Behind The Castle

Behind The Castle
**DECISION**


__ADS_3

"Bagaimana?"


Sambil mengaduk susu yang di campurkan ke dalam teh Raja George, Edward menatap Raja George sekilas lalu membuka mulutnya


"Tambang itu sepertinya di dalam Duchy, Your Majesty"


Raja George mengerutkan alisnya


"Kenapa?"


Setelah teh siap, Edward menegakkan punggungnya dan menatap Raja George


"Malam itu, ada pergerakan dari dalam castle. Mereka membawa banyak kotak-kotak kayu yang tidak besar dan rencananya akan mereka pasarkan ke seluruh eropan. Menurut penilaian Tomy, setelah kita menguasai hasil mereka dan menutup perdagangan pangan keluar, hanya ada satu kemungkinan. Isi kotak itu barang dagangan yang lain yang biasa mereka pasarkan ke luar...." Dengan tenang, Edward meletakkan cangkir di depan meja Raja George. "Berlian Albany"


Dengan gerakan tak kalah tenang, Raja George mengangkat cangkir tehnya dan membiarkan Edward melanjutkan


"Penilaian lain dari Tomy yang sudah pernah menelusuri Duchy dalam satu putaran. Semua yang berhubungan dengan berlian, tidak melibatkan penduduk Albany karna, keterdiaman penduduk bukan hanya karna mereka yang memang tidak mau membuka mulut tentang ini tapi, karna sebagian besar dari penduduk dan pengusaha memang tidak tahu apapun"


Raja George meletakkan cangkirnya dan tersenyum kecut


"William sahabatku... kalian memang luar biasa"


Edward yang mendengar gumanan Raja George mengangguk setuju. Lalu melanjutkan ucapannya


"Pendapatan Duchy menurun karna kita semakin banyak menarik hasil pangan selama musim panas ini, mereka yang selalu makmur dan melewati semua musim tanpa kesulitan mulai merasakan dampaknya. Apa ini tidak masalah Your Majesty?"


"Anggap saja ini sedikit latihan untuk penduduk manja di sana. Tidak masalah, biarkan saja dulu hingga pewaris tiba. Sebentar lagi"


Dengan kepala mengangguk paham, Edward menatap Raja George dengan serius


"Jadi, apa kita akan meneruskan pencarian kita Your Majesty? bukankah pernikah sebentar lagi akan terlaksana, itu berarti tidak akan ada lagi kekhawatiran kita tentang dana tidak terbaca Albany yang suatu saat bisa menjadi monster untuk kerajaan? karna Lady Victoria sudah di genggaman kita?"


Raja George menggeleng


"Tetap cari di sisa waktu kita... Bukankah namaku akan terdengar keren dalam sejarah nanti"


Edward mengeryit bingung dan semakin bingung saat Raja George terkekeh


"Maksut anda?"


"Ck! jika aku bisa menemukan tambang itu, sejarah Francia akan mencatat siapa Raja yang berhasil menguak misteri ratusan tahun tambang itu Ed! Ck! Kau ini lambat sekali"


Edward hampir menjatuhkan teko yang di pegangnya saat mendengar ucapan Raja George yang terdengar aneh untuknya.

__ADS_1


"Anda memikirkan nama anda? di dalam sejarah? anda Your Majesty?"


Dengan wajah tidak terbaca dan tatapan sendu, Raja George hanya diam menatap cangkirnya. Edward yang melihat tatapan itu ikut diam. Edward paham jika mungkin ini berhubungan dengan intuisi Raja George. Intuisi yang tidak pernah meleset.


Keheningan kembali melingkupi mereka hingga Raja George kembali membuka suara


"Apa kau sudah bisa menyimpulkan, berapa lama waktu yang kita butuhkan dengan tambahan bantuan strategi dan pasukan yang kita kirim ke wilayah barat Ed?"


"Jika dari penilaian saya, mungkin sebelum musim dingin tiba, paling lambat saat baru memasukki musim dingin Your Majesty"


Raja George mengangguk


"Apa ini sudah sampai ke telinga Fredrick?"


Dengan nafas yang berhembus panjang, Edward membuka suarannya


"Saya yakin pasti sudah, Jeremmy pasti bisa membaca pergerakan kita"


"Apa dia senang?"


Bibir Edward berkedut geli, yang membuat satu alis Raja George menukik tinggi


"Dia tampak tidak tenang sekarang Your Majesty, karna dia mulai meragukan penilaiannya pada Lady Victoria yang ternyata belum memberikan respon apapun pada tawarannya"


Kekehan Raja George menggema, hingga menular pada Edward


Kekehan saling bersaut-sautan yang langsung menggema di dalam ruangan kerja Raja George, menutup semua pembicaraan mereka.


