Behind The Castle

Behind The Castle
**ARTHUR**


__ADS_3

Kedatangan Victoria dan Fredrick di sambut hormat oleh para prajurit yang baru sampai di camp. Beberapa di antara mereka langsung saling berbisik, beberapa lagi tampak menatap mereka dengan penasaran, beberapa menatap mereka dengan aneh, beberapa lagi menatap dengan meremehkan dan beberapa lagi tampak tidak peduli. Semua tatapan itu membuat tanda tanya besar di kepala Victoria. Akan seperti apa tatapan kakaknya nanti?


"Mereka baru selesai menerima pengahargaan Your Highness"


Seorang kesatria yang melihat kedatangan mereka segera berlarian dengan tergopo-gopo, terlebih karna keadaan sekitar yang seperti tidak berminat untuk menyambut mereka. Bisa di mengerti kenapa respon para prajurit seperti itu, kelelahan setelah perang dan semua fasilitas kenyamanan yang sudah bertahun-tahun tidak mereka rasakan, membuat mereka cukup canggung dan semakin ingin segera menuju kamar peristirahatan mereka.


"Di mana kamar para pahlawan pemimpin?"


Tanpa membuat Fredrick dan Victoria menunggu, kesatria itu segera mengantar mereka ke sudut camp. Ada beberapa ruangan yang tampak sedikit khusus di sana. Jika kamar untuk para prajurit di batasi dan di tutup dengan selembar kain lebar dan tinggi yang menutupi hingga ke atas. Kamar untuk pahlawan utama benar-benar di berikan ruang kamar. Meski tidak mewah tapi terlihat kenyamanan di sana.


Victoria mengedarkan arah pandangnya dengan pikiran menerawang dan perasaan penuh tanda tanya. Jika yang tampak di depannya sekarang sudah termasuk nyaman untuk mereka, bagaimana saat perang berlangsung? apakah Archi-nya kesulitan? apakah dia bisa tidur dengan nyaman? bagaimana makannya? bagaimana kebutuhannya yang lain? tapi yang terpenting dari itu semua adalah, apakah kakak laki-lakinya itu baik-baik saja dan tidak terluka.


"Apa yang kau pikirkan?"


Suara Fredrick membuat Victoria kembali ke alam nyatanya dan tersenyum tipis


"Aku hanya memikirkan Archi"


Fredrick mengangguk maklum dan membawa Victoria menuju ke koridor lebih dalam. Di sudut paling akhir koridor, ada beberapa prajurit yang sedang bercengkrama dengan beberapa gadis pelayan. Para gadis terlihat saling tersenyum malu-malu terlebih saat para prajurit itu mulai memegang tangan, memegang wajah dan berbisik tepat di telinga mereka. Kembali Fredrick tersenyum maklum. Para prajurit itu sudah dewasa dan sebagai pria normal, mereka butuh hiburan dan mungkin pelepasan. Dia sangat paham bagaimana tekanan dan sulitnya kehidupan yang ada di tengah-tengah medan perang.


"hhmmm..."


"Kenapa?"


Fredrick bertanya sambil mengikuti arah pandang Victoria


"Dan sekarang mereka masuk ke kamar??"


Dengan raut wajah polos dan tampak penasaran, Victoria mendongak untuk menatap Fredrick yang menyeringai


"Mereka akan membantu untuk membersihkan kamar Vic. Abaikan saja"


Jawaban Fredrick membuat Victoria tidak percaya tapi juga tidak peduli. Sambil mengedipkan bahunya acuh, Victoria kembali mengedarkan arah pandangnya saat mendengar beberapa suara langkah kaki. Dengan cepat Victoria memutar tubuhnya untuk melihat koridor di belakangnya. Rasa kerinduan dan juga gugup segera menyapa perasaan Victoria.


Di sana, di koridor yang mengarah pada arahnya sedang berjalan lima orang pria yang memakai baju jirah perang dari besi. Di sebelah tangan mereka memegang pelindung kepala mereka dengan pedang yang masih tersemat di ke dua pinggang mereka.




Dengan gagah dan dengan tatapan tajam, mereka semakin mendekat pada Victoria tapi, bukan semua itu yang menjadi fokus Victoria. Seorang pria yang tingginya Victoria tebak sekarang hampir setinggi Fredrick terus menatapnya. Kedua bola mata hijau kebiruan itu menatapnya dengan lekat dan dingin. Tidak ada raut wajah yang menunjukkan emosi apapun dari wajah pria itu saat menatap Victoria. Tidak ada balasan senyum yang tercetak di bibirnya saat Victoria memberikam senyum hangat dan harunya.


Langkah mereka semakin dekat hingga sampai di depan Victoria. Dengan sopan mereka langsung menyapa Fredrick dan Victoria, termasuk pria bermanik hijau kebiruan yang juga menyapa Victoria dengan formal. Victoria mengeryit heran dan akan membuka mulutnya tapi

__ADS_1


"Kami permisi Your Highness dan Lady Victoria"


Dengan cepat mereka memutar tubuh mereka ke samping untuk menuju kamar. Entah perasaan dan pikiran seperti apa yang sekarang di rasakan Victoria karna di abaikan kakaknya. Dengan cepat Victoria menahan lengan kakaknya yang terasa dingin karna terbalut baju jirah perang


"Archi...."


Kedua bola mata hijau kebiruan itu menatap Victoria dengan dingin dan tajam, tidak menunjukkan sedikitpun perasaan sedangkan Victoria, mencoba menekan perasaan kecewanya dengan tersenyum getir


"Ini aku...."


