
"Kenapa harus pulang? kenapa tidak kita selesaikan saja semua sekarang, kita mulai dari.... coba jelaskan pada semua orang tentang apa yang kita perbincangkan hingga Champagne itu tidak masuk ke lubang mulut anda tapi malah mencuci mulut anda Lady Calista"
"Vic!"
"Apa!"
Fredrick yang mendapat balasan suara bentakan semakin menajamkan tatapannya pada Victoria, dengan wajah datar Victoria membalas tatapan tajam Fredrick sambil berkacak pinggang dengan, sangat tidak anggun dan sangat bukan Lady bagsawan. Dan tanpa Victoria ketahui jika seseorang yang ada di ujung kerumunan sudah memekik tertahan karna melihatnya berkacak pinggang di depan banyak orang bahkan di depan Raja George dan tunangannya.
Cukup lama Victoria dan Fredrick saling diam dengan saling menatap tajam hingga akhirnya Fredrick membuang nafas panjang dan menoleh pada Calista yang terisak di pelukkan ayahnya, dengan kembali membuang nafas panjang Fredrick mengulurkan tangannya pada Victoria.
"Ayo Vic"
Dengan suara yang melembut dan pandangan yang juga melembut, Fredrick mengalah
Victoria yang mendengar dan melihat perubahan Frederick menatap Fredrick penuh selidik. Sekali lagi nafas panjang Fredrick berhembus karna tatapan menyelidik Victoria
"Ayo Vic....."
Dengan malas dan tetap waspada Victoria menyambut uluran tangan Fredrick yang terus melayang di udara karna Victoria mengingat ucapan Diana, 'Bagaimanapun juga, dia adalah seorang Pangeran**'
Fredrick menggenggam dengan lembut tangan Victoria dan membawanya segera keluar dari kerumunan, mereka harus bicara atau mungkin harus saling memaki
Setelah melihat pasangan itu pergi, Raja George segera turun dari tangga tahtanya dan mendekat pada kerumunan.
"Berapa lama lagi rencana ingin menangis di sini Lady Calista dan Baron Webex?"
Suara Raja George yang tiba-tiba muncul kepermukaan membuat kerumunan segera menyingkir dan mengambil kesibukan masing-masing, Baron Gafton yang sudah menyadari nada menajam Raja George segera menyeret Calista menuju pintu, Raja Geroge melirik Edward yang masih berdiri di belakang Henry, seolah menjadi menjaganya, lalu bola matanya berpindah menatap Henry
"Hen.."
Mendengar dirinya di panggil Henry segera menoleh pada Raja George dan menunduk hormat
"Iya Your Majesty"
"Tolong bubarkan pesta"
Henry mengangguk singkat
"Baik Your Majesty"
Dari ekor matanya, Henry melirik Edward yang akhirnya bergerak dari belakang punggungnya mengikuti langkah Raja George, saat Henry mengira Raja George sudah berlalu peegi tapi ternyata suaranya kembali terdengar
"Sering-seringlah datang ke istana Hen"
Henry tertengun sesaat tapi setelah itu senyum hangatnya terbit
"Baik Your Majesty"
-00-00-
"Apa anda membawa saya menjauh dari orang banyak karna ingin memukul saya Your Highness?"
Langkah kaki Fredrick terhenti, Fredrick menoleh untuk menatap Victoria yang tampak bingung menatap punggungnya, tapi setelah itu kakinya kembali melangkah maju
Dengan sedikit kesulitan karna gaunnya dan juga kesal, Victoria masih terus mengikuti kemana Fredrick akan membawannya sambil mengamati sekitar, hingga mereka semakin masuk ke dalam taman bunga dan pepohonan yang semakin besar, menyadari jika langkah mereka semakin menjauh maka semakin mereka tidak akan tertangkap pada arah pandang orang lain, Victoria mulai mengingatkan
__ADS_1
"Ini akan ke mana Your Highness"
Mendengar suara Victoria yang mengandung rasa cemas dan panik Fredrick kembali menghentikan langkahnya dan menatap Victoria yang terlihat mengawasi sekitar
"Sebentar lagi, tahan sebentar Vic, aku hanya ingin mengajakmu duduk di kursi dalam taman"
Walaupun semakin kesal tapi Victoria tetap mengikuti langkah kaki Fredrick yang cepat tapi juga tidak tergesah-gesah, lagi pula karna Fredrick masih terus menggenggam tangannya
Saat kursi taman yang di maksut sudah terlihat, Fredrick segera membersihkan kursi untuk Victoria dan menarik tangan Victoria untuk duduk. Victoria mengikuti, Fredrick ikut mendaratkan bokongnya pada kursi sambil helaan nafas lelah? cemas? atau bosan? nya kembali berhembus
"Apa anda ingin marah Your Highness?"
