Behind The Castle

Behind The Castle
**WAR HAS COME III**


__ADS_3

Di bawah kegelapan langit malam, di dalam hembusan menusuk angin malam, di bawah derasnya guyuran air hujan. Anak-anak panah terus berterbangan dan melesat ikut terbawa bersama air yang mengguyuri musuh. Victoria terus mangamati dan menilai dalam ketenangannya, banyak pasukan musuh yang tumbang dan terlihat jelas jika barisan rapih mereka sudah berantakan dan percah tapi, itu semua pasti belum cukup. Musuh sangat banyak dan terlalu banyak


"Kira-kira berapa banyak perbedaan pasukan kita dan mereka Carl?"


Carl tampak berpikir sejenak lalu menjawab dengan pasti


"Kira-kira tiga kali lipat lebih dari milik kita, Your Majesty"


Victoria membuang nafas panjang dan terus mengamati musuh yang terus berjatuhan karna anak panah. Hingga akhirnya musuh yang terkejut dan tampak belum siap tadi mulai membentengi tubuh mereka dengan perisai. Ahh.. panah akan tidak berguna dan inilah saatnya Victoria harus kembali memutar otak, karna panah yang di lesatkan akan terbuang sia-sia. Dia butuh taktik, strategi dan waktu yang tepat, karna jika mengandalkan tenaga, jelas mereka sudah kalah telak bahkan saat belum memulai segalanya. Kembali Victoria membuang nafas panjang


"Hentikan panah Carl"


Carl mengangguk setuju dan langsung mengangkat kepalan tangannya ke atas. Tanda untuk menghentikan serangan panah.


Panah dari sisi-sisi paling dekat mereka mulai mereda dan terus mereda hingga ke sisi-sisi yang terjauh. Pergerakan lawan mulai terlihat, mereka yang sudah bisa terbiasa dengan situasi mau tidak mau akan, dan harus maju


"Mereka akan menyerang, Your Majesty"


Kepala Victoria mengangguk setuju


"Keluarkan pasukan pedang Carl"


Carl segera menoleh pada penjaga lonceng yang terus di jaga dua orang disana, satu tangannya terangkat tinggi, dengan ke lima jarinya yang tegak menjulang dan dengan cepat langsung terjatuh ke bawah


TANG!!!!


Lonceng di bunyikan dengan keras satu kali, memberi tanda untuk para prajurit dan kesatria berpedang agar bergerak cepat keluar dari tempat persembunyian mereka, juga untuk membuka gerbang persembunyian yang ada di banyak sisi istana.


Suara pagar-pagar besi terowongan di sisi-sisi istana mulai terdengar, mereka mulai membuka semua gerbang. Gesekan pintu penutup ruang terowongan bawah tanah mulai terbuka, pasukan terkuat di keluarkan. Suara gesekan pohon-pohon dan gerakan pohon-pohon di sekitar istana di mulai. Semua pasukan untuk penyerangan sudah siap.


"Serang!"


Perintah Victoria membuat Carl kembali menoleh pada arah lonceng dan mengangkat kembali satu tangannya ke atas, terus terangkat tinggi dengan waktu yang cukup lama dan....


TANG! TANG! TANG!!


Tiga kali lonceng langsung di bunyikan, memberi tanda untuk mereka harus segera menarik pedang dan menyerang.


Perang di titik ke enam, di mulai....


Suara teriakan dan gesekan pedang penuh semangat para pejuang yang siap mati untuk melindungi masa depan dan kedamaian rumah mereka mulai saling bersaut sautan


Triliunan air hujan terus jatuh dari langit. Hembusan angin semakin kuat dan menusuk. Kilatan cahaya memanjang membentuk garis tidak simetris memenuhi pekatnya langit malam. Suara-suara petir mengisi dan menemani suara-suara dalam lingkaran pertempuran. Pohon-pohon bergerak kuat. Tanah tenang sudah terus bergetar kuat karna di pijaki semangat para pejuang yang terus melaju, maju, tidak terhentikan dan tidak akan kenal takut untuk mati melindungi masa depan. Masa depan mereka, masa depan keluarga mereka, dan masa depan anak cucu mereka.


Victoria mencengkam kuat pedang kesayangan yang ada di pinggangnnya, rahangnya terkatup rapat, sorot matanya menajam dan berkilap penuh keteguhan.


Carl terus berlarian dari depan dan belakang tower untuk memantau keadaan di arah kepala dan ekor istana.

__ADS_1


Menit-menit terus terlewati, genangan air hujan semakin membawa warna merah pekat yang terus berterbangan dan mengalir, tubuh-tubuh mulai terus berjatuhan, teriakan-teriakan terus membalas suara derasnya air langit, suara pedang-pedang yang terus menabrak baju besi dan mengiris daging terus memekakan telinga. Malam mencekam Francia semakin mencekam terbawa oleh hembusan kuat angin malam.


"Berapa lama kita bisa bertahan Carl?"


Dengan nafas yang sedikit memburu karna berlarian ke depan dan belakang, Carl langsung memutar otaknya dengan cepat.


