
Setelah Diana selesai memasangkan dalaman dan korsetnya, Victoria masih terus menatap sebuah kotak kertas yang tergeletak di atas ranjang. Diana juga ikut menatap kotak itu, menunggu reaksi nonannya.
"Buka saja Di"
Dengan patuh Diana mengangguk dan segera membuka kotak itu. Isi kotak itu ternyata Sebuah gaun sederhana bahkan terlihat sangat sederhana untuk benang dan dan model jahitan gaun itu, membuat Diana bingung dan segera mengangkat gaun itu ke depan Victoria. Lain halnya dengan Diana yang bingung, Victoria malah tersenyum semeringah.
"Berarti, kau harus melepas korset dan semua dalaman ini Di"
Dengan isi kepala yang penuh tanda tanya, dengan patuh Diana melepaskan segala penyiksaan di tubuh Victoria, lalu membantu Victoria untuk memakai gaun sederhana itu.
Setelah selesai, Diana menatap penampilan Victoria dan menatap wajah Victoria yang tetlihat antusias, hingga akhirnya Diana dengan segala rasa penasarannya membuka suara.
"Sebenarnya ini dari siapa Vic? dan gaun ini untuk apa? apa kau ingin ke luar dengan gaun seperti ini?"
Victoria kerkekeh geli setelah di brondong banyak pertanyaan dari Diana.
"Dari His Highness, untuk kami pergi ke ibu kota, dia bilang kami akan berkencan"
Hampir Diana akan membuka mulutnya tapi suara pintu di ketuk membuat kepala Diana menoleh.
"Itu pasti dia"
Dengan panik Diana menarik tangan Victoria, dengan tujuan untuk merias nonannya tapi, Victoria menggeleng kuat dan menatap Diana
"Buka saja pintunya, tidak perlu berias"
Meski merasa sedikit bingung, Diana tetap menuju pintu. Dan benar, saat pintu di buka, wajah Fredrick segera menyambut arah pandang Diana. Diana segera menunduk
"Selamat pagi Your Highness"
Fredrick mengangguk singkat dan akan segera melangkah masuk dengan santai tapi, Diana tidak menunjukkan gerak gerik untuk menyambutnya masuk, bahkan tidak melebarkan pintu lagi.
"Saya akan memanggil Lady saya Your Highness"
Dengan wajah tegas dan sorot mata penuh peringatan, Diana menatap Fredrick yang segera menangkap maksut Diana.
"Aahh ya... aku akan menunggu di sini"
Belum sempat Diana berbalik untuk masuk ke dalam kamar, ternyata Victoria sudah berdiri di sampingnya sambil menatap Diana dengan tersenyum hangat.
"Terimakasih Diana, aku titip Grey ya"
__ADS_1
---000--000---
Semilir angin terus menerbangkan rambut coklat kepirangan itu, gerakan kuda terus membuat tubuh di depannya bergerak lembut, bahu kecil yang terlihat lembut dan rapuh itu juga ikut bergerak halus, aroma manis dari rambut indah di depannya terus menguar menyenangkan di indra penciuman Fredrick. Fredrick terus meneguk ludahnya dan terus berusaha menahan indra perabanya agar tidak dengan lancang merayap pada tubuh di depannya.
Kulit putih pucat dan indah dari kedua tangan yang terpantul sinar mata di depannya membuat Fredrick semakin gatal ingin membelai kehalusan dan kelembutan kulit itu. Entah sudah untuk yang keberapa kali, Fredrick kembali meneguk ludahnya.
Victoria dengan tenang duduk di depan Fredrick. Mereka sedang berada di atas punggung Panter untuk menuju ibu kota. Kedua bola matanya selalu menilai dan mengingat segala hal yang di tangkap arah pandangnya tanpa tahu jika seseorang di belakangnya sedang dalam pergulatan sulit untuk melawan segala godaan yang tidak pernah dengan sengaja di lakukannya. Tapi, tidak ada yang bisa di salahkan untuk kesulitan yang sedang di rasakan Fredrick, itu adalah resikonya yang tidak mengijinkan Victoria untuk menunggangi kuda sendiri. Perhitungan kemungkinan yang di pikirkan Fredrick seperti Victoria yang bisa saja kabur ketika berkuda sendiri di luar, membuat Fredrick memberikan syaratnya pada Victoria. Meski merasa senang bisa terus menempel dan menghirup aroma menyenangkan di depannya tapi, Fredrick adalah pria normal, dia terbiasa mendapatkan kepuasan kapanpun dia menginginkannya tanpa perlu bersusah payah. Libidonya yang terbiasa selalu di puaskan setiap saat, saat ini sudah berpuasa dengan sangat lama terlebih, dia sedang di hadapkan pada situasi posisi mereka, dan lebih parahnya, obyek manis dan menggoda di depannya adalah gadis yang selalu mengganggu pikiran baj*ngannya saat siang dan malam. Demi tahta ayahnya! Fredrick tidak pernah merasakan sangat menginginkan, sangat sangat menginginkan seseorang kecuali obyek di depannya. Fredrick mengeram tertahan
Dengan wajah polos dan tidak berdosa, Victoria memutar kepalanya saat menangkap eraman berat tertahan Fredrick. Arah pandang mereka langsung bertabrakan dan, Victoria menangkap itu, kilapan kobaran semangat tapi juga putus asa memenuhi pandangan mata abu-abu di belakangnya, menghantarkan rasa panas pada punggungnya yang menempel halus di dada Fredrick.
"Hhmm??"
Dengan rasa penasaran dan hampir gila karna melihat wajah Victoria di depannya dengan jarak yang dekat, Fredrick ingin tahu, kenapa obyek manis di depannya ini menatapnya dengan wajah bingung. Tapi, Victoria hanya menggeleng dan meluruskan lagi kepalanya
"Apa masih lama Bash?"
