
Victoria masih termenung di dalam ruang rapat. Dirinya baru selesai memimpin rapat dengan para petinggi istana, rapat terakhir yang beragendakan tentang perang yang sudah ada di depan mata. Dengan kasar Victoria melepaskan sarung tangannya dan meletakkan begitu saja sepasang sarung tangannya ke atas meja. Kedua matanya menatap jauh ke luar jendela dengan duduk terdiam di kursi pemimpin rapat.
Carl ikut termenung di dalam ruangan itu sambil mengikuti arah pandang Victoria. Dia bisa mengerti perasaan Victoria yang coba di tekan dan di sembunyikannya dengan baik, bahkan sangat baik. Terlihat dari cara profesionalnya yang dengan tenang memimpin rapat 'mencekam' hari ini.
"Apa surat sudah sampai ke wilayah barat Carl?"
Carl mengangguk singkat
"Sudah Your Majesty. Mereka sudah menerimanya"
Kepala Victoria ikut mengangguk tanpa memindahkan arah padangnya
"Apa Jeremmy dan Lucas sudah berangkat?"
"Sudah Your Majesty. Tadi saat matahari baru terbit mereka sudah berangkat di kedua titik lain"
Nafas panjang Victoria berhembus panjang dan akhirnya mengangkat kakinya untuk berdiri. Carl yang dengan setia berada di belakang kursi Victoria segera memundurkan tubuhnya saat Victoria mulai berjalan, membuat langkah Victoria memimpinnya
"Kapan Edward akan pergi?"
"Kemungkinan lewat tengah malam nanti Your Majesty"
"Aku ingin bertemu pangeran Henry, Carl"
Dahi Carl langsung mengeryit tapi tetap mengikuti langkah Victoria hingga akhirnya mereka sampai di sudut, tersudut bagian istana utama. Carl dengan sigap langsung mengetuk pintu kamar Henry untuk memeberi tahukan kedatangan Ratu mereka.
Henry yang melihat kedatangan Victoria tersenyum hangat dan tampak tidak ada rasa terkejut sedikitpun, seolah dia sudah tahu jika Victoria akan datang padanya
"Selamat siang Your Majesty. Ada hal apa yang membuat bersedia datang ke sini?"
Victoria mengamati Henry dengan lekat
"Aku hanya ingin mengatakan jika jangan ikut campur dan jangan mencoba sesuatu" Kedua mata Victoria mengkilap tajam. "Jangan coba menyentuh istana dan kerajaanku"
Senyum hangat terus tercetak di bibir Henry, meski ancaman Victoria cukup membuat Carl bergindik
__ADS_1
"Kemarin His Majesty sudah mengatakan hal yang sama pada saya. Dia langsung ke kamar saya juga" Henry terkekeh geli sambil menatap Victoria dengan lekat. Mulutnya kembali berucap. "Kalian memang sangat cocok. Semoga berhasil"
Wajah Victoria tetap datar dan Hanya mengangguk singkat
"Semoga doa anda di dengarkan Tuhan pangeran Henry"
Kepala Henry langsung mengangguk dan langsung menunduk saat Victoria memutar langkahnya untuk pergi dari hadapannya. Saat langkah Victoria sudah jauh dari depan kamarnya, Henry kembali tersenyum hangat dari hatinya. Bahkan kedua bola matanya berbinar terang
"Tolong temani pria penuh luka itu, Your Majesty, tolong selalu bahagiakan.... Kakakku"
πΊπΊπΊπΊ
Kedua tangan Victoria masih terus bertaut di depan wajahnya, kedua matanya terus terpejam, kepalanya masih tertunduk, kedua lututnya masih terus berlutut di depan altar. Semua perasaan gundah, cemas dan takutnya sedang di tumpahkan Victoria ke hadapan Tuhan. Berjam-jam terlewati tapi Victoria belum juga bangkit dari tempatnya dan segala doanya belum juga selesai. Victoria benar-benar sedang mencari ketenangan batin dan ketenangan jiwanya terlebih, sedang membangun kekuatan dan keteguhan hatinya
Carl duduk empat baris di kursi dari depan altar kapel, wajahnya terus menatap ke arah altar, sesekali bola matanya bergerak untuk melirik Victoria yang masih tertunduk dalam diam. Perang sudah semakin di depan mata. Edward sudah pergi kemarin malam dan malam ini, mereka harus bersiap menghadapi dan membentengi rumah utama Francia, istana.
