Behind The Castle

Behind The Castle
**DEMI FRANCIA**


__ADS_3

"Coret nama-nama itu agar tidak mengikuti pembahasan dalam rapat apapun selama His Highness belum kembali"


Carl mengerutkan alisnya sambil melirik Lucas yang baru masuk membawa nampan teh. Nampan yang pasti baru di antar Diana ke tempat mereka sekarang. Tempat rahasia mereka.


"Tapi Your Highness, ini akan menyinggung mereka"


"Memang itu maksutku"


Lucas dengan bingung mulai menuangkan teh ke cangkir Victoria yang sudah di tatanya


"Anda akan terlihat seolah sedang menabuk genderang perang pada mereka, Your Highness. Terlebih pada nama-nama ini..." Carl sedikit menggeser kertas dengan enam nama yang di tulis Victoria. "Mereka berbahaya"


Victoria terlihat tidak ingin berdebat dengan kekhawatiran Carl dan hanya mengangkat cangkirnya dengan anggun. Carl membuang nafas panjang dan kembali menatap dua kertas di tangannya.


Satu kertas berisi nama-nama orang yang terlibat dalam pembersihan Albany selain 'anjing' Raja. Dan satu kertas lagi berisi enam nama keluarga yang punya peran dalam pemicu terbakarnya suara untuk menolak Victoria. Nama Adam ada di sana, dan dia sudah mulai menjalankan aksi protesnya dengan kemarin tidak menanggapi dan tidak datang pada rapat yang di buat Victoria. Mereka juga adalah otak dari kejadian pelecehan Victoria. Entah Victoria sudah tahu atau belum tentang yang terakhir ini tapi, semua ini membuat Carl khawatir dan cemas, terlebih saat ini Fredrick sedang tidak ada dan Raja George semakin sulit keluar kamarnya. Insting Carl mengatakan jika Victoria bisa saja dalam bahaya, entah sekarang ataupun nanti


"Maaf Your Highness, tapi, bisakah anda memikirkannya lagi"


Lucas yang ikut bersuara membuat Carl langsung menatapnya, dalam tatapan mereka, mereka langsung saling berbagi kecemasan. Tidak hanya insting Carl yang langsung berbunyi tapi juga Lucas.


"Keputusaku tetap sama. Kalian hanya perlu melindungiku"


Carl mengeryir dengan Lucas yang langsung mengerutkan alisnya dalam. Permainan apa yang sebenarnya ingin Victoria mainkan? Pertanyaan itu langsung memenuhi kepala kedua kesatria itu.


"Tadi pagi surat dari Albany sudah sampai" Di atas meja, Victoria menggeser amplop yang masih tersegel stempel Albany ke arah dua pria di depannya. "Nanti serahkan pada His Majesty dan ini juga" Victoria menggeser sebuah amplop lagi dengan stempel yang sudah terkoyak dan itu Stempel... Larina?


"Your Highness ini...."


Mata Carl langsung membulat, Lucas yang juga melihat amplop itu tidak kalah terkejut hingga menatap Victoria dengan mulut sedikit terbuka


Dengan tenang dan meraih biskuitnya Victoria mengangguk untuk meyakinkan Lucas yang Carl


"Benar. Tolong serahkan pada His Majesty dan tunggu jawabannya"

__ADS_1


Lucas segera mengangguk dan memasukkan surat ke dalam rompinya.


"Kalian terlihat sangat terkejut. Kenapa?"


Dengan gusar Carl menggeleng pelan


"Tidak apa-apa Your Highness"


Dengan tidak percaya, Victoria menatap kedua pria di depannya penuh selidik


"Aku dengar, pernah terjadi sesuatu di Larina.. apa kalian tahu itu apa?"


Meskin nada suara Victoria terdengar santai tapi, isi pertanyaan pada nada suara itu sangat membuat Carl dan Lucas gelisah, mereka semakin gusar. Dan, Victoria mengankap itu semua.


"Kami tidak tahu Your Highness, sungguh. Cerita tentang Larina dan isinya hanya kepala-kepala penting di istana yang tahu"


'Baiklah berarti aku memang harus mencari tahu sendiri'


Sambil kembali menyesap isi cangakirnya, Victoria berguman di dalam batinya. Dia memang tidak berharap mendapatkan jawabn dari mereka, lebih tepatnya. Dia tahu jika hanya orang-orang di atas tahta yang mempunyai jawaban atas pertanyaan itu.


Ada beberapa kursi yang kosong, tanda jika kursi yang tersedia tidak terpakai. Tentu saja, karna undangan yang di berikan Victoria untuk rapat kali ini tidak sampai pada semua orang-orang yang biasa hadir. Meski saat awal baru di mulainya rapat timbul pertanyaan tapi Victoria tidak peduli dan tidak berniat menjelaskan, kenapa kursi-kursi itu bisa kosong.


