
Langit siang hari ini sangat cerah, karna musim panas sebenar lagi memang akan tiba. Mungkin sekitar dua minggu lagi dan sekitar waktu itu juga, Victoria akan melahirkan. Aku sudah sangat tidak sabar untuk melihat bayi kecil lagi, yang ku harapkan jika anak kami kali ini akan mirip seperti Victoria. Aku sangat berharap anak ke tiga kami kali ini mirip sepertinya. Tidak ada hal yang lebih luar biasa menyenangkan ketika aku memiliki dua wajah Victoria. Well... tolong bantu doakan agar anak ke tiga kami nanti mirip seperti Victoria.
Aku dan George sempat bertengkar hebat karna Victoria, istriku yang paling manis sejagat raya dunia itu meminta George untuk membuatkan nama anak ke tiga kami nanti. Cih! Enak saja! aku tentu tidak terima! bisa-bisanya tua bangka itu memberikan nama untuk anakku, hasil kerja kerasku, dan hasil benihku yang sering aku tanamkan dengan sengaja... Ekhem! Tolong jangan beri tahu Victoria tentang ini, karna setelah kami selesai bercinta aku selalu berkilah jika aku tidak sempat mencabut milikiku saat sudah meledak. Hah! dan akhirnya kerja kerasku membuahkan hasil kan? Meski waktu penantianku harus menunggu dalam waktu lima tahun. Waktu yang cukup lama itu di karenakan pekerjaan kami yang semakin berat di awal Francia melebarkan kerajaan. Itu yang di katakan dokter Lily padaku saat aku berkonsultasi diam-diam padanya
Aku menatap Ferdinad yang sedang bermain bersama Edward. Jagoan tampan ku itu sangat suka berpedang dan juga sangat suka pada Edward. Crab! sialan memang! Bagaimana kedua anak-anakku bisa sangat menyukai dua orang yang paling menyebalkan di dunia ini?
Aku beritahu pada kalian. Francesca, putri cantik keras kepala ku itu sangat suka pada George, gapa-nya, mereka memanggil George 'gapa' karna ketika kecil saat mereka baru belajar berbicara mereka kesulitan menyebut 'Grandpa'. Baiklah.. kembali lagi ke ceritaku. Francesca, putri cantikku itu tidak akan bisa tidur sebelum George yang menidurkannya terebih dulu. Saat dia belajar, aku melihat jika pitriku sekarang menjadi semakin mirip dengan George. Cara bicaranya, senyumnya, cara berpikirnya dan masih banyak lagi. Bukankah itu bencana?
Lalu Ferdinand, jagoanku itu sangat suka sekali pada Edward. Pernah sekali aku sengaja tidak membawa Edward ke Yorksire dan kalian tahu apa? Ferdinand menangis seharian hingga aku harus memerintahkan Carl menjemput Edward. Setiap waktu jika mereka bertemu, Ferdinad akan meminta Edward mengajarinya berpedang, demi tahtaku! Ferdinad baru berusia lima tahun lebih! Tapi sudalah... Anak lelaki memang harus ganas, sexy dan... menggoda kan? Sst! ini juga jangan beritahukan pada istriku, karna jika dia mendengarnya telingaku bisa di tarik hingga memanjang.
Aku melirik George yang dengan santai menikmati pemandangan di depannya. Pemandangan Lady Charlotte yang sedang tertawa bersama istriku. Keponakkan ku, Michael yang sedang bermain bersama Francesca dan Jeremmy, Ferdinad yang sedang berpedang-pedangan dengan Edward dan Carl, serta kami yang sedang duduk berdua di meja taman sambil saling herhadap-hadapan menikmati teh siang.
Wajah tua George yang terakhir kali di selundupkan dalam rencana, kabarnya sudah terlihat benar-benar seperti mayat bernafas. Tapi sekarang, semakin hari malah semakin segar. Uh! aku sangat kesal dengan wajah itu, terutama saat dia tersenyum hangat. Aku beritahu, ayahku itu punya berjuta rahasia tersembunyi yang sulit untuk di baca apa lagi di bongkar dalam senyumnya itu. Dia itu ular tua licik berbahaya, well... meski dia memang sangat penyayang dan aku juga menyayanginya. Rahasiakan ucapan terakhirku.
Aku kembali memandangi istriku. Wanita luar biasa dan hadiah luar biasa untukku itu sedang menggoda Lady Charlotte yang terlihat mulai kesal. Dia pasti sedang mengatakan sesuatu yang menyebalkan pada kakaknya.
