Behind The Castle

Behind The Castle
**ENGAGEMENT IV**


__ADS_3

Kasi Foto aahh biar eike ngayal-nya lebih lancar jaya.... Lol.


Kalo pict-nya ga cocok sama kalian tolong abaikan yaaa.. Oiy, pict ni org berdua yg udh ada sebelumnya, udah eike ganti sama pose laen. Cusss lanjut yuk baca...




-------------------------------------


"Katakan Vic"


Dengan sebelah wajahnya yang berada di genggaman sebelah tangan besar Fredrick, Victoria tetap mencoba berlari dari tatapan kedua bola mata abu-abu Fredrick dengan terus menatap pohon besar di belakang kepala Fredrick


"Tidak penting"


Sambil mengedipkan bahu dengan acuh, Victoria dengan lembut berusaha melepaskan wajahnya dari tangan Fredrick. Fredrick yang sudah mulai membaca alur melepaskan tangannya dari wajah Victoria dan berpindah ke tangan Victoria. Fredrick menautkan tangan mereka, rasa lembut dan halus tangan kecil pucat Victoria membuat tangannya nyaman. Fredrick melirik Victoria yang hanya menatap sekilas genggaman tangan mereka, lalu kepalanya kembali ke posisi semula dan wajahnya kembali seperti biasa, datar.


"Apa kau benar-benar tidak mau memberi tahuku? atau...." Fredrick menatap Victoria. "Atau karna itu berhubungan denganku?"


Victoria tidak bergeming dan terlihat sangat enggan untuk menjawab tapi Fredrick belum menyerah


"Apa dia mengatakan sesuatu tentang pertunangan yang membuatmu menjadi kesal?"


Suara Fredrick dan pertanyaannya sekarang justru membuat Victoria berdecak kesal dan membalas tatapan Fredrick


"Apa kita tidak punya pembahasan lain? saya malas Your...." seperti baru mengingat sesuatu Victoria segera memperbaiki ucapannya. "aku malas Bash"


Untuk pertama kalinya, Victoria memberikan sepotong kalimat tidak formalnya pada Fredrick dan namanya juga di sebut, Mendengar sepotong kata tidak formal Victoria senyum Fredrick terbit.


"Kenapa malas, apa perkatannya menyakitimu?"


Victoria menggeleng


"Tidak sama sekali walaupun aku tidak terlalu mengerti dengan ucapannya"


Fredrick mengeryit dan menatap Victoria dengan bingung


"Kau tidak terlalu mengerti ucapannya? tapi.... kau marah, apa ada kemungkinan ada kesalahan pahaman Vic" Fredrick melirik Victoria yang langsung menatapnya dengan tajam saat mulutnya baru menutup, melihat itu Fredrick kembali dengan cepat membuka mulutnya.


"Bukan begitu, aku tidak mempunyai maksut, aku hanya mengambil kesimpulan dari responmu karna kau tidak mau menceritakan semuannya"


Nafas panjang Victoria berhembus


"Yeahh terserah saja, aku juga tidak peduli dengan pemikiran orang lain"


"Tapi aku bukan orang lain"


"Dan... anda juga bukan orang lain untuknya, jadi tidak ada gunanya mejelaskan pada pihak lawan"


Fredrick menukikkan satu alisnya dengan sangat tinggi dan mentap wajah Victoria yang datar dan mulai tidak bersahabat, Fredrick tahu jika Victoria mulai tidak sabar


"Pihak lawan? siapa?"


Dan benar saja, setelah Fredrick bersuara, Victoria langsung menarik tautan tangan mereka tapi tentu Fredrick tidak akan melolosakan tautan mereka, genggaman Fredrick semakin kuat yang membuat Victoria melotot kesal dan mulai akan marah

__ADS_1


"Jangan melotot Vic, aku membawamu untuk bicara, walaupun aku tidak yakin kita hanya akan bicara mengingat kau yang keras kepala tapi, ayo kita mencoba"


Dengan santai, tanpa beban dan wajah tanpa dosa, setelah mengatakan itu lalu Fredrick mendaratkan sebuah ciuman di kepala Victoria. Sekali lagi Victoria melotot, kali ini lebih besar dan lebar. Fredrick terkekeh geli


"Ayolah... katakan siapa pihak lawan itu?"


"Ayolahh... sampai kapan anda akan berpura-pura?"


Kali ini senyum nakal Fredrick memudar, wajahnya berubah serius dan menatap Victoria dengan lekat


"Dari kapan kau tahu Vic?"


Victoria mengedipkan bahunya acuh


"Entahlah aku juga tidak ingat" Victoria membuang pandangannya dari Fredrick. "Itu urusan anda"


"Tentu saja"


Ucapan santai dengan suara yang tenang tanpa beban Fredrick, entah mengapa membuat Victoria menjadi sedikit kesal, dengan kuat Victoria mencoba menarik tangannya kembali tapi genggaman Fredrick semakin menguat, nafas Fredrick berhembus panjang.


Dengan sorot mata yang sudah tidak bersahabat Victoria kembali menatap Fredrick, Fredrick membalas tatapan Victoria dengan acuh


"Apa yang salah Vic?"


"Bisa lepaskan ini"


Victoria melirik pada tautan tangan mereka


"Kenapa? jika aku tidak mau kenapa? ini urusanku"


Otak Victoria terasa menegang, pelipisnya berkedut karna menekan kuat rasa amarahnya


Fredrick terkekeh tanpa beban


"Bukan urusanku"


Tidak bisa lagi menahan amarahnya Victoria segera berdiri dari kursi, menarik tangannya yang bertaut pada tangan Fredrick dan.....


