Behind The Castle

Behind The Castle
**DEAL**


__ADS_3

Edward mengeryit


"Tapi dia belum memiliki pengalaman Your Majesty. Dia juga sudah lama di area perang, terlebih dia masih terlalu muda untuk mempelajari semua Duchy dengan cara yang mengejutkan"


Dengan arah pandang yang masih terus menatap dan menerawang jauh ke luar jendela, Raja Geroge tersenyum getir


"Kau pikir berapa tahun umur William saat mulai memegang Duchy?" Raja George melirik Edward yang menggeleng. "William memegang Duchy saat usianya baru enam belas tahun Ed. Saat usianya menginjak usia sembilan belas tahun, dengan tangan dan isi kepalanya sendiri dia bisa semakin memperluas bahkan mengendalikan pasar perdagangan keluar kerajaan" Kedua bola mata abu-abu Raja George kembali menatap keluar jendela dan menerawang jauh. "Yang ku ingat saat itu Emylis berusia rujuh belas tahun saat bertemu William yang berusia dua puluh tiga tahun, dan mereka bertunangan setahun setelahnya"


"Dengan saling membawa nama besar di kedua bahunya, mereka bisa meraup separuh perdagangan di Francia. Saat itu aku masih menjadi putra mahkota muda dan baru belajar, sedangkan William sudah menduduki kursi parlement. Bukan hanya kursi biasa, tapi kursi ketua palement. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, sejarah Francia masih mencatat jika nama William Arathorn adalah pemegang termuda kursi ketua parlement di kerajaan ini. Dan saat menikah dengan Emylis.." Raja George menjedah dan membuka jendela. "Saat itu usianya dua puluh sembilan tahun yang artinya sama dengan bersatunya Arathon dan Rubens. Dengan bergabungnya Duchy Albany dan Duchy Ross, mereka menggenggam perdagangan dan politik Francia. Menarik banyak nama bangsawan besar untuk berada di sisi mereka bahkan bangsawan besar di kerajaan lain. Hingga sekarang dan juga pastinya hingga nanti Ed"


Edward meneguk ludahnya dengan kasar sambil mengejap-ngejapkan matanya


"Mengerikan"


Nafas panjang Raja George yang terdengar, membuat Edward ikut memandang keluar jendela


"Yaah.. itulah Arathorn, terlebih dengan memeluk Rubens"


Edward menggusap tengkuknya sambil berpikir keras


"Untung saja mereka tidak tertarik untuk mengangkat senjata Your Majesty"


Raja George tersenyum culas


"Karna itu William mengirim putra satu-satunya dan pewarisnya saat baru menginjak usia delapan belas tahun ke medan perang"


Ucapan Raja George membuat Edward membulatkan matanya sambil meringis ngeri


"Ya Tuhanku.... Mereka sangat mengerikan, Your Majesty"


"Itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk memaksakan takdir dan mengambil jalan pintas secepatnya untuk memotong salah satu kepala mereka karna, sekarang bukan hanya Albany dan Ross yang membuatku gugup........"


Dengan langkah lelah Raja George kembali menuju kursinya


"Masih ada Lorne, Bedford dan sekarang juga Sheffield"


Edward menimpali ucapan Raja George yang tidak ingin di teruskannya.


Masih dengan mengeryit ngeri, Edward menatap Raja George dengan kepala yang sudah berputar


"Apa 'anak itu' akan sama dengan leluhurnya atau ayahnya Your Majesty?"


"Dia bisa lebih mengerikan Ed. Karna sudah mendapatkan sentuhan mengangkat senjata terlebih mental yang sudah menjalani peperangan"


Sambil memperhatikan Raja George yang mulai kembali mengangkat kertasnya, Edward menyuarakan pikiran dan hatinya


"Sepertinya kita harus berteman dengan mereka Your Majesty. Bila perlu merangkul mereka"


Kekehan Raja George yang tiba-tiba terdengar, kembali membuat Edward mengeryit


"Kau pikir apa yang sedang kita lakukan sekarang Ed? karna itu, jaga Victoria sebaik mungkin terlebih saat dia di sini. Kita sudah memaksakan ikatan yang tidak pernah mereka inginkan, jangan sampai itu semua sia-sia" Sambil melepaskan penanya, Raja George menatap Edward dengan raut wajah dingin dan tajam "Aku bisa membuang putraku sendiri jika dia membuat kestabilan kerajaan ini goyang, dan aku sendiri yang akan memotong leher putra ku atau siapapun itu jika membuat kestabilan kerajaan ini retak"


Edward menegguk ludahnya dengan kasar, dan menatap Raja George yang kembali membuka mulutnya

__ADS_1


"Dan ingat ini Ed, aku bisa melakukan apapun untuk istana, terlebih untuk kerajaan ini"


Dengan patuh dan tidak berkomentar Edward mengangguk


"Terus awasi juga 'anjing lain', kita tidak bisa lengah pada semua titik yang bisa memicu keretakan"


Edward menjawab dengan membungkuk sangat dalam.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Ku dengar, akan ada jamuan minum teh besok sore?"


Sambil menatap pemandangan dan membiarkan sebuah tangan yang terus memainkan rambutnya, Victoria tampak tidak berniat menjawab


"Apa aku benar Vic?".


"Hhmm..."


