Behind The Castle

Behind The Castle
**NEW GIFT**


__ADS_3

Empat bulan kepergian Victoria semakin membuat kericuhan dan juga kemaran. Tidak hanya di kalangan ton, tapi juga rakyat. Aksi protes rakyat semakin menggila, mereka semakin sering berkumpul di depan gerbang istana untuk memprotes bahkan untuk meminta di gesernya si pemilik line throne utama, Fredrick. Mereka meminta untuk mendepak calon Raja tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab itu dari calon pemilik tahta berikutnya.


Keterdiaman istana semakin menyulut api di segala penjuru. Setiap hari, penjaga gerbang akan semakin bertambah, setiap hari keamanan istana akan semakin di perketat, setiap hari Castle Drachenburg semakin di tambahkan kunci.


Calista dengan tenang duduk di meja taman belakang Drachenburg. Duduk menikmati status dirinya sebagai simpanan hina dan juga sebagai tawanan tidak berharga.


Kedua mata coklatnya menerawang jauh, sangat jauh hingga memikirkan, bagaimana nasipnya nanti. Meski keadaan di luar memang sudah sesuai keinginannya tapi tetap, ketidak mampuannya untuk melangkah sedikit saja dari gerbang Drachenburg, membuatnya terjepit. Dia ingin menemui Fredrick, dia ingin melihat pria yang menggenggam seluruh hatinya itu.


Calista mendesah lelah saat isi kepalanya juga memikirkan Webex, bagaimana keadaan tempatnya itu? Apa yang terjadi di sana?


Alex kembali menatap perut Calista yang masih rata dan kembali pikirannya memikirkan nasipnya setelah ini. Berapa lama lagi dia bisa memakai seragam kebanggannya? atau.... berapa lama lagi dia masih bisa menghirup udara di bumi? Keheningan di istana membuatnya yakin, jika istana siap menunggu badai kecil yang akan datang. Dia kenal bagaimana dua ular yang sedang menjaga pedang hitam istana itu.


---0000---


Dengan senyum cerah dan wajah yang bahagia, Ratu Elisabeth menatap kereta kuda yang sudah di siapkan untuknya.


"Ibu..."


"Oh... kau sudah siap anakku?"


Senyum cerah juga tercetak di bibir Henry sambil mengangguk


"Tentu ibu"


Ratu Elisabeth kembali menatap kereta kuda yang sedang di isi kotak-kotak serta tas-tas mereka. Setelah semua barang masuk, Nina mendekati Ratu Elisabeth dan Henry


"Semua sudah siap, Your Majesty dan Your Highness"


Ratu Elisabeth mengangguk dan Henry melangkah lebih dulu menuju kerete kuda. Layaknya gentlman sejati, membawa tangan ibunya untuk masuk ke dalam kereta. Nina segera menyusul masuk ke dalam kereta.


"Kuda ku di belakang kalian ibu"


Kembali, Ratu Elisabeth mengangguk dan Nina langsung menutup pintu saat Henry sudah menyingkir dari kereta.


Kusir mulai menarik tali kekang dan kereta mulai bergerak


"Apa kamarku sudah di siapkan Nin?"


"Tentu Your Majesty, mereka sudah menyiapkan kamar terbaik untuk anda di istana utama dan yang terpenting, jauh dari kamar His Majesty"


Senyum separuh Ratu Elisabeth terbit


"Ular tua itu sepertinya tidak akan bertahan lama. Dan bagaimana ular kecil itu? apa dia masih kabur dari istana?"


Nina mengangguk yakin


"Masih Your Majesty. His Highness Pangeran Fredrick masih menghilang. Menurut yang saya dengar, dia dan kesatrianya menyibukkan diri untuk pembangunan wilayah barat serta rencana untuk pemindahan tanah dari Duchy Albany"


"Hmm... begitu"


Nina menatap raut wajah Ratu Elisabeth yang seperti tidak percaya

__ADS_1


"Apa anda punya pemikiran lain, Your Majesty?"


Sambil menatap ke luar jendela, Ratu Elisabeth tersenyum penuh misteri


"Tentu saja Nin, aku kenal anak itu dengan baik. Meski dia terlihat seperti itu tapi, dia sama seperti ibunya"


Nina hanya diam sambil memikirkan ucapan Ratu Elisabeth.


---000---


Halaman parlement yang lagi-lagi menjadi serangan protes rakyat membuat penjagaan di sana semakin di perketat. Halaman yang biasanya tenang dan bersih itu tampak bising dan penuh kerumunan rakyat yang terus meneriakkan protes.


Charles memasukkan kertas suara terakhir di dalam kotak sambil menatap ke depan. Pada dua iparnya yang sedang sibuk menbaca kertas-kerta suara rakyat atau juga surat-surat yang masuk dari semua wilayah. Surat yang pasti isinya protes dan kecaman


"Sekarang sudah lebih dari separuh anggota parlement yang memihak pada His Highness Pangeran Henry, Thom"


Thomas mengangguk singkat dan akhirnya melepaskan kertas di tangannya, untuk memijat pelipisnya yang berdenyut


"Aku muak membaca surat-surat seperti ini selama berbulan-bulan Char" Thomas membuang nafas panjang. "Larina pasti sudah bergerak masuk"


Mendengar ucapan Thomas, Albert ikut melepas surat-surat di tangannya dan menatap Thomas


"Apa Arthur sudah mengatakan sesuatu?"


