Behind The Castle

Behind The Castle
**BEST GIFT**


__ADS_3

Dengan semua indra di tubuhnya yang tidak bisa mencerna apapun lagi, Victoria menekuk lututnya di samping tubuh Grey yang terus mengeluarkan darah. Tangan Victoria terulur untuk membelai kepala anjingnya yang bergerak pelan dengan susah payah untuk menatap Victoria.


Tangan kecil Victoria menyelip di bawah tubuh Grey, entah kekuatan dari mana dia bisa mengangkat tubuh besar anjing itu ke dalam dekapannya dan menggendongnya. Menggendong tubuh anjingnya, seperti dulu, saat dia sering menggendong Grey kecil.


Calista masih gemetar ketakutan, Alex hanya membeku, Diana sudah menghentikan teriakan tangisnya dengan bibir gemetar saat Victoria menegakkan tubuhnya. Membawa tubuh Grey yang terus mengalirkan darah ke dalam dekapannya.


Victoria meletakkan kepala Grey di bahunya dengan kedua tangan kecilnya yang menahan bokong Grey.


"Kita pulang Grey"


Suara lembut Victoria dengan langkah kakinya yang mulai bergerak menuju gerbang Castle membuat Diana berdiri dari tanah. Dengan tubuh lemas dan menekan segala hati sakitnya, Diana mengikuti Victoria yang terus berjalan. Raut wajah Victoria dingin tidak terbaca, kedua tangannya terus menopang bokong Grey agar tidak jauh, kepala lemah Grey di bahunya yang sesekali akan terjatuh membuat Victoria harus memperlambat langkahnya.


Saat mereka sudah melewati gerbang. Diana menoleh ke belakang, dimana suara Calista kembali menjerit saat Alex memukuli Isac dengan membabi buta, dan semakin menjerit saat Isac membalas


"Diana..."


Diana yang mendengar namanya di panggil dengan suara lembut itu semakin mati-matian harus menahan tangisnya


"I-iya Vic"


"Siapkan tempat peristirahatan terakhir Grey di samping kamarku. Di istana selatan". Diana tahu ini akan terjadi dan langsung mengangguk. "Pindahkan semua barangku ke istana selatan. Sekarang"


Tanpa menjawab, Diana langsung berlari sambil mulai menangis lagi. Dia akan secepatnya mencari orang-orang untuk memindahkan isi kamar Victoria dan..... Menggali tempat peristirahatan terakhir Grey


"Apa kau kedinginan Grey? Tenanglah. Aku di sini"


Setiap pergerakan selama perjalanan mereka, tubuh besar Grey terus membuat Victoria mengeratkan pelukan dan pegangannya. Luka yang sudah akan mengeluarkan isi perut Grey terus mengeluarkan cairan merah, yang terus dan terus membasahi gaun hingga menembus ke kulit Victoria.


Semua mata yang melihatnya hanya bisa terbelalak ngeri, mereka menahan nafas, guratan ngeri dan juga cemas tergambar di raut wajah-wajah mereka, sesekali suara teriakan terkejut juga tidak luput untuk menunjukkan respon mereka pada sosok yang terlihat. Sosok yang terus berjalan, berjalan, dan berjalan dengan raut wajah datar ternoda warna merah darah, sorot mata datar dengan penampilan yang.... Mengerikan


Di sisi lain. Dengan memacu Panter membabi buta, Fredrick yang di ikuti Jeremmy secepat yang mereka mampu langsung menuju gerbang istana. Melihat kemunculan Fredrick dan Jeremmy yang semakin mendekat, penjaga gerbang utama langsung bersiap


"BUKAAA!!!"


Jeremmy berteriak dengan di susul suara gerbang terbuka. Masih dengan Panter yang berpacu menggila, Fredrick menarik tali kekang Panter dengan sekuat tenaga hingga kuda itu meringkik kuat dan menukik sangat tinggi.


