
Semua yang coba di lakukan Edward selama beberapa hari ini nyatanya sia-sia karna di sinilah dia sekarang, menatap ke tengah istana utama, di mana pesta penyambutan untuk kedatangan Ratu Elisabeth sedang di gelar. Dekorasi-dekorasi indah dan megah memenuhi istana utama, tirai-tirai baru di pasang di semua sudut jendela, meja-meja panjang untuk jamuan berisi menu-menu mewah dan mahal tersebar di beberapa sudut, dan yang paling membuat Edward kesal adalah tamu-tamu yang datang. Mereka adalah para ton yang tadinya bersikap 'baik' pada pemilik utama istana sekarang seperti berputar arah pada Ratu Elisabeth bahkan, orang-orang parlement pun turut hadir di sana. Sungguh, Edward benar-benar ingin Victoria segera kembali untuk mengurus semua kekacauan ini.
Edward tidak bisa melakukan apapun sekarang, ini bukanlah wilayahnya dan bukanlah bagiannya. Kepergian Fredrick semakin memperburuk situasi yang nantinya pasti akan semakin buruk.
"Dia benar-benar berusaha ingin menguasai istana kapt"
Edward melirik Keelft yang setia berdiri di belakangnya dengan wajah yang terus menatap ke arah kursi tahta, di mana di sana Ratu Elisabeth sedang duduk di kursi tahta yang sekarang di buatnya berpasangan. Kursi tahta yang selama ini selalu sendiri itu, kursi tahta yang hanya milik Raja George itu, sekarang tidak sendiri lagi karna dengan perintah mutlaknya Ratu Elisabeth menambahkan lagi satu kursi untuk di dudukinya, tempatnya, tahtanya. Itu yang memang seharusnya terjadi di setiap kerajaan, kursi Raja harus berdampingan dengan kursi Ratu tapi, ini tidak berlaku untuk Francia. Selama kekuasaan Raja George.
Edward membuang nafas panjang dan kembali melirik Keelft
"Apa dia mengundang wanita itu?"
"Siapa kapt? penghuni Drachenburg?"
Edward mengangguk. Keelft yang mengerti mendekat pada Edward dan berbisik
"Tidak kapt, dia tidak ada dalam daftar undangan untuk pesta ini. Tapi kami akan terus memantau" Keelft membuang nafas panjang. "Istana tanpa Her Highness benar-benar dalam bahaya"
Edward yang juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Keelft mengangguk setuju.
Pesta terus berlanjut hingga ke jamuan makan malam. Tiap urutan menu sudah bergilir tersaji di atas meja. Keceriaan Ratu Elisabeth semakin menjadi saat seseorang akhirnya menanyakan tentang Raja George. Ini yang di tunggunya. Dengan tersenyum anggun sambil menatap seorang gentleman yang bertanya Ratu Elisabeth menjawab
"His Majesty masih sakit, karna itu saya di panggil ke mari untuk mengurus istana"
"Aahh.. begitu rupannya"
Percakapan itu membuat di mulainya semua percakapan yang selama ini di tahan oleh orang-orang, pertanyaan-pertanyaan mulai berputar di atas meja hingga pertanyaan yang juga di tunggu Ratu Elisabeth di lantunkan seseorang
"Your Majesty, maaf jika saya Lancang, tapi... apakah benar rumor-rumor jahat yang sedang beredar itu?"
__ADS_1
Sambil meletakkan gelas anggurnya dengan anggun Ratu Elisabeth mengangguk singkat. Hanya itu jawaban yang di berikannya tapi, efek dari jawaban anggukan kepala singkat itu langsung membakar segalanya. Bisik-bisikan pelan mulai terjadi, lirikan-lirikan dari tamu-tamu mulai menjadi pemandangan sepanjang jamuan di atas meja makan, dan Ratu Elisabeth tahu jika ini akan menjadi sepektakuler untuk kedepannya. Bahkan, telinga Ratu Elisabeth menangkap sebuah suara bisikan pelan di belakangnya
"Like father like a son. Anaknya sangat sama dengan ayahnya"
"Mungkin ini memang didikan?"
Lalu kekehan halus beberapan Lady terdengar. Meski topik pembicaraan mereka juga tertuju pada Ratu Elisabeth yang di kenal sebagai 'mantan' simpanan tapi, memang inilah yang di inginkan Ratu Elisabeth. Merusak segala sisi yang sudah di bangun Raja George, menghancurkan segala pertahanan diri para ton yang selama ini tidak berani mengungkit atau pun membahas tentang masa lalu.
Ratu Elisabeth mengangkat kembali gelas anggurnya dengan anggun, sambil melirik Henry yang duduk di meja panjang lain sebagai pemimpin meja jamuan.
Keeflt yang setia memantau berjalannya pesta memutar bola matanya dengan malas saat dirinya juga mendengar bisikan itu
Mereka membisikan keburukan orang lain dan mengunjing kegagalan rumah tangga orang lain padahal, siapa yang tahu jika mungkin saja suami atau istri mereka juga mempunyai simpanan di luaran sana. Pernikahan politik di kalangan ton adalah hal yang biasa dan sebagian dari mereka pasti mempunyai simpanan ataupun gemar mencari kehangatan lain di luaran sana, terlebih setelah mereka mendapatkan pewaris. Seperti yang Keelft katakan, ini semua bukan hal tabu di kalangan bangsawan
Keelft terus memantau dan mendengarkan sekitar meja Ratu Elisabeth dan Henry. Sekarang Ratu Elisabeth membuka topik lain di atas meja, topik yang langsung di tujukannya pada anggotan parlement.
