Behind The Castle

Behind The Castle
**LOYALTY**


__ADS_3

Dengan tenang, Victoria menunggu Raja George yang sedang meminum obatnya. Perasaannya kembali sedikit tercubit melihat keadaan Raja George yang semakin hari semakin lemah. Berapa lama dia akan bertahan? Seberapa lama dia akan tetap hidup? Pertanyaan itulah yang membuat perasaan Victoria sedikit tidak nyaman. Tapi, semua hal yang mencubit hati Victoria, langsung di tekannya dengan kalimat.


Dia yang membunuh ayah dan ibumu Victoria.


Dan itu cukup untuk mengembalikan semua keyakinan Victoria. Dia tidak akan goyah sedikitpun. Kapanpun.


"Apa kau bosan menungguku Putri?"


Suara lemah Raja George membuat Victoria menghentikan lamunannya dan menatap wajah pucat Raja George yang semakin terlihat tirus.


"Tidak Your Majesty. Bagaimana keadaan anda?"


"Seperti yang kau lihat Putri" Raja George tersenyum hangat. "Sudah dua minggu Fredrick kembali ke Wilayah Barat. Bagaimana keadaannya di sana?"


Victoria menatap lekat dan penuh makna wajah Raja George. Raja George yang sedang mengkhawatirkan anaknya. Ada kerinduan yang bisa Victoria lihat di dalam kedua bola mata abu-abu yang sama dengan warna suaminya itu.


"Dia baik-baik saja Your Majesty, semalam saya baru mengirimkan surat balasan padanya"


Kepala Raja George mengangguk paham


"Bagaimana pembangunan Wilayah Barat? Dan bagaimana pemberontak di sana?"


"Pembangunan terus berjalan Your Majesty, semua kembali berjalan dengan baik. Saat His Highness tiba di sana, mereka langsung bergerak tapi, otak dari gerakan pemberontak itu belum di temukan seluruhnya dan mereka masih harus terus memantau di sana"


Kembali Raja George mengangguk paham.


"Sebenarnya alasanku untuk memanggilmu kemari, karna aku ingin kau yang mengurus untuk acara perayaan hari raya dan juga acara tahun baru, Putri. Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa apa-apa lagi sekarang"


Victoria tersenyum tipis


"Bolehkan saya menyuarakan pendapat tentang perayaan pada anda Your Majesty?"


"Tentu saja Putri, katakan saja"


Raut wajah Raja George tampak antusias, sama seperti ketika Victoria mulai membahas hasil rapat atau mengajak Raja George untuk berdiskusi


"Seperti rapat yang kita bahas dua minggu lalu. Kita sedang banyak membutuhkan dana untuk pembangunan Wilayah Barat Your Majesty. Saya rasa, lebih baik untuk tahun ini kita meniadakan acara untuk perayaan hari raya dan tahun baru, acara yang selalu banyak mengeluarkan dana. Itu hanya pemikiran saya Your Majesty"


"Hmm begitu... Jika untuk tahun baru, itu bisa di terima. Tapi ini hari raya Putri, kita tidak bisa mengabaikannya"


Tangan Victoria mulai memutar-mutar cangkirnya dan berpikir. Lalu kembali menatap Raja George

__ADS_1


"Sebenarnya saya punya rencana untuk tidak menjalankan tradisi kenaikkan pajak yang selalu naik tiap tahun, kecuali untuk para bangsawan dan rakyat dengan status ke atas, ini juga berlaku untuk para pengusaha, Your Majesty. Saya bermaksut menggunakan itu sebagai kabar untuk hadiah perayaan hari raya untuk rakyat menengah ke bawah. Saya juga memiliki rencana untuk membuat perayaan hari raya dengan cara berbeda. Itupun jika anda mengijinkan"


Kedua alis Raja George terangkat tinggi dengan raut wajah tertarik.


"Dengan cara berbeda?"


Victoria mengangguk yakin


"Benar Your Majesty, dari pada membuat pesta meriah yang akan menghabiskan banyak dana, saya ingin membuat acara kekeluargaan sederhana. Hal sederhana seperti, membuat acara doa bersama pada tengah malam bersama-sama di tengah ibu kota. Kita membuat panggung yang akan di pimpin oleh para imam. Dengan kewajiban rakyat memakai dress code putih yang sama, membawa lilin yang akan di hidupkan pada waktu tepat tengah malam. Setelah itu saling mengucapkan selamat hari raya pada sesama rakyat yang hadir. Saya juga ingin jika saat kita membuat acara, semua sama rata. Tempat duduk untuk bangsawan, orang kaya dan rakyat jelata bersebelahan. Walaupun...." Victoria meringis. "Saya tidak yakin kalangan ton bersedia"


"Itu terdengar indah Putri. Sangat sederhana tapi bermakna"


Kedua mata Raja George berbinar terang, menatap Victoria dengan bahagia dan bangga. Kedua mata itu seperti sudah bisa melihat jika hari-H akan berlangsung besok, tapi,


"Bagaimana dengan tumpukan es dan salju Putri?"