"Heii...!!!"


Fredrick segera melepaskan tangannya dengan cepat saat melihat Victoria yang akan mengigit tangannya. Fredrick tergelak tawa. Dengan emosi yang masih bersarang di otaknya terlebih melihat Fredrick tertawa hingga hampir terjungkal dari kursi, dengan sekuat tenaga Victoria mengayunkan kakinya untuk menendang kaki Fredrick tapi, sekali lagi, Fredrick menghindar yang membuat kemaran Victoria semakin menggila dan mengumpat


"Sialan kau!!"


Tawa Fredrick menggema, mengisi seisi taman yang sunyi, saat matanya melirik Victoria yang sudah akan berubah menjadi monster, Fredrick kembali terbahak lagi


Dengan nafas memburu, otak menegang dan amarah Victoria segera memutar tubuhnya, dia ingin pulang!


"Hei Vic!"


Victoria mengabaikan panggilan Fredrick, amarah membuat kakinya melaju kencang hingga tidak bisa menahan tubuhnya saat kakinya menabrak sebuah batu. Rasa sakit mendadak membuat pukulan untuk Victoria


"Aau! sialan!"


Fredrick yang sedari tadi hanya mencoba mengikuti langkah Victoria, akhirnya menarik Victoria untuk duduk di pinggir bebatuan yang menjadi pagar tanaman bunga. Melihat Victoria yang meringis dengan cepat Fredrick melepas sepatu Victoria, Victoria yang terlambat menyadari posisi mereka akhirnya tidak bisa menghindar lagi dan membiarkan Fredrick memeriksa kakinya

__ADS_1


"Ini tidak akan masalah jika kau tidak memakai dulu sepatumu"


Victoria hanya menjawab ucapakan Fredrick dengan mendengus kasar tidak elegant. Fredrick mengulum senyumnya karna jika sekarang dia tertawa atau tersenyum geli, mereka akan benar-benar berakhir dengan terus saling memaki.


Cukup lama mereka saling diam, dengan Victoria yang terus membuang wajahnya dari Fredrick. Fredrick terus mengamati Victoria yang menatap ke arah bunga-bunga di taman.


"Masih sakit?"


Suara lembut dan tenang Fredrick membuat Victoria menggeleng dan akhirnya menatap Fredrick


"Maaf....."


Satu alis Fredrick menukik tajam ke atas, bibirnya berkedut mendengar ucapan Victoria


"Untuk?"


Kembali Victoria mendengus kasar dengan tidak elegant


"Mengumpati anda dan mencoba....." Victoria menjeda karna merasa malu untuk menyebutkan kelakuannya barusan. "Mencoba menyakiti anda"


Kembali bibir Fredrick berkedut


"Menyakiti dengan cara.....??"


Nada menggoda dan menyebalkan Fredrick membuat Victoria kembali ingin marah tapi juga malu, jika guru etiketnya melihat kelakuannya, dia akan di buat mengulangi lagi dari awal semua pelajaran untuk menjadi seorang Lady dan bangsawan. Dengan wajah yang terasa panas dan perasaan malu yang menggebu, Victoria mencoba menjawab


"Melakukan hal yang mempermalukan gelar Lady"


Fredrick segera mengangguk-ngangguk dengan dramatis lalu menatap Victoria dengan lembut, tangannya kembali meraih tangan Victoria dan mencium singkat dengan mata yang terus menatap lekat kedua bola mata sehijau daun yang sekarang terlihat malu-malu. Demi tahta ayahnya! Fredrick sangat gemas! tapi dia harus menahannya karna sudah saatnya harus menegaskan sesuatu


"Jadi, apa kita sudah sepakat?"


Victoria mengerutkan alisnya, Fredrick yang menangkap jika Victoria masih bingung, memberikan waktu untuk otak cerdas itu mencerna. Tidak perlu waktu lama untuk Victoria bisa mencerna jika tautan tangan mereka bagaikan ikatan pertunangan mereka, jika saat salah satu menarik tangannya yang satu akan ikut tertarik, jika yang satu egois seperti tidak mau melepaskan tangan, maka yang satu akan kesulitan dan intinya adalah, mereka satu.


"Aahh.. kau yakin Bash???"


Fredrick tersenyum hangat


"Kenapa aku harus tidak yakin, kau tunanganku dan aku tunanganmu, urusanmu urusanku, urusanku urusanmu..."


Kerutan di alis Victoria semakin dalam tapi tidak lama setelah itu wajahnya menjadi tenang.


"Baiklah...."


Hati Fredrick membucah, perasaan lega memenuhi hatinya, Fredrick mencium kembali tangan Victoria yang tersematkan cincin pertunangan mereka sambil mengerling menggoda


"Awas jika kau genit di depan pria lagi"


Dengan mata melotot, Victoria mendaratkan sebuah cubitan ke perut keras Fredrick.


Edward yang entah sudah berapa lama menjadi penonton segera berlalu dengan hati-hati, sangat pelan, tidak terdengar, cepat dan terlatih untuk keluar dari taman, setelah keluar taman, Edward terus melangkah pasti menuju istana utama.


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Hallo readers...... terimakasih karna sudah mampir dan masih terus berminat lanjut membaca....

__ADS_1


Tolong berikan like, komen, bintang, lope-nya yaaa biar bikin semangat.....


Salam sayang semua ✨


__ADS_2