
Victoria merasakan rasa hangat melingkari tubuhnya, terasa sangat nyaman dan aman. Meski ruang tidurnya terasa sempit dan tidak beraroma seperti kamarnya tetap saja, aroma yang masuk ke indra penciumannya sekarang sangat menenangkan dan sangat tidak asing. Victoria menggeliat dan meraba-raba sekitarnya. Tidak ada tubuh Grey di sana, tidak ada bantal berbulu angsa kesayangannya di sana. Tangannya yang masih lincah meraba sekeliling hanya bisa menemukan bantal keras yang di selipkan si antara kakinya. Victoria menarik ke atas bantal itu dan... aroma yang sama, aroma berbeda yang menenangkan itu juga ada pada bantal itu dan....
"What the..."
Dengan kesadaran dan nyawa yang belum kembali seutuhnya, dengan gerakan cepat Victoria mengangkat tubuhnya. Rasa cemas membuat refleks tubuhnya lebih cepat dari pada kerja otaknya. Melebarkan arah pandang, kedua mata Victoria memicing tajam dan menatap seluruh ruangan penuh selidik, hingga melihat seorang pria yang duduk di atas kursi depan meja sambil tersenyum mengejek padanya
"Pemalas tetap akan menjadi pemalas"
"Archi..."
Victoria tersenyum lebar dan lega. Dengan tidak anggun langsung merenggangkan otot-ototnya tanpa malu sedikitpun. Arthur tersenyum geli melihat betapa tidak anggun gambaran adiknya sekarang
"Aku lapar Archi"
"Ingin makan di sini atau ikut aku ke dapur camp?"
"Di sini saja"
Arthur langsung mengangguk dan melipat kertas-kertas di ataa mejanya, Lalu segera berdiri untuk menuju pintu keluar. Melihat tubuh Arthur yang sudah menghilang dari pintu, Victoria segera berdiri menuju meja yang baru saja di tinggalkan kakaknya. Ada tiga lipatan kertas di sana yang membuat rasa penasaran Victoria timbul hingga membuka dan membacanya.
Seperti yang bisa dia prediksi dari karakter kakaknya. Semua berisi rencana untuk pekerjaannya, pekerjaannya yang baru. Seorang Duke of Albany. Bahkan dengan tubuh kakaknya yang belum pulangpun, isi kepalanya sudah menerawang jauh memikirkan rencana untuk tanah mereka. Victoria tersenyum bangga
"Kau tidak ingin mandi?"
Suara Arthur yang tiba-tiba saja muncul tanpa ada suara gerakan dari kedatangannya membuat alis Victoria berkerut dalam dan memutar kepalanya pada Arthur
"Kapan kau masuk"
"Baru saja"
Dengan santai, tanpa menanggapi tatapan penuh selidik adiknya, Arthur meletakkan nampan yang berisi satu piring daging yang di bakar dengan bumbu berwarna merah dan satu gelas air putih ke atas meja.
"Makanlah, ini sudah sangat siang"
Victoria mengangguk patuh dan segera menduduki kursi dalam ketidak anggunan, kursi yang sebelumnya sudah di tarik Arthur.
"Kau tidak makan?"
Sambil kembali merapikan kertas-kertas di atas mejanya Arthur mengedipkan bahunya acuh
"Aku sudah dua kali makan. Sarapan dan makan siang. Ck! gadis macam apan kau ini Ri"
__ADS_1
Victoria hanya mengangguk tidak tahu malu sambil mengiris potongan besar dagingnya. Arthur yang melihat itu hanya bisa menggeleng geli. Adiknya tetap tidak ada perubahan
"Apa kau ingin sup? di luar semakin dingin"
Sambil mengunyah isi mulutnya dengan kunyahan ala pria jantan. Victoria menggeleng dan menjawab di sela-sela kunyahannya
"Tidak perlu. Aku harus cepat makan sebelum kereta jemputanmu tiba"
"Aku belum akan pulang sebelum pesta usai"
Ucapan Arthur membuat Victoria menghentikan irisan dagingnya dan menatap Arthur dengan berbinar. Dengan pipi yang menyembul terisi makanan Victoria membuka suaranya
"Aku sangat mencintaimu Archi"
Arthur tersenyum geli sambil mengusap ujung bibir adiknya yang kotor karna bumbu tomat
"Jangan bicara dengan mulut penuh Vic"
"Kau yang mengajakku bicara saat makan"
"Baiklah-baiklah.... berhenti membuka mulutmu dan habiskan makanmu dengan cara seorang Lady"
Dengan patuh, Victoria mengangguk tapi, keheningan tidak berlangsung lama
Victoria memutar bola matanya dengan jengah
"Aku sedang makan. Aku seorang Lady bangsawan yang sedang makan Your Grace"
Kekehan Arthur tidak bisa di tahan lagi hingga menggema ke seluruh kamarnya.
