
"Ppsstt!! psstt!!"
Victoria terus memutar kepalanya mencari arah suara yang memanggilnya atau menggodannya? tapi entah kenapa dia yakin jika itu adalah uncle-nya yang menyebalkan. Penerangan yang kurang dan daun pepohonan yang semakin lebat di musim semi, membuat sedikit rasa takut menghampiri Victoria terlebih, ini bukanlah di rumahnya sendiri.
"Psstt! Pstt!"
"Hei! Apa itu kau Albert Arthur?"
Mendengar keponakannya memanggil namanya dengan tidak sopan, Albert melepar sebuah mawar merah yang langsung mendarat tepat di depan kaki Victoria tapi, dengan segera juga Victoria menginjak mawar itu ketika matanya menangkap bunga yang sangat di bencinya.
Albert terkekeh
Victoria yang mendengar kekehan suara yang sangat jelas, langsung memutar kepalanya ke samping dan berlari, benar saja, saat Victoria sudah ke arah suara, di sana Albert sudah menyambutnya dengan tangan terbuka lebar.
"Hallo anak nakal...."
Isakan Victoria tidak bisa di bendungnya lagi, dengan kuat tangannya memeluk tubuh besar Albert.
"Hallo uncle menyebalkan...."
Mereka terkekeh
Tapi, tiba-tiba Albert menguraikan pelukannya dengan kasar yang membuat Victoria bingung, terlebih melihat Albert yang langsung memeriksa jasnya?
Albert yang melihat wajah sedih tapi bingung Victoria hampir terbahak tapi, dengan cepat dia mendekat dan menghapusi air mata Victoria yang sudah membasahi pipinya.
"Jangan sembarangan memelukku dengan bibir merah dan riasan itu, jika itu menempel dan Tatiana melihat, aku pasti akan di tendang
Mendengar lelucon Albert, Victoria kembali terkekeh dan memeluk kembali tubuh besar Albert. Albert membalas pelukkan Victoria dengan haru
"Terimakasi Tuhan karena masih melindungi anakku"
Arah pandang Albert mulai buram, bukan, bukan ini tujuannya untuk bertemu Victoria, tapi saat melihat Victoria yang bisa bertahan dan masih berdiri tangguh membuatnya tidak bisa menahan diri. Isakan Victoria semakin kuat.
Albert mengeratkan pelukkannya
"Menangislah nak... menangislah... keluargamu di sini, kami di sini.. menangislah"
Cukup lama Albert menunggu Victoria hingga kembali tenang, mulut kecilnya sesekali masih bergetar tapi ini sudah cukup lama dan Albert takut jika sebentar lagi akan ada yang menyadari hilangnya Victoria.
"Vic, kita harus cepat nak"
"Victoria yang tadinya masih larut dalam dekapan Albert segera menarik dirinya dan mengusap kasar pipinya, raut wajahnya menjadi serius dan bola matanya menjadi tegas.
Albert tersenyum lebar melihat watak-nya yang mengalir kental pada Victoria. Albert memutar kepalanya untuk melihat sekeliling yang minim penerangan dan sepi, setelah yakin dia mulai berbisik.
"Apa saja yang sudah kau lakukan?"
Victoria ikut memajukkan kepalanya dengan sedikit menutup mulutnya
"Tidak ada hal besar uncle, aku hanya melakukan pergerakan kecil dan sedikit bermain-main"
Albert terkekeh
"Tapi 'teh panas' itu pasti kau otak dari semuanya kan?"
Victoria mengangkat dagunya dengan sangat tinggi hingga kepalanya menengadah ke belakang.
Albert kembali terkekeh dan membelai lembut rambut Victoria
"Kau memang anakmu"
__ADS_1
"Tentu saja"
Victoria kembali menutup sedikit mulutnya dan mendekat untuk berbisik
"Apa kalian sudah bisa bergerak uncle?"
"Belum, kami tidak bisa bergerak dari depan karna setelah tragedi Albany, para bangsawan lain cukup berhati-hati untuk menjaga perasaan kerajaan"
Victoria mengangguk dan Albert melanjutkan.
"Pesan yang kau kirim sampai dengan baik ke Lorne, Charles memang mengirim beberapa orang pekerja dan pengangkut barang untuk melihat-lihat karna Elis selalu menangis khawatir, tapi berkat sinyalmu, kami bisa mempunyai pegangan batu, anak baron itu harus kau jauhkan dari His Highness"
Victoria mengerutkan alisnya
"Apa dia penting?"
Albert mengangguk.
"Uncle tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang terlebih di sini, tapi kau bisa menelusurinya langsung dengan caramu, kau harus memutari semua cerita di istana dan cobalah terus memperhatikan sekitarmu" Albert menatap Victoria yang mengangguk paham. "Ada sesuatu yang masih samar tentang anak baron itu, His Higness dan Majesty"
"Samar?"
Alber mengangguk
"Apa kau sudah banyak menyelidiki wanita itu?"
Victoria meringis
"Hanya sedikit uncle karna ku kira dia tidak penting"
"Tidakkah kau mendapatkan keanehan nak?"
Victoria mengangguk
Albert mengangguk
"Apa kau bisa menebak alasannya nak?"
Victoria menggeleng
"Tidak uncle, tadinya aku berpikir mungkin ini karna His Highness tapi jika pilihan His Highness jelas tahta, His Majesty yang memang mendukung His Highness Pangeran Fredrick, harusnya segera menebas bibit racun
"Selidikilah itu, uncle hanya pernah mendengar samar alasannya tapi itu sangat samar, kita harus fokus pada yang jelas, kau mengerti?"
Victoria mengangguk.
