Behind The Castle

Behind The Castle
**VICTORIA NEGOTIATION II**


__ADS_3

"Bagitukah...?"


Victoria mengangguk yakin


"Kau tahu jika aku butuh kekuasaan Bash"


Tapi..." Fredrick tersenyum tipis. "apa kau sadar sekarang kau sedang memerintahkanmu untuk..." Fredrick kembali menggenggam tangan Victoria dan menekan dengan kuat tangan Victoria yang ada digenggamannya, kali ini hingga membuat Victoria meringis sakit. "Membunuh Raja"


Meski rasa takut sudah merayap ke seluruh tubuhnya, Victoria menekan segala rasa takut itu dan membalas tatapan Fredrick.


"Aku tidak mengatakan apapun tentang pembunuhan di sini, ada banyak cara untuk membuat seorang raja tetap mejadi raja walaupun..." Victoria menjedah dan membalas tekanan tangan Fredrick. "Tidak berguna"


Tawa Fredrick pecah meski tanpa rasa humor. Victoria yang sudah mulai kembali bisa mengumpulkan keberaniannya kembali bersuara


"Kau bilang, kau sudah tahu segalanya kan. Itu berarti kau tahu jika mereka ingin..." Dengan sorot mata mencela dan tersenyum culas, Victoria menatap Fredrick dengan lekat. "Merebut tahtamu dan memberikannya pada orang lain. Aku tahu kalian tidak akan tinggal diam, aku tahu kau tidak akan mengikuti keinginan mereka begitu saja, tapi aku juga tahu, kau mencintai rakyatmu dan juga tidak ingin ada pertumpahan darah"


Dengan kasar Fredrick menarik tangannya dan menatap Victoria dengan tajam, wajahnya berubah dingin tidak terbaca


"Apa maksutmu"


Dengan tersenyum culas sambil melipat kedua tangan di depan dada, Victoria membuka suaranya dengan yakin dan tegas


"Jika kau ingin tahtamu tetap aman, dan keadaan damai, segera jadikan aku ratu"


Suara gelak tawa segera menggema di seluruh ruangan. Fredrick terbahak hingga hampir terjungkal dari kursi, tangannya dengan kuat menekan perutnya dan memegangi meja. Mengusap sesekali ujung matanya, dengan wajah merah dan perut sakit Fredrick tersenyum hangat pada Victoria yang tampak menunjukkan wajah datar dan tegas


"Sekarang, tunanganku yang manis ini menginginkan tahta hhmm??" Fredrick menepuk-nepuk pahanya sambil melebarkan satu tangannya memanggil Victoria "Kemari"


Victoria tidak bergeming dan sangat terlihat tidak tertarik


"Kemarilah dulu... aku ingin bernegosiasi dengan dekat"


"Jadi apa keputusanm Bash?"


Melihat Victoria yang sekarang sudah membalikkan keadaan, terlebih karna dia yang tidak berniat sedikitpun mendekat, Fredrick melipat tangannya di depan dada


"Duduk di pangkuanku sekarang atau kita lupakan saja semua ini hingga rapat sialan itu terjadi"

__ADS_1


Dengan tangan terkepal Victoria menatap Fredrick dengan tajam


"Dan banyak orang yang tidak berdosa akan jadi korban serta tahtamu bisa melayang?"


Dengan acuh Fredrick mengedipkan bahunya dan menimpali ucapan Victoria


"Dan setelah banyak korban berjatuhan, aku akan membunuh siapapun yg mencoba mambantu dan merebut milikku lalu melempar keluargamu di bawah kapak penjagal. Eksekusi di depan rakyat sudah sangat lama tidak terjadi"


"KAUU KUR!!!"


"Makanya, duduklah dulu"


Dengan tenang dan santai, Fredrick memotong ucapan penuh amarah Victoria. Tangan Victoria gemetar, meski sekuat apapun dia mencoba melawan tapi melawan Fredrick benar-benar menguras segala keberaniannya. Dengan sangat terpaksa, Victoria berdiri.


Fredrick tersenyum lebar sambil merentangkan satu tangannya ke arah Victoria sambil sebelah tangan lagi menepuk-nepuk pahanya.


Dengan kasar dan sangat bertenaga, Victoria duduk di pangkuat Fredrick. Fredrick mengumpat dan tanpa sadar mencengkam dengan kesal pinggang Victoria. Merasakan pinggang Victoria di tangannya membuat rasa marah Fredrick reda, seringainya terbit


"Kau tidak memakai korset"


"Beri aku tawaran yang menggiurkan, yang bisa mengubah pikiranku"


Merasa mulai memiliki cela, senyum lebar Victoria terbit, bahkan senyum itu terlihat sangat manis dan terlalu manis. Kedua tangannya melingkat di leher Fredrick sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Fredrick


"Aku, Victoria Alexandrina Arathorn, akan menjadi pendukungmu untuk bisa naik ke atas tahtamu tanpa perlu pertumpahan darah. Aku juga akan menjadi ratu yang menemanimu untuk memimpin kerajaan ini..." Victoria semakian mendekatkan wajahnya hingga nafas hangat mereka bertabrakan. "Aku akan menjadi ratu yang baik dan menyingkirkan segala hal yang akan merusak kepemimpinan tahta suamiku kelak. Deal?"