Waktu terus bergulir dan berjalan hingga akhirnya kepala Victoria kembali tegak. Kedua matanya berkilap terang menatap lekat altar kosong yang hening. Mulutnya berguman tegas dan penuh dengan keteguhan
"Kedalam tanganMu kami berserah, Tuhan"
---000---
Suara hentakan kaki prajurit terus mengisi suara di kegelapan malam yang hanya di sinari obor-obor yang mereka bawa. Tanah dingin dan tenang di malam ini terus bergetar karna kaki-kaki yang terus berderap dengan gerakan kuat dan tanpa keraguan. Para prajurit yang ada di atas atap istana sudah siap dengan semua busur dan anak panah mereka. Gerbang besi di belakang istana sudah di segel dengan kuat dan di penuhi para prajurit yang siap untuk mengorbankan nyawa mereka. Semua sisi lain istana sudah di kelilingi dan di bentengi para prajurit dan kesatria. Angin tengah malam mulai berhembus semakin kencang. Dengan wajah datar dan sorot mata siap untuk menerjang dunia, Victoria berdiri kokoh tanpa keraguan di atas tower menara istana bersama Carl yang dengan patuh dan kesetian mutlak berdiri di belakangnya, ikut memantau semua prajurit yang mulai mengambil posisi mereka di depan istana. Memberikan benteng untuk rumah utama Francia
Angin yang semakin kencang berhembus membuat kepala Victoria menengadah untuk menatap langit yang terlihat lebih gelap dari biasanya, lebih sepi dari biasanya, lebih mencekam dari biasanya. Tidak ada satupun bintang penghias langit yang muncul. Victoria berguman.
"Hujan akan turun"
Carl yang berada di belakang Victoria ikut menatap langit mencekam malam ini, bibirnya tersenyum tipis dan ikut berguman
"Hujan akan turun"
---0000---
Seorang pria paruh baya terus menatap langit malam yang mendung, tangan tuanya bertaut di depan dada, kepalanya terus menengadah ke atas langit hingga bibir tuanya berguman.
__ADS_1
"War has come"
---0000---
Di sisi lain, Fredrick membuka visor helmet-nya dan menatap lekat pasukan musuh yang telihat terkejut dengan kedatangannya, layaknya panglima perang sejati, Fredrick membiarkan mereka untuk mengambil posisi bersiap saat ke tujuh jendral pemimpin pasukan Vancia bergerak cepat untuk menantang mereka. Setelah di rasa musuh sudah siap, Fredrick segera menarik pedangnya dan mengangkat tangannya dengan tinggi. Kedua bola mata abu-abu terangnya berkilap terang dan tajam. Siap untuk melawan dan siap untuk menerjang dunia. Fredrick memutar Panter ke belakang dan menatap seluruh prajuritnya. Suara lantang dan tajamnya bergema di keheningan kencangnya angin berhembus.
"Serahkan nyawa kalian untuk Francia para kesatria dan prajuritku. Lindungi tanah kalian, tempat orang-orang yang kalian cintai hidup, tempat masa depan anak dan cucu kalian akan hidup! Jangan ragu... jangan takut... dan jangan gentar! Hancurkan semua yang akan menghancurkan kedamaian rumah kalian, rumah orang tua kalian, rumah saudara kalian dan rumah anak cucu kalian kelak!!!"
Semua pasukan Fredrick ikut menarik pedang mereka dan ikut mengangkat pedang mereka ke atas. Sebelah bibir Fredrick tertarik ke atas dengan bola matanya yang semakin mengkilap, menatap tajam jendral pemimpin musuh dan semua pasukannya. Senyum mirinya berubah menjadi seringai mengerikan
"Demi Francia!"
"DEMI FRANCIA!!!!"
Dan.... Kuda-kuda mulai menghentakkan kakinya dengan kencang. Pasukan Fredrick mulai melaju tanpa gentar, tanpa bisa di hentikan dan tanpa bisa menerima kekalahan.
Suara pedang-pedang yang saling bergesekan langsung terdengar lantang, suara pedang-pedang yang saling mengiris daging langsung mengisi pendengaran, suara pedang-pedang yang saling terus bergerak untuk kemenangan dan untuk melindungi rumah mereka terus saling melaju dan bergerak cepat.
Kuda-kuda terus meringkik, kuda-kuda terus berjatuhan, kuda-kuda terus menendang, dan... perang terus berlanjut dengan tanah dingin yang mulai terus basah menghisap darah, tanah kering di awal musim gugur mulai terus berubah warna. Warna merah terus berhamburan dan melayang di udara, warna merah terus mewarnai baju zirah perang mereka. Teriakan-teriakan terus mengisi gelapnya malam yang sebentar lagi akan menjatuhkan airnya. Perang perebutan dan pemusnahan besar... sudah di mulai.
---000---
Dengan visor-nya yang sudah terbuka menunjukkan raut wajah datar dan sorot mata dinginnya, Tomy mengangkat tinggi tangannya, pedangnya berkilap terang di pencahayaan mencekam malam. Kedua matanya mengkilap tajam, mulutnya terbuka dengan lantang
"Demi Francia!"
"DEMI FRANCIA!!!"
Dan... Dua titik perang sudah di mulai. Keheningan malam yang mencekam menjadi saksi pertempuran yang sedang berlangsung dan terus berlangsung. Pertempuran yang tidak akan berhenti hingga mereka bisa melindungi rumah mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Masa depan mereka.
\=\=\=ππππ
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua
__ADS_1