Behind The Castle

Behind The Castle
**MARKING**


__ADS_3

Kedua tangan Diana langsung terkepal kuat sambil mengeraskan rahangnya. Victoria dengan raut wajah datar menatap perut Diana dengan lekat


"Begitukah?"


Kembali Calista tersenyum sambil mengelus perut ratanya dan mengangguk pada Victoria.


"Maafkan saya jika berita ini akan mengejutkan anda tapi, saya benar-benar menyesal dengan kejadian semalam dan Fred lah..." Calista menjedah. "Oh.. maksut saya His Highness lah yang memberikan ijin agar saya bisa kemari dan meminta maaf langsung pada anda"


"Tidak tahu malu!"


Kemaran Diana tidak bisa di tahannya hingga suaranya berdesis pada Calista, Calista menoleh padannya. Dan Diana siap untuk menjambak pel*cur di depannya ini


"Di...."


Diana menarik nafas dalam saat Victoria memperingatkannya. Baiklah dia tidak boleh mempermalukan nyonyanya. Nyonyanya wanita terhormat. Melihat Diana yang mulai mengatur emosinya, Victoria kembali menatap Calista dengan tersenyum tipis


"Memang kapan kalian membuatnya?" Victoria menjedah dan berjalan mendekat pada gundukan tanah. "Maksut ku kapan bisa kau menggodanya?"


Dengan tenang, Calista menunjukkan senyum terbaiknya sambil memutar tubuhnya untuk mengikuti pergerakan Victoria


"Saya tidak menggoda Your Highness. Anda tahu sendiri jika kami saling mencintai kan? dan kalian menikah karna politik, semua orang juga tahu itu dan saya yakin juga anda bisa mengerti kami"


Dengan hati-hati, Victoria menekuk lututnya yang membuat Diana mengabaikan ucapan menjijikkan Calista dan langsung melompat untuk membantu Victoria, tapi Victoria menolak dan semakin menekuk lututnya agar bisa menjangkau tanah gundukan.


"Hm? Benarkah Lady?"


"Tentu saja Your Highness. Anda tahu itu"


Victoria memandang dalam gundukan di tanah sambil memegangi tanah yang mulai di tutupi salju tipis


"Your Highness"


Diana memperingatkan Victoria yang terus memainkan tanah di tangannya, itu akan membuat tangan nyonyanya kotor. Tapi kembali, Victoria mengabaikan Diana


"Kau tahu Lady..." Victoria tersenyum manis, bahkan sangat manis dan mendongak untuk menatap Calista. "Aku sendiri yang menguburnya di dalam tanah ini" Senyum Victoria semakin lebar. "Dan aku juga sangat ingin menguburmu ke dalam tanah dengan caraku"


Nada tenang penuh makna Victoria membuat Calista tersentak dan langsung memundurkan langkahnya. Isac dan Alex maju sambil memegang pedang mereka, seolah siaga untuk membentengi Calista.


Victoria terkekeh geli dan langsung kembali berdiri dengan tangan yang masih memegang tanah sambil memainkannya.


"Kesatria Isac dan Alex... Right?" Dengan tenang dan tangan yang terus memainkan tanah di tangannya, Victoria menatap Isac dan Alex bergantian. "Kalian ingin menyerangku?"


Alex menegang. Isac maju satu langkah sambil menundukkan kepala dengan sopan


"Kami bertugas untuk melindungi Lady Calista yang sedang mengandung keturunan Putra Mahkota kerajaan ini. Maaf Your Highness, sayalah yang melukai anjing anda, saya yang bersalah bukan Lady Calista"


Kepala Victoria menoleh ke kiri sebentar lalu kembali menatap Isac

__ADS_1


"Ternyata kau tidak punya kehormatan seorang kesatria Raja, Isac. Terlebih untuk kesatria emas"


Isac mengangkat kepalanya dan menatap Victoria dengan datar


"Kami hanya menjalankan tugas kami, Your Highness. Ini bukan masalah...."


