
Victoria hanya diam, sambil terus menatap jauh ke depan. Charlotte yang merasa jika tidak mendapatkan jawaban menoleh untuk menatap adiknya, mencoba mencari jawaban dengan membaca raut wajah adiknya, raut wajah yang terlihat tenang dengan tercetak senyum tipis di bibirnya, dan Charlotte tahu, dia mengenal adiknya, keterdiaman Victoria membuatnya segera meraih tangan adiknya dengan pelan dan menggenggamnya dengan lembut
Victoria menoleh untuk menatap Charlotte yang sudah menggenggam tangannya, menatap Charlotte yang menatapnya dengan pandangan sendu tapi juga tegas. Victoria kembali tersenyum hangat
"Ayo kita bertemu Archi, Lottie. Dia pasti terkejut melihatmu"
Ucapan girang Victoria membuat Charlotte semakin memandang adiknya dengan sendu lalu menggeleng singkat
"Aku tidak bisa Ri"
"Hm..?" Victoria menatap dalam kakaknya. "Kenapa?"
"Karna...." Charlotte menarik nafas dalam dan tersenyum malu-malu. "Karna aku tidak bisa meninggalkan Vancia terlalu lama, aku... aku hamil Ri"
Alis Victoria mengerut dalam dan memandang kakaknya dengan wajah bingung dan juga terkejut. Victoria cukup terkejut dengan ucapan kakaknya dan bingung karna melihat senyum malu-malu Charlotte. Kenapa Charlotte malah tersenyum 'malu-malu' dan bukannya malah 'malu'? Hamil tanpa ikatan pernikahan adalah sebuah aib! itu dosa! tapi, Victoria tidak ingin merusak suasana dan mencoba mengabaikan pemikiran itu, dengan pikiran dan hati yang bertentangan Victoria mencoba memaksakan senyumnya
"Ahh begitu... Berapa usianya?"
Charlotte masih tersenyum malu-malu dan terus menggenggam tangan adiknya yang sudah membalas genggaman tangannya
"Empat minggu Ri"
Kepala Victoria mengangguk singkat. Charlotte melirik sekitar sejenak dan kembali menatap Victoria. Kali ini wajahnya berubah menjadi serius dengan sorot mata tegas.
"Ri, apa kau ingat yang mereka lakukan pada kita? pada orang tua kita? pada Albany?"
Dahi Victoria mengeryit, bukan karna ucapan kakaknya tapi karna raut wajah Charlotte yang tidak pernah di lihatnya, raut wajah tegas dan juga.... penuh kebencian dan kemarahan? Victoria menjawab dengan anggukan singkat, anggukan yang menjelaskan semua isi hatinya, karna selama hidupnya dia memang tidak akan bisa melupakan itu, lukanya tidak akan pernah bisa sembuh kecuali maut sudah menjemputnya.
Charlotte mendekat pada Victoria, dengan ganggaman tangannya yang semakin menguat. Charlotte menatap lekat kedu bola mata adiknya. Kedua bola mata yang semakin membuat tatapannya penuh dengan kebencian dan kemarahan. Kedua bola mata yang mengingatkannya dengan mata ibunya
"Ri... Ayo kita balas mereka"
Victoria menatap Charlotte dengan lekat, mencoba mencari-cari maksut ucapan kakaknya
"Apa maksutmu Lottie?"
"Kita balas mereka Ri, kita hancurkan mereka, kita hancurkan mereka yang sudah membunuh dan menghancurkan hidup kita! Kita harus membalas mereka semua"
Tubuh Victoria menegang, tangannya bergetar, wajahnya berubah datar, genggaman tangannya melemah
"A-apa mak...."
"Kita hancurkan kerajaan ini"
Keheningan terjadi di antara mereka, angin berhembus menggerakkan rambut indah tergerai mereka, gesekan suara daun di atas pohon yang tertiup angin terdengar jelas dalam keheningan mereka. Victoria tetap terdiam bahkan saat Charlotte semakin mengeratkan tangan mereka, kedua bola mata sebiru langit cerah yang sewarna dengan bola mata ayahnya berkilap terang dan tegas.
__ADS_1
Dengan perlahan, Victoria melepaskan tangannya sambil memaksakan senyum tipis. Charlotte menatap tangan mereka yang sudah terpisah dengan pandangan yang tidak bisa di artikan
"Aku akan melupakan percakapan tentang ini Lottie, aku akan menganggap semua percakapan ini tidak pernah terjadi, jadi.. tarik kembali ucapanmu. Kita akan melupakannya, ok...?"
Charlotte mengepalkan tangannya yang sudah berpisah dari tangan adiknya
"Aku memang menginginkan ini dan aku tidak akan pernah menarik ucapanku"
Kembali keheningan terjadi di antara mereka,
Victoria menatap kakaknya dengan wajah yang sudah berubah, raut wajahnya menjadi datar dengan tatapan mendingin
"Kau mengajakku untuk menghancurkan kerajaan ini? menawarkan pada ku? mengajak dan menawarkan seorang Ratu untuk mengahancurkan kerajaannya sendiri?..... Lottie?"
Charlotte membuang wajahnya dan menatap ke depan dengan tatapan yang masih mengkilap penuh kemarahan dan dendam
"Kau belum di perkenalkan menjadi Ratu Ri, ceremony mu belum berlangsung, kau masih bisa melepasnya, kau hanya di jadikan pion catur mereka, kau......"
