Behind The Castle

Behind The Castle
**FESTIVAL MEMANAH II**


__ADS_3

Putaran-putaran terus berlanjut, panah-panah terus melesat, para penjaga sekitar area sasaran terus mencabuti atau memunguti panah di area sasaran hingga sampai pada putaran terakhir, putaran untuk Fredrick tampil dan maju.


Dengan gagah, tampan dan penuh pesona Fredrick mengambil posisi dan menyiapkan postur sempurnanya di depan tali pembatas, sebelum tangan pria di atas kotak jatuh dengan dramatis, Fredrick menoleh pada Victoria yang juga ternyata memandangnya. Tanpa senyuman, tanpa ketertarikan, hanya wajah datar dan kedua bola mata mengkilap antusias yang bisa di tangkap kedua bola mata abu-abu Fredrick, tapi itu cukup untuk membuat semangatnya semakin berpacu.


Tangan pria yang berdiri di atas kotak segera jatuh dengan dramatis dan lima arrow segera melesat cepat menuju papan sasaran, empat yang berhasil menancap, satu keluar jauh dari lingkaran papan sasaran dan... hanya satu yang berhasil menancap sempurna dan kokoh, tepat di lingkaran untuk nilai sempurna.


Fredrick menyeringai dan tepukan tangan segera menggema, para Lady bertepuk tangan dengan terpesona, Henry bertepuk tangan dengan bangga, Raja George tersenyum dengan puas dan Victoria.... mulai lapar.


Keadaan ini terjadi karna dia melewatkan sarapannya yang sudah dingin dan tidak sempat untuk makan siang, Diana dengan segala kepanikan dan kesempurnaannya segera menyeret Victoria yang ternyata kembali tidur setelah kunjungan Raja George.


Sorak sorai gembira yang berlebihan dari para Ladys membuat keramaian di kursi penonton, mereka seolah sedang mengolok-olok cacing di perut Victoria yang mulai meronta minta di beri makan.


"Fred me-memang selalu sempurna!"


Henry yang masih merasakan kebanggaan pada saudara satu ayahnya dengan kejamnya ikut mengolok-ngolok keadaan cacing di perut Victoria. Victoria hanya tersenyum tipis dan memberikan tepukan tangan malasnya.


Setelah di beri aba-aba untuk menjauh dari tali pembatas, tanda penilaian selesai, Fredrick segera menoleh pada Victoria yang hanya menunjukkan wajah datar tanpa minat, bahkan tepukan tangannya terkesan sangat malas, alih-alih merasa kecewa atau kesal dengan respon yang di tunjukkan oleh tunangannya, Fredrick malah merasa sangat gemas hingga dia harus menggigit pipi dalamnya.


Kali ini bagaimanapun caranya, dia akan memburu Victoria untuk bicara dan... minta maaf, rasa di abaikan lagi terlebih untuk sekarang terasa lebih menyiksa untuknya, bahkan jika bisa, dia ingin selalu menyimpan wajah Victoria di dalam kamarnya.


Merasa jika pemikirannya mulai liar Fredrick terkekeh geli, dia tidak pernah merasakan perasaan sangat menginginkan seorang gadis hingga membuatnya hanya bisa membayangkan dan terus membayangkan siang dan malam, terlebih saat malam menjelang, di atas ranjangnya yang sekarang selalu dingin pikirannya akan berkelana dengan liar dan hanya akan tertuju pada satu gadis, Victoria.


"Ada em-empat belas peserta yang be-berhasil ke ba-babak selanjutnya Lady"


Suara Henry yang terdengar membuat Victoria mengubah arah pandangnya yang sedang fokus pada seseorang yang sedang berada di kursi penonton.


"Iya...." Victoria melirik sekitar. "Bagaimana cara penilaian untuk babak ini Your Highness"


"Anak panah mereka ha-harus tertancap sempurna di ba-bagian yang sudah di beri tanda. Tanda kedua lingkaran di ta-tangan atau kita se-sebut saja dengan telapak tangan, di ba-bagian tengah badan jerami, di kepala ba-bagian bawah atau kita se-sebut saja dengan dagu, da-dan poin sempurna du-dua panah di bagian atas ke-kepala jerami atau kita se-sebut saja dengan da-dahi"

__ADS_1


Victoria mengangguk paham dan kembali melirik ke kursi penonton, seseorang di sana sedang menatap Fredrick dengan pandangan dan raut wajah kagum terpesona, tidak jauh berbeda dengan sebagian besar para Lady yang ada si sana, Victoria memutar bola matanya dengan malas


"Sudah kembali di mu-mulai"


Sambil mengubah arah pandanya pada peserta, Victoria mengangguk antusias.