--000--000--
Senyum tidak lepas dari bibir Victoria saat melihat bagaimana Grey terus melompat-lompat dan berlarian mengejar Arthur. Perasaan hangat terus menjalar di dalam dadanya meski keadaan di luar sedang turun salju dan mulai semakin dingin. Dengan mengeratkan mantel berbulu tebal yang kebesaran, sesekali Victoria memekik karna Arthur melempar bola-bola salju padanya. Grey pun tidak ingin kalah dengan menyibak kuat salju di tanah ke arah Victoria. Sangat bahagia dan menyenangkan hingga sesekali pelupuk mata Victoria tidak sanggup menampung air mata bahagianya.
Arthur yang juga melihat jika sesekali adiknya mengusap ujung matanya ikut tersenyum haru dan dengan nakal mencoba menutupi air matanya dengan melempar bola-bola salju.
Cukup lama mereka bermain hingga kelelahan dan Arthur menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas tanah yang mulai tebal dengan salju. Victoria dengan nafas yang terengah ikut menjatuhkan dirinya dengan tidak anggun yang membuat Diana yang berada tidak jauh daei mereka ingin berteriak tapi, dengan sekuat tenaga Diana menahan dirinya dan membiarkan kakak beradik itu menikmati moment berharga mereka.
"Apa kau yakin ingin menikahinya Ri?"
Sambil mengelus bulu Grey yang sudah ikut menjatuhkan diri ke atas tanah. Victoria melirik kakaknya yang menatap langit sambil menerawang jauh
__ADS_1
"Aku yakin dan tidak yakin. Tapi aku sudah memutuskan semua ini. Mungkin ini memang jalan hidupku"
"Aku tidak tahu pasti semua alasanmu hingga bisa menentang keluarga kita dengan keputusanmu itu tapi..." Arthur menggenggam tangan adiknya dengan erat. "Aku akan mencari tahu semuanya dan akan terus mendukungmu. Aku, Duke of Albany akan terus berdiri di belakang adikku walaupun harus melawan semua kekuasaan, termasuk..." Victoria meraih tangan Arthur dan mengenggam satu tangan itu dengan kedua tangannya, Arthur ikut menggenggam tangan adiknya dengan kedua tangannya. "Termasuk kekuasaan seluruh keluarga kita"
"Terimakasih Archi.... Aku tidak akan mengecewakanmu"
Arthur mengangguk dan menoleh untuk menatap Victoria dengan tegas
"Ri..."
"Hhmm?"
Victoria menoleh dan membalas tatapan kakaknya
"Aku akan memberikan maharmu dengan perjanjian kerja sama pada mereka dan sisannya, ku serahkan padamu. Lindungi dan jaga tanah kita dari atas tahtamu"
"Aku berjanji dengan seluruh nyawaku"
Dengan sekali gerakan, Arthur menegakkan punggungnya dan menarik tangan Victoria agar ikut menegakkan punggungnya. Arthur menatap adiknya dengan tegas dan dalam
"Ingat Ri, jika suatu hari kau sudah tidak tahan, jika kau sudah sangat lelah, jika kau ingin berhenti. Katakan padaku. Apapun akan ku lakukan untuk mengeluarkanmu dari tempat ini"
Dengan arah pandang yang sudah buram, Victoria mengangguk sambil tersenyum getir
"Aku tahu. Tolong doakan aku"
"Selalu... Aku akan selalu mendoakanmu. Seperti orang tua dan Lottie kita yang pasti selalu mendoakanmu dari sana"
Ucapan Archi membuat Victoria tidak bisa membendung segala perasaannya lagi. Air matanya tumpah dan kali ini, air mata yang mengalir di pipinya adalah air mata kesakitan. Arthur segera menarik tubuh kecil adiknya, mendekapnya dengan cinta kasih dan rasa perlindungan. Ikut menikmati rasa sakit adiknya
"Mereka membunuh ayah, mereka membunuh ibu, mereka menodai dan mencemari Lottie hingga tidak bernyawa Archi. Aku tidak bisa melupakan itu, aku tidak bisa memaafkan semua itu"
Arthur semakin mengeratkan pelukkannya hingga merasa baju di dadanya basah, isakan pedih Victoria segera menjalar ke seluruh aliran darah dan jiwannya
"Maafkan aku karna meninggalkan mu sendiri menanggung semua neraka itu. Maafkan aku Ri. Maafkan aku yang tidak bisa ikut menanggung semua kesakitanmu"
Semilir angin berhembus pelan. Bintang Salju-salju terus berjatuhan. Udara dingin menyelimuti dua saudara yang sedang berbagi kepedihan dan kesakitan mereka. Musim salju di awal bulan menjadi saksi bagaimana dua saudara itu berbagi kepedihan, kesakitan dan juga..... dendam yang membakar hati mereka. Mengikrarkan janji dengan terbalut darah yang sama membuat mereka memiliki tujuan hidup. Entah hidup seperti apa yang akan mereka jalani dan mereka pilih. Entah jalan hidup seperti apa yang akan mereka jalani tapi, sumpah setia antara dua darah yang sama itu. Akan membangun sesuatu yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh siapapun. Tuhan yang mengatur segalanya tapi, mereka yang akan memilih.
\=\=\=💜💜💜💜
Hallo.... apakah sudah mulai bosan?
__ADS_1
Yuk tinggalin jejaknya.
Salam sayang semua...