
Fredrick baru selesai berendam air hangat untuk mencoba menenangkan jiwa dan pikirannya, terlebih tubuhnya karna setiap malam, ada seseorang yang harus di lihatnya hingga dia puas. Rasa khawatir membuat Fredrick ingin terus memperhatikan, memeluknya, menghiburnya, menemaninnya atau apapun yang bisa memberi kenyamanan dan penghiburan tapi, semua itu hanya di angan-angan Fredrick karna nyatanya, dia hanya mengurung diri di kamarnya seperti pria pengecut tidak berguna.
"Sampai kapan anda ingin bermain kucing-kucingan, Your Highness?
Fredrick tersentak saat membuka pintu kamar mandinya. Di depan meja kerjannya, Victoria tersenyum manis sambil merapatkan mantelnya. Fredrick menatap lekat wajah Victoria sekarang, karna beberapa hari ini dia hanya bisa menatap dari jauh ataupun dari dalam kegelapan, Wajah manis itu memang tampak lebih berisi dan menjadi lebih manis. Entah kenapa semakin hari Victoria menjadi semakin mempesona hingga Fredrick harus mengepalkan tangannya dengan kuat, menahan diri untuk tidak menerjang Victoria, memelukkan dengan kuat, menghujaminya dengan ciuman keras....
"Saya tidak bisa mengikuti rapat lagi, Saya juga tidak bisa mengurus dan mengerjakan semua pekerjaan sendirian lagi Your Highness. Akhir-akhir ini tubuh saya semakin mudah lelah. Bisakah kita sepakat?"
Suara Victoria membuat segala khayalan Fredrick berhenti. Sambil mengatur raut wajahnya, Fredrick berpaling dan ingin membunyikan lonceng tapi... loncengnya tidak ada dan saat menatap Victoria. Kenapa lonceng itu bisa di tangan Victoria?
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Your Highness?"
"Aku perlu memakai bajuku"
Dengan tenang, Victoria tetap memegang lonceng sambil mendekat pada kursi, kakinya juga mulai sering terasa pegal dan dia perlu duduk
"Hanya sebentar, saya hanya sebentar Your Highness" Victoria memainkan tumpukan amplop di atas meja sambil menatap Frederick dengan lekat. "Apa tidak ada yang ingin anda bicarakan pada saya?"
Karna tahu ini pasti akan terjadi, Fredrick langsung memutar tubuhnya sambil berkacak pinggang.
"Ku rasa kau sudah tahu semuanya. Apa lagi yang ingin kau dengar? kau bisa mencari tahu sendiri jika belum jelas"
Dengan tenang, Victoria menatap punggung lebar Fredrick. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat punggung itu
"Jelas?" Tangan Victoria memainkan lonceng sejenak dan melanjutkan ucapannnya. "Bagian yang jelas adalah, saya percaya jika yang membuka Castle itu bukan anda, dan saya juga percaya jika Calista sedang tidak mengandung ataupun jika memang mengandung, itu bukan anak anda.." Victoria menjedah untuk melihat respon Fredrick, tapi tetap hanya punggung lebar yang bisa di tatapnya, Victoria menyeringai dan melanjutkan. "Walaupun mungkin kalian memang sering bertemu dan bercinta"
Kali ini ucapan Victoria membuat Fredrick memutar tubuhnya sambil mengeraskan rahangnya. Tangannya terkepal kuat, dengan raut wajah seperti sedang menahan batuk. Melihat perubahan Fredrick, satu alis Victoria menukik tinggi dan dia belum selesai. "Bagaimana rasanya Your Highness, maksut saya, saya penasaran, apa bedannya rasa tubuh Lady Calista dan tubuh saya? siapa yang bisa memuaskan anda?"
Brakkk!
Nakas tidak berdosa di samping ranjang terseger jauh saat kaki Fredrick langsung menendangnya. Kali ini kedua alis Victoria terangkat sambil mengulum senyum geli.
"Keluar Victoria"
Masih dengan tenang, Victoria dengan acuh menyibak semua isi meja yang membuat semua kertas berhamburan ke lantai. Fredrick yang sudah mulai bisa menahan diri mulai terpancing lagi, tapi kali ini dia hanya membuang nafas panjang sambil kembali berkacang pinggang
"Apa maumu Vic?"
"Jawaban"
Kembali Fredrick membuang nafas panjang
__ADS_1
"Aku tahu bukan hanya itu yang kau inginkan"
Vicroria terkekeh sambil berdiri ke arah jendela
"Saya suka kamar ini, tadinya saat anda pulang saya ingin meminta untuk bertukar kamar kita, ingin mengatakan tentang banyak cerita selama anda pergi, memberikan benda-benda yang saya beli untuk anda saat saya berkunjung ke ibu kota, memberikan barang-barang yang di titipkan rakyat untuk anda, bertanya banyak hal dan bercerita tentang.........." Victoria menghentikan ucapannya sambil menerawang jauh ke luar dan menekan keinginannya untuk mengusap perutnya "Bukankah saya sedikit menyedihkan, Your Highness?"
Nyeri dan tidak nyaman, itulah yang ada di dalam dada Fredrick, tapi dengan sangat alami, dia menekan perasaan itu dan kembali membuang wajah
"Langsung saja Vic, apa yang kau inginkan?"
Victoria membuang nafas dalam sambil terus menatap jauh ke luar jendela.
"Bisakah saya melenyapkan Calista?"
Alis Fredrick berkerut dalam dan memutar tubuhnya, menatap wajah Victoria dari samping, karna wajah Victoria masih sibuk menerawang jauh ke luar jendela.
