya yang tertidur di sela-sela tangisnya membuat Arthur segera membawa tubuh itu di dalam gendongannya dan meletakkan Victoria di atas rajangnya. Arthur melirik ventilasi yang sudah menampakkan cahaya-cahaya matahari, tanda matahari telah muncul dan memamerkan sinarnya. Dengan pelan Arthur menarik selimut untuk Victoria dan mencium dahi adiknya dengan sayang lalu meraih kembali bajunya untuk berjalan keluar pintu. Dia akan mengirimkan pesan ke Albany. Arthur akan mengirimkan pesan untuk menunda dulu kepulangannya.
\=\=\=💚💚💚💚
Yuk tinggalin jejak kalian.
Vote-nya juga jika berkenan silahkan di sebar
Salam sayang semua✨
__ADS_1