Ah... Victoria sudah tahu itu, pasti pertanyaan ini akan muncul. Dan Victoria sebenarnya juga belum mempunyai solusi untuk ini. Victoria kembali membuang nafas panjang


"Sebenarnya saya juga khawatir dengan ini Your Majesty, karna memang acara ini akan kita buat di alun-alun, di tengah-tengah ibu kota"


"Hmm..." Kepala Raja George mengangguk paham, tangannya terangkat untuk mengusap dagunya. "Menurutku tidak akan terlalu masalah Putri. Kita bisa memasang tenda tebal dan cukup membersihkan jejalanan. Acara seperti ini pertama kalinya kita buat, dan rakyat pasti akan antusias..." Raja George menatap Victoria dengan tersenyum penuh arti. "Tapi tetap, kita harus memicu dulu kebahagian mereka, agar rakyat dengan hati yang bahagia menyambut hari raya, semakin bahagia"


"Berarti, kita akan mengumumkan ketiadaannya kenaikan pajak pada saat kita mengumumkan waktu acara, Your Majesty?"


Kekehan halus Raja George terdengar, lalu menimpali ucapan Victoria


"Buatlah proposalnya Putri, aku akan mengkoreksi"


"Baik Your Majesty"


Cukup lama mereka kembali larut dalam diskusi yang sebenarnya terlihat lebih seperti obrolan akrab. Seolah isi kepala mereka berksinambungan. Hingga Raja George membahas ulang tahun Victoria yang akan berlangsung satu minggu lagi. Tapi Victoria tetap menyuarakan keinginannya untuk menolak pesta, bahkan jika itu hanya pesta kecil.


🌺🌺🌺🌺


Victoria menatap dalam kertas yang ada di tangannya. Kertas yang berisikan nama tiga belas nama. Tiga belas orang-orang penting istana yang selalu punya andil untuk setiap pergerakan kecil ataupun pergerakan besar di dalam kerajaan. Victoria sedang menimang, jika ketiga belas nama di atas kertas itu, ketiga belas nama yang sekarang tinggal bersisa sebelas nama yang masih hidup itu di bersihkan. Apa yang akan terjadi? sepertinya kekacauan untuk perputaran pergerakan di dalam kerajaan adalah sebagian kecil dampak yang akan di dapatkan jika istana kehilangan orang-orang itu.


Cukup lama Victoria berpikir hingga suara terbahak Carl dan suara umpatan Lucas membuatnya berhenti menyelam terlalu dalam di pikirannya.


"Luc"


Lucas yang sedang gambling dengan menggunakan dadu bersama Carl langsung menghentikan semua permainan mereka.

__ADS_1


"Iya your Highness"


Dengan arah pandang yang terus menatap kertas Victoria mengatakan perintahnya


"Aku ingin bicara pada Carl. Berdua"


Meski bingung tapi Lucas tetap mengikuti dengan patuh dan langsung ke luar ruangan rahasia mereka. Carl yang rasa bingungnya tidak jauh berbeda dengan Lucas, tetap di dalam ruangan


"Duduk lah Carl"


Dengan patuh Carl mendaratkan bokongnya di sofa depan Victoria. Carl melirik kertas di tangan Victoria, dia tahu jika isi kertas itu berisi tiga belas nama yang terlibat dalam pembunuhan orang tua Victoria. Dengan dua orang yang sudah di eksekusi


"Masih tersisa sebelas Carl. Dan mereka benar-benar sebagai bagian inti otak pergerakan untuk perputaran kerajaan. Mereja juga sejauh yang kita ketahui bersih" Carl mengangguk, menyutujui ucapan Victoria. Victoria menarik nafas dalam. "Aku ingin membagi pemikiranku Carl. Apa aku bisa percaya padamu?"


Dengan yakin Carl mengangguk


"Tentu saja, Your Highness. Silahkan bertanya dan katakan apapun yang mengganggu anda"


"Jika ku katakan, bahwa ini rahasia apa kau bisa ku percaya Carl?"


Meski cukup bingung, Carl tetap mengangguk yakin.


"Anda bisa percaya pada saya Your Highness"


Victoria mengangguk singkat sambil memandang Carl dengan lekat


"Ku katakan, jika ini rahasia Carl. Rahasia. Apa kau juga bisa menyanggupi untuk menjaga rahasia ini, juga pada..... His Highness?"


Carl menegang di tempat duduknya. Dia memang memiliki keinginan untuk menjadi pengawal Victoria, bahkan dia yang menawarkan diri saat Fredrick menseleksi siapa yang akan menjaga Victoria selama dia pergi tapi, Carl adalah milik Raja dan akan menjadi milik Raja berikutnya yang di pilih Raja sekarang. Sanggupkah dia mengkhianati Fredrick? Karna dia tahu, walaupun kedua pasangan ini saling mendukung dan menjaga, suatu hari yang entah karna apa, mereka bisa saja saling membunuh untuk semua kebaikan


Victoria dengan tenang mengamati dan menunggu Carl yang sedang berperang dengan pemikirannya. Dengan sabar dia menunggu jawaban Carl. Yang mungkin akan mengecewakan atau sesuai dengan keinginannya, hingga


"Saya akan melindungi anda, membantu anda bahkan mengorbankan nyawa saya tanpa batas untuk anda, Your Highness. Tapi, sampai kematian menjemput saya, saya adalah 'anjing' Raja dan akan menjadi 'anjing' Raja berikutnya. Perlu saya tekankan, mustahil jika saya akan menusuk 'tuan' saya apapun yang terjadi dan untuk 'siapapun' itu juga tidak akan pernah terjadi. Meskipun tugas saya juga untuk melindungi dan melayani anda. Meskipun kami juga adalah subyek anda. Tapi saya, lebih memilih neraka di bandingkan harus mengkhianati tuan saya"


Dan jawaban Carl, membuat Victoria tersenyum puas.


\=\=\=πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Hayukk jejaknya yukk...


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2