Waktu terasa sangat cepat, bagai kilatan cahaya saat bibir Victoria merasakan benda kenyal dan lembab yang memangutnya bibirnya dengan lembut, dengan kedua matanya yang masih terbuka lebar dan tanpa bergeming. Victoria merasakan jika tengkuknya di tarik dan di tahan untuk semakin mendekat pada Frederick. Untuk mempermudah Fredrick menciumnya semakin dalam dan semakin menuntut. Hembusan nafas hangat sesekali di rasakannya, lum*tan-lum*tan sensual dan panas menjelajahi mulutnya, tubuhnya semakin meremang saat Fredrick mendekatkan dan merapatkan tubuh mereka sambil membelai dan meremas tangan, pinggang dan punggungnya. Saat di rasa ciumaman itu semakin membakar, Victoria menarik kuat kepalanya. Nafasnya memburu, nafas Fredrick tidak jauh berbeda. Arah pandang mereka bertemu, tubuh mereka masih bertemu.


"Bukan begitu cara menikmatinya, tutup matamu Vic"


Dengan tubuh yang mulai panas dan rasa penasaran, Victoria menutup matanya yang langsung di susul dengan kembali bibir panas ******* bibirnya. Victoria mencoba menikmati di tengah-tengah pikiran bercabang dan perasaan berkecamuknya. Panas tubuhnya semakin meningkat, tubuhnya kembali meremang saat ciuman itu semakin menuntut. Fredrick mengeram dan memukul kesadarannya sendiri saat pusat miliknya mulai berdenyut sakit. Dengan cepat dan terkesan kasar, Fredrick menjauhkan wajah Victoria. Menyudahi ciuman manis dan panasnya. Nafas mereka bersaut-sautan, jejak hasrat mulai berputar-putar di tubuh Fredrick, bahkan Fredrick bisa merasakan jika hanya dengan sedikit ciuman, segala iblis b*jingannya sudah benar-benar bangkit, miliknya sudah siap bertemupur hanya dengan sedikit ciuman


"Bash..."


Dengan kesadaran yang mulai terkumpul, Fredrick membuka matanya dan menatap wajah Victoria yang sudah memerah hingga ke telinga dan lehernya. Nafas Victoria masih memburu, kedua mata itu memendangnya dengan sayu, bibir ranum yang terasa sangat manis itu membengkak. Sungguh, Fredrick ingin mengulang dan bahkan tidak ingin berhenti ******* dan menggigiti bibir itu tapi,


"Bukan pilihan bagus bernegosiasi dengan jarak dekat..." Kepala Fredeick jatuh dengan pasrah di bahu Victoria yang masih bergerak pelan karna mengatur nafasnya. "Kau benar-benar manis vic, kau berbahaya. Aku merasa kembali menjadi bocah remaja"

__ADS_1


--000--000--


Di pagi hari, dalam ruang rapat gedung parlement yang biasanya masih tenang, tentram dan belum menunjukkan kegaduhan, pagi ini menunjukkan gambaran pengecualian. Sekitar lebih dari lima puluh gentlemen sudah saling berteriak dan memaki, bahkan saling mengumpat. Keadaan ini semakin tidak terkendali saat ke tiga pemilik ruang utama parlement masuk ke dalam ruang rapat. Banyak mata yang memandang mereka dengan tajam, banyak mata yang memandang mereka dengan geram, banyak mata yang memandang mereka dengan takut tapi, banyak mata juga yang memandang mereka dengan harapan.


BUGH! BUGH! BUGH!


Viscount Cornwell memukul meja dengan kuat yang membuat sebagian perhatian gentlemen menaruh fokus padanya. Masih merasa belum cukup, kembali Viscount Cornwell memukul meja tapi, perhatian tetap sepenuhnya belum tertuju untuk mereka hingga


BRAAAAAAAAKKKKKKKK!


Sebuah meja tidak berdoaa terbalik hingga patah. Suara yang bagaikan petir menggelegar di tengah padang pasir itu membuat semua orang akhirnya bungkam.


"Selamat pagi Gentlemen. Silahkan duduk dengan tenang"


Dengan segala respon yang berbeda, akhirnya mereka semua duduk di kursi yang sudah di sediakan


Albert melanjutkan ucapannya


"Kami tidak ingin berbasa basi, langsung saja" Sambil menjedah ucapannya, Albert melirik pintu yang tiba-tiba terbuka. Dengan tersenyum santai dan juga gestur yang tenang, seseorang yang baru masuk itu menyapa


"Se-selamat pagi para Gentlemen"


Suasa menjadi sunyi dan mencekam saat Thomas dengan sopan mengikuti langkah pria itu untuk duduk di salah satu kursi utama pemimpin parlement. Charles melirik semua raut wajah di ruangan itu. Banyak ragam macam raut wajah berbeda di tunjukkan tapi, satu garis besar yang Charles tangkap adalah, raut wajah terkejut. Charles melirik Albert yang menuju mimbar sambil merapihkan cravat-nya yang sudah rapih


"Seperti yang kalian lihat, jika kami akan memperjelas semua desas-desus yang beredar"


Dengan tenang, Thomas berdiri dan nelempar papan tipis dari kayu ke atas meja, lalu kembali mentap semua wajah di depannya. Albert melanjutkan ucapannya


"Untuk mengurangi membuang waktu, silahkan pilih pilihan kalian dengan mengambil papan kayu nasip hubungan 'kita' untuk kedepannya"


\=\=\=💛💛💛💛


Maaken karna eike masih up 1 chapter ya readers. Soalnya tipus merasuki tubuh eike, ga bisa mikir karna lagi gak baik ini badan dari kemarin. Jadi blm tahu kpn bsa balik lg buat up normal. Mohon doanya yaa


Yuk tinggalin jejaknya


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2