
Suasana tegang dan mencekam di ruang kerja kediaman Webex seketika terhenti saat pintu ruang kerja itu di ketuk dari luar. Calista segera berdiri sambil menarik nafasnya agar terlihat tenang untuk membukakan pintu.
Saat pintu di buka, wajah kesatria Lincont lah yang di tangkap Calista dan lima orang pria paruh baya di dalam ruangan itu
"Ada apa seorang kesatria datang langsung ke mari?"
Sambil ikut mendekat pada pintu Baron Adam menatap Lincont dengan tajam. Dengan santai Lincont memberi sapaan
"Selamat siang Baron Webex dan Lady Calista. Saya mengantarkan ini"
Sambil menyodorkan sebuah amplop dengan segel kerajaan. Lincont menatap wajah Adam dan Calista bergantin.
Dengan cepat Calista meraih amplop itu dan menatap Lincont penuh tanya
"Apa ini sangat penting hingga anda sendiri yang harus mengantarkan ini ke depan pintu kerja ayahku?"
"Benar Lady"
Setelah mengetakan itu tanpa ingin berlama-lama dan berbasa basi busuk, Lincont langsung mundur dan berbalik menuju tangga
"Aku pikir seorang kesatria emas itu bangsawan yang punya pendidikan bangsawan, ternyata tidak"
Tanpa paduli dan tanpa punya niat secuilpun untuk memblas sindirian Adam, Lincont terus menuruni tangga sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Ck! tidak sopan"
Lagi, Adam yang ada di depan pintu mengeluarkan sindirannya yang tidak di tanggapi Lincont.
Calista segera menutup pintu kembali dan berjalan di meja diskusinya. Ada lima orang pria paruh baya yang sudah menatap mereka dengan pensaran.
Adam segera membuka amplop lalu membaca isi surat dan,
BRRRAAKKK!!!
"B*JINGAN!"
Guratan raut wajah marah dan gebrakan pada meja membuat Calista segera menyambar surat dari tangan ayahnya lalu membaca isi surat dan,
Sraakk!
Bunyi kaki kursi yang tergeser kasar di lantai membuat lima kepala lain semakin penasaran terlebih saat Calista yang tiba-tiba saja terduduk lemas di kursi bahkan sekarang hampir menangis
"Ada apa Lord Adam?"
Satu pria berdiri mendekat sambil menepuk pelan bahu Adam yang naik turun karna nafas amarahnya
"Mereka berani mengancam kita!!!"
Teriakan Adam membuat pria lain segera ikut berdiri dan membaca surat yang sudah ada di tangan pria parih baya yang duluan berdiri
"His Highness mengancam kita"
Nada tidak percaya dengan raut wajah terkejut tercetak pada wajah lima pria paruh baya yang lain
"Lihat saja! aku akan membongkar semuanya dan menghancurkan mereka di pernikahan terkutuk itu!"
Suara Adam yang penuh amarah membuat lima pria paruh baya lain mendesah lelah, membuang nafas panjang dan memijat pelipis mereka
"Jangan gegabah ayah"
Ucapan Calista membuat Adam narik nafas dalam-dalam untuk menghirup kewarasannya lalu menaikkan arah pandangnya lagi. Menatap ke lima pria paruh baya lain secara bergantian
"Pernikahan sudah di sepakati dan tidak akan tergoyahkan lagi. Kita mulai rencana lebih awal"
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺
Dengan tangan bertaut anggun di depan perut dan mata yang terus mengawasi. Victoria terus berdiri di depan gudang pemasok. Siang ini, kiriman pangan dari Albany kembali datang dengan jumlah sebelas kali lipat dan berita itu membuat Victora segera berlari ke lokasi untuk melihat langsung bagaimana hasil kerja keras penduduk tanah leluhurnya yang di peras dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri oleh kerajaan.
Rasanya sia-sia semua rencana Victoria untuk membantu pengeluaran untuk pernikahan. Biaya untuk pengantin perempuan dan bantuan dana dari kakaknya tetap membuat jiwa serakah kerajaan menguras dan menggerogoti hasil kerja keras penduduk tanah tercintanya.