Fredrick mengeryit
"Setelah menyebutku sebagai tukang pukul sekarang kau menyebutku tukang marah Vic"
Dengan wajah datarnya yang sudah kembali, Victoria menatap Fredrick penuh selidik hingga menyipitkan matanya
Fredrick tersenyum dan mencubit gemas pipi Victoria, Cukup lama Victoria menunggu Fredrick untuk segera membicarakan alasan kenala menariknya ke taman, tapi Fredrick seperti terus mengulur waktu yang membuat Victoria berdecak kesal dan menatapnya tajam, Fredrick yang menyadari jika Victoria mulai di ambang batasnya akhirnya membuka suara
"Bisakah kau berhenti bersikap formal padaku Vic?"
Dengan acuh dan menatap ke depan Victoria hanya mengedipkan bahunya
"Itu tidak sopan Your Highness"
"Membentakku, melakukan gerakan yang seolah ingin menantangku, memutar bola mata padaku, berdecak kesal padaku dan menyebutku tukang pukul dan pemarah, dari semua itu apa ada yang sopan Lady Victoria?"
Sambil menaikkan satu alisnya, Fredrick mengamati raut wajah datar Victoria yang terlihat seperti tidak mendengarkan ucapannya barusan, dan juga tidak ingin mentapnya, seperti anak kecil yang ketahuan memakan permen saat sudah di larang oleh ibunya.
"Apa kau tidak mendengar pertanyaanku Vic?"
"Tidak Your Highness"
"Benarkah?"
"Benar Your Highness"
"Sebutkan namaku Vic"
Victoria menatap Fredrick yang ternyata sudah menatap wajahnya dengan lekat, cukup lama mereka saling tatap hingga hembusan angin yang kencang membuat Victoria bergindik. Melihat potongan bahu Victoria yang rendah, Fredrick segera mambuka jasnya untuk menutup ke dua bahu Victoria.
Victoria tersenyum
"Terimakasih Your Highness"
"Namaku Vic"
"Your Highness Pangeran Fredrick"
"Victoria...."
Wajah Fredrick yang mulai terlihat kesal membuat Victroria mengulum senyumnya
"Berhentilah bersikap Formal ketika hanya kita"
__ADS_1
"Saya akan coba Your Highness"
"Namaku Vic"
"Sebastian...."
Fredrick tertengun, beberapa saat dia hanya diam hingga tangannya terangkat untuk merapikan juntaian rambut Victoria di sisi wajahnya. Entah kenapa Victoria melihat perubahan wajah Fredrick yang terlihat menjadi... sendu?
"Atau Bash?"
Victoria membalas tatapan mata abu-abu Fredrick yang sekali lagi, sempat sepersekian detik bergetar tapi dengan sangat cepat kembali tenang. Victoria yang merasa jika mungkin saja ada sesuatu pada nama yang baru di ucapkannya, mencoba memperbaiki suasana
"Jika anda tidak suka....."
"Aku suka"
Ucapan Victoria terhenti saat Fredrick memotong ucapannya sambil tersenyum hangat
"Baiklah Your Highness"
"Vic....."
Victoria terkekeh
"Bash... Sebastian... Bash...."
Fredrick mengigit pipi dalamnya karna desiran dan sebuah perasaan yang tidak dia mengerti merayap dengan cepat ke dalam dadanya, tapi bukan jenis perasaan yang tidak menyenangkan, semakin lama Fredrick mulai menikmati desiran yang sekarang semakin sering di rasakannya itu
"Good Girl..."
Fredrick mencubit dengan gemas pipi Victoria, yang kali ini membuat Victoria ikut terkekeh.
"Baiklah Vic, aku akan mulai bertanya"
Victoria yang menangkap perubahan suara Fredrick yang menjadi serius segera menatapnya dengan bingung
"Bertanya?"
Fredrick mengangguk singkat dan menatap kedua bola mata Victoria dengan penuh selidik
"Apa yang Calista katakan padamu"
"Hhmmm?"
Dengan cepat Fredrick menahan kepala Victoria yang akan berpaling dari tatapannya, dengan lembut Fredrick menangkup pipi Victoria
"Katakan Vic"
>>> To Be Countinued....
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Kalo merasa suka dan berkenan, jangan lupa like, komen, bintang dan lope-nya yaa
Semoga masih tertarik untuk membaca
__ADS_1
Salam sayang semua ✨✨