Jika ini terus berlangsung, tinggal menunggu waktu untuk nama Fredrick, turun dari line throne utama. Gelar putra mahkotanya bisa hilang kapan saja dengan serangan dan pergerakan kecil dari Ratu Elisabeth.
Keelft hanya bisa berdoa, semoga Tuhan berada di pihak mereka. Hanya kuasa Tuhan yang bisa melancarkan semua rencana yang mereka buat. Rencana Raja George dan Fredrick yang di harapkan bisa berjalan tepat pada waktunya
---000---
Victoria masih meringis saat perutnya terus bergerak-gerak seperti ulat. Entah permainan apa yang sedang janin-janinnya lakukan di dalam perutnya tapi itu membuat Victoria sangat kesusahan dan kesakitan. Usia kandungannya sudah menginjak tiga puluh minggu, janin-janin di perutnya semakin tumbuh dengan sehat dan.... kuat.
Di malam yang dingin, di dalam kamarnya yang sunyi, dahi Victoria penuh dengan peluh. Dahinya terus berkerut dan mengeryit, bibirnya mendesah nyeri, raut wajahnya tampak kesakitan tapi hatinya bahagia. Selain bahagian karna kesehatan janin-janinnya, dia juga sangat bahagia karna calon anak-anaknya itu juga sepertinya meresponnya dengan baik. Pergerakan brutal janin-janinya pastilah karna suasan perasaan Victoria yang hari ini cukup merindukan suaminya, entah kenapa, tapi hari ini dia selalu memikirkan suaminya.
"Sayang, berhenti dulu ya... ayo nak kita tidur, ibu juga butuh tidur"
Sambil membelai dan membalas pergerakan di perutnya, Victoria terus berucap lirih
__ADS_1
"Apa kalian juga merindukan ayah kalian? ibu juga nak. Maafkan kami yang harus memisahkan kalian sebentar dengan ayah kalian. Nanti ya sayang, nanti kita akan berkumpul lagi"
Seolah akhirnya mengerti, pergerakan liar di dalam perutnya tiba-tiba berhenti. Victoria tersenyum haru
"Kalian memang pintar"
Victoria mulai bergerak untuk mencari posisi tidur yang nyaman, meski sebentar lagi rasa nyaman yang di dapatnya akan tetap hilang dan dia harus kembali berpindah dan mencari posisi nyaman.
Hati Victoria bertanya-tanya, apakah begini susahnya mengandung? Padahal, beberapa hari yang lalu, saat dokter pribadi Arathorn memeriksannya mengatakan jika kehamilan Victoria cukup mudah. Entalah, Victoria tidak mengerti apa yang di maksut dari kata mudah yang di sebutkan dokter itu. Setiap malam dirinya akan kesulitan tidur, saat sedikit lama berdiri kakinya akan lemas, pinggangnya sering sakit, dadanya sangat mudah nyeri bahkan hanya karna sedikit tertekan gaun, pola tidurnya kacau, betisnya membengkak tapi yang paling merepotkan adalah, perasaannya merindu.
Sialan memang! efek kehamilan membuatnya akhir-akhir ini sering merindukan suaminya yang mungkin sekarang sedang sibuk berurusan dengan semua rencana-rencana. Dia memang belum lama mengenal suaminya, dia memang tidak mencintai suaminya tapi dia cukup bisa memahami perasaan suaminya. Tidak tahu bagaimana, tapi dia bisa tahu dan bisa merasakan jika sekarang suaminya juga sedang memikirkannya di manapun suaminya itu sedang berada sekarang. Yang dia yakini jika Fredrick sekarang juga belum bisa tidur karna memikirkan banyak hal
--000--
Di sisi lain, Fredrick dan para kesatriannya sedang berada di dalam sebuah penginapan kecil di pinggiran ibu kota. Mereka mulai semakin masuk ke dalam karajaan Vancia. Mereka semakin bergerak cepat untuk memantau dan mempelajari keadaan di kerajaan itu
"Your Highness... kita besok akan masuk ke dalam ibu kota. Tidurlah sejenak"
Fredrick hanya diam dengan mata yang terlihat segar, kedua bola mata abu-abunya itu menatap jendela yang penuh bintang-bintang malam musim semi. Jeremmy yang lagi-lagi melihat pemandangan tatapan mata dan raut wajah merindu Fredrick hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya akan tidur duluan Your Highness. Jika anda memang khawatir pada Her Highness, sekarang anda hanya bisa berdoa, karna Duke Arthur dari dua bulan lalu sudah menutup dan mensegel rapat semua sisi yang bisa di masuki orang dari luar Albany"
Setelah mengatakan apa yang harus di katakannya Jeremmy langsung membelakangi Fredrick dan memejamkan mata. Sudahlah, Fredrick sudah cukup tua untuk di asuhnya
\=\=\=💙💙💙💙
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua✨
__ADS_1