
Arthur ikut berdiri dan mendekat pada Victoria dengan bewajah datar
"Kau tahu siapa yang mengirim ini?"
Dengan mata berbinar dan bibir tersenyum senang, Victoria menatap kakaknya
"Dari His Majesty"
Arthur hanya diam dan menatap mahluk putih itu, sekarang perasaannya sedang berkecamuk
"Apa His Majesty pikir bisa menggantikan ini dengan Grey kita"
Ucapan dingin Arthur membuat Victoria menarik tangan kakaknya dan menatap Arthur dengan lekat
"Grey tidak akan tergantikan dengan apapun, dia tetap hadiah terbaikku dan keluarga kita tapi..." Wajah Victoria menoleh pada anak anjing putih yang sekarang sedang menatap mereka dengan takut-takut. "Dia memiliki adik sekarang, Grey pasti senang Archi"
Arthur hanya diam dan melepaskan tangan Victoria yang menggenggam tangannya. Victoria langsung merasa tertekan dan hampir menangis sekarang, rasa sesak mulai menghimpit dadanya, rasa menyesal mulai kembali menggerogoti jiwanya, lukanya kembali menganga lebar
Menyadari jika adiknya kembali terlihat terluka, Arthur membuang nafas panjang. Sungguh, dia juga merasakan apa yang di rasakan Victoria, terlebih Victoria pasti punya perasaan menyesal yang tidak akan pernah bisa lupakannya.
Dengan bijak, Arthur melangkah untuk menangkap anak anjing yang akan berlari saat dia semakin mendekat, lalu menggendong mahluk putih itu dan mendekat pada Victoria.
Victoria menatap Arthur yang sudah menggendong mahluk putih itu dengan arah pandang yang sudah buram
"Beri dia nama Vic, aku akan melatihnya dengan baik"
Dengan senyum getir dan mata menggenang, bibir Victoria bergetar
"Lefko. Dari bahasa yunani yang artinya putih"
Arthur mengangguk dan menantap lekat mahluk putih yang menatapnya dengan takut-takut
"Selamat datang Lefko...."
πΊπΊπΊπΊ
Edward menunduk dalam saat Ratu Elisabeth muncul di depannya, saat Edward baru keluar dari kamar Raja George. Kedatangannya sudah di dengar di seluruh penjuru isi istana dari kemarin siang. Edward sengaja belum menyapanya, atau mungkin memang tidak ingin menyapannya. Hingga situasi sial mau tidak mau membuatnya tetap akan bertemu Ratu Elisabeth
"Selamat siang Your Majesty"
Ratu Elisabeth hanya menatapnya sekilas lalu berlalu pergi tanpa ingin membalas sapaannya. Edward langsung menegakkan kembali punggungnya dan menatap kepergian Ratu Elisabeth dan Nina.
Masi terpaku di tempatnya, Keelft datang berbisik pada Edward
"Dia tadi malam ke Castle Drachenburg, Kapten"
"Lalu?"
Keelft membuang nafas panjang
__ADS_1
"Aku tidak tahu yang terjadi tapi, Isac dan Alex langsung pergi dari sana dengan wajah muram"
Edward tersenyum culas
"Wanita jal*ng itu memang gila. Bagaimana bisa dia bersekutu dan dengan suka rela ikut dalam permainan seorang yang menbunuh ibunya sendiri"
"Cinta memang gila Kapt, demi cinta mereka bisa membuang apapun dan sanggup untuk bersekutu dengan iblis"
--000--
"Ibu...."
Langkah Ratu Elisabeth terhenti dan menoleh ke arah suara, pada Henry yang bersama seorang kesatria. Tangan kanannya
"Kenapa Hen?"
"Bagaimana jika kita buat pesta penyambutan untuk kedatanganmu ibu?"
Mata Ratu Elisabeth berbinar terang lalu mengangguk
"Bisakah kau urus undangannya Hen?"
Henry ikut tersenyum
"Tentu ibu, aku akan mengundang 'mereka' semua"
Setelah Henry pergi, Ratu Elisabeth melanjutkan langkahnya menuju ruang Dolores. Di sana Dolores sedang menghitung semua pengeluaran dan membaca dengan cermat semua rencana dan semua rangkuman yang di buat Victoria untuk istana.
