
"Selamat siang Countess Xenas"
"Selamat siang Lady Victoria"
Victoria menyambut kedatangan pendamping debutnya dan juga yang akan menjadi pengajarnya untuk mengetahui peraturan dan kebiasaan anggota kerajaan.
Dengan anggun dan berwajah datar, Victoria mengantar pendampingnya ke ruang tamu istana selatan, dari ekor matanya dia bisa melihat Fredrick yang terus mengikutinya.
Mereka mengambil posisi masing-masing, Victoria dan pendampingnya mengambil posisi duduk yang berhadapan tapi, ada seorang lagi yang duduk di kursi single sambil bertopang dagu, Fredrick yang entah untuk apa dan kenapa terus mengikuti mereka bahkan menemani Victoria untuk bertemu pendampingnya.
"Your Highness.... bisakah kami membicarakan 'hal kami'.....?"
Fredrick mencibik sebal dan melirik Victoria yang hanya menaikkan satu alisnya dan menatapnya dengan datar
Dengan sangat terpaksa akhirnya Fredrick mengangkat bokongnya karna jika tidak, kedua bola mata Countess Xenas seperti akan melompat dan mematuk wajah Fredrick.
"Vic, aku pergi dulu, besok aku akan menjemputmu makan siang"
"Besok kami akan mulai pelajaran Your Highness"
Belum sempat Victoria membuka mulutnya, suara Countess Xenas membuat mulutnya tertutup lagi, Victoria memutuskan mengambil tempat untuk menjadi penonton
"Kenapa terburu-buru Countess?"
Dengan berkacak pinggang dan wajah kesal Fredrick menatap Countess Xenas yang dengan acuh mengabaikan ucapannya.
"Besok kita akan mulai Lady, setelah sarapan saya akan datang ke sini"
Victoria mengangguk singkat
"Baik Countess Xenas"
"Countess Xenas! untuk apa terburu-buru dan juga saat makan siang kalian pasti makan kan? Aku hanya minta waktu Victoria sedikit untuk kami makan bersama! Countess Xenas! kau mendengarku aunty!"
Fredrick masih mencoba tapi akhirnya menyerah karna Countess Xenas tidak menjawab bahkan tidak menatap Fredrick, dari ekor matanya Victoria melirik Fredrick yang berjalan dengan cepat menuju pintu keluar dengan berwajah masam.
Setelah Fredrick pergi, keheningan ruangan akhirnya terjadi.
"Saya tidak akan bersikap ramah pada anda Lady Victoria dan saya akan bersikap tegas jika anda membangkang atau lambat dalam menyerap apa yang saya ajarkan, kita mengerjar waktu, waktu kita tidak banyak"
Dengan wajah tidak bersahabat dan tatapan tajam, Victoria masih bisa melihat jika dulu saat muda, mungkin Countess seorang gadis yang sangat cantik bahkan lebih cantik dari aunty Ivon-nya, gadis yang pernah menolak lamaran suami Countess Xenas, Earl Xenas.
"Itu lebih baik Countess, saya tidak suka berbasa basi"
__ADS_1
Countes Xenas tersenyum culas dan menatap penampilan Victoria dengan lekat
"Anda memang seorang Arathorn yang sombong dan selalu egois"
"Benarkan? kalau begitu terimakasih Countess, saya semakin bangga dengan diri saya"
Kekehan tanpa rasa humor Countess Xenas membuat satu alis Victoria menukik tajam
"Anda lebih menyebalkan dari cerita yang saya dapat dan tidak secantik dari cerita yang saya dengar"
Victoria tersenyum formal dan menatap lekat wajah Countess Xenas
"Jauh berbeda dari reputasi yang berhembus, anda terlihat tidak mempunyai keistimewaan apapun, bahkan tidak menarik, maaf jika anda tersinggung tapi, bukankah kita sedang dalam obrolan saling mengkritik?"
