Behind The Castle

Behind The Castle
**PRIA BIASA?**


__ADS_3

Tok tok tok


"Your Majesty"


Edward yang mendengar pintu di ketuk langsung melepas semua kertas dan perkamen di atas meja Raja George. Edward keluar dari bilik ruang kerja dan menatap sekilas pada Raja George yang sedang melamun di atas rajangnya


"Apa saya harus membukannya Your Majesty?"


"Buka saja Ed, jarang-jarang ada yang datang ke sini selain kau dan pelayan"


Senyum sendu dari bibir pucat Raja George kembali membuat dada Edward terasa nyeri. Dengan langkah lebar langsung menuju pintu. Dan wajah Victoria lah yang muncul


"Your highness?"


"Apakah Raja George bisa aku temui?"


Edward melirik ke dalam dan saat melihat kepala Raja George yang mengangguk, Edward langsung menyingkir dari pintu. Victoria yang mendapatkan persetujuan langsung masuk ke dalam kamar. Kedua bola mata Victoria langsung menilai isi kamar mewah itu. Kamar yang pastilah terbaik di antara kamar terbaik. Bahkan kamar itu lebih mewah dan luas dari kamar Fredrick meski..... sangat terasa dingin dan hampa.


"Kau datang Putri..."


Arah pandang Victoria berhenti menilai isi ruangan dan langsung menatap ke arah ranjang yang cukup mencubit hatinya. Raja George hanya duduk menyender di kepala ranjang, dengan wajah pucat dan tubuh yang ternyata semakin kurus.


Selama ini Victoria tidak mengetahui bagaimana habisnya tubuh Raja George karna dia selalu memakai jubah Raja yang berlapis dan tebal. Tapi sekarang, dengan piama tidurnya, semua tampak jelas.


Yang sedang ada di atas ranjang itu tidak tampak seperti seorang Raja tiran yang penuh kekuasaan dan kekuatan. Yang ada di sana hanya pria tua yang..... tampak rapuh tanpa senyum kebahagian di setiap senyum hangatnya. Kenapa Victoria baru menyadarinya sekarang?


"Putri?"


Suara Raja George membuat Victoria mengehentikan pemikirannya dan langsung mendekat pada ranjang


"Selamat sore Your Majesty"


Seperti biasa, Raja George tersenyum hangat juga terselip senyum haru di sana.


"Selamat sore putri.." Raja George melirik Edward yang langsung paham dan mendekatkan sebuah kursi di dekat ranjang Raja George. "Duduklah Putri. Apa tidak masalah jika aku tidak bisa menyambutmu dengan sopan Putri?"


Dengan bokong yang sudah mendarat di kursi, Victoria menggeleng


"Tidak masalah Your Majesty. Maafkan saya yang baru datang untuk melihat anda"


"Terimakasih sudah mau melihat pria tua ini Putri Victoria"


Kembali, hati Victoria merasa tercubit sambil menampilkan senyum tipis di bibirnya


"Bagaimana keadaan anda Your Majesty?"


Raja George yang tiba-tiba terbatuk membuat Victoria refleks langsung meraih gelas di samping nakas. Edward yang baru akan melangkah mengambil gelas mengehentikan langkahnya saat Victoria sudah meraih gelas dan membantu Raja George untuk minum.

__ADS_1


Setelah air menyentuh tenggorokan Raja George, Victoria meletakkan kembali gelas dan menarik kursinya untuk semakin mendekat ke pinggir ranjang dan nakas. Agar mempermudahnya meraih gelas jika Raja George kembali batuk


"Maaf jika saya sudah lancang Your Majesty. Saya hanya bertindak spontan"


Dengan tegas, Raja George menggeleng dan tersenyum haru hingga matanya mengkilap


"Terimakasih putri"


Victoria langsung menggeleng kuat


"Anda tidak boleh berterimaksih pada saya Your Majesty, bahkan ini sudah yang kedua kalinya"


Edward yang terus menatap wajah Raja George melihat itu. Senyum yang sudah sangat lama tidak dia lihat. Sebuah senyum bahagia. Edward menggigit pipi dalamnya untuk menahan gejolak di dalam hatinya


"Kau tadi bertanya keadaanku kan Putri? Seperti yang kau lihat..." Raja George terkekeh geli. "Aku akan tetap mengatakan jika aku baik-baik saja meski kau bisa menilainya sendiri"


Victoria tidak bergeming dan hanya menatapi penampilan Raja George yang... menyedihkan.


"Aku yakin kedatanganmu karna memiliki sesuatu kan Putri?" Dengan yakin Victoria mengangguk. "Dan apa itu Putri?"


Menarik nafas sejenak, Victoria menimang apakah dia akan mengatakan atau tidak dan keputusannya tetap sama. Dia akan mengatakannya. Semuanya.