"T-tapi Your Majesty, istana sedang dalam penghematan untuk beberapa bulan ini"
Satu alis Ratu Elisabeth menukik tinggi dan Nina menatap Dolores dengan tajam
"Dolores, apa pesta ulang tahunku juga harus di tahan? ini pesta ulang tahunku yang pertama di istana"
Dolores mengigit pipi dalamnya. Pasalnya, tidak hanya pesta untuk Ratu Elisabeth saja yang sedang mereka bahas tapi juga untuk Henry. Dolores sangat ingat bagaimana Victoria sedang menekan semua pengeluaran di dalam istana karna untuk penghematan selama wilayah barat sedang dalam pembangunan. Bahkan, saat ulang tahun Victoria saja, dia dan Raja George harus diam-diam membuat pesta kecil-kecil karna Victoria yang sangat menekan dana dan pengeluran.
"T-tapi Your Majesty..."
"Dolores"
"Iya Your Majesty"
Ratu Elisabeth berdiri dari kursi dan berjalan ke meja Dolores. Ada tiga buku di atas meja itu yang sedang terbuka
"Kenapa kau melarangku membuat pesta?"
Dolores meneguk ludahnya dengan susah payah
"Itu... bukan maksut saya melarang Your Majesty tapi ini karna selama wilayah barat sedang dalam pembangunan, Her Highness...."
__ADS_1
"Ohh Putri yaaa.."
Dolores mengangguk dan mengatapkan mulutnya saat Ratu Elisabeth memotong ucapannya dan mulai membaca buku-buku di mejanya. Cukup lama Dolores dan Nina saling terus melirik hingga Ratu Elisabeth kembali bersuara
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang mengatur dananya"
Senyum anggun Ratu Elisabeth terbit dan langsung meraih satu buku di tangannya
"Biar aku yang mengurus dana, kau hanya harus mengurus untuk persiapan pesta ulang tahunku dan Henry. Oh.. dan juga pesta penyambutan kedatanganku kembali ke istana"
Akhirnya, Dolores yang hanya seorang kepala pelayan hanya bisa mengangguk pasrah dan Ratu Elisabeth tanpa mengatakan apapun lagi langsung menuju pintu keluar.
Dolores menegakkan lagi punggungnya saat di rasa Ratu Elisabeth dan pelayannya ke luar dari pintu. Dengan cepat dia meminta seorang pengawal memanggil Mois, pelayan pribadi Fredrick yang dengan cepat segera datang ke ruangannya.
"Ada apa nyonya?"
Dolores langsung mengunci pintu, dan menarik tangan anak muda itu untuk sejauh mungkin menjauh dari pintu
"Dengar Mois, aku mengandalkanmu untuk mengatakan ini pada tuan Edward atau tuan Keelft. Jangan sampai ketahuan" Mois mengeryit tapi tetap mengangguk. Dolores melanjutkan ucapannya. "Katakan jika Ratu Elisabeth mengambil pembukuan tulisan dana simpanan untuk wilayah selatan, kemungkinan dia akan memakai dana itu untuk membuat pesta di istana"
"Apa? mana bisa Dolores, kita sedang menekan dana sela...."
"Benar Mois, karna itu tolong sampaikan ini pada tuan Edward atau tuan Keelft agar mereka bisa memberi tahukan pada His Majesty"
Mois yang paham langsung mengagguk dan segera mencari ke dua nama yang di minta Dolores untuk menyampaikan pesannya.
Dengan cepat, Mois segera mencari ke camps kesatria istana tapi, ternyata Edward dan Keelft tidak sedang ada di sana. Mois Memutuskan untuk mencari mereka di camp kesatria emas dan benar... Edward dan Keelft berada di sana, mereka sedang latihan dengan kesatria emas yang lain
"Tuan Edward selamat sore..."
Edward yang baru akan mengayunkan pedangnya langsung menoleh dan menghentikan segala pergerakannya. Menatap Mois yang baru selesai mengikat kuda dan semakin mendekat padanya sambil berbisik
"Bisa kita bicara sebentar tuan?"
"Tentang apa Mois?"
Mois melirik sekitar sebentar untuk memastikan jika mereka jauh dari jarak orang lain
"Her Majesty, tuan Edward"
Edward mengangguk dan langsung memerintahkan Keelft untuk mengambil alih dulu latihan di sana
Setelah membawa Mois ke ruangannya, Edward menutup pintu
"Kenapa Mois?"
Dan Mois langsung menceritakan perkataan Dolores. Tentang rencana pesta-pesta, dana-dana dan juga buku persiapan keuangan. Edward langsung paham dan segera pergi dari camp. Dia akan memulis surat pada James dan Steven. Baru juga satu malam Ratu Elisabeth berada di istana tapi dia sudah membuat kepala Edward sakit. Jelas sekali, dia punya banyak maksut untuk pesta dan juga buku persiapan dana itu
\=\=\=ππππ
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semuaβ¨