Oh iya.. setelah eksekusi Pangeran Marco, Lady Charlotte memutuskan untuk keluar dari Francia dalam keadaan mengandung. Bahkan dia tidak ingin menemui Pangeran Marco untuk yang terakhir kalinya. Aku juga tidak mengerti kenapa, padahal aku sudah menahan waktu eksekusi agar dia bisa bertemu dengan tunangannya. Walau bagaimanapun juga, Lady Charlotte adalah kakak iparku dan wanita kesayangan istriku. Meski sempat terjadi pertikaian di antara mereka tapi aku yakin, cinta istriku untuk seluruh keluarganya tidak akan pernah berkurang. Walaupun semua cinta itu akan kalah ketika di hadapkan dengan cintanya pada rakyat dan kerajaan. Istriku memang lahir untuk menjadi Ratu dan kata Ratu Victoria, aku ini memang lahir untuk menjadi Raja yang luar biasa. Ohh... setiap mengingat ucapannya, membuat semangatku untuk bekerja semakin menggebu.
Aku ingat dia menangis seharian ketika aku baru memberitahukannya jika Lady Charlotte memutuskan untuk pindah ke kerajaan Transia. Dia sangat marah padaku karna merahasiakan ini, padahal aku ini tidak bersalah. Duke Arthur lah yang merencanakan itu dan aku hanya membantu dan mendengar kabar. Aku tidak salah kan?
Aku kembali melirik George yang baru meletakkan cangkirnya. Rambut pekatnya semakin memutih, guratan tuanya semakin jelas, meski wajah itu tampak sangat segar dengan tubuh yang juga ikut segar. Sialan! aku jadi kesal lagi.
"Jangan mengumpatiku dalam hati Fred, mengumpatlah di depan wajahku langsung"
Geezzzz.. Ular tua itu memang tahu segalanya, bahkan isi hatiku. Aku mencoba menutupi keterkejutanku dan menatapnya
"Apa kau bahagia George?"
"Tidak pernah sebahagia ini. Dan kau?"
Tanpa bisa menahan, bibirku tersenyum sambil menatap kedua bola matanya yang sama persis sepertiku
"Terimakasih sudah membawa Victoria di hidupku"
Aku bisa melihat jika sudut bibirnya ikut tersenyum sambil matanya yang berbinar bahagia menatapku dengan dalam
"Apapun akan ku lakukan, apapun yang terbaik untuk kebahagiaanmu nak"
Dan kali ini, matanya menggenang. Ck! tua bangka itu pasti akan menangis. Dan aku harus merubah topik sebelum dia benar-benar menangis.
"Henry akan kembali ke istana, dia sudah menyetujui permintaanku"
Satu alis George terangkat
"Untuk apa?"
"Aku memintannya menjadi penasehatku"
George memutar bola matanya dengan malas
"Kau itu bukan memintanya untuk menjadi penasehat, tapi akan menggunakannya untuk menghandle pekerjaan yang akan kau abaikan agar kau bisa bermain-main dengan anakmu kan?"
"Binggo!"
Kembali, George memutar bola matanya. Tapi aku tidak peduli. Aku memang punya pikiran licik untuk Henry. Henry dulu juga mendapatkan pelajaran untuk menjadi Raja, pelajaran yang tentu saja diam-diam di lakukan 'wanita itu' dan Thanks God! sekarang pelajaran itu akan sangat membantuku.
Berbicara tentang Henry, tahun depan dia akan menikah dengan seorang gadis biasa dari kerajaan timur. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, apa lagi untuk ingin peduli dengan kisah cinta mereka tapi, aku ikut berbahagia dari lubuk hati terdalamku. Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat mencintai adik malangku itu. Dia anak yang patuh, polos, dan baik, tidak sepertiku.
Sedari kecil dia anak yang jujur, dia akan mengatakan apapun padaku termasuk dulu tentang hubungan ibunya dan ayahku. Walau dulu kami tidak paham tentang hubungan itu tapi sekarang aku tahu, jika Henry sering khawatir pada ibuku. Mendiang Ratu Rosemary yang sering menangis saat bertemu ibunya, membuat Henry jadi mengkhawatirkan ibuku hingga selalu menceritakan padaku setiap kedatangan ibu ke Larina agar aku memberi penghiburan untuk ibu. Dan juga walaupun dulu ibuku sempat sangat membenci ibunya, tapi ibuku yang sangat baik itu tidak pernah membenci Henry. Aku ingat perkataannya yang juga sering mengingatkanku ketika aku sudah dewasa dan mengerti cerita, aku harus tetap mencintai Henry. Karna dia adalah satu-satunya saudaraku, adikku. Baiklah... cukup membahas masa lalu.
