Behind The Castle

Behind The Castle
**WELCOME HOME**


__ADS_3

Arthur dengan pelan menggendong tubuh Victoria yang tertidur. Diana dengan mata ngantuknya terlihat berbinar saat mereka sudah sampai di depan Castle Albany.


"Selamat datang di kediaman kami Lady...."


Diana tersenyum tipis pada Arthur sambil menunduk sopan


"Terimakasih Your Grace"


"Ayo..."


Diana mengikuti langkah Arthur untuk menuju pintu masuk, penjaga yang melihat kedatangan Arthur langsung menunduk dalam dan membuka pintu. Saat pintu di buka Bety, Joseph dan banyak pelayan sudah menyambut mereka sambil tersenyum


"Selamat datang..."


Joseph menyapa sambil membungkuk dalam yang langsung di ikuti semua pelayan. melihat jika para pelayan terus menatap Victoria, Arthur mengerti jika para pelayan rela menunggu atau bahkan belum tidur untuk menunggu mereka, lebih tepatnya Victoria


"Riri tidur, dia kelelahan Bety, tunjukkan kamar Lady Diana"


"Baik Your Grace" Bety tersenyum pada Diana yang tampak terus memandang semua ruangan. "Ayo Lady, sebelah sini... Saya akan menunjukkan kamar anda"


Diana yang di perlakukan sangat sopan merasa tidak enak, terlebih ketika seorang pelayan lain dengan tersenyum ramah meminta tas pakaian yang sedang di pegang Diana.


"Terimakasih tapi, tolong jangan terlalu sopan pada saya, saya hanya pelayan Her Highness"


Bety terkekeh pelan, sambil menuntun langkah Diana


"Anda teman Her Highness kan? Lady Diana?" Bety menatap Diana yang terlihat bingung. "Her Highness beberapa kali mengirim surat dan sedikit bercerita pada kami"


"Ahh begitu... saya harap Her Highness masih merahasiakan kekurangan saya"


Langkah mereka sudah sampai di atas tangga utama dan Bety merogoh sakunya


"Tidak Lady, Her Highness mengatakan jika anda sangat sabar dan baik hati, Her Highness menyayangi anda"


Mendengar ucapan Bety, pipi Diana merona malu.


Saat pintu di buka, Bety mempersilahkan Diana masuk. Saat arah pandang Diana sudah melihat isi ruangan, matanya membulat dengan mulut yang ikut menganga


"I-ini kamar saya nyonya Bety?"


Sambil mengarahkan pelayan untuk membawa tas Diana ke dekat lemari, Bety menjawab


"Iya Lady... kami harap anda bisa merasa nyaman di sini. Perintahkan saja kami jika anda ingin..."


"Tidak! kamar ini terlalu mewah nyonya. Saya ti...."


"Bety, panggil saya Bety My Lady. Dan kamar ini memang kamar tamu. Atau anda ingin kamar yang lebih besar lagi?"


Diana langsung menggeleng kuat


"Tidak Bety, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih banyak" Diana memperhatikan pelayan yang mendekat pada mereka. "Dan tolong panggil saya Diana saja"


Bety langsung mengangguk dan meminta ijin Diana untuk merapikan pakaiannya. Setelah Diana memberikan ijin dengan perasaan tidak enaknya, Bety menawarkan untuk mandi dengan di temani seorang pelayan untuk membantu Diana, tapi lagi, Diana menolak. Hingga akhirnya Bety pamit untuk ke kamar Victoria.


Setelah semua orang pergi, Diana menatap semua isi kamarnya sambil berguman


"Sebenarnya seberapa kaya keluarga Arathorn?"


--000--


Diana sudah selesai memakai gaun simplenya dan siap untuk keluar kamar dan mengurus Victoria, dia harus bertanya dulu di mana kamar Victoria.


Dengan mata yang terus menjelajah setiap sudut dalam Castle, Diana mencari seseorang yang bisa di tanyanya hingga Joseph muncul dan langsung menyapanya.

__ADS_1


"Selamat pagi Lady..."


"Oh.. Selamat pagi Tuan"


Joseph tersenyum ramah


"Kita belum berkenalan Lady. Saya Joseph, kepala pelayan Castle. Panggil saya Joseph saja Lady"


"Ahh iya... saya Diana, Joseph. Dan tolong panggil saya Diana saja"


"Baiklah Diana, mari kita sarapan. Her Highness dan His Grace sudah menunggu" Diana menatap Joseph dengan raut bertanya. Joseph yang mengerti menjelaskan. "Benar Diana, Her Highness sudah bangun dan meminta anda untuk ke ruang makan"


Dan Diana langsung mengikuti langkah Joseph untuk menuju ruang makan.


