
"Bagaimana kabarmu Fred?"
Dengan acuh Fredrick menjawab Calista
"Baik"
Calista terus tersenyum menatap Fredrick, hingga Henry kembali terkekeh
"Sudah la-lama sekali kita ti-tidak berkumpul yaa, sepertinya ki-kita harus sering me-membuat janji lain"
Calista tersenyum dan akhirnya bola mata coklatnya berputar pada Henry
"Kau benar Hen, bagaimana akhir pekan nanti?"
"Akan kita a-atur nanti, ki-kita buat waktu sambil me-mengirim surat" Henry menjeda dan menatap Victoria. "Lady Victoria ju-juga harus ikut"
Seperti seorang penonton sungguhan yang tiba-tiba namanya di panggil, Victoria cukup terkejut tapi akhirnya mengubah kembali wajahnya menjadi datar
"Terimakasih atas undangannya, saya akan coba melihat waktu saya Your Highness" Victoria melirik Fredrick. "Bukan begitu Your Highness Pangeran Fredrick?"
Fredrick menurunkan arah pandangnya saat Victoria menyebut namanya, dengan menatap dalam ke dua bola mata hijau pekat Victoria Fredrick mengeluarkan suaranya
"Aku tidak bisa, ada beberapa hal yang harus ku kerjakan"
Mendengar jawaban Fredrick, Victoria mencibir
"Hal 'di camp'...??"
Fredrick mengulum senyumnya saat menangkap sindiran Victoria
"Itu prioritas Vic"
Dengan wajah malas Victoria memutar bola matanya yang membuat Fredrick terkekeh dan mencubit pipinya tapi, dengan cepat tangan Victoria menjauhkan tangan Fredrick di pipinya, Fredrick mengerutkan alisnya dalam, sorot mata hangatnya berubah. Victoria yang menyadari sedikit perubahan pada Fredrick mencoba memperbaiki suasana. Dengan mengangkat tinggi kepalanya, Victoria mendekat pada telinga Fredrick dan berbisik
"Saya memakai riasan wajah Your Highness"
Fredrick yang hampir tersinggung segera tergelak dan malah semakin mencubit pipi Victoria, matanya menatap Victoria dengan gemas.
Henry dan Calista yang terus memperhatikan kedua pasangan di depan mereka mencoba acuh, tapi sepertinya Calista cukup susah untuk menyembunyikan raut wajahnya. Masih dengan pipi yang di cubit Fredrick, Victoria menyempatkan matanya untuk melirik wajah Calista yang sudah mengeraskan rahangnya, senyum miring Victoria terbit.
"Lady Calista, anda sepertinya terlihat tidak asing, apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?"
Fredrick yang sudah kembali diam segera menoleh pada Victoria, Henry yang tadinya menatap sekitar ikut menoleh pada Victoria, dan Calista yang namanya di sebut menatap Victoria dengan tersenyum ramah
"Benarkah? suatu kebanggaan jika saya memang pernah bertemu Lady Arathorn"
__ADS_1
Dengan kepala tertunduk hormat dan nada suara formal Calista menjawab pertanyaan Victoria, walaupun Victoria mengerti sindiran yang di berikan Calista tapi dengan anggun dan tersenyum manis Victoria menjawab.
"Apa anda pernah ke Albany Lady Calista?"
"Belum Lady Victoria"
Hendry hanya mengamati dengan santai percakapan dua wanita cantik di depannya sedangkan Fredrick mulai waspada.
"Aahh.. begitu, berarti bukan di Duchy..... Apa itu berarti di istana Lady Calista? apa anda sering datang ke istana?"
Senyum Calista mulai memudar, Fredrick menatap Victoria dengan pandangan yang tidak bisa di artikan dan Hendry segera menarik kursi penontonnya.
Cukup lama Victoria menunggu jawaban Calista, hingga akhirnya suara lembut dan sedikit serak Calista kembali terdengar
"Tidak pernah Lady Victoria, saya tidak punya kepentingan di istana"
Kekehan tanpa rasa humor Victoria membuat Fredrick meneguk ludahnya dan Henry menaikkan satu alisnya.
"Oh.. maafkan saya Lady Calista, ternyata saya salah, mungkin kita memang belum pernah bertemu tapi anda hanya mirip seseorang..." Victoria melirik Fredrick dan Henry bergantian. "Mirip seorang pelayan berambut merah yang menyiram saya dengan teh panas"
Mendengar suara Victoria yang sedikit meninggi di akhir ucapannya membuat kedua tangan Calista terkepal kuat, sorot matanya menajam, Calista melirik Fredrick yang sudah berwajah datar menatap pada Victoria. Melihat suasana semakin mulai panas, Henry mencoba memberi... ruang??
"Lady Calista dan La-lady Victoria, biarkan sa-saya membawa Fredrick pada para gentleman ya-yang lain, kami sudah terlalu la-lama meninggalkan me-mereka"
Dengan tersenyum penuh arti, Henry mencoba membawa Fredrick menjauh, tapi Fredrick sepertinya tidak ingin beranjak hingga suara Victoria terdengar.
