Behind The Castle

Behind The Castle
**BELAKANG BUKIT**


__ADS_3

"Tentukan pilihanmu akan menjadi Ratu yang seperti apa kau nanti Putri. Ingatlah selalu jika nanti kau bukanlah hanya menjadi seorang wanita, istri dan seorang ibu. Karna kau adalah seorang. Ratu"


Victoria mengangguk singkat


"Saya akan mengingatnya, Your Majesty"


Tangan Ratu Elisabeth melepaskan genggamanya pada tangan Victoria sambil menatapnya dengan lekat


"Aku selalu ingin mengatakan ini putri. Apa kau yakin dengan kesetian Pangeran Fredrick? terlebih sekarang, apakah dia memang sedang di wilayah barat?"


"Maksut anda Your Majesty?"


Raut wajah Victoria yang tadinya tenang jelas sekarang merubah menjadi datar dengan tatapan penuh selidik.


"Jangan gampang terbuai dengan bujuk rayu dan paras seseorang Putri terlebih pada ucapan tanpa bukti"


Dengan wajah datar dan kali ini dengan tatapan yang berubah tajam, Victoria menjawab


"Anda sepertinya terlalu banyak menyimpan mata dan telinga anda di dalam istana Your Majesty. Saya berterima kasih tentang keterbukaan dan kepedulian anda pada saya tapi, His Highness adalah suami saya, yang berarti menjadi urusan pernikahan saya. Dan masalah terbuai atau apalah itu.... juga menjadi urusan saya. Pribadi saya"


Itulah perkataan terakhir yang menutup obrolan mereka karna setelah itu, Victoria langsung pamit untuk kembali dan menuju kereta kudannya dengan di antar langsung Ratu Elisabeth.


"Anda mencoba menyulut api kecil Your Majesty?"


Ratu Elisabeth melirik pelayan pribadinya yang sudah membantu membukakan mantelnya


"Hubungan mereka masih sangat rentan, pasti punya banyak lubang, terutama untuk masalah kepercayaan. Tapi, George juga mau tidak mau pasti memilih untuk segera menikahkan mereka, dia sedikit gagal dalam misi-nya"


Pelayan itu mengangguk sambil menyampirkan mantel ke sebelah tangannya


"Dia memang cerdas Your Majesty, tapi hati wanita siapa yang tahu kan?"


"Tidak, dia gadis berhati batu dan akan menjadi wanita berhati dingin. George berhasil menciptakan pemegang masa depan kerajaan di tangan orang-orang yang di buatnya menjadi orang-orang berhati dingin. Modal utama untuk menjadi pemakai mahkota yang sempurna, dia belajar banyak dari masa lalunya"


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya Your Majesty?"


Dengan tersenyum lebar, Ratu Elisabeth menatap pelayannya


"Menunggu api kecil itu. Apakah akan padam atau malah semakin membesar hingga mampu membakar segalanya"


🌺🌺🌺🌺


Dengan tenang, Victoria duduk di dalam kereta kudanya sendirian. Seorang diri. Dia memang menginginkan ini, kunjungnnya yang hanya seorang diri. Setrlah mendapatkan sedikit rahasia masa lalu yang sebenarnya tidak bisa di percaya sepenuhnya karna, itu terucap hanya dari satu sisi. Karna itu juga Victoria mulai menyusun rencana, apa saja yang harus di galinya nanti dengan cerita yang di dapatnya, cerita itu menjadi jalan utama untuk membuka arah rahasia lain.


Victoria tersenyum culas


Dia bukanlah wanita bodoh, yang tidak bisa menyadari semua maksut terselubung Ratu Elisabeth meski dia tidak terlalu tahu racun apa yang coba di tanam Ratu Elisabeth. Dia memang mendengarkan dengan serius segala ucapan ibu kerajaan ompong itu. Ompong karna tidak mempunyai peran apapun untuk tahtanya tapi tetap, ada beberapa hal yang harus Victoria serap dan selalu ingat dengan baik. Ada hal lain juga yang akan di abaikan Victoria karna tidak sesuai dengan hatinya.


Dalam keheningannya, gerekan kereta kuda tiba-tiba berhenti. Victoria mengeryit lalu membuka jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi serta di mana sekarang kereta berada. Saat melihat kusir yang melompat dari bangkunya, Victoria mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta kuda


"Ada apa?"


Dengan tergopo-gopo, kusir itu langsung berdiri di samping jendela sambil membungkuk


"Maaf Your Highness tapi, ada seseorang yang terluka di sana"

__ADS_1


"Terluka?" Kusir itu mengangguk. Victoria dengan tersegah segera keluar pintu dan melompat dengan tidak anggun dari kereta. "Di mana?"


"Di sana Your Highness"


Dengan mengikuti langkah kusir, Victoria mendekat ke arah suara tangisan. Victoria segera berlari dan mendekat pada sosok seorang gadis yang tergeletak di daerah belakang bukit dengan kaki berdarah


"Hallo... apa kau baik-baik saja?" Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Victoria dan hanya terus menangis "Kenapa kau terluka? kenapa kau bisa ada di sini? Kau siapa?"


Dengan panik Victoria membrondong banyak pertanyaan meski tetap di jawab hanya dengan tangisan gadis itu. Saat Victoria mencoba semakin dekat berniat untuk menekan lubang yang mengucur darah di kaki gadis itu tiba-tiba


"YOUR HIGHNESS LARI!!"


SRANNGG!! SRAAAKK!!


Belum sempat Victoria memutar kepalanya sebuah tendangan mendarat di dadanya hingga tubuh Victoria tersungkur ke tanah. Dengan belum bisa mencerna apapun Victoria melihat jika gadis yang terluka itu lah yang menendangnya sebelum gadis itu berlari dengan tertatih dan menghilang di pepohonan. Victoria memutar kepalanya pada suara kusirnya barusan.