Victoria membuang nafas lelah dengan tangan yang sudah saling meremas kuat. Dia benar-benar harus punya kekuasaan untuk menjaga tanah keluargannya. Mungkin sekarang isi kepalanya sudah untuk seluruh rakyat tapi jiwa dan nyawanya tetap untuk Albany
Setelah cukup melihat langsung. Victoria segera memutar tubuhnya untuk melangkah dengan pasti ke istana barat.
Dengan terus melirik punggung nonannya yang tampak tegang setelah sebelumnya melihat raut wajah datar dan dingin Victoria. Diana terus mengikuti langkah Victoria hingga ke depan pintu kamar Fredrick
Diana dengan cepat maju ke depan nonannya untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Your Highness... Lady Victoria datang"
Setelah memberitahukan kedatangan nonannya. Tidak lama pintu langsung di buka oleh Jeremmy
"Selamat siang My Lady"
"Apa aku bisa bicara dengan His Highness?"
Jeremmy memutar kepalanya ke dalam ruangan, lalu kembali meluruskan wajahnya pada Victoria yang tampak sedang tidak bersahabat
"His Highness sedang di ruang kerjannya My Lady. Silahkan"
Tanpa perlu berjalan anggun Victoria segera melesat masuk dan saat merasa langkahnya di ikuti, Victoria mengentikan langkahnya
"Aku ingin berbicara berdua Jeremmy, Diana"
Jeremmy dan Diana segera menghentikan langkah mereka dan hanya bisa saling melirik dengan ragu.
Tok tok tok
"Apa maksut semua ini?"
Dan benar saja. Baru saja pintu terbuka dan tubuh Victoria baru melangkah sejengkal dari pintu. Suara tidak bersahabatnya segera menyambut Fredrick
"Duduklah dulu Vic"
Victoria tidak bergeming dan melipat keuda tangannya di depan dada sambil menatap Fredrick dengan tajam. Fredrick membuang nafas panjang dan segera berdiri ke depan Victoria. Dengan lembut tangannya menarik tangan Victoria untuk duduk ke kursi meja diskusinya.
Dengan wajah datar dan dingin Victoria mendaratkan bokongnya pada kursi yang di tarik Fredrick. Fredrick ikut mendaratkan bokongnya di kursi depan meja Victoria.
"Dari mana kau ingin bertanya?"
Nada suara tenang dan raut wajah serius Fredrick membuat Victoria muak
"Kenapa kalian tetap memeras Duchy? ini musim salju dan nanti akan masuk musim dingin. Pendudukku akan kesulitan! Kalian mencuri banyak milik kerja keras mereka! Sangat banyak!"
Tangan Victoria terkepal kuat dengan rahang terkatup rapat. Fredrick mengangguk mengerti dan membuka suara
"Ini keputusan bersama Vic, kerajaan tetap memutusakan untuk menggelar pesta meriah dan akan membagikan makanan pada rakyat"
"Pesta meriah? membagikan makanan di musim salju? Apa kalian gila!"
Fredrick mendesah lelah dan menatap Victoria dengan tegas.
"Kita sudah punya ikatan kerja sama. Pesta penikahan seorang putra mahkota hanya terjadi dalam beberapa puluh tahun sekali"
Dengan kedua bola mata yang sudah mengkilap karna air mata, Victoria berdesis tajam
__ADS_1
"Kita belum menikah Fredrick. Mahar hanya baru sampai di tangan kalian. Bisa-bisanya kalian langsung memanfaatkan itu!"
Dengan santai Fredrick mengangguk setuju
"Benar. Tapi ini semua juga atas keputusan Duke Arthur"
Victoria tersentak.
"Apa?"
Masih dengan tenang dan santai, Fredrick mengangguk dan menatap Victoria dengan serius
"Duke Arthur yang menyetujui rencana ini saat rapat kami, kami menyarankan dan dia menyetujui"
"Omong kosong!" Victoria segera berdiri dari kursinya dan bejalan menuju Fredrick dengan wajah tidak bersahabat. "Kau membual! tidak mungkin A...."