Apa ada yang ingin tahu tentang Calista? mungkin tidak ada, tapi aku akan tetap menceritakannya. Terakhir, aku bertemu dengannya di pesta ulangtahun Victoria tahun lalu. Awalnya aku tidak tahu kenapa dia bisa datang. Tapi ternyata, Victoria yang mengundangnya. Istriku yang ganas tapi juga berhati sangat hangat itu mengatakan jika sebenarnya nasip Calista tidak jauh berbeda dengannya. Mereka wanita yang sama-sama menjadi koban ke-egoisan masa lalu dan juga korban permainan politik. Meski Calista itu bodoh dan tidak secerdas istriku. Jadi, istiku ingin semuanya berdamai dan menyambut masa depan penuh dengan kelegaan di hati.
Well... Terserah istriku saja, karna sebenarnya aku tidak perduli. Oh iya.. Calista juga sudah menikah dengan Isac, kalian ingat kesatria yang selalu menjaganya itu? dan pernikahan itu bisa di katakan pernikahan paksa karna kebaikan istriku juga.
Victoria membuat pilihan pada Isac. Mati karna dosa membunuh anjing keluarganya, atau menikahi Calista. Mengingat wajah Isac saat Victoria memberikan pilihan itu padanya membuatku selalu ingin terus tertawa. Wajah Isac saat itu seperti habis melihat ikan paus berjalan di darat. Sungguh sangat lucu!
Dan ku beritahu sesuatu, jika istriku mempunyai alasan lain untuk pernikahan mereka. Victoria, istri terbaik sejagat raya ku itu ingin Calista ada yang menjaganya, karna dia ingat pesan ibuku. Pesan terakhir ibuku untuk selalu menjaga Calista meski aku sudah menjadi Raja. Luar biasa kan? tentu saja... dia istriku! hah!!
"Apa yang kau pikirkan?"
Lagi-lagi si tua bangka itu bersuara menganggu lamunanku
"Entahlah..."
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Sudah hampir sepuluh hari kami di Yorksire. Aku menikmati waktu mengurus anak-anakku yang sedang sakit dan juga waktu untuk ku istrirahat. Seperti sekarang, tidak ada yang lebih membahagiakan ketika kau berkumpul bersama keluargamu, orang-orang yang menyayangimu dan kau sayangi.
"Papa, aku besok ingin berkuda dengan Edward"
Aku menghentikan gerakan tanganku di perut Victoria dan melebarkan satu tanganku agar jagoan tampan ku yang baru masuk ke kamar kami ikut tidur di atas ranjang.
"Boleh... tapi selalu hati-hati dan selalu ingat larangan Edward"
"Yey! terimakasih papa"
Ferdinand langsung bersorak dengan mata berbinar dan menciumi pipiku dan pipi Victoria dengan basah. Ohh... jagoanku manis sekali
"Apa aku juga boleh ikut papa?"
Kali ini Francesca menyusul adiknya dan masuk ke kamar kami. Aku tersenyum gemas dan langsung memainkan ikatan rambutnya saat dia mendekat. Ikatan rambutnya sangat lucu dan ini pasti buatan Lady Diana, salah satu wanita yang juga kesayangan istriku
"Kau akan berkuda bersama siapa nak?"
Francesca semakin mendekat dan mengikutiku yang menempel pada perut Victoria
"Tuan Jeremmy, aunty Lottie dan Michael. Apa boleh papa?"
Wajahnya menatapku dengan penuh harap, matanya berbinar menanti, pipinya yang bulat mengembung saat putri cantikku ini sedang sedikit gugup, tangannya membelai pelan tanganku untuk merayu. Ohh astaga... bagaimana kalian bisa menolak dan mengatakan tidak jika begini? tapi aku jarus memastikan keselamatannya dulu
"Kau akan berkuda bersama Jeremmy?"
"Iya papa. Dan aunty Lottie akan bersama Mike"
Senyumku tidak bisa di tahan dan kepalaku bagai tersihir hingga tanpa sadar hanya mengangguk
"Jadi bolah kan papa?"
