Behind The Castle

Behind The Castle
**QUEEN VICTORIA III**


__ADS_3

Dengan gaun hitam, tanpa perhiasan dan tudung hitam yang menutupi wajahnya, Victoria terus menatap dan melihat dari kejauhan prosesi pemakaman mendiang Raja. Semua pasukan berbaris, mengangkat senjata, bergerak teratur dan menjalankan semua alur penghormatan terakhir. Hingga akhirnya sebuah kereta kuda yang membawa peti tubuh mendiang Raja muncul. Mereka langsung memasukkan kembali pedang mereka dan membungkuk dalam.


Kereta kuda terus berjalan di ikuti beberapa Gentlemen yang berbaris teratur di belakang kereta kuda, para gentlemen yang juga kerabat mendiang Raja. James dan Steven ada di barisan ke dua, di barisan pertama yang harusnya di isi oleh putra-putra mendiang tidaklah lengkap karna, hanya Henry yang ada di barisan pertama, bahkan atas perintah Victoria, tempat yang kosong tidak boleh di isi dan di biarkan kosong.


Barisan penggiring terus bergerak menuju Kapel istana, tempat di mana, proses misa dan juga penguburan di bawah kapel akan berlangsung.


Edward terus melirik Victoria yang hanya diam dan terus menatap proses acara hingga akhirnya, kusir menghentikan kuda, para kesatria mendekat untuk mengangkat peti menuju proses selanjutnya, pemberkatan akhir.


Misa yang akan di langsungkan di dalam kapel yang akan di akhiri dengan penguburan tubuh mendiang Raja di bawah ruang kosong kapel. Tempat di mana semua mantan pemimpin kerajaan di makamkan dalam ruangan khusus itu.


Victoria akhirnya membuang nafas panjang, saat peti yang di bawa menuju masuk ke dalam kapel tidak terlihat lagi. Victoria yang harusnya ikut masuk ke dalam untuk proses pemberkatan akhir memlih untuk tidak ikut masuk. Dengan sekali gerakan, Victoria langsung menarik vail yang mulai terasa menganggu wajahnya


"Apa yang akan kita lakukan Your Majesty?"


"Apa Fredrick belum juga menunjukkan kedatangannya?"


Edward berjalan pelan mengikuti langkan Victoria yang akan menuju istana


"Dari informari kesatria yang menjaga perbatasan, ada kemungkinan mungkin mereka akan tiba nanti malam, Your Majesty"


Victoria mengangguk paham dan menoleh untuk menatap Edward


"Sebenarnya apa yang sedang kalian takutkan Ed? Kalian sangat ketakutan dengan misi ini"


Edward hanya diam dan terlihat tidak ingin menjawab, dan Victoria tahu itu. Ini pasti menyangkut sesuatu yang besar dan mungkin sangat besar hingga dia sendiri tidak bisa mengetahui semuanya sebelum mendiang Raja atau Raja baru membuka mulut mereka. Victoria kembali melirik Edward


"Aku mendengar 'kartu as'.... apa itu semacam kode keamanan? atau seseorang Ed?"


Akhirnya nafas panjang Edward berhembus dan menatap Victoria


"Bukan kuasa saya untuk menjelaskan ini, Your Majesty. Maafkan saya. Tapi saya yakin jika His Majesty kembali, dia nanti akan menjelaskan semua ini pada anda, dia sendiri"


Dengan pasrah Victoria mengangguk dan langkah mereka mulai memasukki istana. Seisi istana hening dan sangat jelas menunjukkan suasana duka, semua ini juga tidak jauh berbeda dengan keadaan di luar gerbang istana. Dimana di sana para rakyat banyak berkumpul untuk mengantarkan kepergian mendiang Raja, meski hanya dari jauh.