"Kau berubah Lottie"
Charlotte menoleh untuk kembali menatap Victoria saat ucapan yang belum selesai di suarakannya, langsung di potong begitu saja dengan suara tegas Victoria
"Kau yang berubah Ri... Kau sudah terlalu jauh melupakan keluargamu. Apa kau melupakan ucapan kakek?" Charlotte ikut berdiri saat Victoria berdiri dan mencoba mendekat pada adiknya yang langsung memundurkan langkahnya, memberi jarak untuknya. Charlotte membeku di tempatnya, tatapannya menjadi sendu dan menatap adiknya dengan dalam. "Mereka membunuh orang tua kita Ri, menghancurkan hidup kita, Aku keluargamu Ri!! Kau adikku! Kau lupa apa yang di katakan kakek? kau lupa prinsip Arathorn?"
Senyum Charlotte terbit dengan kepala yang ikut mengangguk saat Victoria menyuarakan dan menjawab ucapannya dengan tegas tanpa keraguan. Dia tahu jika adiknya tidak akan pernah melupakan amanat turun menurun keluarganya tapi,
"Tapi aku bukan Arathorn lagi, Lottie" Senyum Charlotte pudar. "Aku Victoria Alexandrina Castalarox dan aku seorang Ratu Francia"
Untuk yang kesekian kalinya keheningan terjadi di antara mereka, Charlotte manatap adiknya dengan pandangan tidak percaya. Victoria menatap kakaknya dengan tatapan tegas dan raut wajah datar.
"Kau... kau bukan Victoria ku"
"Dan kau bukan Charlotte ku"
Kepala Charlotte langsung menggeleng kuat, dia belum menyerah untuk mendekat dan menyakinkan adiknya
"Aku masih Lottie mu dan selalu akan menjadi Lottie mu. Ri, percayalah padaku, kita harus melakukan ini. Apa kau melupakan semua rasa sakitmu? apa kau sudah melupakan apa yang kau lihat di hari itu? Apa yang mereka berikan hingga kau seperti ini Ri!!!" Victoria kembali memundurkan langkahnya dan Charlotte tetap maju hingga meraih kembali tangan adiknya, menggenggam dengan kuat, dan menatap Victoria dengan pandangan penuh dengan amarah dan kebencian. "Kau tidak boleh mengkhianati keluargamu! Ayah dan ibu akan kecewa padamu Ri!!!"
Kali ini Victoria menepis tangan Charlotte dan dengan yakin kembali memberi jarak pada mereka. Kedua mata Victoria menatap mengkilap tajam dan tegas, menatap kakaknya yang kembali menatapnya tidak percaya
"Jika kau menghancurkan kerjaan ini, kau akan menghancurkan Albany Lottie, kau..."
"Kami akan menjaga Albany! Albany akan kami pastikan tetap aman, kita akan menjaga Duchy bersama Riri.."
Victoria tersenyum kecut dan menatap lekat wajah kakaknya
__ADS_1
"Apa ini yang di tawarkan bajingan itu padamu?" Mulut Charlotte mengatup, sorot matanya berubah tajam dan raut wajahnya menjadi dingin. Victoria yang melihat raut wajah yang sekali lagi, tidak pernah Victoria lihat pada kakaknya itu, melanjutkan ucapannya tanpa keraguan. "Albany adalah bagian Francia, Francia adalah kerajaan yang melindungi seluruh isi kerajaannya. Jika kau menghancurkan kerajaan, tidak ada yang bisa menjamin keadaan Albany"
Ucapan Victoria membuat Charlotte tertawa sumbang
"Kau benar-benar berubah Riri, sadarlah Ri! Belum terlambat untukmu kembali pada keluargamu, kau tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu! kita anak-anak kebanggaan Arathorn!"
Bibir Victoria berdesisi tajam dengan tatapan menajam, menatap kakaknya dengan pandangan tegas tapi juga mencela
"Kebanggaan? Kau membicarakan kebanggaan padaku?" Charlotte tidak bergeming dan hanya menatap Victoria, menunggu apa maksut dari ucapan Victoria. Victoria tersenyum tipis. "Jangan mengatakan tentang kebanggaan ketika kau sendiri tidak bisa menjaga kehormatanmu Lottie"
Alis Charlotte mengkerut dalam
"Apa maksutmu?"
"Kebanggan? Mengecewakan orang tua kita??" Victoria kembali tersenyum tipis. "Jangan bicarakan itu padaku saat kau sendiri tidak mampu menjaganya Lottie. Kau yang tidak bisa menjaga kebanggan dan kehormatanmu tidak berhak mengatakan kekecewaan orang tua kita padaku"
Kedua mata Charlotte membulat, wajahnya menatap Victoria dengan beribu pandangan tidak percaya, menatap Victoria yang sedang menghinanya
"Kau... kau menghinaku?"
"Benar, aku sedang menghina seorang wanita yang rela tenggelam dalam dosa dan tindakan tidak bermoral karna cinta bodohnya, karna cinta butanya rela membuang kehormatannya sebagai wanita yang berasal dari darah keturunan terhormat"
"Rii!"
"Dan dengan bodohnya mendikte orang lain di saat dirinya penuh dengan kebodohan dan kehinaan"
"Riri!!!"
"Apa perubahanmu ini karna bajingan itu Lottie?"
Tangan Charlotte terkepal kuat, wajahnya memerah, sorot matanya jelas menunjukkan ketidak terimaan dengan ucapan tajam adiknya
"Diam! kau tidak berhak menghinaku dan menghinannya, kalau bukan karna dia aku tidak akan bertahan hidup hingga hari ini"
"Karna itu kau bersedia menyerahkan harga dirimu pada bajingan itu?"
"ENOUGH VICTORIA!"
"Dan datang kepadaku bukan karna kau merindukan dan mencintaiku, tapi karna kebencian dan amarahmu?"
\=\=\=❤❤❤❤
Ayukk jejaknya yukkk
Salam sayang semua
__ADS_1