
"Bash... Bolehkan aku tahu tentang cerita masa lalumu?"
Victoria menatap Fredick dengan dalam dan sangat dalam, Fredrick membuang wajahnya dan kembali menatap jendela
"Itu semua hanya masa lalu Vic"
Tangan Victoria meraih wajah Fredrick agar kembali menatapnya. Victoria menatap kedua bola mata abu-abu yang sekarang terlihat sangat abu-abu tidak berbaca. Seolah sedang membentengi sesuatu dengan kokoh
"Kau terluka Bash... aku istrimu, aku ingin kau berbagi lukamu denganku"
Sambil tersenyum getir, Fredrick membalas tatapan dalam istrinya dengan perasaan dan benteng dirinya yang sudah di lepaskannya, hingga Victoria bisa melihat luka yang dalam dan sangat luas di kedua bola mata abu-abu suaminya. Dada Victoria ikut perih melihat kedua bola mata abu-abu yang sudah bergetar karna terluka parah itu
"Katakan padaku Bash... bagi lukamu padaku" Fredrick memejamkan matanya dengan kuat, dadanya terasa sesak dan Victoria belum menyerah. "Tolong... aku ingin tahu lukamu"
Akhirnya kedua mata Fredrick kembali terbuka dan menatap ke luar jendela
"Kau ingin tahu tentang Larina?"
Victoria mengangguk, bahkan Fredrick belum memulai apapun tapi dada Victoria sudah terasa perih saat suara Fredrick mulai bergetar syarat akan kesakitan.
"Aku tahu kau ingin aku lepas dari masa laluku Vic, tapi..." Fredrick kembali menatap Victoria dengan tatapan tegas dan penuh keyakinan. "Aku sudah bisa terlepas dari itu, aku berjanji tidak akan berkubang lagi di dalam masa lalu ku, terlebih pada ibuku. Tapi aku belum siap untuk membuka cerita itu lagi sekarang, beri aku waktu"
Victoria yang juga memiliki banyak luka mengerti dengan perasaan itu, untuk kembali mengingat terlebih untuk menceritakan luka yang coba untuk kau simpan sangat menyakitkan, rasanya lebih baik untuk menyimpannya saja dari pada harus kembali memutar ingatan dan kembali merasakan perasaan perih dan terluka. Akhirnya dengan pasrah Victoria mengangguk, memberi waktu untuk suaminya agar siap dan dengan sendirinya membuka cerita masa lalu itu. Fredrick yang melihat Victoria mengangguk kembali meraih tangan kecil Victoria ke bibirnya
"Aku berjanji akan membuka semuanya padamu, semuanya. Tapi tidak sekarang sayang, karna ada hal yang lebih penting dari masa lalu" Alis Fredrick berkerut dalam dengan tatapannya yang berubah, tatapan yang tidak bisa Victoria artikan. "Masa depan dan ini menyangkut tentangmu"
--000--
Victoria melirik pelayan yang menyajikan teh dan kudapan mereka di meja panjang rapat ruang kerja mendiang Raja yang sekarang sudah menjadi tempat resmi suami dan dirinya. Di kursi pemimpin yang tersedia sudah di tempati oleh Fredrick, dirinya dan Edward sudah duduk di sebelah kiri dan kanan kursi pemimpin, serta Tomy yang berdiri di belakang kursi Fredrick. Fredrick mulai menyesap isi cangkirnya dan dengan santai meletakkan kembali cangkir teh itu sambil terus menatap Victoria.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak mengamuk Vic" Victoria hanya diam dan tidak menjawab suaminya yang berucap sambil menautkan tangannya di atas meja. Fredrick melanjutkan. "Seperti yang ku katakan semalam saat kami mengurus wilayah barat, kami juga rutin memantau Vancia" Kepala Victoria mengangguk singkat dan siap mendengarkan salah satu hal penting dan hal besar apa yang akan di jelaskan suaminya. "Kau juga sering mendengar jika beberapa kali kami menyebut 'kartu as'?"
Kembali Victoria mengangguk dengan raut wajah yang berubah serius karna wajah suaminya dan semua pria lain di sana ikut berubah serius. Fredrick menatap lekat Victoria sambil melirik Edward yang hanya diam di kursi sambil melipat tangannya di depan dada.
