Behind The Castle

Behind The Castle
**PEMIKIRAN II**


__ADS_3

"Anda sudah sangat baik Lady"


"Tentu saja"


Victoria menyambar dengan cepat ucapan dokter Lily. Melihat kaki Victoria yang akan melompat ke lantai, Fredrick dengan cepat maju untuk menyambar tangan Victoria. Victoria merengut sebal


"Aku sudah sembuh dan berhenti memperlakukanku seperti orang lumpuh Bash"


Sambil berpura-pura tidak melihat dan mendengar apapun, tangan dokter Lily dengan cepat membereskan semua senjatan dokternya


"Kau harus pelan-pelan Vic"


"Aku sudah sembuh, lihat... kakiku sudah tidak memar lagi"


"Tapi kau tidak bisa langsung melompat begitu"


"Kau cerewet sekali Bash"


"Grey tidak akan menangis hanya karna kau lambat beberapa menit untuk menjemputnya"


"Diamlah cerewet"


"Vic! kenapa kau malah melompat-lompat!"


Dengan girang tawa cekikikan Victoria dan suara cerewet Fredrick terus berlanjut. Dokter Lily semakin mempercepat gerakan terakhir memasukan dan merapikan alatnya hingga pada gerakan terakhir untuk menutup box senjata kedokterannya.


"Saya mohon undur diri Your Highness dan Lady Victoria"


Fredrick akhirnya menoleh dan memberikan satu anggukan pada dokter Lily. Dengan tersenyum lebar Victoria sedikit menekuk lututnya pada dokter Lily.


"Terimakasih dokter Lily"


Dokter Lily segera menggeleng kuat


"Tidak Lady, ini sudah menjadi tugas dan kewajiban saya"


Victoria tersenyum hangat dan ikut mengantar dokter Lily hingga ke depan pintunya, di depan pintu Jeremmy sudah siap untuk mengantar dokter Lily.


Setelah kepergian dokter Lily, Victoria menaikkan satu alisnya menatap Fredrick


"Kau tidak ikut pergi?"


Fredrick menyeringai


"Tidak, aku sedang berbaik hati dan akan membantumu mandi"


Satu cubitan mendarat di tangan Fredrick, kekehan geli Fredrick segera meluncur hingga beberapa pelayan yang sedang lewat menoleh ke arah depan pintu kamar Victoria. Masih dengan sisa kekehannya, tangan Fredrick terulur untuk menangkup wajah Victoria. Victoria kembali menaikkam satu alisnya dan menatap wajah Fredrick yang sedang mengamati wajahnya dengan lekat.


Ke kiri ke kanan, ke kanan ke kiri lalu kembali lagi ke kiri dan kekanan hingga akhirnya Victoria mulai kesal


"Ck! apa yang kau cari di wajahku?"


"Jejak luka dan memar"


Victoria memutar bola matanya


"Setiap jam kau terus melakukan ini Bash, kau hanya beralasan"

__ADS_1


Fredrick tersenyum geli


"Kau benar, aku hanya beralasan"


"Jadi.. apa diagnosamu?"


"Clean"


Victoria tersenyum geli sambil mengerling


"Dan.....??"


"Manis"


Kekehan Victoria segera meluncur yang di ikuti kekehan Fredrick. Victoria kembali menatap Fredrick


"Kapan Diana sudah bisa kembali ke sisiku"


"Besok dia akan kembali ke sisimu"


"Dan....???"


Kembali Victoria mengerling pada Fredrick yang langsung mencubit pipinya.


"Besok kita bisa pergi"


Dengan mata berbinar dan tersenyum hangat, tanpa sadar atau sadar? Victoria melompat memeluk Fredrick. Fredrick terkesiap sepersekian detik, tapi dengan cepat segera mengatur pertahanannya dan membalas pelukan Victoria yang terkesan..... jantan. Kembali Fredrick terkekeh saat Victoria menepuk-nepuk dengan kuat punggung lebarnya, dengan cara jantan.


"Selanjutnya bawa akau jalan-jalan ke ibu kota"


"Itu sulit" Dengan acuh dan terkesan ingin kabur, Fredrick segera memutar tubuhnya ke arah koridor. "Aku banyak perkerjaan Vic, Bye"


"Jangan kabur Bash!"


Dengan kaki yang melangkah cepat dan lebar, tawa Fredrick menggema di sepanjang perjalanannya melewati koridor.


Setelah Fredrick tidak terlihat lagi, senyum Victoria langsung lenyap dengan raut wajah tak terbaca.


🍀🍀🍀🍀


Banyak bintang bertaburan, angin sesekali berhembus menggoyangkan dedaunan pohon yang mulai mengering, bintang malam di musim panas malam ini sangat banyak bahkan, terlalu banyak, tidak jauh berbeda dengan isi pikiran di kepala Victoria. Banyak hal yang di pikirkannya, banyak hal yang sedang coba di kaitkannya dan banyak hal juga yang sedang di cari kesimpulan olehnya, tapi, pikiran utamanya tertuju pada ucapan Kelly beberapa hari lalu. Bukan tentang masalah isi istana, tapi kaitan tentang Duchy dan pangan.