"Tugas?" Kekehan halus meluncur dari bibir Victoria. "Jika aku mengayunkan pedang pada Lady Calista sekarang, berarti kau siap melukai dan membunuhku Isac?"


Alex hanya diam sambil mengepalkan tangannya yang entah kenapa menjadi gemetar. Rasanya dia tidak sanggup lagi menghadapi tekanan Victoria. Yang sedang di tunjukkan Victoria bukan hanya ancaman tapi, siapa dirinya


"Kami hanya akan melindungi Lady Calista, Your Highness"


Kepala Victoria mengangguk singkat lalu menatap Calista yang terlihat ketakutan sambil terus mendekat pada Alex. Melirik ke samping, Diana sedang terlihat mati-matian menahan diri.


Victoria bergerak maju mendekat pada Isac yang langsung mengeryit. Kedua bola mata Victoria mengkilap tajam menatap bola mata kecoklatan Isac dengan dalam


"Isac.. jika sekarang aku menjerit seperti Lady Calista semalam dan memanggil dua orang yang ada di sebelah kiri pohon di sana yang sedang bersembunyi, dan dua orang lagi yang ada di balik semak tanaman bunga, Apa kau percaya jika hari ini kepalamu bisa berpisah dari tubuhmu?"


Kaki Isac tanpa sadar mundur, bukan hanya karna ucapan Victoria tapi juga karna Victoria semakin maju mendekat padanya. Alex yang mendengar itu langsung menatap sekitar, dia tahu jika pasti akan ada yang terus melindungi Victoria terlebih sekarang Grey sudah tidak ada tapi, yang menjadi pertanyaan Alex, siapa yang melindunginya?, lebih tepatnya kesatria siapa? dan berapa orang? karna seharusnya satu orang kesatria tingkat satu cukup


"Tolong berhenti...."


Calista yang merasa terpojok ingin segera pergi dan tanpa sadar berguman


Victoria mengabaikan gumanan Calista dengan terus menatap Isac yang sudah menundukkan kepalanya.


Dengan ragu Isac mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap wanita yang terlihat bukan lagi wanita yang pernah di kerjainnya di bukit istana dulu.


Senyum manis Victoria kembali tercetak di bibirnya, senyum yang sangat manis dan sanggup membuat dunia mejadi lebih indah, jika saja Isac tahu arti sebenarnya dari senyum itu.


Dan benar saja karna masih terpaku pada senyum Victoria, Isac terkesiap saat Victoria mengusap kuat wajahnya dengan tangan yang masih memegang tanah. Isac mengepalkan tangannya menahan marah dan juga terselip rasa terintimidasi saat sebelah pipinya terasa kotor karna tanah yang di poles Victoria terlebih, karna tatapan dingin Victoria yang langsung menghantarkan rasa dingin pada punggungnya


"Isac, mulai sekarang kau harus lebih melindungi Lady Calista karna, bisa saja akan ada pembunuh yang menyelinap di dalam kamarnya setiap malam"


Masih dengan tersenyum manis, Victoria memundurkan langkahnya dan menatap Isac yang pipinya sudah kotor oleh tanah makam Grey. Victoria menandainya, di depan Grey langsung.


"Carl?"


"Iya Your Highness"


Diana yang masih terpaku pada ucapan Victoria tersentak, ketika tiba-tiba Carl yang entah datang dari mana muncul di belakang mereka


"Katakan pada Edward, untuk membuat bagian istana selatan terlebih taman ini bersih..." Victoria melirik Calista yang sudah menunduk. "Bersih dari wanita hina dan kesatria rendahan"


Setelah mengatakan maksutnya dengan jelas, Victoria langsung meninggalkan tempat itu dengan Diana yang harus sedikit berlari untuk mengejar langkah Victoria, dia terlalu bingung dengan situasi hingga sedikit terlambat menyadari jika Victoria sudah berjalan cepat untuk menuju ke luar taman.