"Saya yakin jika anda sudah mendengar jika saya mengadakan rapat siang tadi Your Majesty"


"Aku mendengarnya tadi pagi" Raja George melirik Edward sejenak lalu kembali menatap Victoria. "Tapi hasilnya belum sampai padaku"


Raut wajah Raja George tampak tertarik, meski dengan nafasnya berat, kepalanya berat dan tubuhnya terasa lemas tapi, Raja George terlihat bersemangat menatap Victoria yang kembali membuka mulutnya


"Ijinkan Saya menjelaskan langsung pada anda Your Majesty"


Dengan antusias, Raja George mengangguk. Victoria yang melihat ijin langsung menjelaskan garis besar secara detail isi ke empat perkamen yang berisi rencananya. Sesekali Raja George kembali terbatuk dan Victoria menghentikan sejenak penjelasnnya. Lalu melanjutkan lagi saat nafas Raja George mulai tenang. Penjelasan panjang dan detail tanpa melewatkan apapun serta dengan sesekali pertanyaan yang di ajukan dari Raja George, membuat waktu terus berjalan.


Satu jam lamanya waktu yang mereka habiskan untuk berbicara. Cara bicara mereka yang Edward tangkap bukanlah seperti sebuah diskusi formal tapi lebih seperti obrolan santai.


"Mereka pasti tidak akan menerimanya"


"Benar Your Majesty. Tapi sebenarnya setelah rapat mereka tidak mengatakan apapun. Tidak menerima tapi juga tidak membantah"


"Hhmm..."


Tangan Raja George mengusap dagunya sejenak, wajahnya terlihat berpikir untuk beberpa menit. Victoria yang melihat itu hanya diam menunggu


"Apa kau yakin dengan rencanamu Putri?"


Dengan yakin Victoria mengangguk


"Saya yakin Your Majesty"

__ADS_1


"Berapa persen keyakinan untuk keberhasilan itu?"


Victoria tampak berpikir sejenak lalu menjawab dengan yakin


"70% untuk sekarang"


Kembali Raja George mengusap dagunya. Victoria yang tadinya sangat yakin sekarang menjadi gugup. Tidak bisa di pungkiri meski dengan keadaan yang menyedihkannya, kharisma seorang Raja sangat terlihat dan terasa saat Raja George sedang berpikir terlebih ketika sedang menimang keputusannya. Dan ini jelas bukanlah karna sebuah latihan. Kharisma, aura dan tatapan Raja George yang dia punya sekarang adalah murni pembawaan dari lahir. Warisan dari Darah Castalarox yang sudah memimpin kerajaan selama lebih dari tiga abad. Tapi, kenapa suaminya tidak mewarisi itu semua? Fredrick pria yang terlihat santai, acuh dan tenang, bahkan terlalu tenang dalam menghadapi keadaan apapun. Dia hanya mengambil keputusan yang simple meskipun selalu berguna dan menghasilkan


"Hm... lumayan. Tidak ada salahnya untuk mencoba"


"Jadi? apakah anda setuju Your Majesty?"


Raja George yang melihat binar antusias Victoria langsung mengusik bibirnya untuk tersenyum hangat.


"Tentu saja Putri tapi...." Dengan wajah yang masih antusias Victoria mengerutkan alisnya, penuh dengan tanda tanya. "Aku tidak yakin dengan 'mereka'..."


"Ahh... begitu. Jadi, apa yang harus saya lakukan Your Majesty?"


Kembali Raja George terbatuk dan dengan cepat Victoria memberikan gelas. Setelah meminum air, Raja George menarik nafas dalam untuk mengatur nafasnya.


"Biarkan stempelku yang berbicara Putri"


Sambil membuang nafas lega. Victoria mengangguk


"Terimaksih Your Majesty"


"Seharusnya aku lah yang harus berterimakasih Putri. Sepertinya, masa depan istana dan kerajaan ini berada di tangan yang tepat"


"Anda terlalu memuji Your Majesty. Ini memang akan menjadi tanggung jawab saya, saya tidak pantas"


Kepala Raja George mengangguk dan kembali menatap Victoria


"Apa ada yang lain Putri?"


Dengan sedikit gugup, Victoria menatap Raja George dengan meyakinkan diri


"Saat saya menyapa Her Majesty Ratu Elisabeth..." Victoria melirik wajah Edward yang langsung mengerutkan dalam alisnya, lalu kembali pada Raja George yang sudah merubah raut wajahnya menjadi tegas. "Her Majesty sangat ramah, saya ingin bertemu dengannya lagi, Your Majesty"


"Bertemu lagi?"


Dengan yakin Victoria mengangguk


"Saya ingin berkunjung ke Larina"


\=\=\=💜💜💜💜


Ayukk jejaknya... yuk...

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2