"Maafkan saya Lady, saya benar-benar ingin istirahat"


Dengan kasar, lengan yang ada di genggaman Victoria menghentak kasar yang membuat tubuh Victoria ikut terhuyun, entah karna hentakan atau karna perasaan sakit di dalam dadanya.


Fredrick yang menangkap semua situasi segera menangkap tubuh Victoria sambil menatap tajam wajah pria yang di rindukan dan sangat berharga untuk tunangannya itu


"Duke Arthur...."


Meski nada suara Fredrick tenang, tapi terdengar dingin dan tajam. Fredrick sedang memberikan peringatan dan ancaman dengan caranya


Si pemilik manik hijau kebiruan itu, Arthur. Menarik sebelah ujung bibirnya dengan menatap Fredrick dingin. Sepersekian detik mereka saling menatap dan saling memberikan pesan ke dalam tatapan mereka hingga Arthur memutuskan terlebih dahulu tatapannya tanpa menoleh dan tidak berniat untuk menatap adiknya lagi. Tubuh tegap dan gagah itu segera melesat menuju pintu kamarnya dan menghilang saat pintu yang di tutup


Kesadaran Victoria yang sudah kembali membuat refleks kakinya akan bergerak menuju pintu tapi, Fredrick menahannya


"Mereka lelah Vic, biarkan dulu"


"Kau tidak apa-apa sayang?"


Victoria kembali mengangguk ragu dan menatap Fredrick sambil tersenyum masam


"Dia mengabaikan ku"


Tangan Fredrick terulur membelai lembut surai Victoria sambil mengerling menggoda


"Seperti yang ku katakan, itu pasti karna kau yang semakin jelek, Duke Arthur terlalu syok melihat wajah jelekmu"


Meski Fredrick sudah mencoba mencairkan suasana tapi tetap, raut wajah Victoria tidak membaik dan memasang senyum yang di paksakan. Melihat suasana hati Victoria yang memburuk, Fredrick membawa Victoria untuk pergi dari sana. Victoria yang juga merasa sudah tidak bisa melakukan apapun mengangguk patuh.


Fredrick segera memberikan sikunya agar segara di gamit Victoria. Sebelum benar-benar memutar tubuhnya, Fredrick melirik pintu kamar yang di masuki Arthur. Ternyata, sedari tadi, pintu itu sudah kembali terbuka dan menunjukkan separuh wajah seseorang dari balik pintu. Wajah yang tidak terlihat sepenuhnya itu tetap bisa menunjukkan raut wajah dingin dengan menyunggingkan senyum punuh celaan. Fredrick membalas senyum itu dengan menaikkan kedua alisnya.


"Bash..."


"Hhhmm...??"

__ADS_1


"Sepertinya aku perlu kunci kamar di camp"


Kedua mata Fredrick menyipit dan mentap Victoria dengan penuh selidik


"Untuk apa?"


Victoria membuang nafas panjang


"Aku harus berbicara dengan Archi sebelum pesta usai, secepatnya"


Fredrick menyeringai dan menghentikan kakinya


"Jika ku berikan, apa yang bisa ku dapatkan sayang?"


Sambil memutar bola matanya dengan malas, Victoria melepas tangannya dari tangan Fredrick dan segera berjinjit. Kedua tangannya bertumpu pada kedua bahu kekar Fredrick. Menegakkan lehernya untuk mendekatkan bibirnya pada bibir Fredrick. Dengan mata terbuka lebar, Victoria memberikan sebuah ciumam singkat dan lembut di bibir Fredrick tanpa memperhatikan sedang di mana mereka sekarang, tanpa memikirkan jika bisa saja ada orang lain yang melihat mereka. Seperti yang sekarang Fredrick tangkap jika ada seseorang dari balik pintu yang segera merapatkan pintu kamarnya saat melihat bibir mereka bertemu


Setelah memberikan sebuah ciuman singkat, Victoria memperbaiki posisi berdirinya dan menatap Fredrick yang segera mengangguk patuh, bahkan sangat patuh. Bagai anak kecil yang baru saja di suap dengan mainan kesayangannya


"Kau suka sekali di cium Bash"


Kekehan Fredrick menggema


"Ohh percayalah Vic... Masih banyak hal lain yang nanti akan menjadi kesukaanku" Fredrick mengerling. "Persiapkan dirimu sayang.." Dengan pelan, Fredrick mendekatkan bibirnya di telinga Victoria dan berbisik lembut. "Ku harap, kau tidak akan menangis nanti"


Satu pukulan keras mendarat di dada Fredrick. Yang membuat gelak tawa Fredrick mengisi jalan koridor


"Isi kepalamu harus di bersihkan Bash... Ayo kita ke kapel untuk berdoa"


"WHAT!!! NO WAY!!!"


Kali ini, tawa Victoria yang menggema di sepanjang jalan koridor. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Victoria menarik lengan Fredrick yang dengan sangat tidak rela mengikuti langkah Victoria. Sebelum benar-benar berjalan menuju jalan ke luar koridor, Fredrick melirik pintu kamar Arthur yang sudah tertutup. Fredrick kembali berpikir. Entah apa yang ada di pikiran kakak laki-laki tunangannya itu dengan memberikan sikap penolakan pada Victoria, untuk sekarang hanya dia sendiri yang tahu.




Arthur Baneddict William


Age: 20 Y.O


\=\=\=❤❤❤❤


Yuk tinggalin jejaknya

__ADS_1


Vote-nya juga jangan lupa yaa


Salam sayang semua✨


__ADS_2