"Sebentar lagi, apa kau kepanasan Vic?"
Victoria menggeleng dan tersenyum
"Tentu saja tidak Bash, ini menyenangkan, sudah lama aku tidak melihat ke luar"
Dada Fredrick berdenyut nyeri, entah karna apa.
Dengan cepat kepala Victoria berputar dan menatap Fredrick dengan wajah antusia dan mata berbinar
"Kau janji"
"Jika ada hadiahnya"
Victoria berdecih sebal dan terus menatap Fredrick, cukup lama pandangan mereka bertemu dan dengan mengubur segala ketidak nyamanan dan rasa malunya, Victoria menangkup wajah Fredrick. Fredrcik tersentak hingga tangannya tanpa sengaja menarik sedikit tali kekang yang membuat Panter berhenti. Dengan wajah yang berada di kedua kulit lembut tangan Victoria, terlebih karna Victoria terus menatapnya, Fredrick tidak bisa membayangkan dan memikirkan apapun lagi bahkan entah kenapa dia merasa gugup.
Dalam diam mereka terus saling menatap, hingga bibir ranum Victoria tersenyum tipis dan..... maju mendekati bibir Fredrick tapi, belum sempat bibir mereka bertemu, dengan segala umpatan di batinnya, Fredrick menarik kepalanya yang membuat Victoria mengeryit dan segera melepaskan tangannya dari wajah Fredrick. Rasa malu karna penolakan membuatnya wajahnya terasa membara, dan Victoria saat ini ingin sekali mengutuki isi kepalanya yang bodoh karna bepikir Fredrick menginginkan 'hadiah' itu.
Fredrick menangkap itu, rona merah hingga ke telingat Victoria membuatnya semakin menderita, dia tahu jika penolakkannya membuat Victoria malu, tentu saja hal itu akan menjatuhkan harga diri Victoria tapi, bukan itu alasannya, Fredrick bukan ingin menolak meski dia memang ingin menolak. Jika saat ini bibir ranum itu menempel di bibirnya. Fredrick yang dalam siatuasi pertahanan penuh akan hancur dan melakukan apapun untuk memiliki Victoria seutuhnya, untuk merasakan dan memuaskan segala keinginannya pada gadis di depannya yang sekarang tidak bergeming dan menunduk.
"Vic...."
"Maafkan aku, aku salah, ma..."
"Sstt!! tidak, bukan begitu, aku bukan ingin menolak"
__ADS_1
Dengan kepala tertunduk malu, Victoria tidak ingin mendengarkan ucapan apapun tapi, secara tiba-tiba satu tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Pergerakan tangan itu membuat Victoria segera menarik tubuhnya tapi, tangan kokoh itu dengan sigap menatahan tubuh Victoria hingga punggungnya dan dada Fredrick semakin menempel.
"Dengarkan aku"
Kali ini, nafas hangat Fredrick sudah berada di ceruk lehernya, Victoria merasa tidak nyaman, tapi juga tidak bisa berbuat apapun.
"Jangan tersinggung dan malu, karna yang harusnya malu adalah aku, kau tidak tahu saja apa yang selalu ku pikirkan Vic"
Victoria memutar kepalanya ingin menatap Fredrick, tapi, Fredrick menahan wajahnya agar tidak menoleh dan segera meletakkan dagunya di bahu Victoria.
"Jangan tatap aku, biarkan seperti ini dulu, aku harus menenangkan setan di jiwaku"
"Hah?"
Respon Victoria membuat Fredrick tersenyum hangat. Tangannya bergerak untuk menyampirkan ke belakang rambut Victoria yang ada di bahunya. Dengan gerakan pelan, Fredrick menundukkan wajahnya dan.... memberikan ciumam lembut dan hangat di ceruk leher Victoria. Rasa hangat dan geli membuat kedua bahu Victoria terangkat, tangannya dengan refleks langsung memegang jejak kecupan panas Frerick dan menatapnya. Menatap Fredrick yang tersenyum hangat padanya.
"Itu hadiahku"
Dengan pasrah Victoria mengangguk
"Jadi kau janji kan? kita sudah sepakat kan?"
Kembali, Fredrick memeluk Victoria dari belakang dan meletakkan dagunnya di bahu Victoria.
"Tentu saja sayang, aku pria yang memegang janji"
Dan lagi, satu kecupan lembut dan hangat mendarat di ceruk leher Victoria, yang kali membuat Victoria meremang. Victoria menepis segala rasa tidak nyamanya dan harus mengakhiri segala situasi mereka.
"Ayo Bash"
Fredrick mengangguk dan menegakkan lagi kepalannya tapi sebelum itu dia melirik sekitar. Pada kesatria yang ikut di perjalanan mereka. Jeremmy yang ada di belakang sebelah kanannya sedang sibuk menatap ke lain arah dengan memainkan dauh pohon yang menjuntai di udara. Keelft yang ada di belakang Jeremmy sedang sibuk membelai dan memainkan besi di tali kekang kudannya.
Melirik ke kiri. Carl yang ada di belakang sebelah kirinya sibuk menatap dan merapikan gulungan tangan di kemejannya yang sudah rapih. Di belakang Carl, Gregory dan Lucas sibuk menatap ke arah lain dengan arah pandang yang menatap ke atas pohon.
Fredrick memutar bola matanya, para kesatrianya benar-benar tidak pandai berakting dan setelah ini mereka pasti akan bergosip seperti janda kesepian.
\=\=\=\=💙💙💙💙
Yuk bisa yuk tinggalin jejaknya....
Terimakasih banyak masih bertahan di sini...
__ADS_1
Salam sayang semua ✨