"Dia mengatakan jika ingin memnerikan yang terbaik untuk pernikahan adiknya. Dia ingin memberikan mahar berkesan untuk pernikahan saudara perempuannya yang masih hidup"
Alis Victoria bertaut dalam dan menatap Fredrick dengan bingung. Fredrick mengangguk untuk meyakinkan Victoria
"Ini sebuah sindirian keras dari Duke Arthur saat rapat berlangsung dan juga untuk menunjukkan kekuasaannya"
Ucapan Fredrick membuat isi kepala Victoria langsung mencerna dan membuat amarahnya mulai mereda. Fredrick yang melihat jika raut wajah tunangannya mulai berubah, dengan tidak tahu malu menggenggam tangan Victoria sambil satu tangannya menepuk-nepuk pahanya
"Jangan marah-marah lagi. Duduklah sini, aku sudah beberapa hari tidak melihatmu"
Kembali Fredrick menepuk-nepuk pahanya dan menarik pelan tangan Victoria untuk duduk di pangkuannya. Dengan kedua mata yang menatap Fredrick dengan penuh selidik, Victoria dengan enggan mendaratkan bokongnya di kedua paha Fredrick.
Saat Victoria sudah berada di pangkuannya. Fredrick menarik kedua tangan Victoria untuk di letakkan di kedua sisi tubuhnya. Fredrick memeluk Victoria dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Victoria untuk menghirup dalam-dalam aroma bunga azela dan vanilla yang selalu memanjakan hidungnya.
"Duke Arthur mempermalukan kami dan dia berhasil menunjukkan kekuasaannya pada rapat debutnya. Aku rasa..." Sebuah kecupan lembut mendarat di leher Victoria. Victoria menggeliat geli. "Melihat dari kemampuan berpikirnya, dia sudah memperhitungkan semuanya dengan baik. Tenanglah... penduduk Duchy pasti tidak akan menderita"
Victoria semakin menggeliat dengan tidak nyaman ketika Fredrick menggesek-gesek bakal janggutnya di leher dan bahu Victoria. Fredrick yang merasakan jika Victoria terus bergerak-gerak di atas miliknya segera mencengkam dengan kuat pinggang Victoria untuk menghentikan pergerakan bokong Victoria.
"Jangan bergerak-gerak sayang. Itu berbahaya"
Victoria membuang nafas pasrah dan menarik tubunya mejauh dari wajah Fredrick. Dengan lekat Victoria menatap kedua bola mata abu-abu Fredrick yang sudah mengkilap bersemangat
"Aku sedang khawatir tapi kau malah bersemangat Bash....." Victoria melirik ke bawah saat merasakan sesuatu yang keras mengganjal bokongnya. "Kau mesum sekali"
"Aku normal sayang... aku pria normal yang menginginkanmu"
Dengan jengah, Victoria memutar bola matanya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Fredrick sambil mengeratkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Fredrick
"Aku sudah banyak belajar sekarang Bash. Aku sudah mengerti hal-hal vulgar. Jangan coba-coba membodohi dan berkata-kata penuh makna terselubung"
Sambil kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Victoria. Fredrick berguman
"Aku pria baik-baik dan polos sayang, kaulah yang menggodaku"
"Baik-baik dan polos kepalamu!"
"Wow! itu sangat kasar Vic. Dari mana kau mendapatkan ucapan itu?"
"Aku tadi mendengar pedagang dan buruh yang mengumpat pada temannya di depan gudang pemasok saat mereka mengantar pangan"
Fredrick terkekeh sambil menggigiti bahu Victoria dengan gemas. Victoria ikut terkekeh sambil menikmati tubuhnya yang meremang dengan gelayar aneh yang berputar di tubuhnya
\=\=\=❤❤❤❤
Yukk tinggalin jejaknya
Salam sayang semua✨
__ADS_1