Tanpa peduli dengan keadaan Panter, tanpa peduli dengan tubuhnya, Fredrick melompat begitu saja ke halaman istana dan berlari sekencang yang di mampu untuk menuju ke istana utama. Kamar istrinya tapi, dia tidak menemukan Victoria, hanya pelayan yang sibuk membongkar lemari pakaian, kabinet dan semua hal di atas meja kerjanya.


Tangan Fredrick terkepal kuat dan menatap seseorang di sana

__ADS_1


"Di mana?"


Para pelayan yang sudah mendengar kabar dan mengerti situasi langsung menjawab sambil menatap Fredrick dengan tajam


"Istana selatan"


Kembali Fredrick berlari sekuat yang dia mampu. Jeremmy yang baru menyusul langsung memutar tubuhnya kembali, mengikuti langkah lebar dan cepat Fredrick. Semua yang melihat mereka hanya bisa diam dan membungkuk saat Fredrick melewati mereka.


Langkah Fredrick terhenti saat melihat sosok Victoria muncul di depan koridor. Menggendong sosok berbulu besar di depan tubuhnya yang terbalut gaun tidur putih yang sekarang sudah berwarna merah hingga merambat ke rambut tergerainya. Tanpa alas kaki, tanpa mantel, tanpa raut wajah, tanpa sorot mata, semua ekspresi Victoria kosong. Hampa dan datar. Victoria bagai hidup tapi juga mati.


Jeremmy terkesiap hingga tidak mampu bernafas. Fredrick hanya membeku dengan tangan terkepal dan rahang mengeras. Mulutnya terasa keluh, tenggorongkannya penuh dengan kerikil, dadanya menyebar rasa nyeri hingga ke tulang punggungnya, nafasnya semakin berat dan semakin berat menghirup nafas.


Dia ingin maju, ingin mendekat pada sosok yang sekarang sudah seperti hantu itu, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelahnya, dia tidak bisa berpikir dan memikirkan apapun lagi terlebih saat Victoria semakin mendekat. Bukan padanya tapi pada pintu samping halaman.


Kedua bola mata kosongnya tidak bergerak sedikitpun, tidak berminat pada apapun, tidak ingin melihat apapun. Tujuannya hanya satu, pada taman istana selatan.


Dengan langkah berat, Fredrick mencoba mendekat pada Victoria dan...


Victoria hanya melewatinya dengan langkah melewati pintu.


Diana sudah siap di sana, di taman selatan bersalju dengan kain putih besar di tangannya sambil mati-matian menahan tangis dan rasa sesak di dadanya, menyambut Victoria yang langsung menuju meja taman yang bersalju.


Dengan cepat Diana langsung melebarkan kain putih ke atas meja. Setelah kain terbentang, Victoria menurunkan dengan pelan tubuh lemah Grey yang sesekali masih bergerak halus dengan nafas sekarat.


Masih dengan sorot mata kosong dan tanpa raut wajah, Victoria melirik tiga orang pengawal yang sedang menggali tanah. Kursi di sampingnya bergerak saat di tarik Diana dan Victoria segera mendaratkan bokongnya.


Tanganya yang sudah penuh darah menarik ujung demi ujung kain untuk membungkus Grey, lalu tersenyum tipis, senyum tipis yang terlihat sangat mengiris hati siapapun yang melihatnya


"Kau sudah hangatkan Grey?"


Victoria duduk tenang dengan kedua tangan yang terus membelai kepala Grey. Kedua matanya terus menatap mata keemasan Grey yang juga terus berusaha menatapnya


"Kenapa Grey? apa yang ingin kau katakan padaku?"


Grey hanya mendengus pelan dan berat. Victoria kembali tersenyum tipis dan membersihkan liur Grey yang mengalir dari pinggiran mulutnya karna Grey sudah tidak mampu menutup mulutnya


"Kau lelah Grey? tidak apa-apa... Istirahatlah, tidurlah... aku di sini... aku selalu bersamamu Grey"


Kedua kelopak mata Grey semakin berat dengan nafasnya yang semakin berat. Diana sudah membukuk di tanah dengan menekan kuat tangannya ke mulut. Diana berjuang untuk menahan tangisnya. Berjuang agar tidak mengganggu saat terakhir nyonyanya dengan anjing yang juga keluargannya.

