Behind The Castle

Behind The Castle
**PROMISE**


__ADS_3

Semua pemimpin pasukan sudah berkumpul. Edward, Tomy, Carl, Lucas dengan bonus Arthur. Para pria itu sedang mendengarkan Fredrick yang menjelaskan dan juga memberikan taktik rahasia untuk membinasakan musuh dan meraup kemenangan mutlak tanpa perlu bersusah payah. Arthur mendengarkan dengan cermat setiap kata-kata yang di jelaskan Fredrick dengan penuh wibawa dan kharisma pemimpin perang. Malam ini Arthur baru menyadari jika gelar 'pahlawan terkuat Francia' sangat pantas di sematkan untuk Raja mereka, adik iparnya. Dan pemikiran itu membuat Arthur tersenyum lega dalam hati. Dia sudah menyerahkan adiknya pada pria yang memang luar biasa cerdas, hebat dan tangguh. Dia tidak akan khawatir lagi akan keselamatan adiknya


"Apa ada yang belum jelas?"


Fredrick kembali bertanya untuk yang ke tiga kalinya saat baru selesai menjawab dan menjelaskan taktiknya pada Tomy. Arthur menatap semua wajah di atas meja dan bersuara.


"Sampai kapan istana akan menahan mereka?"


"Sampai batas kemampuan rencana pertama Duke, sisanya ikuti perintah Ratu kalian"


Arthur mengangguk mengerti. Fredrick menatap Arthur dengan lekat


"Duke, jaga adikmu dengan baik. Apapun yang akan terjadi nanti"


Arthur membalas tatapan Fredrick dengan tatapan tidak kalah dalam dan lekat. Dia mengerti kegundahan Fredrick, dan bisa membaca jika Fredrick memiliki perhitungan lain atau mungkin juga ini hanya intuisinya.


"Tentu saja, anda tidak perlu mengingatkan saya Your Majesty"


Fredrick semakin menatap Arthur dengan lekat, kedua bola matanya kali ini mengkilap tajam dan terang hingga membuat Arthur meneguk ludahnya dengan kasar.


"Aku katakan sekali lagi Duke. Tolong jaga 'Adikmu'...."


Keheningan dan suhu di ruangan menjadi mendingin. Pria lain yang tidak berhubungan dengan percakapan Fredrick ikut meneguk ludah mereka dengan kasar karna, Raja mereka sudah memberikan 'peringatan' pada Arthur yang jelas berada di antara dua saudarinya yang memiliki jalan berbeda


"Anda bisa percaya pada saya tapi, jika anda memang tidak bisa percaya pada saya, percayalah pada Her Majesty"


Akhirnya Fredrick tersenyum tipis dan mengangguk, jelas di sangat percaya pada istrinya. Fredrick menatap semua wajah bergantian


"Lewat tengah malam nanti, pasukanku dan pasukan Tomy yang akan bergerak berpencar terlebih dahulu. Sisanya saat pagi menjelang, pasukan Jeremmy dan pasukan Lucas. Kalian langsung bergerak cepat sebelum mereka bisa membaca pergerakan kita. Aku tidak ingin mendengar cerita kekalahan"


Nama Ke empat pria yang di sebut langsung meletakkan kepalan tangan kanan mereka di depan dada kiri sambil membungkuk dalam


"Dengan seluruh nyawa kami Majesty!"


Fredrick menangangguk singkat dan menatap Edward


"Ed, pasukanmu menjadi penutup" Seringai Fredrick terbit "Nanti jangan menahan dirimu. Perlihatkan pada dua pangeran adik dari putra mahkota itu, monster seperti apa yang di miliki Francia"


Edward menyeringai mengerikan, dan langsung meletakkan kepalan tangan kanannya ke depan dada kirinya sambil membungkuk dalam


"Dengan senang hati Your Majesty"


Arthur bergindik melihat bagaimana kepatuhan dan juga keteguhan para kesatria emas milik Raja. Kesatria yang kabarnya punya reputasi terkuat dan tercerdas di antara semua kesatria emas Francia, terlebih Edward. Julukan anjing gila memang sesuai dengan reputasinya, dia bahkan sering di sebut anjing neraka Francia saat sudah berada di tengah medan perang. Edward si anjing pembantai dari neraka.