Dan saat Victoria sudah pergi, Lucas, Keelft dan Gregory ikut muncul dengan tiba-tiba. Alex dan Isac tampak biasa, sedangkan Calista terlihat tercengang.

__ADS_1


Carl menatap naik turun penampilan Calista yang di anggapnya berlebih dan tampak bodoh. Bahkan Calista memakai tudung hitam? Ayolah.. Grey memang bukan hanya anjing tapi tidak perlu sampai memakai penampilan seperti akan menghadiri pemakaman ayahnya.


"Sudah ku duga jika kalian yang akan menjadi anjingnya. Tapi, empat orang kesatria emas untuk di dalam istana? His Majesty memang berlebihan"


Dengan nada mencela Isac berucap sambil menatap bergantian pada empat pria di depannya, yang memakai setelan kesatria yang sama dengannya meski berbeda di bagian lengan atas kanan setelannya


"Bukan His Majesty yang mengutus kami". Dengan nada yang tidak kalah menyebalkan Carl menjawab ucapan Isac "Tapi His Highness, sang suami yang terlalu khawatir pada istri tercintanya, kau tahu kan jika istri manisnya sedang berduka...."


"Harusnya kau katakan itu tadi Carl, saat Her Highness masih di sini". Keeflt menimpali ucapan Carl sambil terkekeh, lalu menatap Calista sambil tersenyum mencela "Anda ini menyedihkan Lady, dan sepertinya sekarang sudah mulai gila"


Calista melotot pasa Keelft sambil mengepalkan tangannya. Emosinya terpancing hingga bibirnya berdesis menjawab ucapan Keelft


"Anda sangat tidak sopan tuan Keelft"


"Oh.. menjadi orang tidak sopan lebih baik dari pada menjadi jal*ng yang hidup dalam khayalan dan bermimpi jika dirinya seorang Ratu terhormat"


"Hati-hati dengan mulutmu Keelft!"


"Oh... Isac si 'kesatria rendahan' marah"


Lucas membuang nafas lelah saat Keelft mulai memancing keributan, meskipun dia juga ikut menonton dan menahan tawa saat ketiga pria di sebelahnya sudah terbahak kencang, tapi tetap saja semua mata pelayan yang berlalu lalang membuat Lucas tidak nyaman


"Kau ingin berduel hah!"


Kali ini gelak tawa mereka berhenti sambil menatap Isac yang tampak marah dan Alex yang hanya diam memperhatikan. Gregory, Carl dan Lucas kembali diam sambil menarik kursi penonton. Seperti biasa, untuk bertanding 'menyebalkan' mereka akan menyerahkan pada Keelft yang memang sudah melangkah maju ke depan


"Kenapa Kau marah sekali Isac? kau seperti seorang kekasih yang tidak ingin jika kekasihnya kami goda"


"Kau!...."


"Isac"


Belum sempat Isac menarik pedangnya keluar, Suara Calista menghentikannya


"Sebaiknya kita kembali, aku mulai mual lagi"


Keelft memutar bola matanya dengan malas saat Calista yang berwajah terlihat lemas mengganggu kesenangannya. Carl yang juga merasa jika kesenangannya terganggu menatap Calista


"Well.. kalian memang seharusnya pergi sekarang, sebelum kapten Edward yang menendang kalian langsung. Ohh iya Lady... ingat ucapan Her Highness. Berhati-hatilah, karna setiap malam mungkin akan ada pembunuh yang datang ke kamar anda"


Setelah Calista, Isac dan Alex pergi dengan wajah kesal tanpa berniat menjawab ucapan Carl, Keelft terkekeh pelan sambil menatap bergantian pada Lucas, Carl dan Gregory


"Ayo taruhan, berapa malam dia tidak akan bisa tidur nyaman?"


\=\=\=❤❤❤❤


Yukk jejaknya yukkk

__ADS_1


__ADS_2