
"Selamat malam Your Highness"
Empat suara berat pria paruh baya langsung menyambut kedatangannya. Dia mengamati gubuk tua tempatnya berdiri sekarang. Penerangan yang minim, tiga orang yang berjaga di depan pintu, isi gubuk yang hanya berisikan meja bundar berwarna merahm Meja merah yang di atasnya sudah tersedia lima teh dengan isi cangkit yang masih berasap.
"Se-selamat malam"
Kembali dia mengamati sekitar, lebih tepatnya sekarang dia mengamati penampilan empat pria paruh baya yang penampilannya sama dengan dirinya. Jubah hitam panjang dengan penutup kepala yang belum di lepas menegaskan, Jika ini pertemuan sangat rahasia dan dia sudah tidak sabar untuk tahu. Apa yang membuatnya bisa mendapatkan pesan rahasia hingga jemputan rahasia untuk ikut serta dalam perkumpulan ini. Perkumpulan pria-pria yang mempunyai pengaruh besar.
"Terimakasih sudah bersedia hadir, Your Highness Pangeran Henry"
Henry tersenyum ramah di balik penutup kepalanya dan segera menarik satu kursi yang membuat, empat pria paruh baya itu mengikutinya setelah kepalanya memberi anggukan singkat untuk mempersilahkan mereka ikut duduk.
"A-aku cukup terkejut saat menerima su-surat dengan stempel anda Duke Thomas"
Thomas menautkan tangannya di atas meja dan mengangguk pada Henry. Henry melanjutkan
"Ja-jadi.... apa yang ingin kita bahas?"
Tanpa berbasa basi, Thomas dengan segala ketenangan dan kharismanya membuka suara
"Kami tahu 'tentang' Larina dan 'apa' yang ada di dalam castle Larina"
Tangan Henry yang akan meraih cangkir teh terhenti di udara, kepalanya langsung menoleh pada Thomas yang duduk tenang di sampingnya, dengan wajah yang tidak bisa di lihatnya dari balik penutup kepala.
"La-lalu?"
"Anda tahu maksut kami Your Highness"
Setelah meraih cangkirnya kembali, Henry mengangguk singkat dan menyesap isi cangkirnya dengan santai. Thomas melanjutkan
"Dari dua ratus delapan puluh bangsawan di Francia. tiga puluh di pihak anda dan seratus sembilan bangsawan di sisi kami siap menemani anda"
Tangan Fredrick bergetar saat cangkit kembali bertemu dengan piring cangkir. Hendy mencoba tenang, meski dia sudah tidak tenang setelah mendengar langsung ucapan Thomas.
"Ka-katakan dengan jelas, maksut kalian...." Henry menatap bergantian empat pria paruh baya yang wajahnya berada di bawah penutup kepala. "A-apa yang kalian inginkan"
Charles, Albert dan Philip memfokuskan tatapan mereka pada Thomas, yang akan mewakili mereka untuk diskusi mereka malam ini. Thomas dengan tenang dan tangan yang terus bertaut di atas meja mengangguk singkat pada ke tiga iparnya lalu kembali membuka suara
"Kami ingin keponakan kami dan Duchy Albany kembali"
Henry ikut menautkan tangannya di atas meja dan menatap Thomas
"De-dengan cara?"
Tanpa keraguan Thomas menjawab
"Menaikkan anda ke atas tahta"
Tautan tangan Henry semakin mengerat
"Ka-kalian ingin aku melakukan kudeta?"
"Benar Your Highness"
Henry tersentak dan menatap wajah-wajah yang tidak bisa di lihatnya, mencoba melihat ekspresi mereka meski sia-sia.
🍀🍀🍀🍀
Hari ke tujuh sudah terlewati di Argentt. Hari ini, dengan keadaan tubuh yang sudah semakin baik dan mental yang sudah lebih baik, Victoria menatap Fredrick yang sedang sibuk menyelipkan tangkai bunga di gulungan rambutnya. Wajahnya tampak serius, sesekali alisnya mengkerut saat merasa bunga yang di selipkannya tidak bagus, kedua bola matanya selalu fokus pada bunga lalu ke rambut Victoria. Bermenit-menit terlewati hingga membuat Victoria mulai bosan di perlakukan seperti porslen hias tapi, saat melihat bagaimana seriusnya Fredrick saat melakukan hal konyolnya. Victoria membiarkan dan menahan rasa bosannya, demi kemanusiaan.
"Selesai"
Dengan mata takjub dan tersenyum tanpa dosa, kedua bola mata abu-abu itu terus menatapi hasil kerja keras konyolnya.
__ADS_1
Victoria memutar bola matanya
"Kenapa?"
"Tidak"
"Kau memutar bola matamu Vic"
Dengan mengedipkan bahu acuh, Victoria melirik pantulan rambutnya dari kaca jendela belakang taman mansion Argentt. Bibir Victoria berkedut geli
"Kau cocok menjadi asisten madan Lailah"
Fredrick berdecak tidak suka
"Yang benar saja"
Sambil terus melihat rambutnya dan sesekali meraba bunga warna warni yang ada di kepalanya, senyum Victoria terbit. Tidak ada mawar di sana, tidak ada kecerobohan di atas kepalanya, semua tertata rapih di rambutnya.
"Apa kau sering melakukan ini Bash? kau tampak mahir"
Satu alis Fredrick menukik tinggi
"Sering...? mahir....??"
Dengan kenala mengangguk singkat, kembali Victoria meraba bunga-bunga yang sudah tersematkan di rambutnya
"Yaa... mahir... Kau sering melakukan ini pada para kekasihmu?"
Satu alis hitam pekat itu semakin menukik tinggi dengan sebelah bibirnya yang ikut melengkung tinggi tidak simetris.
