Behind The Castle

Behind The Castle
**MENGIKAT BENANG**


__ADS_3

Charles dan Thomas cukup terkejut dan tercengang saat mereka baru memasuki ruang utama parlement. Ruangan khusus mereka. Karna tidak biasanya dan tidak pernah terjadi, iparnya yang lain, iparnya yang berdarah panas dan santai sudah lebih dulu ada di ruangan itu.


Albert masih berdiri di depan jendela dengan kedua tangannya yang sudah masuk ke dalam sakunya. Meski dia mendengar suara pintu sudah di buka tapi tubuh dan wajahnya tetap mengarah ke depan jendela yang sudah di bukannya. Matanya tetap menatap ke depan, ke luar jendela.


"Apa sebentar lagi kiamat akan terjadi Thom?" Charles terkekeh geli sambil melirik Thomas yang tersenyum geli karna melihat sosok Albert yang sudah datang lebih dulu dari mereka. "Ayolah Al... kiamat seperti apa yang datang dalam mimpimu tadi malam?"


Kembali Charles berucap sambil terkekeh geli, Thomas mulai mendekati mejanya dan berhenti saat melihat sebuah surat terbuka di atas mejanya. Charles yang melihat pergerakan Thomas berhenti, ikut melihat arah pandang Thomas. Kedua wajah pria itu langsung menatap Albert dengan tanda tanya


"Kiamat kecil memang akan terjadi"


Ucapan Albert membuat Charles langsung mendekat pada meja Thomas saat Thomas langsung memegang kertas surat di mejanya. Wajah Thomas memucat saat isi surat sudah bisa di cernanya dengan baik, Charles yang juga baru mencerna isi surat memegang tangannya yang langsung gemetar, bibirnya yang terasa keluh berguman tidak percaya dan tidak ingin percaya


"Ini...."


"Siapa yang mengirim ini?"


Thomas meneruskan ucapan Charles yang tidak bisa di teruskannya. Kedua pria itu kembali menatap Albert yang belum bergerak sedikitpun dari depan jendela.


"His Majesty"


Dengan susah payah Cahrles meneguk ludahnya. Thomas yang selalu tenang sudah kehilangan ketenangannya dan langsung memasukkan satu tangannya ke dalam saku.


"Jadi Charlotte selamat?"


Albert hanya diam tidak ingin menatap ataupun menjawab pertanyaan Thomas. Charles membuang nafas panjang dan membuka suara


"Dan Victoria melahirkan?" Charles menggeleng tidak percaya dan menatap Thomas untuk menyuarakan isi kepalanya. "Jadi ini alasan Victoria kembali ke Albany di saat keributan besar terjadi di istana? dan ini juga alasan Arthur menyembunyikan keadaan Victoria bahkan tidak mengijinkan kita hanya untuk sekedar bertemu dengan Victoria?"


Thomas yang mendapatkan pertanyaan dari Charles hanya diam. Pertanyaan itu jelas tidak perlu di jawab karna memang sudah terjawab jelas


Keheningan terjadi di antara mereka hingga Albert menoleh pada kedua iparnya yang terlihat terus kembali membaca ulang isi surat


"Apa kita akan tetap diam dengan ancaman mereka Thom, Char?"


"Apa Raja muda itu benar-benar bisa melakukan ini?"


Charles menatap Albert dengan raut wajah minta penjelasan dan jawaban. Albert mengagangguk singkat

__ADS_1


"Keadaan sekarang berbeda, ini sangat genting dan bisa kita bilang jika perang kali ini akan menjadi kiamat kecil untuk Francia jika perang pecah. Raja muda itu seorang Castalarox, dia akan melakukan apapun untuk kerjaan ini termasuk menjadikan kita musuh jika kita tidak menanggapi ancamannya. His Majesty, akan menggunakan caranya untuk menghancurkan kita" Albert tersenyum kecut. "Dia lebih mengerikan dan lebih kejam dari mendiang Raja tapi yang terparah, dia bukan orang yang memiliki banyak kepedulian selain untuk kerajaannya"


Ucapan Albert membuat Thomas langsung merobek surat dan mengeluarkan pemantik cerutunya dengan mulut yang ikut menimpali ucapan Albert.


"Dan Her Majesty pasti ada di pihaknya"


Charles memandangi Thomas yang mulai membakar surat, mulutnya ikut menimpali


"Keponakan kita itu akan ada di pihaknya, di pihak kerajaannya" Thomas mengangguk setuju dengan ucapan Charles dan Albert hanya diam sambil kembali menatap ke luar jendela. Charles melanjutkan ucapannya saat kertas mulai terbakar separuh. "Aku tidak ingin di benci anak-anak Victoria yang bahkan belum ku lihat" Charles mendang Thomas. "Thom..." lalu menatap Albert. "Al....."


Tangan Thomas membuang surat yang masih terbakar ke atas asbak sambil mengangguk singkat.


"Aku juga Char..."


Tanpa mereka ketahui Albert tersenyum tipis dengan wajah yang masih menghadap ke jendela. Hingga cukup lama keheningan terjadi, Albert kembali menoleh pada dua iparnya


"Apa keputusan anda...." Wajah Albert menoleh dan menatap Thomas, iparnya yang menjadi pemimpin mereka. "Duke Thomas?"


Thomas menatap bergantian pada Charles yang tampak menunggu keputusannya, dan Albert yang menatapnya dengan lekat.


Satu alis Albert menukik dan Charles tersenyum tipis.