Victoria tersenyum tipis, semua keributan dan percobaan untuk merusak nama mendiang Raja tidaklah berpengaruh sama sekali di hati rakyat, terutama rakyat kecil. Mendiang Raja George berhasil memimpin kerajaan dengan sangat baik, dia di cintai dan akan selalu di kenangan sebagai Raja yang berhasil dalam sejarah kerajaan Francia termasuk Eropan.


"Mendiang Raja George adalah Raja yang berhasil Ed"


Edward tersenyum tipis dan ikut melirik ke samping balkon, dimana di depan gerbang istana masih penuh dengan rakyat yang tampak berdoa dalam keheningan untuk mengantar kepergian Raja.


"Mendiang Raja, adalah Raja yang baik untuk rakyatnya. Semua pengorbanan selama hidupnya membuahkan hasil dan sampai di dalam hati rakyat Francia"

__ADS_1


Kepala Victoria mengangguk setuju dan terus melangkah untuk menuju istana utama tapi, saat mereka baru akan berbelok ke arah ruang kerja mendiang Raja, seorang wanita paruh baya tersenyum dan menundukkan kepalanya singkat pada Victoria, yang membuat langkah Victoria dan Edward terhenti


"Selamat siang Your Majesty Ratu Victoria"


Satu alis Edward menukik tinggi, dan Victoria hanya tersenyum tipis yang tidak sampai ke hati


"Selamat siang ibu Ratu"


Ibu Ratu Elisabeth mendekat pada Victoria masih dengan senyum tipis anggunya, walaupun wajahnya tampak kacau, wajah yang seperti baru saja melewati jalan panjang di dalam neraka.


"Saya ingin berbincang, bisakah kita minum teh bersama, Your Majesty"


"Anda lebih memilih minum teh bersama saya dari pada mengikuti misa untuk pemberkatan akhir, ibu Ratu?"


Masih dengan terus tersenyum tipis anggun Ratu janda Elisabeth menatap Victoria


"Saya tidak sanggup untuk mengantar kepergiannya"


Edward tampak tidak peduli pada Elisabeth, dia hanya diam dan menunggu perintah Victoria. Apakah Victoria akan menerima atau menolak undangan langsung yang berikan untuknya, yang entah untuk apa


Setelah menimang sebentar, akhirnya kepala Victoria mengangguk singkat


Dan akhirnya, di sinilah mereka sekarang. Meja sudah di isi dengan kudapan dan cangkir teh. Victoria duduk di meja taman dan berhadap-hadapan dengan Elisabeth.


Dengan sopan dan penuh aturan, Ratu janda Elisabeth menunggu Victoria untuk mempunyai, berstatus yang lebih tinggi darinya untuk memulai percakapan.


"Apa yang ingin anda katakan ibu Ratu?"


Elisabeth menatap Victoria dengan lekat dan kembali tersenyum tipis


"Kenapa anda hanya diam Your Majesty, tidakkan anda ingin melakukan sesuatu pada saya?"


Dengan tenang Victoria menautkan tangannya di depan perut


"Anda bukanlah urusan saya ibu Ratu. Anda akan menjadi urusan His Majesty. Apapun yang di inginkannya, itu urusan His Majesty, Raja."


Kepala Elisabeth mengangguk mengerti dan memegangi cangkir tehnya


"Apa anda sudah tahu semuanya? maksut saya, tentang tragedi Larina?"


Satu alis Victoria menukik dan menatap Elisabeth dengan wajah datar.

__ADS_1


"Saya sudah tidak tertarik lagi"


Victoria menjawab dengan anggun dan penuh dusta. Wajah Elisabeth berubah menjadi sendu dan menatap isi cangkirnya


"Apa anda tahu Your Majesty, tinggal di istana ini adalah mimpi saya dari dulu tapi..." Elisabeth menjedah dan kembali menatap Victoria dengan wajah yang semakin sendu "Tapi semua itu baru bisa terwujud sekarang dan terasa tidak terlalu membahagiakan saat mimpi saya bisa tercapai"


"Apa karna 'kekasih' hati anda yang sudah tidak ada lagi di sini?"