"Carl, jaga istana dan Ratu mu dengan baik"


Carl langsung ikut meletakkan kepalan tangan kanannya di depan dada sambil membungkuk dalam


"Dengan seluruh nyawa saya Your Majesty"


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Victoria masih duduk tenang sambil mendengarkan detak jantung suaminya. Dengan perasaan berkecamuk kedua matanya terpejam kuat, kedua tangannya melingkar erat di pinggang Frederick. Dengan tubuhnya yang masih polos, Victoria terus menikmati alunan dan melodi tenang detak jantung Fredrick, dirinya terlihat sangat enggan untuk bangkit dari atas pangkuan suaminya yang juga masih belum memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuh polos mereka hanya tertutup selimut dengan Fredrick yang terus menatap ke luar jendela, tangannya terus membelai dan mengusap surai lembut istirinya


"Sudah waktunya"


Dua kata singkat yang di ucapakan suaminya dengan nada tenang membuat Victoria menguraikan pelukkannya dan mendongak menatap suaminya dengan dalam. Victoria memaksakan senyumnya di tengah pikiran dan perasaan berkecamuk yang terus berputar-putar tanpa henti.


"Ayo..."


Victoria segera berdiri dari pangkuan Fredrick dan langsung meraih gaun tidurnya, memakainya dengan cepat agar bisa membantu suaminya untuk memakai atribut Fredrick untuk malam ini, untuk pertama kalinya Victoria akan membantu suaminya berpakaian spesial


Fredrick sudah selesai membilas tubuhnya sebentar dan langsung kembali ke dalam kamar, percintaan singkat mereka membuatnya harus membersihkan bekas peluh di seluruh tubuhnya. Victoria menyambutnya dengan memegang pakaiannya. Fredrick dengan patuh mengikuti dan membiarkan Victoria memakaikan baju kesatrianya lalu mulai memasangkan atribut zirah besinya. Fredrick mengamati dengan lekat raut wajah istrinya yang terlihat sangat khawatir hingga sesekali matanya bisa menangkap tangan pucat itu gemetar saat sedang memasangkan perlengkapan zirah perangnya.


"Vic...."


"Hmm..."


"Jangan khawatir"


Kepala Victoria mengangguk singkat dan memaksakan senyum tipisnya. Hingga Victoria memasangkan ke dua pedang di sisi pinggang suaminya, suara hatinya tidak bisa dia tahan lagi.


"Kembalilah... ku mohon..."


Fredrick meraih tangan gemetar istrinya dan menggenggamnya dengan erat, satu tangannya menarik dagu Victoria agar wajah mereka bertemu, dan benar saja, kedua mata Victoria sudah mengkilap basah. Fredrick tersenyum tipis


"Aku berjanji akan kembali"


Kembali Victoria mengangguk singkat dan menatap dalam ke dua bola mata abu-abu suaminya, sangat dalam hingga Fredrick bisa merasakan segala perasaan cemas dan ketakutan Victoria


Fredrick membawa tangan gemetar Victoria ke bibirnya dengan senyum yang mengisyaratkan sejuta rasa bahagia dan juga sejuta rasa sedih. Fredrick bahagia karna istrinya ternyata sangat khawatir dan sangat menyayanginya tapi, Fredrick juga sedih karna harus berpisah lagi dengan istrinya, terlebih harus membiarkan istrinya bertempur dalam perang.


"Kau tidak akan menjadi janda sayang, aku akan kembali secepatnya setelah semua selesai"


Tangan Victoria meraba zirah besi dingin yang sudah merekat di dada suaminya, kepalanya tertunduk mengamati besi dingin yang akan menjadi pelindung tubuh Fredrick.


"Jika kau tidak kembali, aku akan mencari suami baru, pria muda yang bisa menemaniku dan menyayangi anak-anak kita. Aku tidak main-main Bash..."


