Behind The Castle

Behind The Castle
**CALISTA PREGNANT**


__ADS_3

Air bersih dan jernih di dalam bak masih memerah, walaupun sebelumnya Diana sudah menganti air itu dengan yang baru.


Bibirnya masih gemetar, suara sisa isakannya masih terdengar, kedua tangannya yang masih gemetar terus menggosok seluruh kulit Nyonyannya yang terus diam membisu dengan tatapan kosong.


Banyak hal yang ingin di tanyakan Diana, banyak hal yang ingin di katakan Diana, banyak hal yang ingin di ungkapkan Diana, banyak hal yang ingin Diana ketahui tapi, mulutnya keluh tidak bisa mengatakan apapun selain mengeluarkan isakan. Terlebih karna Victoria yang tidak menangis sedikitpun.


Itu mengerikan. Sangat mengerikan jika seseorang yang kehilangan keluarganya dengan cara yang menyakitkan hanya terus diam membisu.


Setelah selesai, Diana memegangi tubuh Victoria dengan kuat dan hati-hati. Membawa tubuh itu untuk keluar dari dalam bak mandi untuk membilasnya.


Victoria yang sudah mengerti segala proses mengikuti dan langsung merentangkan tangannya agar Diana bisa menyematkan piama mandi.


Dengan langkah hati-hati Victoria keluar kamar mandi dan menatap sekeliling kamarnya kembali. Di kamarnya yang sekarang, lebih banyak lagi menyimpan kenangan bersama Grey. Victoria tersenyum. Senyum yang membuat Diana tahu jika, hati Victoria sudah membeku dan mungkin tidak akan tertolong lagi.


--000--


Raja George memejamkan matanya dengan kuat setelah mendengar semua cerita dari Edward yang memandangnya dengan lekat. Cerita yang baru saja terjadi satu jam yang lalu, kejadian di belakang Castle Drachenburg.


"Apa semua masih terlihat samar Ed?"


Edward mengangguk


"Masih samar tapi sudah bisa mulai kita mengerti arah mereka akan kemana"


Dengan berat, Raja George membuang nafas lelahnya. Edward yang melihat itu kembali membuka suara


"Apa Her Highness akan baik-baik saja Your Majesty?"


Raja George hanya diam dengan mata yang masih tertutup kuat. Melihat jika Raja George memang tidak ingin menjawab, Edward hanya diam dengan menelan pemikirannya


"Bersiaplah untuk awal yang sesungguhnya Ed"


Dengan segala hormat, Edward langsung menekuk lututnya, dengan satu lutut yang menyentuh lantai dan kepala menunduk dalam.


"Saya siap dengan seluruh kehormatan kesatria saya, Your Majesty"


Kedua mata Raja George terbuka perlahan saat Edward sudah pergi dan menutup pintu. Mencoba bergerak dengan susah payah untuk menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang, ke dua bola mata abu-abunya tampak mengkilap terang di kegelapan kamar


"Tuhan.. tolong, tolong lindungi kedua anak itu dan juga kerajaan ini"


--000--


Pagi hari di Castle Larina yang biasanya terlihat hampa dan kosong tidak terjadi untuk pagi ini karna, para penghuninya yang sedang menikmati kudapan dan teh sedang terlihat bersemangat. Raut wajah antusias dan penuh senyum membuat suasana mereka tampak semakin menghangatkan seluruh isi Castle.


"Tragis, kematian yang cukup tragis... tidak terbayangkan jika akan sedramatis itu"


Nina mengangguk sambil menuangkan isi cangkir di depannya.


"His Highness pasti khawatir pada 'anak itu' Your Majesty"


"Emmm.. kau benar. Kasihan dia" Suara kekehan halus meluncur dari bibir Nina yang membuat Ratu Elisabeth menoleh padanya. "Kenapa?"


"Anak itu bahkan tidak menangis, Your Majesty. Dia hanya terus diam bahkan saat tubuh anjingnya sudah di tutup dan tenggelam di dalam tanah"


Kekehan halus ikut meluncur dari bibir Ratu Elisabeth

__ADS_1


"Hati batunya sekarang sudah membeku ternyata"


Nina mengangguk setuju


"Anak itu mengerikan"


"Belum"


Kedua alis Nina terangkat sambil menatap wajah tersenyum anggun Ratu Elisabeth


"Dia masih bisa lebih mengerikan lagi"


"Benarkah Your Majesty?"


Ratu Elisabeth terkekeh geli


"Kau tidak percaya padaku Nin?" Nina tersenyum geli sambil menggeleng singkat. Ratu Elisabeth yang melihat rasa penasaran Nina kembali membuka mulutnya. "Jangan lupakan dari mana dia lahir. Arathorn yang licik dan cerdik. Rubens yang pintar memainkan peran dan menilai keadaan. Terlebih siapa yang membuatnya sekarang, dia asah dan di didik dengan permainan George. Castalarox si penguasa kerajaan" Kali ini Nina yang sudah mengerti mengangguk paham. Ratu Elisabeth kembali membuka mulutnya dengan berguman. "Kita harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah Nin"


Tubuh Nina langsung membungkuk dalam


"Akan saya lakukan, Your Majesty"


--000--


Dengan tubuh yang sudah terbalut mantel dan topi gentleman-nya. Arthur segera menuruni tangga Castle menuju pintu keluar. Dia harus mengecek pasar-pasar dan juga keluhan penduduk Albany karna musim dingin sudah di pertengahan