Fredrick menghentikan jarinya yang terus menggulung ujung rambut Victoria, lalu menatap dua kuda dengan warna kontras yang sedang di ikat bersebelahan.


"Berarti besok kita tidak bisa berkuda?"


Kembali Victoria tidak menjawab dan tidak berniat menjawab, tapi Fredrick tidak menyerah


"Apa kita berkuda saat sudah selesai jamuan?".


Alis Victoria berkerut meski tanpa mengubah arah pandangnya yang terus menatap ke arah depan. Fredrick masih terus mengamati dan terus mencoba


"Kita bisa berkuda saat malam hari"


"Berkuda di malam hari terlalu dingin meskipun ini musim panas Bash"


Sambil menahan bibirnya untuk tidak terkekeh, Fredrick menatap Jeremmy yang sudah memutar bola matanya dengan dramatis karna ucapannya, tapi Fredrick belum selesai


"Siapa bilang, berkuda malam hari justru sangat panas Vic, sangat berkeringat"


Dengan alis terangkat tinggi, akhirnya Victoria menoleh dan menatap Fredrick yang menekan ke dalam bibirnya karna menahan tawa. Terlebih karna Fredrick sempat melirik Jeremmy dan kesatria lain yang sudah memejamkan mata mereka dengan bibir berkedut menahan senyum.


"Waktu itu aku pernah berkuda waktu malam hari, dan itu rasanya sangat dingin, hingga kaki dan tanganku mati rasa"


"Ahhh... itu mungkin karna kau bukan berkuda dengan orang yang tepat Vic"


Victoria mengeryit bingung, terlebih karna melihat sekelilingnya yang sudah menahan senyum. Sedangkan Fredrick, terus menekan bibirnya ke dalam


"Apa kau punya pengertian lain dari kata-katamu Bash?"


Kali ini, tawa Fredrick langsung meluncur dari mulutnya. Jeremmy hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kesatria lain mulai terkekeh malu-malu


"Aku benar kan? kau punya arti lain di kata-katamu itu Bash?"


Dengan satu tangan memegangi perut, dan satu tangannya lagi mencubit pipi Victoria dengan gemas, Fredrick tertawa geli dan juga gemas terlebih melihat wajah Victoria yang terlihat bingung tapi juga penasaran


"Kau penasaran sayang?"

__ADS_1


Meski bergindik mendengar panggilan Fredrick, rasa penasaran membuat Victoria mengangguk yakin


"Apa itu sebuah pepatah? atau kiasan bermakna?"


Fredrick terkekeh sambil menggeleng


"Itu ungkapan untuk sebuah pekerjaan"


Dengan alis yang kembali berkerut, Victoria menatap Fredrick dengan rasa penasaran yang semakin menjadi


"Pekerjaan apa?"


"Your Highness!"


Suara peringatan Jeremmy membuat Fredrick menutup mulutnya yang sudah terbuka, dan memilih membatalkan semua isi pikiran liciknya


Sambil memutar bola matanya bergantian para Jeremmy dan Fredrick, Victoria menjadi tidak sabar


"Pekerjaan apa Bash?"


Fredrick terkekeh dan melempar punggungnya dengan asal ke atas rerumputan


"Jika sudah saatnya, kau akan tahu nanti dan...." Fredrick mentap ke atas, pada Victoria dengan tatapan tajam. "kau harus mengerjakan itu hanya padaku, jangan pernah bersama orang lain. Mengerti?"


Victoria mengeryit dan menatap tatapan tajam Fredrick dengan bingung. Tapi akhirnya karna malas memikirkan hal yang tidak penting, meski ragu dan bingung, kepalanya tetap mengangguk. Yang membuat Jeremmy memutar bola matanya dan membuka mulutnya


"My Lady, katakan itu juga pada His Highness"


Dua kesatria lain di sana langsung mengangguk bersemangat sambil menatap wajah Victoria yang kebingungan. Setelah menimang sebentar ucapan Jeremmy, akhirnya Victoria membuka mulutnya


"Bash, jika kau melakukan pekerjaan itu dengan orang lain. Pertama, aku tidak akan pernah bekerja sama lagi denganmu dalam pejerjaan itu. Kedua, aku akan membuat kerja sama dengan orang lain yang berkompeten dan orang yang ku inginkan"


Dengan cepat Fredrick menegakkan punggungnya kembali sambil menatap Victoria dengan tajam.


"Jangan coba-coba Victoria!"


Meski suara Fredrick sudah meninggi, dengan acuh Victoria mengedipkan bahunya dan melirik Jeremmy serta dua kesatria lain yang hampir melompat untuk bersorak


"Hei dengar Vic, jangan pernah coba-coba melakukan semua ucapanmu barusan bahkan hanya untuk memikirkannya!"


Victoria menatap kedua bola mata abu-abu Fredrick yang sudah mengkilap tajam, lalu senyumnya terbit


"Jadi... apa kita sepakat?"


Dengan cepat, sangat cepat Fredrick langsung mengangguk yakin dan menautkan tangan mereka dengan arah pandangnya yang menatap Victoria dengan dalam


"Deal"


Jeremmy menyeringai, dan melirik dua orang kesatria lain yang juga sudah menyeringai


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tolong tombol like, komen, bintang dan lopenya jangan lupa di tekan ya readers.... Biar eike menangat nulisnya

__ADS_1


Salam sayang semua ✨


__ADS_2