Dengan perasaan khawatir dan terpaksa Fredrick mengikuti Henry ke lingkaran obrolan Raja George, lingkaran para petinggi parlemen
Setelah dua pria tampan satu ayah itu pergi, Calista segera melepas topengnya, dengan tatapan mencela, Calista memperhatikan penampilan dan wajah Victoria.
"Katakan saja Lady Calista, anda tidak akan mendapat jawaban dengan hanya menatap penampilan saya"
Calista terkekeh tanpa rasa humor dan segera menatap wajah datar Victoria
"Bagaimana rasanya bertunangan dengan pria paling panas di Francia?"
Victoria mengedipkan bahunya acuh dan meraih satu gelas champagne di atas meja
"Saya tidak mengerti maksut anda Lady Calista"
"Jangan berpura-pura tidak mengerti Lady Victoria, walaupun awalnya anda di paksa untuk terikat, tapi anda pasti punya perasaan beruntung, beruntung karna pasangan anda seorang Fredrick Castalarox"
Kepala Victoria terasa menegang karna mencoba menahan tawa tapi juga kekesalan, dengan tenang dan kembali berwajah datar, Victoria menjawab
"Selain karna penampilan dan putra mahkotanya, memang apa lagi yang bisa membuat saya beruntung Lady Calista?"
__ADS_1
Calista terkekeh dan menatap Victoria dengan angkuh
"Anda tahu bagaimana rasanya di ranjang Fredrick, antara kita tidak perlu berpura-pura lagi Lady Victoria"
Alis Victoria mengerut dalam dan tatapan Victoria pada Calista berubah menjadi tatapan mencela
"Anda seorang simpanan yang memyedihkan"
Setelah ucapan Victoria meluncur dari mulut kecilnya, wajah Calista memerah, rahangnya mengeras, cengkaman tangannya pada gelas menguat, dengan sorot mata tajam bibir merekah Calista berdesis
"Kau pikir berapa lama Fredrick akan tertarik pada tubuhmu? sekarang kau boleh menjerit puas di atas ranjang Fredrick, tapi tidak akan lama lagi dia akan membuangmu jal**g angkuh!"
Kedamaian dan keselarasan di dalam aula yang sudah berlangsung selama berjam-jam tiba-tiba menjadi tegang saat ada suara seorang wanita yang memekik tiba-tiba, semua kepala yang tadinya sibuk dengan urusan mereka seketika jadi bergerak untuk menoleh pada arah suara, semua mata tampak terkejut, Henry dan Fredrick bahkan Albert segera melangkah lebar pada arah suara, ke arah Calista dan Victoria.
"Apa yang anda lakukan Lady Victoria??!!!"
Dengan anggun Victoria meletakkan gelas di tangannya yang sudah kosong dan menjawab acuh
"Membersihkan mulut kotor anda"
Melihat pergerakan Calista yang akan meraih sebuah gelas champagne, dengan cepat Albert yang duluan sampai pada mereka segera menarik tangan Calista hingga dentingan gelas pecah di lantai semakin menambah keseruan para tamu yang menonton
"Ada apa ini...!!"
Suara Fredrick yang tajam dan menggema membuat semua kepala semakin penasaran
"Dia menyiramku Fred! kau lihat sendiri apa yang di lakukan tunanganmu! padahal aku hanya mencoba berbincang!!"
Mendengar teriakan dan isakan pilu Calista, kipas-kipas mulai terbuka dengan kepala-kepala yang ikut saling mendekat, Henry yang melihat keadaan tidak baik untuk Victoria segera maju tapi, sebuah tangan menahannya, Henry menoleh dan hendak protes tapi setelah melihat siapa yang menahannya, Henry kembali diam pada tempatnya.
Victoria memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap tampilan baru Calista yang di buat dari hasil karya tangannya sendiri, wajah Calista basah hingga sisi depan rambutnya berwarna lebih gelap karna air Champagne, tetesan air masih sedikit menetes di sisi depan ujung rambutnya yang tergerai, wajahnya merah padam hingga ke leher dan ke telingannya, penampilan baru Calista sungguh membuat Victoria tidak bisa menahan tawanya hingga akhirnya kekehan suaranya lolos dari mulut kecilnya.
Posisi Albert yang menjadi salah satu di antara kerumuman terdepan memejamkan matanya dengan bibir yang berkedut kuat menahan senyum saat kekehan Victoria lolos.
Fredrick menatap tajam Victoria dan Calista secara bergantian
"Sebaiknya anda pulang Lady Calista! dan Victoria ikut aku!"
Victoria segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis tapi juga menggemaskan di mata keluarganya hingga aunty Ivon, aunty Elis, auty tatiana, dan aunty Jasmine-nya mengulum senyum dengan saling pandang lalu mereka menatap Diana yang terlihat cemas.
Fredrick yang melihat jika kepala Victoria menolaknya segera melangkah untuk meraih tangan Victoria tapi, belum sempat lengannya di raih, Victoria segera mundur sambil membuka mulut kecilnya
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hallo readers.... tolong like, komen, bintang, lope-nya yaaa
__ADS_1
Terimaksih sudah mau mampir dan terimaksih karna masih berminat membaca
Salam sayang semua✨✨