"Iya sweetheart. Yang penting selalu hati-hati dan selalu patuh pada larangan Jeremmy saat kalian di atas kuda"
Senyum lebar Francesca langsung terbit, gigi-giginya yang kecil membuatnya terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Terimakasih papa"
Mereka berdua langsung ikut membelai perut Victoria. Adik mereka yang sebentar lagi akan melihat dunia. Sesekali tendangan di perut Victoria membuat mereka terkikik geli, sesekali mereka tertawa saat Victoria mencubit pipi mereka yang bulat. Ohh Tuhan... kebahagiaan ini terasa sangat indah.
"Tidak Frances! dia harus laki-laki"
Francesca langsung menatapku minta pembelaan, aku hanya tersenyum karna semua anakku sama. Mereka semua spesial dan aku tidak pernah suka mengajarkan untuk memihak salah satu, tapi.... mungkin jika yang ketiga ini mirip istriku, aku tidak berani jamin jika aku masih bisa stay netral. Kalian tahu kan jika wajah Victoria itu menakutkan daat marah, jadi aku tidak akan berani membuat wajah yang seperti itu marah
"Kau sudah memiliki Mike, Dinand. Dan aku tidak punya teman"
"Kau kan punya Diana"
"Itu berbeda! Lady Diana bukan anak kecil lagi"
Dan pertarungan mereka yang sudah sangat sering terjadi ini terus berlanjut. Aku hanya diam menikmati belaian lembut dari tangan halus istriku. Tangannya yang hangat sedang membelai rambutku. Dan aku selalu sangat menyukai ini.
"Mama, dia akan perempuan kan?"
Aku melirik Victoria yang juga hanya tersenyum sambil memindahkan tangannya dari rambutku untuk merapikan poni Francesca.
"Tidak mama, dia akan laki-laki kan?"
Kembali aku melirik Victoria yang hanya tersenyum dan mencubit pipi Ferdinad.
Aahh... aku juga sebenarnya penasaran dengan jenis kelamin bayi kami nanti. Tapi apapun dan bagaimanapun mereka, cintaku pada mereka tetap sama. Selalu akan sama.
Rasanya mataku sangat mengantuk saat kembali Victoria membelai rambutku. Suara perdebatan lucu dan keributan menggemaskan anak kembarku tidak membuat kenyamanan ku berkurang hingga... sayup-sayup aku menangkap ringisan Victoria. Mataku langsung terbuka dan menegakkan kepalaku
"Kenapa sayang? apa aku terlalu menekan perutmu?"
Ucapanku membuat perdebatan yang sedang berlangsung mereda. Aku menatap lekat raut wajah Victoria yang sepertinya semakin kesakitan. Oh tidak! ada apa ini?
"Vic, kenapa? apa yang sakit"
"Ba-bash... tolong panggil Sisi dan Bety sekarang"
Aku yang masih panik, belum juga bisa bergerak dan masih terdiam sambil menatap Victoria yang semakin meringis
"Mama kenapa?"
__ADS_1
"Ada apa mama? Apa aku menyakiti perut mama?"
Victoria tidak menjawab dan hanya terus meringis. Otakku serasa kosong dengan jantung yang berdetak cepat. Kenapa? istriku kenapa Tuhan?
Hingga sesuatu membuatku semakin panik. Ranjang kami terasa basah dan hangat. Aku tercekat. Sama halnya dengan kedua anakku yang sebentar lagi sudah akan menangis.
"A-apa ini Vic? Tolong jangan menakutiku"
"Aku bilang panggil Sisi dan Bety bodoh! aku akan melahirkan!!"
Sialan! aku segera melompat dari ranjang dan berlarian seperti mengejar musuh. Dengan cepat aku mencari mereka di ruang santai. Sisi, Bety dan Diana langsung melepaskan segala yang mereka pegang dan menuju kamar kami. Aku segera membuka pintu keluar dan mengabaikan Edward, Jeremmy dan Carl yang duduk di depan rumah menikmati obrolan dan candaan mereka.
Tanganku dengan cepat mengetuk atau mungkin akan menghancurkan sebuah pintu rumah yang sudah di siapkan Arthur untuk memantau kehamilan Victoria, rumah dokter. Hingga pintu itu terbuka dan aku langsung berteriak panik
"Istriku basah! Dia kebanjiran! Dan katanya akan melahirkan!"
Dua dokter itu segera mengangguk dan masuk sebentar ke dalam rumah untuk membawa peralatan dan mantel mereka. Kami berlarian dengan panik ke rumah kami.