Victoria dan Arthur yang sudah menunggu di meja makan tersenyum melihat Diana yang muncul.


"Bagaimana tidurmu Di? apa kamarnya cocok?"


Diana membungkuk dalam pada Arthur dan mengabaikan Victoria


"Selamat pagi Your Grace. Saya benar-benar nyaman dengan kamarnya. Meski kamar itu terlalu indah untuk saya"


Arthur melirik Victoria yang mencibik sebal karna di abaikan, lalu menatap Diana


"Baguslah kalau begitu. Silahkan duduk Lady"


Dengan sopan Diana kembali membungkuk dalam


"Saya akan makan di dapur bersama para pelayan Your Grace, saya...."


"Duduk Diana". Diana meringis sambil menatap Victoria yang keras kepala sudah menepuk-nepuk meja di sebelahnya. "Duduk Diana"


"Duduklah Lady, tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak. Silahkan"


Jika Arthur sudah menawarkan dengan sopan, mau tidak mau Diana segera mengambil kursinya dan menatap peralatan table manner-nya. Entahlah, apakah dia masih ingat dengan table manner meja makan bangsawan.


Setelah Arthur menyelesaikan doanya. Arthur langsung memulai table manner yang langsung di ikuti oleh Victoria dan Diana. Mereka makan dalam diam dan dalam posisi bangsawan elegant kelas atas. Jujur saja, Diana merasa kikuk dan harus melirik Victoria berulang kali untuk memulai peralatan dan jalannya table manner. Hingga Arthur menyelesaikan makannya, meminum airnya dan mengelap sudut bibirnya.


"Apa yang akan kalian lakukan setelah ini Ri?"


Dengan senyum antusias, Victoria melirik Diana.


"Aku akan memperkenalkan Diana pada yang lain dan membawanya berkeliling Castle. Dan kau Archi?"


"Aku akan mengecek bahan pangan dan keadaan penduduk" Arthur menoleh pada Diana. "Selamat bersenang-senang Lady, dan jaga anak nakal ini"


Diana tersenyum haru sambil menunduk sopan


"Baik Your Grace"


---000---


Edward menatap pria yang tampak menyedihkan di depannya. Bagaimana tidak menyedihkan, jika wajah yang biasanya bersinar tampan itu tampak murung, bahu lebar yang selalu tegap penuh percaya diri itu luruh tidak bertenaga, tubuh kekar yang biasanya bergerak dengan penuh daya pikat itu sekarang tampak layu tidak bergair*h


"Apa dia pulang dengan aman?"


Satu alis Edward menukik tinggi


"Siapa?"


Suara helaan nafas lelah berhembus dengan di ikuti hentakan gelas ke atas meja


"Victoria"

__ADS_1


"Ohh.."


Fredrick menatap Edward yang terlihat enggan menjawabnya, meskipun Fredrick yakin jika istana akan memberikan perjalanan yang lebih dari kata aman untuk istrinya itu, tapi entah untuk apa dia tetap ingin menanyakannya. Ck! seperti orang bodoh saja.


Jeremmy akhirnya ikut menuangkan brandy ke gelasnya. Cairan melegakan dan bisa memabukkan itu sekarang mengisi gelasnya, Jeremmy terus memandang gelasnya yang sudah setengah penuh sambil mengigat kejadian beberapa minggu lalu, saat terakhir kalinya Fredrick datang karna surat Calista


FLASHBACK


Dengan pelan, Jeremmy menutup rapat kembali pintu dengan hati penuh kekecewaan. Kedua tangannya terkepal kuat, sangat kuat hingga mungkin sudah melukai tangannya sendiri. Inilah yang selalu di khawatirkannya jika Fredrick kembali bertemu dengan wanita yang sekarang semakin dan semakin di bencinya. Dengan perasaan hancur dan bibir gemetar, Jeremmy yang sekarang hanya memikirkan seseorang berguman lirih.


"Her Highness...."


Dengan langkah berat dan kecewa, Jeremmy akan menuruni tangga tapi, suara barang bergeser kuat membuatnya langsung kembali memutar langkah untuk mendekat pada pintu, dan dengan kemahirannya membuka sangat pelan untuk membuat sedikit cela pintu agar dia bisa mendengar apapun yang terjadi.