Thomas menggeleng. Albert berpindah menatap Charles yang ikut menggeleng. Suara nafas panjang Albert ikut terdengar sambil menyenderkan punggungnya ke kursi. Charles juga akhirnya ikut membuang nafas panjang sambil menatap Albert


"Apa Victoria benar-benar tidak ingin kembali Al? Kabur dan pergi dari plihannya bukan seperti dia"


"Entah apa yang sedang dia rencanakan, tapi aku yakin dia bukan kabur. Dia pasti sedang menunggu"


"Menunggu?"


Kali ini raut wajah Thomas juga terlihat sama penasarannya dengan Charles. Mereka menatap Albert dengan penuh tanda tanya


"Aku yang mendidik anakku itu. Aku yakin, jika dia sedang menyiapkan hal besar yang entah apa. Tapi yang jelas, badai-badai besar akan terus berjatuhan di istana dan juga...." Albert menegakkan punggungnya sambil menatap bergantian para iparnya. "Kerajaan"


Charles dan Thomas hanya bisa saling melirik. Jujur saja, jika menyangkut pemikiran ke depan Albert, mereka tidak bisa membaca isi otak Arathorn paruh baya itu


--000--


Sebuah kotak kayu baru tiba di kediaman Arathorn saat tengah malam. Para penjaga dan pengawal yang bertugas tidak ada yang berani memegang kotak itu, apa lagi membuka isinya. Mereka menunggu Arthur untuk turun dan menunggu perintah.


Arthur yang akhirnya muncul dari tanggan menatap kotak kayu yang terlihat biasa itu, lama dia berpikir, hingga sebuah pemikiran membuatnya untuk memerintahkan seseorang membuka kotak dan saat kotak di buka, Arthur menaikkan sebelah alisnya.


"Tutup lagi dan pastikan isinya aman. Besok pagi, kita keluarkan"


Para penjaga dan pengawal mengangguk patuh dan langsung menyingkirkan kotak di tempat yang aman.


Malam yang sunyi berganti terang yang penuh dengan suara kicauan burung. Mentari menyinari dan menghangatkan bumi, udara sehar musim semi memberikan semangat pada Victoria yang semakin kesulitan membawa perut besarnya. Arthur menemani Victoria berkeliling taman, hingga sudah sampai di meja tempat keluarganya biasa berkumpul, Arthur memanggil pengawal. Victoria menatap Arthur penuh tanya, tapi Arthur hanya diam dan menarik kursi untuk Victoria


"Duduklah dulu, perutmu semakin berat kan"

__ADS_1


"Hei! jangan meledek anak-anakku"


Arthur hanya tersenyum sambil ikut menarik kursi di samping Victoria.


"Apa kau ingin kudapan?"


Victoria tersenyum lebar, wajahnya terlihat cerah dan polos


"Aku ingin pie..." Kepala Victoria berputar untuk menatap Bety dan Diana yang mengikuti mereka. "Pie apel Pleasee..."


Bety dan Diana tersenyum dan saling melirik. Victoria semakin sering makan, dan itu terlingat menggemaskan di mata mereka


"Anda ingin sekarang atau sore nanti, Your Highness?"


Victoria menekuk bibirnya sambil berpikir, lalu kembali tersenyum lebar sambil mengusap perutnya yang di tendang


"Siang ini pie apel dan sore nanti pie labu..." Victoria menoleh pada Arthur yang hanya tersenyum tipis lalu mengangguk, Arthur mengatakan 'boleh'. Victoria kembali menoleh pada Bety dan Diana. "Arthur mengatakan iya"


Bety dan Diana kembali tersenyum


"Baiklah Your Highness. Kami akan membuatnya siang dan sore nanti"


"Terimakasih Bety, kau yang terbaik"


Bety terkekeh dengan Diana yang hanya tersenyum hangat. Sungguh, Albany adalah tempat terhangat dan terindah yang pernah di singgahinya, atau bahkan mungkin daerah ternyaman yang ada di Francia. Berbulan bulan dia sudah mengelilingi Albany, dengan awalnya yang di temani Victoria dan semakin ke sini hanya bisa di temani Bety. Perut Victoria yang semakin membesar membuatnya tidak bisa keluar Castle lagi.


Yang di tunggu Arthur akhirnya tiba. Satu orang penjaga dan satu orang pelayan pria membawa sebuah kotak kayu yang cukup besar. Victoria menatap kotak itu lalu menatap Arthur seolah bertanya. Arthur yang mebangkap raut penuh pertanyaan Victoria menjelaskan saat kotak sudah di letakkan di dekat mereka.


"Tengah malam tadi ini datang, entah dari mana dan dari siapa tidak ada yang melihat. Tiba-tiba saja kotak ini sudah ada di samping Castle. Mereka membawa masuk" Arthur menatap kotak dan memerintahkan untuk membuka kotak. "Lihatlah Vic"


Victoria yang semakin penasaran kembali berdiri untuk melihat isi kotak dan saat melihat isi kota, matanya berbinar


"Tolong keluarkan dia"


Seorang pelayan pria tadi langsung bergerak dan meraih isi kotak yang terlihat ketakutan itu ke semen taman



"Oh ya ampun..."


Bety berseru tanpa sadar saat mahluk lucu dan menggemaskan itu sudah keluar dari kotak. Tidak jauh berbeda dengan Diana yang langsung menutup mulutnya karna terkejut


Dengan pelan Victoria mendekati mahluk putih lucu yang masih terlihat ketakutan dan juga mungkin sedikit stress. Ini bukan pertama kalinya Victoria mengalami keadaan seperti ini


"Hallo cantik..."


Arthur ikut berdiri dan mendekat pada Victoria dengan bewajah datar


\=\=\=💙💙💙💙


Ayukk jejaknya yukk..

__ADS_1


salam sayang semua


__ADS_2