Saat sudah kembali ke dalam kamar, tangisan Francesca dan Ferdinad menyambut kami. Aku semakin panik dan ketakutan. Frances berada di pelukan George dan Ferdinand sudah di dalam gendongan Edward.
Lady Charlotte, kakak iparku yang sedang menggendong Michael mangatakan semua akan baik-baik saja, tenanglah Your Majesty
Crab! bagaimana bisa! Kalian tidak mengerti perasaanku!
"Papa, mama tadi kesakitan"
"Iya papa, mama mengeluarkan air, mama kenapa?"
Aku tidak bisa menjawab mereka karna sekujur tubuhku sudah gemetar. Aku tidak bisa menenangkan mereka karna aku sendiri tidak bisa tenang
"Mama akan mengeluarkan adikmu sweetheat, jangan takut sayang, ayo berdoa"
Francesca mengangguk patuh pada kakak iparku yang mencoba menenangkannya. Lalu Lady Charlotte membawa Michael yang juga terlihat cemas untuk duduk berkumpul di kursi. Mereka semua sudah duduk di kursi kecuali aku, Jeremmy dan Carl yang tetap berdiri. Aku tidak bisa duduk tenang
"Gapa, apa mama akan kesakitan?"
Ferdinand yang ada di gendongan Edward bertanya pada George yang tersenyum sambil menggeleng. Dia terlihat tenang tapi, lututnya yang terus bergerak-gerak itu menandakan hal yang sebaliknya
"Berapa lama mama akan mengeluarkan adik kami gapa?"
Kali ini Francesca yang bertanya pada George. Dia terlihat kebingungan di tengah rasa cemasnya
"Gapa juga tidak tahu sweetheart. Ayo kita mulai berdoa" George menatap Jeremmy yang berdiri di sampingku "Jer, Carl. Mendekatlah, biarkan saja pria itu di sana"
Aku tidak peduli dengan ucapan George dan hanya terus merasa takut dan cemas. Pelipisku mulai basah dan tubuhmu mulai berkeringat. Ya ampun.... aku pernah merasakan ini dulu. Dan aku tahu jika ini akan terjadi selama berjam-jam.
---0000---
Dengan tangan yang masih gemetar dan kaki sudah lemas. Akhirnya aku mendengar suara bayi. Lahir! anakku lahir!!
Sisi keluar kamar kami sambil tersenyum haru
"Silahkan Your Majesty"
Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Mataku melirik Lady Caharlotte yang menemaniku menunggu. Karna yang lain sudah tidur. Termasuk anak kembarku
"Masuklah Your Majesty, tidak apa-apa"
Setelah di yakinkan kakak iparku, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar kami.Aku melihat ranjang tempat istriku sehabis mempertaruhkan nyawanya. Bibirnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatapku. Jantungku berdetak cepat dan dengan cepat menggenggam tangannya sambil mengusap peluh yang membasahi wajahnya
"Apa kau baik-baik saja sayang? apa masih sakit?"
Victoria hanya tersenyum sambil menggeleng. Dengan perasaan yang masih cemas, aku menghujami seluruh wajah lelah Victoria dengan ciuman, semoga bisa membantu mengurasi rasa sakitnya. Dengan terus menatapnya aku terus membawa tangannya di bibirku dan akan kembali membuka mulut untuk menumpahkan semua rasa cemasku tapi, suara Bety membuatku segera menoleh padanya, terlebih karna suara tangis bayi yang semakin mendekat.
"Her Highness kecil... Your Majesty"
Perempuan! anakku perempuan. Aku menatap lekat pergerakan Bety yang meletakkan bayi merah itu ke dekapan Victoria. Air mata Victoria langsung mentes dan aku juga tidak jauh berbeda. Arah pandangku sudah buram dengan jantung yang sudah meledak bahagia. Aku menatap lekat wajah putri bungsuku. Bola mata abu-abu, bentuk wajah aristrokat seperti ibunya, hidung seperti ibunya, garis alis seperti ibunya, bibir ibunya, dan rambut.... rambut tipisnya seperti rambut jagung! Oh astaga.. terimakasih atas doa kalian. Akhirnya! akhirnya aku bisa punya dua wajah Victoria di dalam hidupku.
\=\=\=❤❤❤❤
Panjang-panjang kan? heheh... Besok eike up lagi waktu anak-anak mereka yang udah dewasa sebagai akhir.
Ayukk jejaknya yukk.
Salam sayang semua
__ADS_1