__ADS_1


"Grey, apa kau tahu jika aku sangat menyayangimu?. Aku sangat bahagia saat teman ayah mengatakan akan membawakanku barang dari benua jauh tempatnya berasal. Dua minggu setelahnya, sebuah kotak kayu tiba di Castle kita, suara-suara yang bergerak di dalam kotak membuatku sedikit takut dan juga ragu untuk membuka kotak, tapi ayah mengatakan jika 'tidak apa-apa... kau pasti menyukainnya saat kotak itu terbuka'..." Victoria menjedah untuk kembali mengusap liur Grey dan melanjutkan. "Dan saat aku membuka kotak itu. Kau yang saat itu masih sangat kecil menatapku dengan ketakutan, tapi tidak denganku, saat itu juga aku langsung berteriak dalam hati jika kau bukanlah 'barang'!. Kau adalah keluarga kami. Aku sangat senang Grey. Kau hadiah paling indah yang pernah ku dapatkan...."


Victoria kembali menjeda saat nafas Grey semakin dan semakin pelan. Diana semakin tertunduk di atas tanah. Pengawal yang sudah selesai menyiapkan tempat peristirahatan terakhir Grey hanya menunduk dalam dengan mata terpejam. Semua pelayan yang tadinya mendekat karna penasaran mulai berkurang karna tidak mampu menahan tangis mereka. Dan... Victoria kembali tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Grey dan berbisik


"Maafkan aku yang selalu mengganggumu dan tidak bisa menjagamu. Aku bukan tuan yang baik Grey, tidak apa-apa, bencilah aku Grey. Tidak apa-apa.... bencilah aku..."


Victoria tercekat saat kelopak mata Grey mulai tertutup dan pergerakan nafasnya mulai menghilang.


"Kami mencintaimu Grey, terimakasih sudah datang pada kami. Terimakasih untuk semuanya. Istirahatlah Grey.... Pergilah bertemu ayah, ibu dan Lottie"


Victoria mencium dahi Grey dan berguman


"Selamat jalan Grey....."


Pergerakan nafas Grey berhenti. Kelopak matanya menutup rapat.


Tangisan Diana tidak mampu di bendung lagi hingga suara tangisnya meraung-raung dengan tubuh membungkuk di tanah. Victoria memejamkan matanya sambil kembali mendaratkan ciuman di kepala Grey dengan dalam.


"Selamat jalan..... hadiah terbaikku....."


Jeremmy melirik Fredrick yang hanya terdiam dengan wajah dingin tidak terbaca. Kedua bola matanya mengkilap penuh amarah, punggungnya kaku karna menahan diri, Ke dua tangannya terkepal hebat dan terus terkepal hingga warna merah muncul karna goresan luka.


"Mereka sudah memulainya Your Highness"


Entah di mana lagi badai akan jatuh, Entah badai seperti apa lagi yang akan jatuh, Entah suara teriakan sakit siapa lagi yang akan terdengar, entah jeritan pedih siapa lagi yang akan memekakkan telinga, entah tangis kehancuran siapa lagi yang akan berkumandang karna,


Semua kesakitan dan kehilangan yang entah akan menjadi milik siapa, belum selesai.


\=\=\=💙💙💙💙


Eike bikin ini sambil nyumpel telinga dengan lagu Song Of Durin ost the hobbit - Euriella yang sedih bgt. Alhasil air mata mengalir jaya ampe kepala eike sekarang sakit.


bdw....


Ada yg masih inget kalo di meja itu juga Victoria dulu minta sama Raja George buat ngebawa Grey ke istana??


Ayukk sedih sama-sama...


Silahakan bebagi kesedihan kalian...

__ADS_1


__ADS_2