Elisabeth merem*s cangkirnya dan kembali menatap isi cangkir


"Anda bisa membaca itu ternyata" Kekehan halus meluncur dari bibir Elisabeth. "Anda memang sangat cerdas"


Victoria mengedipkan bahunya dengan acuh dan ikut memegangi cangkirnya


"Anda dan Lady Calista sama"


Ucapan acuh Victoria membuat Elisabeth semakin kuat merem*s cangkirnya karna, apa yang di katakan Victoria benar. Dia dan Calista sama-sama wanita menyedihkan yang kehilangan cinta mereka. Victoria menangkap perubahan wajah Elisabeth dan melanjutkan


"Saya percaya jika Tuhan tidak tidur, saya juga termasuk orang yang percaya pada kerja keras dan kesabaran. Kesabaran, pengorbanan, perhatian, cinta dan kesetian seorang istri yang menjalani sumpah pernikahannya pada Tuhan dengan baik...." Victoria menjedah dan mengangkat cangkir tehnya. "Tidak akan di abaikan Tuhan. Tuhan yang menciptakan hati dan perasaan manusia dan Dia yang maha adil untuk mengatur segalanya"


Sekali lagi, semua kesimpulan Victoria membuat Elisabeth semakin menguatkan cengkaman tangannya pada cangkir tehnya. Dengan menarik nafas dalam untuk meraup semua ketenangannya, Elisabeth menatap Victoria


"Dan bagaimana dengan anda? apa anda yakin jika His Majesty mencintai anda? dan apa anda juga mencintainya?"


Victoria tersenyum tipis yang kali ini sampai dari hatinya


"Cinta adalah hal yang tidak berhak di miliki oleh para memilik mahkota tapi.... Cinta adalah kekuatan yang paling kuat di antara semua kekuatan di dunia ini" Dahi Ratu Elisabeth mengeryit dan menatap Victoria dengan wajah bingung. Victoria melanjutkan. "Anda tahu perbedaan saya dan anda ibu Ratu?"


Entalah... Elisabeth sudah cukup bingung dengan ucapan Victoria dan sekarang semakin bingung dengan pertanyaan tiba-tiba Victoria. Victoria yang menangkap wajah bingung itu kembali membuka mulutnya.


"Saya seorang wanita dan Ratu yang siap mengorbankan apapun demi cinta. Termasuk untuk mencekik cinta saya sendiri ketika cinta itu hanya membuat kerusakan dan kehancuran untuk cinta" Kembali Victoria mengangkat cangkir tehnya dan melirik Elisabeth. "Dan anda jelas tidak akan bisa melakukan itu, karna anda lebih memilih hancur dan rusak untuk mempertahankan cinta anda yang akhirnya, hanya berakhir dengan tragis dan banyak kehilangan"


Edward yang berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya bisa mencerna semua ucapan penuh kehormatan dan juga kekejaman Victoria. Entah bagaimana otak pedangnya bisa mengerti dengan baik maksut Victoria jika.... Cinta tidak hanya berpusat pada satu orang saja, terlebih untuk seseorang yang memakai mahkota, mereka harus banyak memiliki cinta untuk di bagi. Dan ketika cinta bermain, isi kepalamu juga harus tetap ikut berjalan. Kau harus terus melihat masa depan, bukan masa lalu, karna kita hidup untuk masa depan. Masa depan yang lebih baik.


Edward memejamkan matanya dengan sekujur tubuhnya yang merinding. Rakyat Francia beruntung memiliki Ratu yang luar biasa. Ratu delapan belas tahun itu akan membuat Francia jauh lebih indah. Dan Edward berdoa, semoga dia masih bisa berguna agar bisa melihat dan merasakan perubahan Francia di masa depan. Semoga


\=\=\=❤❤❤❤


Ayuk jejaknya yukk


Salam sayang semua✨

__ADS_1


__ADS_2