Setelah berucap, mata Victoria yang sudah menggenang tidak mampu pagi menahan air matanya. Air matanya langsung meluncur jatuh tanpa permisi.


Fredrick kembali menarik dagu istrinya dan menatap kedua bola mata yang sudah menumpahkan rasa khawatir dan ketakutannya.


"Kau harus menunggu satu tahun dulu baru bisa menikah lagi"


Fredrick mengerling menyebalkan sambil mengusap pipi basah Victoria dengan tangan yang sudah terbalut besi dingin. Rasa dingin di pipinya membuat Victoria menggigit pipi dalamnya dengan kuat. Dia tidak suka jika tangan yang selalu menyentuhnya dengan kehangatan menjadi dingin.


"Kalau begitu aku akan mencari pria simpanan dulu, baru menikah setelah setahun saat kau tidak juga kembali padaku"


Fredrick terkekeh geli tapi juga getir. Suara lirih dan bergetar Victoria membuat hatinya bergetar dengan rasa bahagia dan juga takut.


"Aku pasti kembali. Aku berjanji. Jadi jangan genit selama aku masih hidup... percaya dan tunggulah aku"


"Kau pasti hidup! harus Bash!!! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak!!"

__ADS_1


Victoria terisak pelan dengan bibir yang semakin gemetar. Fredrick langsung membawa Victoria ke dekapannya dengan erat, dan sekali lagi, Victoria sangat tidak suka dengan rasa dingin dari tubuh suaminya yang biasanya selalu terasa hangat.


Cukup lama mereka saling memeluk untuk saling meredakan emosi mereka hingga isakan Victoria berhenti dan Fredrick menguraikan pelukkan mereka


"Aku punya sesuatu untukmu"


Fredrick segera menuju ke kamarnya dan kembali sambil membawa sebuah pedang. Victoria mengamati apa yang ada di tangan Fredrick


"Ini adalah pedang dari ibuku, hadiah yang di berikannya saat aku berhasil memenangkan lomba berburu pertamaku. Pedang kesayanganku" Fredrick menyodorkan pedang di tangannya yang langsung di terima Victoria. Victoria menatap lekat pedang di tangnnya lalu menatap Fredrick yang kembali berucap. "Bawa ini bersamamu, aku akan selalu bersamu"


Kepala Victoria langsung mengangguk paham dengan arah pandang yang mulai kembali buram. Victoria berharap jika dengan membawa pedang kesayangan Fredrick di saat dia sedang bertempur, Victoria bisa merasakan dan juga bisa di berikan kekuatan dari suaminya yang sedang jauh.


"Ingat jika aku selalu bersamamu Vic. Jadi... kuatlah dan teruslah menjadi kuat"


Kembali kepala Victoria mengangguk paham.


TOK TOK TOK


"Your Majesty"


Kepala Victoria langsung berputar ke arah pintu dengan jantung berdetak cepat. Fredrick meraih kembali pedang di tangan Victoria untuk di letakkan di atas meja dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju pintu. Pintu yang akan menjadi tempat mereka berpisah.


Saat sudah di depan pintu, mereka kembali saling menatap dengan dalam, saling menyelami isi hati dan perasaan mereka


"Aku pergi dulu Vic"


Fredrick menangkup wajah Victoria dan memangut lembut bibir ranum istrinya, kedua mata mereka terpejam kuat saling membagi semua perasaan berkecamuk di dalam hati mereka. Cukup lama mereka saling memberikan isi hati mereka hingga Fredrick memindahkan bibirnya ke semua wajah istrinya dan terakhir mencium dalam dahi Victoria.


Sebelah tangan Fredrick yang tidak memegang helmet-nya mulai membuka pintu dan menoleh pada Victoria dengan tersenyum mempesona.


"Setelah ini, aku ingin kita ke Yorksire untuk berlibur di waktu yang lama"


Senyum Victoria ikut terbit sambil mengusapi ke dua pipinya yang sudah kembali basah.


"Aku sudah tidak sabar Bash..."




\=\=\=💛💛💛💛


Mau Happy Ending....????


Or


Mau Sad Ending....????


Ayukkk jejaknya yukk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2