"Dan satu lagi" Albert kembali memutar-mutar kepalanya untuk melihat sekitar, lalu melanjutkan. "Jangan lengah pada His Highness, karna dia sebenarnya seseorang yang punya 'banyak pemikiran' dan juga sulit untuk di tebak"
Victoria mengangguk
"Aku akan mengingatnya uncle"
"Apa kau punya rencana nak?"
"Sebenarnya aku berharap bisa bertemu Her Majesty Ratu Elisabeth di sini, tapi Her Majesty tidak muncul"
"Her Majesty tidak akan pernah muncul, sama seperti tahun-tahun yang lalu dan semua pesta yang lalu"
Victoria mengerutkan alisnya
"Apakah karna seperti alasan yang beredar, Her Majesty sakit uncle?"
__ADS_1
Albert membuang nafas panjang
"Tidak, bukan karna itu, tapi ini kami juga tidak tahu pasti apa alasannya, tapi mungkin kau bisa mencari tahu dari dalam istana nak" Albert menatap Victoria dengan tegas. "Tapi mungkin di pesta pertunanganmu 'dia' akan muncul"
"Dia?"
Albert mengangguk
"His Highness Pangeran Hendry"
-00-00-
Fredrick melepaskan pelukannya ketika nafas Calista mulai teratur, dia sangat menyesali s*x kilat yang tetap dia lalukannya. Melihat Calista yang sedang rapuh dan terus memohon, juga karna keadaan mereka yang kacau, akhirnya Fredrick menyerah, meski pikirannya terus tertuju pada Victoria yang sedang berada di aula, walaupun dia yakin jika Victoria sedang bersama keluarganya tetap saja, ada perasaan mengganjal yang dia rasakannya.
Fredrick merapikan kembali kemejannya dan memakai jasnya yang di lepasnya dengan rapih, merasa penampilannya sudah rapih, dengan pelan Fredrick menggeser pintu.
"Your Highness"
Jeremmy melirik ke arah pintu gudang yang di tangkap dengan jelas oleh Fredrick
"Sebentar lagi dia pasti bangun, tolong Jer, jaga dia hingga bangun"
Jeremmy membuang nafas panjang dan menatap Fredrick dengan malas
"Ini saranku sabagai sahabatmu Fred, berhentilah melukai harga diri Lady Victoria, meski kalian saling tidak mempunyai perasaan dan berhentilah sebelum ini menjadi aib yang akan menghancurkan semua keinginanmu"
Fredrick menarik nafas lelah
"Aku tahu"
Fredrick segera melangkah lebar dan cepat untuk menuju aula. Saat sudah masuk arah pandangnya melebar, dia mulai menghitung keluaraga Victoria, enam orang dan semuanya lengkap. Fredrick dengan cepat memutar kepalanya mencari sosok Victoria, hingga dia menemukan sosok itu sedang berbicara dengan beberapa Lady.
Victoria terus melirik ke arah Duke Thomas yang terus mengerling menggoda padanya, uncle-nya itu sangat tampan, bahkan di umurnya sekarang tetap standar pria sempurna untuk Victoria adalah uncle Thomas-nya.
Saat Victoria sedang menikmati moment dengan uncle-nya walaupun hanya dari jauh, sebuah tangan besar menyentuh pinggangnya, Victoria menegang.
"Apa kau lelah?"
Victoria menahan nafasnya ketika Fredrick berdiri di sampingnya untuk membalas salam dan sapaan para Lady yang berada di dekatnya, Victoria semakin merasakan jika sup salmon kacang polongnya sekarang sudah berputar-putar.
"Apa kau baik-baik saja?"
Victoria tersenyum dan mendekat pada Fredrick sambil menahan nafasnya
"Bisa kita menjauh dari sini?"
Fredrick tersenyum dan mengangguk. Fredrick membawa Victoria ke arah balkon dan saat mereka sudah melewati pintu balkon yang terbuka, Victoria dengan cepat menarik kasar tangannya, kakinya segera mundur mengambil jarak.
Fredrick mengerutkan alisnya dalam, meski Victoria tidak menyukainya tapi apa yang di lakukan Victoria sangatlah kasar untuk di lakukan pada seseorang yang memiliki posisi di atasnya, terlebih suka tidak suka Fredrick adalah calon tunangannya, dan itu sangat menyinggung Fredrick.
Victoria menatap wajah Fredrick yang sudah menatapnya dengan dingin, Victoria membalas tatapan Fredrick tak kalah dingin
Victoria menunduk hormat dan suara dinginnya mulai terdengar
"Maafkan saya Your Highness jika saya menyinggung anda tapi, saya tidak tahan dan sangat benci dengan mawar" Victoria kembali mengangkat kepalanya dan menatap Fredrick. "Dan di belakang telinga bawah anda ada lipstik yang berwarna sama dengan milik saya, itu bisa terlihat jelas jika di perhatikan, saya sangat memohon, tolong jangan sampai terlihat orang lain"
Fredrick terkesiap, terlebih saat melihat Victoria yang sudah berbalik dan akan menuju keluar balkon, tangannya hampir meraih tangan Victoria tapi dengan kesadaran yang masih ada, Fredrick hanya bisa mengumpat dan mengusap dengan kasar ke dua belakang telinganya, Fredrick melihat jarinya dan benar, ada bercak lipstik merah di sana. Umpatan yang entah untuk siapa terus keluar dari mulut Fredrick
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hallo readers.... terimakasih banyak sudah mau mampir dan masih setia untuk lanjut membaca....
__ADS_1
Jika berkenan di mohon like, komen, bintang dan lope-nya yaa....
Salam sayang semua✨✨