"Tidak akan sampai hingga matahari terbit, Your Majesty"


Victoria mengangguk sekali dan langkahnya semakin mendekat pada pinggiran tower. Dan di saat itulah, seseorang langsung mendongak ke atas, di tengah guyuran air langit, kedua bola mata birunya menatap Victoria. Victoria membalas tatapan itu dengan tangan yang sudah kembali bertaut anggun di depan perutnya. Membalas tatapan, Pangeran Marco.


Pangeran Marco menatap lekat ke atas tower istana untuk melihat siapa yang menjadi pemimpin serangan terorganisir dan serangan yang cukup brutal menghabisi pasukannya. Senyum lebar Marco terbit. Meski dengan memakai penutup kepala dan terbalut mantel hitam hingga menutupi semua tubuhnya, tapi dia tahu jika pergerakan anggun dan cara berdiri penuh kehormatan itu milik siapa.


Sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah dan terus mengayunkan pedangnya, kekehan geli meluncur dari mulutnya


"Adikmu mengerikan Charlotte"


---0000---


Pedang yang berlumuran darah itu terkibas kuat, warna merah yang melumuri sekujur pedang langsung terbang, yang membuat tubuh pedang kembali mengkilap terang dan kembali masuk ke dalam sarungnya. Fredrick yang baru saja melepas baju zirah beratnya dan sudah memakai baju kesatria khusus mengamati sekitar, parajuritnya yang memang tidak terlalu banyak hanya bersisa beberapa orang, itupun dengan terluka cukup parah. Fredrick menghitung kesatria emasnya yang tentu saja masih lengkap, bahkan mereka sudah ikut melepas pakaian besi berat mereka


"Lincont"


Lincont segera menyarungkan kembali pedangnya dan mendekat pada Fredrick.


"Iya Your Majesty"


Lincont menyeringai


"Baik Your Majesty"


Fredrick menaikkan penutup kepala mantelnya untuk menghalau tetesan air yang menghalau penglihatannya, kedua matanya menatap jauh ke depan, sangat jauh


"Tinggalkan yang terluka"


"Baik Your Majesty"


Lincont segera berbicara pada Keelft yang langsung mendekati satu persatu tubuh tujuh jendral-jendral perang yang sudah terbujur tidak bernyawa di atas tanah, dengan cepat tangannya mengayunkan pedang ke leher-leher mereka.


Langkah Lincont mendekati para prajurit yang terluka dan meminta mereka untuk kembali, atau yang kehilangan kuda bisa menunggu di sana.


Keelft mulai memasukkan 'kenang-kenangan' mereka ke dalam tas kain besar dan menggantungnya di samping kuda.


Langkah Fredrick langsung menuju Panter yang terlihat baik-baik saja, Fredrick tersenyum tipis sambil membelai kepala kuda tangguhnya itu, hingga kakinya bergerak naik. Semua kesatria emasnya yang masih memiliki kuda langsung iku naik ke atas kuda mereka, dan yang kehilangan kuda di bonceng yang lain.


"Ayo"


Perintah Fredrick yang di ikuti pergerakan kaki Panter membuat mereka langsung mengikuti Fredrick untuk menuju ke arah tempat tujuan mereka selanjutnya, tempat yang mungkin akan menjadi tempat paling berbahaya, jantung ibu kota, rumah utama Vancia, istana Royal.

__ADS_1


--000--


Jeremmy berdecak kesal saat akhirnya melihat seekor kuda coklat yang baru tiba mendekat padanya


"Kau terlambat"


Tomy hanya diam dan melepas penutup kepalnya untuk melihat sekeliling. Kembali, tubuh-tubuh yang tidak bernyawa berserakan, seperti sampah yang menenuhi tanah. Kedua matanya memicing pada kuda Jeremmy yang baru di naikinya. Tas besar buntalan itu menggantung di samping kudanya. Jeremmy mengikuti arah pandang Tomy


"Jangan bilang kau lupa dengan kenang-kenanganmu?


Tomy berdecak sambil menaikkan penutup kepalanya


"Mana mungkin, aku bawa tiga"


Tomy mulai menarik tali kekakangnya, yang langsung di ikuti Jeremmy


"Aku juga tiga"


"Berarti Lucas yang hanya dua?"


Jeremmy terkekeh geli sambil terus menarik tali kekangnya


"Dia pasti kesal"


Tomy yang sangat kaku seperti biasa, hanya diam saat Jeremmy terus terkekeh geli


--000--


Lucas segera melempar asal baju zirahnya, memakai mantel penutup baju kesatrianya, dan mulai menutup tas kain besarnya saat baru memasukkan dua kenang-kenangannya. Saat sudah siap, wajahnya menoleh ke belakang


"Yang tidak bisa meneruskan tunggu di sini, dan yang masih sanggup segeralah ke istana"


"Anda akan ke mana kesatria Lucas?"


Langkah Lucas langsung menuju kudanya


"Ke istana Royal"


Seorang prajurit yang bertanya langsung mengangguk paham dan kembali memutar langkahnya untuk membawa pasukan yang tersisa ke rumah utama Francia.


Langkah kaki kuda Lucas mulai terdengar hingga kudanya menghilang.


\=\=\=💚💚💚💚


Ayuk jejaknya yukk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2