Rapat terus berlanjut dengan agenda pertahanan kerjaan. Jujur saja Victoria sudah mencoba mempelajari tentang pertahanan tapi sepertinya dia memang tidak bisa mengerti dengan baik, seperti sekarang, saat Marquess Mincheas dan para gentlemen lain sedang membahasnya. Victoria hanya mendengarkan dengan tenang tanpa bisa membuka suara dan memberikan masukan apalagi untuk mengambil keputusan. Victoria membuang nafas panjang


Marquess Mincheas yang memang sudah menyadari keterdiaman Victoria terlebih karna suara nafas Victoria yang terdengar di sampingnya, menghentikan ucapannya lalu menatap Victoria


"Apa anda punya pendapat lain Your Highness?"


Dengan wajah meyesal Victoria menatap semua wajah di dalam ruangan.


"Maafkan saya, sejujurnya saya tidak terlalu mengerti tentang ini semua. Bukan berarti saya tidak mendengarkan rencana, masukan dan argumen para gentlemen tapi saya hanya tidak bisa terlalu memahami tentang pertahanan, pembagian pengawasan, prorokol keselamatan dan pertahanan serta gambaran tentang apa saja yang harus dan akan di perankan para prajurit serta kesatria. Sekali lagi maafkan saya"


Marquess Mincheas menatap Victoria sambil mengangguk maklum, banyak kepala juga yang terlihat bisa memaklumi kekurangan Victoria. Earl Xenas yang sebenarnya tidak tampak terkejut juga mengangguk maklum. Untuk urusan seperti ini memang harus mempunyai pengalaman langsung serta memang harus melihat langsung, sedangkan Victoria yang biasanya berargumen dengan mengandalkan wawasan dan kecerdasan tidak akan bisa menggambarkan semua ucapan mereka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Your Highness, kami bisa paham. Tapi seiring berjalannya waktu, saya yakin anda akan bisa memahami semua tentang kekuatan kerajaan"


Dengan wajah ramah dan nada suara yang tenang, Duke Argentt mencoba menjelaskan pikiran sebagian besar para pria di sana. Karna, Victoria yang sebelumnya selalu memimpin rapat seperti seorang lioness beta pemimpin, saat ini gerak geriknya tampak terlihat seperti seorang lioness anggota pride biasa dalam kawanan singa yang sudah berpengalaman dalam berburu.


"Terimakasih atas pengertiannya. Saya harap kalian bersedia membimbing saya yang masih banyak memiliki kekurangan ini"


Victoria menundukkan dalam kepalanya


Mendengar dan melihat Victoria yang merendahkan dirinya, dirinya yang memiliki gelar dan status lebih tinggi dari mereka, terlebih, gelar masa depannya yang akan menjadi beta untuk seluruh kerajaan yang tidak akan terbantahkan, membuat mereka semua langsung sadar diri dan ikut menundukan kepala penuh hormat


"Sudah tugas kami Your highness putri Victoria"


Setelah permintaan maaf penuh drama Victoria, rapat kembali berlanjut dengan Victoria yang memasang telinga dan isi kepala dengan serius. Menyerap, mempelajari dan mengingatnya dengan baik ke dalam kepalanya. Hingga rapat akhirnya selesai, menyisakan empat orang di sana. Victoria, Marquess Mincheas, Earl Xenas dan Carl.


"Hasil ini akan saya diskusikan lagi dengan tuan Edward, Your Highness. Biasanya jika His Highness Pangeran Fredrick sedang tidak ada atau masih belum terlalu yakin untuk memberi stempel keputusan maka, tuan Edward lah yang akan kami ajak untuk ikut memilih mengambil keputusan akhir"


Ahh jadi begitu... Victoria baru mengerti semuannya sekarang. Pantas saja Edward bisa menjadi orang sepenting itu di istana, tugasnya bukan hanya menjadi 'anjing' paling tinggi di istana tapi juga punya banyak peran penting dalam mengurus urusan seluruh hal yang berhubungan dengan kekuatan kerajaan.


Setelah Marquess Mincheas keluar dari ruang rapat. Di depan meja tinggalah Earl Xenas dan Victoria. Dengan wajah datarnya yang khas, Victoria menerima kertas-kertas yang di berikan Earl Xenas.


"Earl Xenas"


Earl Xenas menaikkan arah pandangnya dari kertas di atas meja dan menatap Victoria tanpa menjawab. Melihat jika memang belum ada keramahan dari Earl Xenas, Victoria semakin yakin untuk mengatakan pemikirannya terlebih dahulu, sebelum mereka memulai pekerjaan sebagai seorang istri Putra Mahkota dan penasehat penting Raja


"Sebelum kita memulai semua ini, saya ingin mengatakan jika. Saya tahu jika anda tidak suka dengan saya, tapi saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik karna saya dengan serius akan menerima bimbingan dari anda, Earl"


"James" Earl Xenas langsung memimpali ucapan Victoria yang membuat kedua alis Victoria terangkat. Earl Xenas melanjutkan maksut ucapannya. "Gunakan nama saya, Your Highness. Dan tentu saja saya akan melakukan yang terbaik. Saya tidak akan kekanakan karna ini semua demi Francia, Kerjaan kita"


Meski nada suara Earl Xenas yang terdengar di telingat Victoria sangat tidak bersahabat tapi, isi ucapan Earl Xenas langsung membuat Victoria mengangguk setuju


"Deal, James"


\=\=\=💙💙💙💙

__ADS_1


Ayukk bisa yukk jejaknya di tinggalin


Salam sayang semua✨


__ADS_2