
Sudah tiga bulan kepergian Victoria dari istana. Keadaan semakin panas dan rumor semakin menyebar tanpa ampun. Bahkan sekarang rumor baru bermunculan, mata pedang tidak hanya mengacung pada istana, Fredrick dan Calista tapi juga pada, Victoria. Aroma busuk menyebar bagai api yang sedang melahap kertas dan api itu semakin hari semakin membakar.
Fredrick yang beberapa hari ini menunjukkan raut wajah muram dan sorot mata tidak bersahabat terus mengayunkan pedangnya pada Carl yang juga ikut terseret dalam api rumor. Sesekali Carl meringis karna tidak mampu mengimbangi keberingasan dan pergerakan gesit tangan Fredrick. Sesekali Carl berdesisi saat beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri ketika mendapat hantaman kaki atau tangan Fredrick. Dia merasa jika mungkin sebentar lagi, ujung tajam mata pedang Fredrick juga akan ikut menghantam tubuhnya
BUGH!
"ENOUGH FRED!"
Edward yang mulai kesal bagai sosok malaikat tak bersayap untuk Carl saat ini. Akhirnya pukulan kuat Edward di kepala Fredrick menghentikan pergerakan Fredrick
"Kau ingin membunuh anak didikku hah!"
Dengan rasa lelah di tubuh dan rasa panas di hatinya, Fredrick menjatuhkan begitu saja tubuhnya ke tanah yang sudah tidak tertutup salju lagi. Angin musim semi membuat kedua matanya terpejam erat dengan dada yang naik turun dan nafas tidak beraturan.
Melihat Fredrick yang sudah mulai mengikat setannya kembali. Edward dengan cepat mengusir Carl yang tidak berdosa agar selamat dari maut. Edward membuang nafas panjang sambil berkacak pinggang
"Carl tidak tahu apapun Fred, jangan melimpahkan kekesalanmu padanya"
"Dia selama ini terlalu dekat dengan istriku hingga bisa membuat rumor tidak sedap Ed! Bagaimana aku tidak kesal hah!"
Edward kembali membuang nafas panjang dan menatap Fredrick yang sekarang baru dia sadari juga sedang cemburu buta
"Dia dekat karna mengerjakan perintah Fred, sadarlah"
Akhirnya ke dua mata terpejam itu terbuka, menunjukkan keindahan bola mata abu-abu yang masih berkilap kesal. Edward yang menyadari kilapan kedua bola mata itu mendekat pada Fredrick dan mengulurkan tangannya. Fredrick menerima uluran tangan Edward dan menegakkan punggungnya kembali
"Aku tidak peduli serusak apa namaku di mata orang lain, aku tidak peduli dengan penilaian orang yang tidak mengenalku, tapi istriku juga terseret. Mereka menyebut istriku bermain gila dengan pengawal terdekatnya karna aku mencampakkannya Ed! Aarrhh!!" Fredrick mengacak-ngacak rambutnya. "Ini kelewatan!"
"Aku tahu Fred, tenanglah. Kita sedang menunggu. fokuslah... Ini tidak akan lama lagi"
Nafas pasrah Fredrick berhembus sambil berdiri dan berjalan menuju camp. Edward hanya menatap punggung Fredrick dengan terus memikirkan rumor yang baru-baru ini menggila, ucapan mulut-mulut tidak bertanggung jawab itu mengatakan jika Victoria di campakkan? ohh yang benar saja... rumor itu sangat jauh terbalik dengan fakta, bukan Victoria yang di campakkan tapi Fredrick-lah yang berada posisi di buang. Edward yakin jika Victoria di sana sedang bersenang-senang di atas kegilaan suaminya yang merindu, suaminya yang semakin hari semakin tampak idiot bahkan, dengan hanya mendengar seseorang menyebut nama istrinya sedikit saja wajahnya akan merubah sendu.
Tanpa bisa di cegah, Edward terkekeh geli sambil memungut pedang Fredrick. Mulutnya berguman.
"Bertahanlah bodoh... sebentar lagi"
--000--
Sambil mengunyah biskuitnya, Victoria duduk tenang menunggu Arthur di ruang kerja Arthur. Menunggu Arthur selesai mandi sehabis perjalanan tiga harinya memantau segala keadaan. Istana tidak bisa mengirim surat lagi karna mata-mata semakin banyak menyebar, semua yang mereka lakukan harus terlihat natural. Rencana mereka harus berjalan rapih.
Cklek!
Suara pintu di buka membuat Victoria menoleh ke arah Arthur yang baru masuk dengan piama tidurnya
"Apa kau sudah makan Ri?"
Tangan Victoria meletakkan biskuitnya dan mengangguk
"Sudah, bagaimana denganmu?"
__ADS_1
Arthur menarik kursi di sebelah Victoria
"Aku sudah makan saat di perjalanan pulang. Bagaimana mereka?" Arthur menatap perut Victoria yang semakin membuncit dan bulat. "Apa kau ada keluhan?"