Untuk babak memanah boneka jerami, Victoria mengamati alur putaran peserta yang tidak berbeda dengan alur di babak papan sasaran, hanya saja, kali ini para peserta memanah sebanyak enam kali pada titik-titik poin boneka jerami.


Dengan cacing di perutnya yang semakin meronta-ronta Victoria tetap fokus pada putaran demi putaran peserta yang unjuk gigi, rasa antusiasnya membuat Victoria bisa mengabaikan rasa laparnya, dengan sesekali kesempatan bola matanya juga melirik ke arah kursi penonton, seseorang yang menjadi target arah pandangnya selalu sibuk bercengkrama dengan beberapa Lady di sekitarnya, wajah ramah dan bersahabatnya jelas akan segera menarik sekitarnya untuk tidak segan mendekat.


Victoria tersenyum tipis, merasa jika dirinya dan seseorang yang sedang menjadi target arah pandangnya sangat jauh berbeda, saat kecil Victoria bahkan mendapat gelar gadis dingin Arathorn dari orang-orang yang baru bertemu dengannya.


"Ki-kita akan masuk di pu-putaran terakhir Lady, pu-putaran untuk Fredrick maju"


Victoria mengangguk


Sambil memandang raut wajah Victoria yang datar, Henry mencoba membaca perasaan Victoria yang menyuarakan kata'segera pulang' tapi, Henry tidak bisa mendapati apapun di wajah manis Victoria


"A-apa anda merasa bosan my La-lady?"


Victoria menggeleng singkat


"Tidak Your Highness, hanya saja..." Victoria mendekatkan kepalanya pada telinga Henry dan berbisik. " Saya lapar Your Highness"


Alis Henry berkerut dalam dan menatap lekat wajah Victoria


"Anda belum ma-makan Lady?"


Sambil meringis Victoria menggeleng malu, terlebih karna suara Henry yang meninggi hingga membuat Jeremmy dan Edward yang terus berada di belakang mereka segera menatap rambut Victoria yang di tata sempurna oleh Diana.

__ADS_1


Henry tersenyum hangat saat melihat raut wajah baru yang bisa di tunjukkan wajah datar Victoria, yang membuatnya menjadi penasaran, raut wajah seperti apa lagi yang bisa di tunjukkan wajah manis itu.


"Sebenarnya se-setelah semua putaran dan pe-penilaian selesai akan ada pe-penyerahan hadiah dari His Mejesty pa-pada pemenang tapi, jika La-lady ingin kembali, aku akan me-mengantar"


Layaknya seorang gentleman sejati Henry memberikan pilihan yang sangat pengertian dan juga pilihan yang cukup diplomatis untuk Victoria tapi,


"His Highness Pangeran Fredrick pasti akan menang, anda tidak bisa kembali sebelum melihat tunangan anda menerima hadiah dan ucapan dari His Majesty"


Suara berat pria di belakang Victoria dan Henry membuat Victoria segera memutar kepalanya, di sana Edward sedang berdiri di sebelah kursi Raja George sambil menatap ke lurus ke depan.


"Jika saya ingin kembali apa anda tetap akan menyeret saya tuan Edward?"


Dengan menatap tajam Edward, Victoria sudah menunjukkan wajah kesal dan bencinya tapi,


"Tunangan anda akan maju my Lady, dia sedang mentap kemari, seorang Lady jadilah seorang Lady yang anggun, jangan memutar kepala terlalu lama seperti itu"


Mendengar ceramah Edward yang sudah hampir menyamai guru etiketnya membuat pelipis Victoria berkedut kesal, menyadari jika rasa kesalnya saat ini tidak akan bisa di lepaskan dengan sembarang, Victoria memilih diam dan kembali meluruskan kepalanya.


Jeremmy mengulum senyumnya dan melirik Edward yang sudah tersenyum geli, lalu melirik Raja George yang juga sudah ikut tersenyum geli, ternyata Raja George masih bisa mendengar semua percakapan mereka?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Haii readers.... Masih semangat lanjut membaca kah? Semoga masih yaaa...


Sekali lagi, terimakasih banyak sudah mampir dan masih bertahan sampai sejauh ini


Tolong like, komen, bintang dan lope-nya yaa biar eike semangat buat lanjut nulis


Salam sayang semua✨

__ADS_1


__ADS_2