Kedua mata Victoria membulat saat tubuh kusinya sudah tergeletak dengan leher yang terluka bersimbah darah


"Hallo...."


Karna terlalu terkejut, Victoria tidak menyadari jika di depannya sekarang sudah berdiri satu orang pria dengan wajah menjijikkan, lalu melirik ke sebelah, seorang pria lagi ikut mendekat ke arahnya. Victoria yakin jika pria itulah yang menebas leher kusirnya


"Siapa kalian!!"


Mereka terkekeh menyeramkan


"Oohh kau memang manis sekali, seperti yang dia katakan" Pria di depannya mengedipkan dagunya yang membuat pria yang menebas leher kusirnya tadi langsung menuju kereta kuda


BRRAAKK!! BRAAKK!


"Berani sekali kalian! apa kalian tidak tahu siapa aku!"


"Tentu kami tahu, tapi setelah ini, kau tidak akan berguna"


Setelah menyelesaikan ucapannya. Secepat kilat tangan pria itu menarik kaki Victoria yang mencoba memundurkan tubuhnya.


"Lepas! apa maumu!"


Dengan sekali tarikan, tubuh Victoria langsung berada di bawah pria itu. Victoria meronta-ronta sekuat tenaga


"Sialan! apa maumu!"


Hanya menjawab dengan kekehan menjijikkan, pria itu berusaha mencoba membuka mantel Victoria.


"Seriously? pelecehan lagi?! Orang-orang itu memang tidak kreatif! Bodoh!"


Pria itu mengeryit bingung dengan ucapan Victoria yang terdengar tenang, meski tubuhnya terus meronta hebat, dan tangan pria itu sekarang sedang mencoba menarik rok gaun agar tersingkap ke atas


"Singkirkan tangan jelekmu bedebah!"


Karna cukup kewalah, pria itu menekan tubuhnya pada tubuh Victoria. Mulut menjijikkannya mencoba mencium Victoria dan,


PLAKKK!


"J*lang!"

__ADS_1


Pria itu mengangkat tubuhnya sambil mengumpat karna terkejut mendapatkan hantaman keras di kepalanya dari kepala Victoria.


Victoria tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan langsung mengangkat tinggi kakinya dan sekuat tenaga memberikan hantaman keras, tepat di wajah pria itu


"Kau! aku akan membunuhmu j*lang!! Keparat!"


Dengan cepat Victoria mencoba terus memundurkan tubuhnya dari tanah agar bisa menjauh untuk berdiri dan berlari.


Dengan kepala berdenyut dan wajah nyeri. Pria itu mencoba bangun, untuk menangkap Victoria yang sedang mencoba bangun tapi, tubuh pria itu langsung membeku saat ujung pedang tiba-tiba muncul tepat di depan hidung bengkoknya. Pria itu menaikkan arah pandangnya, untuk melihat siapa yang mengacungkan pedang, dan itu seorang kesatria kerajaan. Sekujur tubuh pria itu gemetar takut, bahkan untuk menarik nafas saja pria itu terlihat kesulitan


"Apa anda baik-baik saja, Your Highness?"


Victoria yang sudah berdiri, menatap pria yang sudah gemetar tidak berkutik di depan ujung pedang kesatria yang sekarang sudah menjadi dua orang yang mengacungkan pedang padanya. Kepalannya memiring ke samping dengan sudut bibirnya yang tertarik keatas, tanpa peduli pada seorang kesatria yang terus menanyakan keadaannya dengan wajah cemas.


"Bunuh"


"Pardon Your Highness?"


Seorang kesatria yang sedang mengacungkan pedang bertanya dengan terkejut dan bingung. Victoria memutar matanya dengan jengah


"Kalian mendengarku"


"Tapi dia harus kita bawa untuk di selidiki, bisa saja ada kemungkinan jika ada yang memerintahnya, Your Highness"


"I said, kill him!"


Sraakk!


Dengan wajah yang langsung berpaling agar melewati tontonan kekerasan di depannya, Victoria melirik kusirnya yang pasti sudah tidak bernyawa, lalu pria lain yang tergeletak tidak jauh dengan tubuh yang entah masih bernyawa atau tidak


"Pastikan mereka mati"


Kesatria yang baru saja menebas leher pria tadi langsung mengangguk sambil menghujam dada pria itu yang memang sudah tidak bernyawa. Tidak jauh berbeda dengan tubuh pria yang di dekat kusir


Melihat jika salju di bawah tubuh mereka semakin memerah karna darah, Victoria yakin jika ke dua pria yang menyerangnya memang sudah tidak bernyawa. Victoria memberikan anggukkan puas pada tiga orang kesatria yang entah kapan datangnya dan entah datang dari mana


"Ada yang punya belati? pedang terlalu mengerikan"


Ke tiga kesatria itu langsung mengeryit bingung sambil saling melirik, meski bingung mereka tetap langsung memberikan satu belati pada Victoria. Dengan santai Victoria membuka mantelnya asal yang membuat ke tiga pria di depannya tersentak terkejut


"Your Highness..."


"Sstt!"


Peringatan Victoria membuat mereka langsung bungkam.


"Oh Tuhan... semoga ini tidak terlalu sakit"


Setelah selesai dengan gumanannya sendiri, tangan kanan Victoria yang memegang belati langsung menyayat lengan kiri atasnya sendiri. Benar, lengannya sendiri. Dengan cepat warna merah keluar dari kulit pucat Victoria, membuat para kesatria terbelalak kaget


"Your Highness!!!"


\=\=\=πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›


Yukk jejaknya yukk

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2