Behind The Castle

Behind The Castle
**POWERFUL FAMILY**


__ADS_3

"Lehermu akan sakit jika terus di posisi itu"


Bisikan lembut dengan nafas yang terasa hangat di telinga Victoria membuatnya kembali meluruskan kepalanya, menyadarkan dirinya pada keadaannya sekarang. Fredrick yang melihat respon Victoria menepuk pelan tangan Victoria yang melingkar di lengannya. Victoria menaikkan arah pandangnya untuk menatap wajah tampan Fredrick.


"Aku ingin melihat keluargaku"


Fredrick mengangguk singkat dan melangkah yang membuat Victoria mau tidak mau ikut melangkah, langkah Fredrick menuju ke sebelah Raja George yang tersenyum menatap ke depan, tapi ke dua bola mata abu-abunya menatap dengan dingin.


Fredrick memutar tubuhnya hingga Victoria bisa menatap ke arah pintu dan ke arah keluargannya. Senyum Victoria merekah saat melihat enam pasang mata yang sedang menuju ke arahnya terus menatapnya dengan berbinar bahkan Merchoiness Elis, adik bungsu ibunya terus mengusap ujung matanya dan sesekali mendongak untuk menghalau air matanya


Victoria merasa waktu sangat lama berjalan, langkah kaki tiga masang suami istri itu terasa sangat pelan, Victoria melirik sekitar untuk melihat respon tamu undangan, dan seperti yang sering di lihatnya pada pesta dansa dan ulang tahun keluargannya, respon mereka masih sama, terlalu berhati-hati. Tidak ada lagi satupun kipas yang terbuka, tidak ada lagi kepala yang menempel, tidak ada lagi lirikan penuh penilaian dan kesinisan seperti yang dia dapatkan tadi karna, 'Powerful Family' has arrived.


"Selamat malam Your Majesty, terimakasih atas undangan berharga ini, selamat ulang tahun dan...." Duke of Ross, uncle Thomas, kakak ibunya, yang sekarang pasti sudah menjadi ketua Parlemen menggantikan ayahnya yang sudah di buat pensiun secara paksa menjedah ucapannya, kedua bola mata hijau tuanya melirik Victoria sebelum kembali melanjutan ucapannya. "Semoga panjang umur"


Senyum culas dari duchess of Ross terbit, kakak ipar ibunya, Jasmine Rubens terang-terangan di tunjukkan ketika suaminya selesai berucap, Bibir Duke of Ross berkedut untuk menahan seringainya yang membuatnya harus menekan bibirnya, melihat itu Victoria mengulum senyum.


"Terimakasih atas kedatangannya Duke dan Duchess of Ross"


Duke Thomas, uncle-nya, melirik seseorang yang ternyata sudah ada di belakang mereka, membawa sebuah kotak sangat besar dengan pita besar berwarna merah, hijau, putih dan biru, lambang warna yang mewakili ke empat 'Powerful Family'. Merah untuk politik of Ross, hijau untuk kesuburan of Albany, putih untuk medis of Lorne dan biru untuk laut of Bedford. Sebuah tanda jelas untuk Raja George dan sebuah peringatan, jika mereka penguasa wilayah terkuat di kerajaan Francia.


"Selamat ulang tahun Your Majesty, semoga selalu sehat"


Suara Marquess of Lorne membuat bola mata Victoria bergerak dari Duke dan Duchess of Ross mendarat ke pasangan of Lorne. Merquess of Lorne, Charles Wood, adik ipar ibunya. Marchioness of Lorne, Elis Wood adik ibunya menatap lekat Raja George dengan tersenyum ramah, keluarga yang terkenal paling ramah di lingkaran 'Powerful Family' sedang mempertunjukan keramahannya.


"Terimakasih Marquess dan Merchioness of Lorne"


Raja George membalas senyum ramah mereka dengan tak kalah ramah. Victoria kembali menatap pasangan Lorne, aunty Elis-nya terlihat mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan uncle Charles-nya, aunty Elis-nya yang terkenal cengeng pasti sedang menahan diri mati-matian untuk tidak menangis dan sangat keras memalingkan wajahnya agar tidak selalu menatap Victoria.

__ADS_1


Victoria ikut membantu pertahanan aunty-nya dengan tidak mencoba menatapnya dan mengalihkan tatapannya pada sang Marquess, dan saat tatapan mereka bertemu, Mata kanan hazel-nya berkedip. Victoria menggigit bibirnya, batinnya bertanya-tanya, apakah itu sinyal? apakah pesan gaun kotor dan wajah cemas pendampingnya sampai dengan baik ke telinga sang Marquess? Victoria tidak sabar untuk segera mencari tahu.


"Selamat! Selamat! Selamat ulang tahun Your Majesty.... tahun ini kenapa di mata saya anda terlihat semakin tampan dan bahagia, saya harap anda akan selalu begitu.


Victoria mengulum senyumnya ketika Earl Albert, adik ayahnya yang selalu dramatis bersuara, sama halnya dengan sang istri, adik ipar ayahnya, Tatiana Arathorn yang mengulum senyumnya sambil menutup matanya karna suara suaminya yang dramatis dan.......... penuh sindiran.


"Terimakasih Earl dan Countess of Bedford"


Victoria melirik Raja George yang sekarang tersenyum penuh makna? dan benar saja, saat Victoria baru mencoba memahami maksut senyum tersebut, sedikit keceriaan dan senyum yang ada di bibir keluarganya seketika lenyap ketika Edward maju dan meraih kotak besar kado dari tangan ajudan Duke Thomas. Victoria bisa melihat kilapan tajam dari mata-mata hijau sedarah ibunya, uncle Thomas dan aunty Elis-nya yang penuh amarah menatap Edward.