"Apa alasannya?"
"Tentu saja untuk mengurangi hal-hal menjijikkan di dunia ini"
"Kau tidak berhak menghina orang lain. Apa kau pikir dirimu lebih baik?" Fredrick tersenyum culas. "Jangan katakan jika kau mulai menganggap pernikah politik ini sudah menjadi kenyataan"
"Tentu saja saya lebih baik Your Highness... Dari segala sisi, dan karna itu anda ingin saya yang menjadi Ratu anda kan?" Kekehan Victoria semakin kuat. "Menurut pelajaran moral dan pelajaran kehormatan yang saya dapatkan, wanita yang rela membuka kakinya untuk sembarangan pria adalah wanita hina menjijikan, terlebih pada pria yang sudah beristri... apa saya salah jika menghinanya?"
Fredrick ikut terkekeh dan menatap Victoria dengan pandangan yang tidak bisa Victoria artikan
"Jangan membicarakan moral dan kehormatan padaku, dan jangan melewati bagian di mana hal biasa jika bangsawan, dengan pernikahan politik seperti kita mempunyai simpanan" Fredrick mendekat pada Victoria agar Victoria berbalik menatapnya, dan benar Victoria langsung berbalik untuk menatapnya. "Jangan pernah menyentuh Calista sedikit saja"
Dengan wajah dingin, dan tatapan dingin, Victoria menatap kedua bola mata abu-abu yang terlihat tegas, tapi juga sedang menyimpan kebohongan di depannya.
"Saya tidak ingin berbasa basi lagi Your Highness, saya akan memberikan pilihan terakhir untuk anda. Katakan ada apa sebenarnya, agar saya mengerti dan bisa membantu anda"
Desiran tidak tahu malu yang langsung menyusup di dalam dadanya membuat Fredrick harus kembali membuang wajahnya.
"Kau bisa melihat sendiri apa yang terjadi"
Victoria mengangguk singkat
"Baiklah jika anda bersikeras tapi....." Satu tangan Victoria terulur ke luar jendela, menengadah untuk menampung bintang salju. "Saya juga bersikeras ingin melenyapkan pelacur anda"
"Apa perkataanku tidak jelas Victoria?"
__ADS_1
Fredrick mengepalkan tangannya, untuk menekan segala gejolak di hatinya.
"Pilihan terakhir Your Highness. Lenyapkan Calista atau anda akan kehilangan saya"
Nafas Fredrick tercekat, tangannya semakin terkepal. Dengan menekan segala isi dadanya Fredrick menarik nafas dalam untuk meraup semua ketenangannya, menguatkan diri untuk tujuannya, hingga bibirnya berdesis dan berucap lirih
"Aku tidak mungkin membunuh ibu dari calon anakku. Mengertilah Victoria"
Victoria mengepalkan tangannya yang sedang menampung salju, lalu membuka kembali kepalan tangannya dan melihat salju yang meleleh di telapak tangannya. Apa yang di katakan Diana sepertinya benar, tubuhnya memang sedang panas, dan dia memang butuh istirahat
"Saya mengerti Your Highness...." Victoria berjalan ke depan Fredrick, menatap wajah yang masih enggan menatapnya. "Anda sudah mengatakan pilihan anda..." Menarik sisi gaunnya dan sedikit membungkukkan punggung, Victoria kembali membuka suara. "Sampai jumpa, Your Highness"
Fredrick langsung menatap wajah Victoria yang tersenyum manis
"Semoga anda bahagia..."
Fredrick membatu, tidak bisa mengatakan apapun, tidak bisa berpikir, tidak bisa bernafas, tapi tetap dirinya menekankan jika ini yang terbaik. Semua orang yang di percayanya memang akan selalu meninggalkannya, Selalu. Mereka hanya mengumbar janji. Tidak apa-apa, ini bukan hal baru untuk Fredrick, dia bahkan pernah di tinggalkan dengan cara yang lebih menyakitkan, dan Victoria hanya orang baru. Dia akan baik-baik saja dan bertahan. Dia akan melewati ini dengan baik hingga saatnya kembali
Setelah keluar dari kamar Fredrick, Jeremmy muncul sambil menetap Victoria dengan dalam.
"Your Highness"
"Kebetulan Jer, ada yang ingin ku sampaikan padamu"
Jeremmy mengangguk paham, seolah memang sudah tahu.
Jeremmy membawa langkah mereka di tempat yang pasti jauh dari telinga dan mata 'orang lain'. Langkah mereka berhenti di sudut koridor. Victoria menatap sekitar sejenak lalu menatap Jeremmy.
"Jer. Aku titip Fredrick, perhatikan dia dengan baik" Raut wajah Jeremmy berubah bingung, Victoria melanjutkan. "Aku akan pergi"
"Your Highness..." Jeremmy menarik nafas dalam. "Semua itu tidak benar. Saya bersumpah demi nama ibu saya dan kehormatan kesatria saya. His Highness tidak pernah bermain gila dengan Lady Calista atau pun wanita lain, apa lagi menghamilinya. Bukan His Highness juga yang membuka dan membawanya ke Castle" Kepala Jeremny menunduk dalam penuh permohonan. "Tolong Your Highness, jika anda tidak bisa percaya pada His Highness tolong percaya pada saya, saya akan menjelaskan dan menceritakannya pada anda, atau anda ingin bukti? saya ak......"
"Jer"
"Iya Your Highness"
\=\=\=💛💛💛💛
Yukk jejaknya yukk
Salam sayang semua
__ADS_1