"Aku? sering menghias rambut? kekasih?"
"Kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan Bash"
"Karna aku bingung dengan pertanyaanmu"
Kali ini satu alis Victoria ikut menukik
"Bagian mana yang membuatmu bingung?"
"Semua tapi yang paling membingungkan. Kenapa kau bisa berpikir aku sering melakukan ini?"
"Karna ini terlihat bagus, kau seperti sudah terbiasa melakukan ini"
Fredrick terkekeh sambil menaikkan tangannya untuk merapikan helaian rambut Victoria yang berterbangan karna angin.
"Kau pikir aku mempunyai waktu untuk menghias rambut orang lain, lagi pula" Fredrick menjeda dan menaikkan dagu Victoria agar fokus matanya berhenti pada rambutnya. "Apa kau tahu tentang kata-kata ini Vic..." Kembali Fredrick menjedah, kedua bola matanya menatap manik pekat Victoria. "tentang 'Rambut seorang gadis yang sudah di hiasi bunga itu berjalan luruh menuju ke depan mimbar'...??"
"Mempelai"
"Aku tidak tahu Bash"
Dengan acuh sambil membuang pertemuan arah pandang mereka, Victoria mejawab penuh dusta di bibirnya, meski di hatinya menjawab kebenaran.
Kata-kata itu sering di gunakan untuk menggambarkan status seorang wanita yang sudah bertunangan, staus yang pasti akan naik ke mimbar sumpah pernikahan sehidup semati bersama pasangannya, tunangannya.
"Sayang sekali kau tidak tahu Vic, padahal jika kau paham tentang itu. "Fredrick menraih tangan Victoria dan mengecupnya singkat. "Kau akan tahu kenapa aku bingung dengan pertanyaanmu"
Victoria hanya diam, Terlihat enggan untuk menjawab dan membiarkan Fredrick menggandengnya menuju ke meja teh.
Dengan anggun Victoria mendaratkan bokongnya di kursi yang sudah di tarik Fredrick. Mereka sudah di posisi duduk mereka, arah pandang Fredrick terus menatap Victoria yang mualai menggigit biskuit
__ADS_1
"Apa ku ingin kita jalan-jalan?"
Victoria terus mengunyah untuk menghabiskan biskuit di mulutnya, setelah mulutnya sudah kosong, Victoria mengangguk singkat
"Aku mau"
Fredrick ikut meraih biskuit sambil tersenyum
"Besok kita jalan-jalan"
Victoria kembali mengangguk dan meletakkan biskuit di tangannya sambil memandang Fredrick dengan lekat
"Bash"
"Hhm?"
"Aku ingin bertemu Diana"
Dengan tatapan penuh selidik tapi juga terselip pandangan khawatir, Fredrick mengangguk pasrah.
--000---000--
"Maafkan saya My Lady... maafkan saya Vic.. maaf.. saya pantas mati, saya tidak berguna menjagamu, saya pantas di hukum mati"
Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Diana berucap sambil menangis dengan tubuh yang terus bersimpu di lantai samping ranjang. Victoria yang duduk di bibir ranjang mengeratkan tautan tangannya yang berada di perut. Jujur dia masih cukup takut untuk melihat lagi wajah itu tapi, dengan menekan segala traumanya, Victoria memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan.
"My Lady Victoria.. tolong hukum saya yang tidak pantas ini, tolong limpahkan semua pada saya, tolong jangan memaafkan saya yang tidak bisa menjaga anda hingga...."
Isakan Diana semakin menjadi, bahkan sekarang dahi Diana hampir menyentuh lantai dengan tubuh yang masih bersimpu. Merasa semakin tidak tega, akhirnya, dengan segala perasaan berkecamuk di dadanya, Victoria ikut bersimpu di lantai. Diana yang melihat tubuh Victoria yang ikut bersimpu di depannya segera menggeleng kuat sambil semakin terisak
"Jangan My Lady... tolong duduk kembali di posisi anda, anda tidak boleh mensejajarkan tubuh kita, anda menjatuhkan harga diri anda seb....."
"Diana...."
Diana menutup mulutnya saat Victoria memotong ucapannya
"Angkat kepalamu dan tatap aku"
Kembali Diana menggeleng kuat
"Diana... angkat kepalamu"
Suara tegas Victoria akhirnya membuat kepala Diana terangkat dan menatap wajah Victoria yang tersenyum padanya
"Diana, aku akan menghukummu dengan berat, apa kau siap?"
Dengan suara tangisan yang terus menggema di dalam ruangan dan sorot mata tegas, Diana mengangguk
"Saya siap My Lady, saya terima hukuman saya Vic"
Senyum Victoria semakin lebar dan meraih tangan Diana. Victoria menatap kedua bola mata biru Diana yang sudah penuh air mata.
"Kau ku hukum untuk melayaniku selamanya, kau akan terus menjadi subyek-ku selamanya, apa kau siap?"
Tangisan Diana semakin menjadi, bahkan terdengar hingga ke luar pintu, terdengar di telinga dua pria yang sedang mengintip mereka dari cela pintu yang tidak tertutup rapat.
Fredrick tersenyum lega, dan dengan sangat pelan, menutup pintu untuk segera mengakhiri semua kekhawatirannya
\=\=\=💙💙💙💙
Mau ngasi tahu n minta maaf readers, kalo beberapa hari ini kyknya eike cuma bsa up 1 chapt, soalny jadwal kerja eike bnyak lemburnya, tumpukan PR kerjaan jga banyak. Maafken ya, nanti kl sdh agak longgar eike balik up kayak biasa ato kasi grazy up
Salam sayang semua✨
__ADS_1
Jejaknya jgn lupa di tinggalin ya 💛