Victoria menarik nafas dalam sambil terus membelai kepala Grey. Bagaimanapun caranya, Victoria harus mencari tahu lebih banyak lagi.


"Grey, menurutmu apa rahasia His Majesty yang selama ini tersimpan rapat?"


Dengan setengah mata terbuka, Grey hanya diam terbaring manis di pangkuan Victoria


"Sebenarnya, ada apa dalam di Larina?"


Grey tetap hanya diam dan terus menikmati belaian tangan lembut di kepalanya


"Kenapa His Majesty sangat menginginkan ku? apa ini semua hanya karna keserakahan dan kelicikan mereka untuk memegang Albany? atau ada hal lain yang lebih dari itu?"


Dengan mata yang hampir menutup sempurna, Grey sudah tidak peduli lagi dengan suara apapun yang tertuju untuknya.


"Dan kenapa aku merasa semua ini juga ada kaitannya dengan Calista, bahkan dia bisa punya kesatria elit yang memihak untuknya dan tidak segan menyentuhku. Kenapa? bagaimana bisa? siapa dia sebenarnya Grey? atau...." Victoria mendesah lelah. "Dia punya bagian dari semua teka teki ini? tapi di bagian yang mana? di bagian apa?"

__ADS_1


Victoria melirik ke jendela yang tidak di tutupnya, angin malam yang berhembus sesekali membuat api lilin bergerak-gerak, helaian rambutnya sesekali berterbangan, tirai ranjangnya melebar dan berkibar.


"Tapi yang paling menjadi pikiranku, kenapa Kelly mengatakan jika mungkin saja, Duchy mempunyai peran besar dalam kehidupan ibu kota sekarang" Alis Victoria berkerut. "Perubahan heh..! Di bagaian apa? dan untuk apa?. Duchy milik Albany dan untuk penduduk Albany! Arathorn hanya berperan untuk sistem perdagangan kan Grey?"


Tangan Victoria berhenti membelai kepala Grey dan berpindah untuk memijat pelipisnya. Karna merasa jika kepalanya semakin berdenyut, Victoria memutuskan untuk segera tidur sambil meraih lonceng, untuk meminta Kelly membuatkan teh herbalnya.


🔆🔆🔆🔆


Di sisi lain, di Duchy Ross lebih tepatnya di castle Ross. Hiruk pikuk menyebar di dalam castle hingga ke luar sekitar castle Ross. Semua keramaian dan kesibukan mereka di sebabkan oleh persiapan untuk merayakan ulang tahun Duke tercinta mereka. Rakyat tampak senang dan bersemangat, bisa di lihat dari banyaknya kiriman bunga, surat, bahkan kado untuk Duke tercinta mereka, padahal, hari-H belum berlangsung.


Untuk membunuh waktu, Albert dan Charles mencoba menghitung tumpukan surat-surat dan kado-kado yang bertumpuk tinggi yang di letakkan di ruang biru, ruang keluarga kediaman Ross.


"Apa aku terlalu lama?"


Pintu yang terbuka dengan di ikuti suara seseorang membuat arah pandang Charles segera menatap sumber suara, sedangkan Albert masih sibuk membuka ikatan-ikatan tumpukan surat.


"Jadi....?"


Dengan penuh karisma dan ketenangan, Thomas mendaratkan bokongnya sambil mengeluarkan pertanyaan


"Apa para Ladies masih sibuk?"


Pertanyaan Albert di jawab dengan anggukan singkat Thomas. Albert yang melihat jika para iparnya sudah duduk di sofa dan siap, akhirnya membuka suara.


"Istana membalas surat kan?"


Thomas mengangguk pada Albert dan Charles


"Mereka akan datang"


Charles membalas dengan anggukan lalu menatap Thomas dan Albert bergantain


"Apa Uppton masih di perjalannan?"


Sambil merapikan kembali ikatan surat yang sudah di kacaukannya, Albert menatap Charles.


"Philip dan Ivon memberi pesan jika mungkin mereka akan sampai dini hari nanti".


"Kita harus menunggu Philip untuk membagi kepala"


Ucapan bijak Thomas membuat Albert dan Charles mengangguk.


"Sudah mendengar kabar terbaru dari para Ladies kita?"


Pertanyaan Albert di balas dengan anggukan Thomas dan Charles.


"Di kalangan ton, nama Victoria dengan cepat membaik, dan ini tidak baik"


"Mereka sudah bekerja sangat keras, seolah yakin jika kita akan membiarkan pernikahan terjadi"


Thomas menimpali ucapan Charles sedangakan Albert hanya diam tidak ikut membuka suara. Entah apa yang di pikirkannya, untuk sekarang hanya dia yang tahu.


\=\=\=\=🎀🎀🎀🎀


Yukk bisa yukk tinggalin jejaknya di tombol like, komen, bintang dan lope-nya yaaa


Salam sayang semua ✨

__ADS_1


__ADS_2