Jeremmy tahu jika Fredrick memang bajing*n tapi, sekarang dia tidak yakin jika di dalam sedang terjadi pergumulan panas terlebih karna di dalam sedang penuh dengan suara-suara isakan dan makian-makian peringatan


"Ini terakhir kalinya kau bisa menyentuh kulitku Calista, ingat terakhir!"


"Apa maksutmu?" Suara Calista berhenti dengan di susul suara kaca yang pecah. "Kita bisa kembali lagi Fred! aku masi....."


Jeremmy yang semakin penasaran membuka sedikit lagi pintu agar matanya bisa melihat aktifit*s di dalam.


"Kau lihat ini....." Tangan Fredrick tertunjuk ke miliknya yang ada di balik celana. "Seberapa keras kau memancingnya ini tidak akan bangun lagi untukmu Cal, dan sekarang pahamilah hubungan kita. Hubungan kita adalah masa lalu, dan hanya tentang s*x untuk kesenangan sesatku, untuk kebutuhan tidak bermoralku, hanya tentang itu dan selalu tentang itu. Dan saat aku sudah menemukan wanita terbaik yang ku sayangi dan sudah ku pilih untuk masa depanku, hubungan s*x liar tidak akan berlaku lagi untukku. Istriku, aku hanya ingin istriku. Jadi, kita akhiri semua ini demi kebaikanmu dirimu sendiri. Aku melakukan ini karna mengingat jasamu"


BRAKKK!!!


"Omong kosong!"


Calista dengan tubuh setengah terbukanya kembali mencoba menerjang Fredrick, tapi naas, tubuhnya terdorong kuat, sangat kuat, saat Fredrick sudah tidak menahan lagi kekuatannya untuk mendorong Calista


Calista terisak dan berteriak


"Aku akan membalas semua ini! lihat saja kau! semuanya!!! kalian semua akan ku hancurkan!!!!"


Jeremmy melihat Fredrick yang hanya mendengus kasar dengan wajah menahan amarah dan jijik, lalu mengeratkan kembali mantelnya, setelah itu Jeremmy langsung melompat menjauh dari pintu karna Fredrick bergerak untuk meraih gagang pintu dengan sekali langkah. Dan saat Fredrick membuka pintu, Jeremmy dengan berpose kikuknya membuat Fredrick hanya bisa mendengus kasar.


Dengan kuat Fredrick membanting pintu hingga tertutup rapat, merogoh mantelnya untuk mengambil sapu tangannya dan mengusap kasar, sangat kasar mulutnya hingga memerah. Setelah puas mengusapi mulutnya lalu ke dua tangannya, dan mencampakkan begitu saja sapu tangan tidak berdosa itu, langkah Fredrick kembali bergerak


Jeremmy hanya diam membatu di tempat hingga langkah Fredrick menuruni tangga, dan Jeremmy langsung berlarian kecil mengejaranya sambil mengabaikan semua mata palayan yang menatap mereka dengan penasaran dan bingung.


Tujuan Fredrick jelas adalah pintu keluar, Jeremmy terus mengikuti hingga sampai di depan kuda mereka. Fredrick melebarkan arah pandangnya dan menatap sekeliling sekilas lalu menatap Jeremmy


"Kembali lah ke istana dan cari Gregory. Minta dia mencari tahu semua perputaran surat yang masuk ke kediaman Webex dalam satu bulan terakhir"


Sambil mengikuti langkah Fredrick yang naik ke atas kuda, Jeremmy menatap Fredrick penuh tanya


"Apa anda mencurigai sesuatu?"


"Dia tidak mungkin seberani ini mengungkit kembali semua masa lalu gelap jika tidak memiliki kepercayaan diri Jer. Apa lagi dia berani mengancam, pasti ada yang memberikan dukungan dan minyak segar padanya"


Di tengah kemelut pikiran bingung Jeremmy, akhirnya kepalanya menemukan sebuah kesimpulan atas perkataan Fredrick


"Larina.....???"


"Semua perhitunganku benar dan kita harus menemukan polanya Jer. Segera laporkan apapun ke Edward. Termasuk yang terjadi hari ini"


Flasback off


\=\=\=💚💚💚💚


Tadinya pen buat flashback view fredrick tp nanti pada ga percaya, kl dr jeremmy mesti pada percaya semua. ckckkck


Hayo... siapa sdh yang sempet darah tinggi? ato mungkin masih? ckck

__ADS_1


Ayukk jejaknya yukkk..


Salam sayang semua✨


__ADS_2