Saat kaki jenjangnya baru selesai menapaki seluruh tangga, seorang pengawal datang, yang membuat langkahnya terhenti


"Selamat pagi, Your Grace"


Arthur mengangguk singkat


"Ada surat datang yang harus langsung sampai ke tangan anda, Your Grace"


Pengawal itu langsung menyodorkan surat yang langsung di sambut Arthur. Amplop surat biasa, tanpa segel, tanpa tanda-tanda jika surat itu berasal dari orang penting dan mungkin isinya juga tidak terlalu penting. Itu yang di pikirkan Arthur sebelum membaca isi surat, isi surat yang langsung membuat tangannya terkepal dengan rahang mengeras. Athur menaikkan arah padangnya pada pengawal yang mengantar surat.


"Serahkan ini pada Joseph, lalu lenyapkan. Kau mengerti?"


Suara tegas Arthur membuat pengawal itu langsung menyambut surat dan menunduk dalam


"Baik Your Grace"


"Katakan pada Bety, untuk menyiapkan kamar Victoria"


--000--


Perasaan hampa sangat di rasakan ketika sore ini, dia menemani Victoria untuk berjalan-jalan di taman yang penuh salju. Biasanya, mereka akan membawa Grey untuk bermain tapi....


Diana membuang nafas panjang sambil menekan segala perasaannya, dan itu membuat Victoria menoleh padanya


"Kenapa Di? apa kau lelah?"


Dengan cepat Diana memaksa senyumnya dan menggeleng


"Tidak Your Highness"

__ADS_1


"Kau semalaman menangis. Apa kepalamu sakit?"


Kembali Diana memaksakan senyumnya


"Saya baik-baik saja Your Highness..." Diana menjedah karna pertahanannya mulai goyah hingga matanya berkaca-kaca. "Apa anda baik-baik saja?"


Senyum tipis tercetak di bibir Victoria, entah senyum itu sampai ke hati atau tidak. Victoria memalingkan wajahnya dari Diana dan menatap kolam istana selatan. Tempat yang paling di sukai Grey.


"Aku baik-baik saja"


Diana mengepalkan tangannya dengan kuat agar tidak terisak. Tidak! bohong! Victoria sedang tidak baik-baik saja! Diana tahu Victoria sedang membohongi dirinya luar dan dalam. Diana tahu itu.


Melihat Victoria kembali melangkah, Diana mulai mengikuti langkah Victoria dan, penampakan seorang wanita di ujung taman, dekat dengan samping kanan kamar Victoria membuat amarah Diana terbakar. Diana melirik Victoria yang juga terdiam. Dengan raut wajah berubah dingin dan sorot mata tidak terbaca


Kembali Diana menatap penampakan itu, yang sekarang sudah berjalan semakin mendekat pada sebuah gundukan tanah. Amarah Diana lepas kendali


"Wanita itu!!"


"Sstt"


Diana kembali menutup mulutnya saat Victoria memperingatkannya dan menoleh dengan pandangan bertanya. Victoria yang mengerti perasaan Diana tersenyum tipis


"Kau tidak suka dia di sana Di?"


"Pertanyaan apa itu Your Highness? Dia yang membuat Grey...."


Merasa tidak sanggup meneruskan ucapannya, Diana hanya bisa menggigit bibirnya, karna dia kembali ingin menangis.


Victoria melirik Diana sekilas lalu melanjutkan langkahnya, langkah mereka yang memang akan kembali ke kamar. Semakin mendekat, semakin Victoria bisa melihat raut wajah di balik tudung hitam itu. Entah kenapa wanita itu repot sekali memakai semua kostum berkabung, entah apa drama yang ingin di mainkannya tapi, yang paling menjadi pertanyaan Victoria. Kenapa dia bisa masuk ke istana lagi? terlebih di istana selatan. Istana miliknya!



Melihat jika ada yang mendekat, Calista menoleh ke samping lalu tersenyum


"Selamat sore Your Highness"


Diana hampir maju untuk menjambak vail wanita di depannya yang terlihat sangat tidak tahu malu itu, tapi Victoria mendahului langkahnya, dengan suaranya yang terdengar


"Kenapa kau di sini Lady Calista?"


Calista merubah senyumnya dan juga raut wajahnya, wajahnya yang di buat sesedih mungkin


"Maafkan kelancangan saya Lady, tapi saya hanya ingin meminta maaf tentang semalam"


Diana memutar bola matanya dengan malas. Wanita yang sekarang sangat, sangat, sangat dan sangat di bencinya itu pantas di siksa!.


Victoria menaikkan satu alisnya sambil melirik dua orang kesatria yang bersama Calista.


"Kenapa anda meminta maaf Lady? apa karna anda menyesali sesuatu?"


Calista langsung mengangguk


"Iya Your Highness. Anda tahu jika semalam adalah kecelakaan, saya...." Calista menjedah dan melirik sekitar, lalu melanjutkan. "Saya harus melindungi diri saya karna.. "Calista tersenyum sambil mengusap perut ratanya. "Saya sedang mengandung bayi His Highness Pangeran Fredrick"


\=\=\=💛💛💛💛

__ADS_1


Ayukkk jejaknya yukkk


Salam sayang semua✨


__ADS_2