"Yang membuat kami menjadi rutin memantau di sana tidak hanya karna pergerakan Vancia yang cukup mencurigakan tapi karna di sana juga tercium aroma 'kartu as' yang sekarang setelah kami selidiki dan sudah kami lihat sendiri memang ada di sana, bahkan kami sudah bertemu dengannya" Fredrick menjedah dan kembali menatap Victoria yang masih diam dengan wajah serius. "Di sana, kami bertemu kakakmu"
Alis Victoria mengkerut dalam, sangat dalam, dia tidak mengerti ke mana arah dan maksut pembicaraan ini. Karna jelas, selama dia di castle Albany, Arthur selalu ada bersamanya dan dari waktu kepergian Arthur yang meski sesekali pergi ke luar castle beberapa hari, waktu beberapa hari itu tidaklah cukup untuk pulang dan pergi dari Vancia. Jadi apa maksut suaminya itu?
"Kakakmu yang lain.... Lady Charlotte"
Seperti baru saja melihat bom waktu yang siap meledak, Victoria menegang di kursinya, tenggorokannya tercekat, dadanya bergemuruh kuat
"A-apa maksutmu?"
Fredrick menarik nafas dalam dan melirik Tomy yang langsung maju satu langkah dari kursi di belakang Fredrick. Fredrick mengangguk sekali pada Tomy yang menatap Victoria dengan tenang tapi juga tegas.
"Menyelamatkannya"
Victoria menatap Tomy dengan raut wajah terkejut, bingung dan minta penjelasan. Fredrick yang melihat itu menarik nafas panjang dan kembali mengangguk pada Tomy. Dan Tomy kembali meneruskan
"Kami punya tugas rahasia yang di berikan langsung oleh mendiang Raja, untuk menyelamatkan Lady Charlotte, ka...."
"Aku tidak mengerti..."
Dengan bibir keluh, Victoria menyuarakan isi kepalanya. Tomy yang paham jika Victoria sedang terguncang menjedah sejenak untuk menarik nafas, lalu kembali membuka suaranya dan menjelaskan secara cepat
"Sebenarnya, pada malam pembersihan itu, kami tidak melakukan apapun pada Lady Charlotte selain membuatnya harus tampak mati mengenaskan seperti mendiang Duke dan Duchess, itu kami lakukan agar kesatria lain, terutama kesatria yang menjadi 'anjing' lain tidak mencoba untuk mengganggunya lagi dan membuat mereka yakin jika, Lady Charlotte sudah bernasip sama dengan ke dua orang tuanya"
Tangan Victoria terkepal kuat dengan wajah yang sudah memerah, hatinya terasa di bombardir hingga tidak mampu membuka mulutnya yang semakin terasa keluh. Fredrick yang melihat Victoria semakin terguncang mengambil alih pembicaraan dan ikut menjelaskan dengan caranya
__ADS_1
"Mendiang Raja, meminta mereka untuk menyelamatkan Lady Charlotte yang 'dibuat' mengenaskan dan pingsan untuk waktu yang cukup lama dengan tujuan untuk di tunjukkan semua mata di sana hingga semua terlihat sesuai rencana, hingga Edward mengurus tubuh tidak bernyawa mendiang Duke dan Duchess barulah mereka mengurus Lady Charlotte. Saat Lady Charlotte sudah kembali sadar, mereka menjelaskan semua padanya dan menawarkan Lady Charlotte untuk memberikan tujuan padanya, tempat bersembunyi untuknya, tapi......"
"Lady Charlotte memilih jalannya sendiri untuk pergi ke tempat yang dia pilih sendiri, dan kami melepasnya"
Edward menyambar ucapan Fredrick dan melirik Victoria yang terkesiap dengan nafas yang terlihat berat.
"A-apa alasannya?"
Dengan susah payah, di tengah jiwa terguncangnya, otak cerdas Victoria menyuarakan rasa terkejutnya dan juga pikiran.... curiganya
"Untuk menyelamatkan Lady Charlotte dan juga...." Fredrick menarik nafasnya dan kembali membuka suara. "Dan juga untuk menjadi 'kartu as', untuk persiapan dan pegangan..."
"Mengontrolku, menundukkanku, yang mungkin saja tidak bisa kalian jinakkan dan mungkin saja tidak bisa sesuai harapan kalian"
Dengan bibir gemetar hebat, Victoria menerusakan ucapan suaminya yang sangat menusuk di dadanya
"Benar"
PRANNGGG!!
Edward memejamkan matanya dengan kuat, Tomy tersentak di tempatnya, wajah Fredrick basah dan langsung memerah karna teh, saat Victoria sudah melempar kuat cangkir teh panasnya, tepat ke wajah Fredrick yang tampak pasrah sambil memejamkan matanya.
"BEDEBAH KALIAN ULAR LICIK!!!"
\=\=\=💙💙💙💙
Ayukk jejaknya yukkk
Salam sayang semua
__ADS_1