🌺🌺🌺🌺


Seorang pria dengan tegesah-gesah berlarian menuju ruang biru di kediam Ross. Wajahnya tampak panik dan juga cemas. Saat sudah mendengar perintah untuk mempersilahkannya masuk, pria itu segera masuk sambil menunduk hormat


"Yout Grace..."


"Ada apa?"


Pria itu mengangkat kepalanya dan melebarkan arah pandangnya, menatap empat orang pria paruh bayah yang sekarang menatapnya dengan penasaran


"Saya sudah mendapatkan informasi Your Grace"


"Katakan"


Pria itu mentap tuannya lalu membuka suara

__ADS_1


"Beberapa minggu lalu, Lady Victoria keluar dari istana, His Highness Pangeran Fredeick membawanya ke ibu kota"


Bisa di lihatnya jika Alis tuannya berkerut dalam, lalu melirik pria lain yang ada di sana, ketiga ipar tuannya yang tampak menunggu dalam penasaran. Pria itu kembali membuka suara


"Beberapa minggu lalu juga, Lady Victoria bersama His Highness Pangeran Fredrick pergi ke Argentt yang bertepatan dengan peristiwa memalukan Baron Lawson"


"Lalu?"


"Beberapa minggu lalu juga, istana mengirimkan bantuan ke daerah barat"


Bertepatan dengan ucapannya yang selesai meluncur, suara gelas yang bertemu kayu meja terdengar. Salah satu ipar tuannya si pemilik laut Bedford meletakkan gelas minumannya dengan kasar ke atas meja. Pria itu menatap kembali tuannya yang terlihat diam dengan kedua tangan yang sudah di masukkan ke dalam saku. Lebih dari dua puluh tahun dia melayani tuannya, dia sangat tahu jika tuannya yang selalu berperawakan tenang dan penuh karisma itu sekarang, sedang tidak tenang


"Apa ada lagi Welly?"


Pria itu, Welly. Menjawab dengan gelengan dan setelah di perintahan untuk keluar, Dirinya segera keluar setelah sebelumnya menunduk hormat pada para pria yang memiliki kehormatan tinggi di dalam ruangan itu


Kepergian Welly membuat Thomas segera menatap bergantian para iparnya yang tampak termenung.


"Terjadi sesuatu"


Ucapan Philip membuat Charles memijat tangannya, Albert menatap jauh ke atas langit-langit ruangan dan Thomas masih berdiri dengan merawang jauh ke luar jendela


"Apa surat kita sudah sampai?"


Thomas mengeluarkan suara tanpa menoleh, wajahnya tetap menatap ke luar jendela


"Seharusnya besok sudah akan sampai, His Highness Pangeran Henry menjanjikan itu pada kita"


Ucapan Charles membuat Philip merasa cemas. Keterdiaman para iparnya membuat suasana ruangan yang tadinya memang tidak santai menjadi mencekam. Tapi, mereka harus membahas sesuatu, hingga Philip kembali membuka suara.


"Kita harus mempercepat pergerakan kita, karna pasti istana ingin ikatan di percepat"


Akhirnya Albert melepaskan arah pandangnya dari langit-langit ruangan dan menatap para iparnya yang mempunyai raut wajah berbeda-beda tapi, dengan isi kepala yang pasti sama.


"Malam ini, kita buat keputusan terakhir kita, dan kita harus mendesak His Highness Pangeran Henry"


Ucapan Philip yang kembali terdengar membuat raut wajah para iparnya menjadi cemas.


"Ya Tuhanku.... tolong lindungi kami yang berdosa ini"


Doa Charles membuat Thomas menarik nafas dalam dengan berat, Albert memejamkan matanya dengan gugup, Philip menipiskan bibirnya dengan cemas dan Charles semakin memijat tangannya dengan khawatir. Tapi, semua perasaan ketakutan yang di rasakan empat keluarga itu tidak terselip sedikitpun keraguan untuk menjalankan rencana mereka.


\=\=\=πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›

__ADS_1


Eike makasih bgt buat para readers tersayang yang masih setia dan selalu ngasih support. Positive komen dan antusias kalian buat otak eike semangat ngehalu walaupun kadang males buat nulis. Hehhe...


Yuk tinggalin jejaknya, Vote-nya juga yukk di sebar... salam sayang semua ✨


__ADS_2