Victoria menekan bibirnya, Apakah seperti ini pandangan mataku ketika aku melihat Edward?


Tatapan penuh amarah tapi juga menyimpan luka luas, Victoria mengepalkan tangannya dengan kuat, tidak masalah untuknya ketika dia yang terluka tapi jangan keluarganya, rasanya lebih menyakitkan ketika melihat orang-orang yang kau sayangi terluka.


"Well...!! Well...! well...!!"


"Ohh ya Tuhanku.... Maafkan kami yang lancang ini, hei kalian ini...." Earl Albert menatap bergantian pasangan Ross dan Lorne bahkan istrinya, lalu menatap ke sebelah Victoria, aahh... sedari tadi Victoria tidak sadar jika dia sedang melingkarkan tangannya pada salah satu orang terpenting lagi di kerjaan ini. "Kalian ini belum memberi salam pada Putra Mahkota kita yang terhormat"


Victoria merasakan sindiran sangat kuat menghantam telinganya, dengan ragu dia melirik Fredrick yang hanya tersenyum santai dan tenang?


"Tidak masalah Earl Albert, saya bisa mengerti 'perasaan' kalian"


Victoria meneguk ludahnya dengan kasar, jelas ini akan menjadi ring pertarungan melempar sindiran, Victoria sangat paham kenapa uncle Albert-nya bisa menjadi ketua umum tingkat satu di parlemen, mulutnya yang lincah dan pintar berkilah membuatnya sangat suka menjadi juru bicara dan memilih untuk jabatan yang sebenarnya bukanlah hasil dari keputusan orang banyak, dia bisa berada di jabatan lebih tinggi lagi tapi, dia memilih sendiri tempatnya dan akan selalu begitu, dialah yang selalu mengajari Victoria kegiatan yang jauh dari seorang Lady dan cara berpikir yang sangat bukan seorang Lady.


"Aaahh.. anda sangat bijaksana sekali Your Highness, seperti biasa"


Kembali Victoria meneguk ludahnya dengan kasar, Victoria melirik keluarganya yang tampak sudah mengambil posisi untuk menjadi penonton.

__ADS_1


"Earl Albert memang selalu sangat pintar dalam berkata" Fredrick tersenyum santai, menyesap champane-nya, lalu menatap Victoria dengan lekat. "Sekarang saya tahu dari mana kepintaran calon tunanganku yang manis ini, bukan begitu sayang?"


Victoria hampir memuntahkan sup salmon kacang polong yang menjadi menu makan malamnya, bulu kuduknya merinding hingga dia meringis, Victoria menatap Fredrick dengan tajam, Fredrick hampir terbahak melihat wajah Victoria yang seperti akan meludah ke wajahnya.


"Ohh... anda terlihat sangat menyukai keponakan saya Your Highness atau...." Earl Albert memutar dengan tajam bola matanya kebelah kanan, ke arah dinding aula, tempat biasanya Lady-in-waiting menunggu, mata Victoria membulat dan bibirnya langsung menyeringai. "Atau hanya perasaanku saja?"


Otot tangan Fredrick yang melingkar di tangan Victoria menegang, Victoria merasakannya ketika pesan uncle Albert-nya pasti sampai dengan baik pada Fredrick. Di sana di depan dinding kanan aula, di depan gorden merah menyala, ada seorang gadis bergaun merah senada dengan warna rambutnya, merah menyala.


Earl Albert menatap Victoria dengan satu mata biru, sebiru mata ayahnya berkedip dan itu berarti pesan Victoria telah sampai ke Lorne bahkan hingga ke Bedford.


"Tentu... bagaimana saya tidak menyukai gadis manis dan cerdas seperti Lady Victoria, iya kan sayang?"


Lagi, sup salmon kacang polong yang berada di perut Victoria kembali bergerak untuk naik, untung saja korsetnya malam ini tidak terlalu kencang karna tadinya, Victoria menyiapkan diri jika saja keadaan tiba-tiba berubah, dia bisa melarikan diri bersama keluarganya tanpa perlu tercekik korset yang menahan nafasnya. Sayangnya fungsi korset tidak terlalu kencangnya sekarang berubah dari rencananya.


"Oohh... oohh... oohh.... begitu yaa Your Highness.... anda pasti sudah menjaga keponakan saya dengan baik, jadi...." Earl Albert menjeda dan menatap Fredrick dengan tajam. "Apakah saya bisa mempercayakan keponakan saya kepada anda..." Earl Albert kembali memutar dengan tajam bola matanya ke kanan. "Saya mohon Your Highness jangan tersinggung karna ini hanya naluri kekhawatiran dari orang tua yang tidak bisa saya tahan, keponakan saya adalah yatim piatu, dan satu-satunya yang tersisa hanya kakak laki-lakinya, itupun Arthur sangat jauh dan sedang berada di jalannya sendiri untuk berjuang hidup, sekali lagi maafkan saya"


Setelah mengatakan itu, dengan gerkan sopan dan penuh penghormatan Earl Albert membungkuk dalam. Victoria menekan dengan kuat giginya agar tidak tertawa atau terbatuk terlebih setelah melihat udara di dalam ruangan, aahh.... musim salju ternyata bisa berada di tengah-tengah musim semi kerajaan Francia.


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Hallo readers.....


Masih mau lanjut? semoga kalin masih tertarik membaca yaa...


jangan lupa komen, like, bintang dan lope-nya yaa...


Salam sayang semua✨

__ADS_1


__ADS_2