Bibir Victoria tersenyum tipis
"Mereka sangat baik Archi. Selain tubuhku tidak ada keluhan lain"
Arthur terkekeh sambil mencubit pipi Victoria yang semakin membulat lucu
"Mereka akan menjadi anak-anak yang kuat"
"Tentu saja"
Setelah berbasa basi, akhirnya raut wajah Arthur berubah serius
"Keadaan semakin panas Vic, sekarang mereka malah menyeretmu"
Victoria yang sudah membaca surat kabar pagi ini mengangguk paham
"Mereka menyerbu segala sisi" Saat Arthur hanya bisa mendesah lelah, Victoria melanjutkan ucapannya. "Bagimana parlement?"
"Panas dan kacau, sekarang kubu-kubu semakin nyata, meskipun mereka masih terlihat memihak padamu tapi cepat atau lambat, tahta suamimu mulai akan goyang. Terlebih saat rakyat mulai menyatakan protesnya sambil berkumpul di depan gerbang istana dan parlement"
Alis Victoria bertaut dalam
"Ini lebih gawat dari yang ku pikirkan"
"Keadaan His Majesty sepertinya semakin buruk Vic. Bahkan sekarang, dokterpun seolah menyembunyikan keadaannya yang berarti...."
"Lonceng panjang akan berdentang" Victoria menimpali sambil menatap api lilin yang tenang. "His Majesty.... sekarat"
Keheningan terjadi saat ucapan Victoria meluncur tenang tapi dalam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Arthur kembali membuka suara
"Menurutmu, langkah apa yang akan mereka lakukan setelah semua ini Vic"
Victoria menatap kakaknya dengan lekat dan dalam
"Mereka yang meletakkan mata dan telinga di setiap sudut istana akan segera tahu ini" Victoria menjeda dan membelai perutnya "Mereka akan bergerak untuk menguasai istana. Pemilik tahta tertinggi lain, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menunjukkan mahkotannya. Tinggal menunggu waktu dia akan keluar, karna yang menyegelnya, mungkin sedang berjuang dengan maut dan... menunggu waktu"
Arthur hanya bisa diam sambil ikut menatap api lilin yang tenang.
"Archi, tolong apapun yang akan terjadi nanti tetaplah bersamaku. Bukan hanya sebagai adikmu tapi juga... aku sebagai Victoria Castalarox"
Arthur tanpa ragu, tanpa perlu berpikir segera berdiri dan menatap Victoria dengan dalam sejenak, lalu membungkuk dalam
"Aku, Arthur Arathorn, Duke of Albany akan bersama anda.... Your Highness Putri Victoria"
---000---
__ADS_1
Fredrick tersenyum tipis pada Snow yang terlihat nyaman dengan usapan tangannya
"Berapa lama kau akan pergi Fred?"
Masih dengan arah pandang yang menatap Snow, tangan Fredrick terus membelai kepala dan punggung Snow
"Aku tidak tahu Ed, kita harus benar-benar menelusuri keadaan di sana terlebih" Fredrick melirik Edward yang ikut menatap Snow. "Keberadaan dan keadaan 'kartu as'..."
Edward mengangguk paham
"Siapa yang akan kau bawa"
"Jeremmy, Tomy, Lucas, Carl, Gregory dan Lincont. Aku akan membawa semua yang terbaik, kita memburu waktu"
Kembali Edward mengangguk paham
"Kau meninggalkan Keelft untuk membantuku?"
"Untuk memantau Drachenburg dan dua kesatria di sana"
"Aku mengerti"
Fredrick membuang nafas panjang
"Sekitar dua bulan lagi istriku melahirkan Ed, apa dia akan baik-baik saja?"
Edward menatap Fredrick dengan dalam, raut wajah dan tatapan kedua bola mata abu-abunya hanya berisi kecemasan dan kekhawatiran. Edward tidak pernah melihat Fredrick menunjukkan wajah dan pandangan seperti ini selama hidupnya melihat Fredrick tumbuh. Dulu sekali, pandangan dan raut wajah itu hanya akan dia tujukan pada ibunya tapi sekarang. Semua itu di tujukan untuk ibu dari calon anak-anaknya nanti dan juga sepertinya untuk anak-anaknya. Edward tersenyum tipis.
"Dia akan baik-baik saja Fred, dia bersama dan berada di tempat teraman dan tempat terhangat. Tidak akan ada yang berani mengusik Albany. Duke Arthur akan melakukan apapun untuk adiknya"
Fredrick tersenyum getir
"Aku benci ide pertengkaran itu. Harusnya aku menemaninya saat mengandung, menguatkannya, memberikan segala kenyamanan untuknya Ed"
Edward memutar bola matanya dengan jengah saat Fredrick kembali melow
"Jangan cengeng bodoh! istrimu bahkan mungkin tidak peduli padamu. Fokuslah"
"Ck! tidak bisakah kau berbohong sedikit hah? sialan! aku sangat benci kejujuranmu Ed"
Tangan Edward ikut membelai punggung Snow sambil terkekeh
"Kau benar-benar tidak menarik untuknya Fred"
Fredrick melotot dengan raut wajah kesal menatap Edward
"Aku tidak butuh perkataanmu sialan!"
Dan Edward langsung terbahak
__ADS_1
\=\=\=🎀🎀🎀🎀
Ayukk jejaknnya yukkk