Suasana panas di ruang tamu istana selatan terhenti ketika Dolores mengetuk pintu dan masuk dengan membawa nampan kudapan dan teh.
Setelah Dolores mengisi meja dan cangkir mereka dengan sopan Dolores menyampaikan letak kamar Countess Xenas dan segera pamit keluar ruangan lagi.
Tangan anggun dua wanita beda generasi di dalam ruangan itu mulai mengangkat cangkir mereka masing-masing.
"Apakah anda tahun hal dasar yang akan kita pelajari Lady?"
Victoria menyesap tehnya lalu menatap Countess Xenas
Sambil meletakkan tehnya Countess Xenas menatap Victoria dengan lekat
"Kita akan mulai dari sejarah bangunan istana, setelah itu sejarah para penghuni di istana utama, lalu aturan berpakaian dan berbicara di meja makan hingga ke luar istana, setelah anda bisa mengikuti dasar ini dengan baik, kita akan melanjutkan ke tingkat yang lain"
Victoria mengangguk
"Baik Countess"
Dan pikiran Victoria mulai berkelana, apakah ada sesuatu yang bisa di gali saat dia membalik lembaran sejarah kerajaan dan istana? Apakah Countess Xenas berguna untuk rencananya mengorek informasi? Victoria sudah tidak sabar untuk mencari tahu.
"Saya sangat tidak suka dengan ketidak disiplinan dan kemalasan My Lady" Countess Xenas mengangkat lagi cangkirnya tanpa menatap Victoria. "Apa kita bisa sepakat dengan itu?"
Dengan tenang dan berwajah datar, sorot mata penuh keyakinan dan bibir tersenyum tipis Victoria menatap Countess Xenas
"Saya juga Countess Xenas"
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Vic tidurlah sekarang! mulai besok kau tidak bisa lagi bangun di saat hampir jam makan siang!"
__ADS_1
"Iya, iya , iya, iya! aku tahu! aku tahu! aku tahu! aku tahu!!! Aarrrgghh!!!! menyebalkan! kenapa aku harus bangun pagi Diana...!!!"
Diana terkekeh geli melihat Victoria yang terus menekuk wajahnya setelah bertemu dengan pendamping debutnya untuk yang pertama kali
"Di, besok berikan ini pada Kelly"
Dengan wajah serius Victoria menatap Diana yang langsung mendekat ke meja rias dan menatap benda yang sudah di letakkan Victoria.
Diana mengeryit
"Ini..... apa hadiah untuk Kelly? apa kau yakin Vic?"
Victoria menggeleng sambil melangkah ke atas ranjang
"Tentu saja tidak"
Dengan wajah penasaran Diana menarik selimut Victoria saat tubuhnya sudah berada di atas ranjang
"Katakan pasa Kelly, perhatikan pukul berapa His Highness keluar kamar tiap pagi dan, pukul berapa pelayan kamar mulai masuk ke kamarnya, titip itu selama empat hari padanya, jika dia bisa menjalankan dengan baik, katakan aku akan memberi hadiah"
Diana mengangguk
"Baik Vic"
Dengan masih mengikuti pergerakan Diana yang menuju lemari linen, Victoria kembali memutar otaknya
"Aku merasa pelajaran ku ini bukan untuk seorang tunangan"
Diana melempar bantal dan selimutnya di sofa dan langsung memutar tubuhnya untuk menatap Victoria dengan wajah bingung
"Aku merasa itu semua pelatihan dan pelajaran untuk calon istri yang akan masuk ke dalam istana"
Setelah mendengar ucapan Victoria, dengan tangannya yang kembali bergerak membuat ranjang di sofa, Diana menutup rapat mulutnya karna ini bukan bagiannya untuk memberi komentar, itu bukan wilayahnya, dia tidak berhak memberi jawaban atau bertanya.
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
Hallo readers... Trimakasih sudah mampir, Trimakasih masih mau lanjut membaca....
Jangan lupa like, komen, bintang, lope-nya yaa...
Salam sayang semua โจ
__ADS_1