"Ayo kita berjalan di jalan yang sama"


Thomas mengangguk singkat dan Albert kembali tersenyum tipis dengan wajah yang kembali menatap ke depan jendela. Suara hatinya berguman


'Victoria putriku, semua ini kami lakukan untukmu dan untuk kakakku'


"Aku akan menyiapkan ruang rapat"


"Aku sudah menyiapkannya"


Ucapan Charles yang langsung di sambar Albert membuat kedua iparnya langsung menatap Albert dengan penuh selidik tapi, mereka memilih diam dan memutar langkah mereka menuju pintu keluar. Albert terkekeh geli dengan pemikiran yang hanya dia yang tahu, dan kakinya mulai bergerak mengikuti langkah kedua iparnya yang sudah berdiri di depan pintu.


Ketiga pria paruh baya itu mulai memasukki ruang rapat yang belum terlalu bising, para gentlemen di sana sudah menunggu mereka dengan wajah penasaran tapi juga masih santai. Ini masih terlalu pagi untuk mereka saling mengencangkan urat leher untuk berargumen, terlebih, memang belum ada topik masalah yang harus mereka bahas.


Charles dan Thomas segera duduk di kursi mereka. Teh panas dan kotak-kotak kayu untuk mengumpulkan suara bahkan sudah di siapkan? Kembali dua ipar Albert itu menatap Albert penuh selidik. Albert yang bisa merasakan tatapan kedua iparnya dengan santai dan acuh segera menyeret kursi ke tengah ruangan, duduk dengan santai di tengah-tengah meja melingkar semua gentlemen.

__ADS_1


"Selamat pagi gentlemen yang terhormat"


Para gentlemen langsung membalas sapaan basa basi Albert dengan anggukan singkat. Albet kembali bersuara. "Kami tidak ingin berbasa basi, kita percepat saja semuanya" Albert kembali menegakkan kakinya dan entah kenapa langkahnya menuju ke depan mejannya. Tidak biasanya Albert suka dengan posisinya sekarang, berdiri di depan mejanya saat sedang membuka topik penting.


"Seperti yang sudah kalian dengar, ada desas desus tipis yang mengatakan jika Vancia akan menyerang?" Keadaan menjadi sangat hening saat Albert mengatakan ucapannya, Albert melanjutkan. "Dan itu semua benar, akan terjadi perang besar yang tinggal menunggu waktu untuk jatuh dan pecah"


Ke tiga pria pemimpin segera menyambar cangkir teh mereka saat suara di dalam ruangan langsung berubah menjadi ramai dan bising. Mereka sudah sangat paham dan tahu bagaimana reaksi tamu penghuni 'rumah' mereka terlebih karna topik yang di ucapkan Albert. Cukup lama mereka membiarkan keadaan tetap bising hingga Albert memukul mejanya tiga kali dengan kuat.


Setelah meja di pukul, suara bising dan keributan mulai tenang. Perhatian para gentlmen mulai kembali pada ke tiga pria pemilik rumah. Albert mulai kembali membuka suaranya, langsung pada inti dari pembahasan mereka


"Istana meminta bantuan, His Majesty Raja Fredrick ingin kita ikut ambil bagian dalam pertempuran"


Ucapan Albert langsung membuat wajah para gentlemen terlihat bingung, terkejut, tidak terima dan berbagai reaksi mereka langsung tergurat di garis wajah mereka. Jelas sekali jika mereka yang selama turun temurun selalu merasakan hidup tenang dan tinggal menerima perlindungan penuh dari kerajaan, tidak bisa memahami maksut Albert terlebih permintaan Raja mereka yang baru. Apa maksut istana meminta mereka untuk ikut ambil bagian? dalam perang????


Albert yang sudah bisa menebak pertanyaan di dalam kepala semua gentlemen kembali menjelaskan intinya


"Istana meminta bantuan kekuatan wilayah kita untuk di kirim ke istana. Secepatnya, agar mereka bisa mengatur dan menyiapkan semuanya"


"Tidak bisa Earl Albert!"


Albert langsung mengangkat tinggi tangannya. Kali ini dia terlihat tidak bisa dan tidak ingin menerima ucapan isi hati para gentlemen. Seorang gentlemen yang baru saja berucap dan semua mulut lain yang baru akan terbuka langsung menutup kembali, terlebih saat melihat kedua pria pemilik ruang utama lain sudah ikut berdiri di depan meja mereka sambil menyilangkan kedua tangan mereka di depan dada dan memberikan tatapan tegas. Kali ini Thomas, si pemimpin utama dan pemilik utama rumah parlement membuka suaranya.


"Kirim segera kekuatan kalian ke istana, secepatnya, semua yang kalian miliki"


Kembali kebisingan dan keributan terjadi. Albert mencibik kesal, para iparnya langsung menatap Albert. Mereka tahu jika Albert yang sedari awal sudah mereka curigai, Arathorn licik paruh baya itu pasti sudah memikirkan keadaan ini dan mereka hanya menunggu sambil menarik kursi penonton. Seperti biasa.


Cukup lama Albert hanya diam sambil sesekali menggaruk telinganya yang mulai panas dan mulai risih dengan semua keributan hingga...


Pintu ruangan rapat tiba-tiba terbuka kuat, semua kepala langsung menatap ke pintu. Kecuali Albert yang wajahnya tampak tidak tertarik untuk melihat siapa yang datang tapi, bibirnya tersenyum miring dengan menyilangkan tangannya ke depan dada.


"Maaf atas keterlambatan saya"


\=\=\=❤❤❤❤


Ayukk jejaknya yukkk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2